Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan
"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM YANG PENUH RENCANA GELAP
Zhao Chen mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan suara gemertak tulang yang mengerikan. Senyum kejam perlahan terukir di wajahnya yang tampan namun bengis.
"Baiklah. Tujuh hari. Aku akan memberikan dia kemewahan untuk menikmati sisa napasnya yang singkat dan berbau tanah itu. Aku akan membiarkannya berlatih, biarkan dia berpikir bahwa dia punya harapan sekecil apa pun untuk menang. Karena pada hari ketujuh nanti, aku sendiri yang akan menghancurkan tulang punggungnya di depan umum dan menunjukkan pada dunia bahwa sampah akan tetap menjadi sampah, tidak peduli seberapa keras ia mencoba untuk bersinar di bawah cahaya bulan."
Setelah pertemuan yang penuh dengan aroma kematian itu bubar, Zhao Chen tidak langsung pergi ke kamarnya. Ia berdiri sendirian di balkon aula yang tinggi, menatap ke arah gubuk Fang Han yang terletak jauh di kaki bukit, terlihat kecil dan rapuh di bawah cahaya bulan yang pucat. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kotak kecil berisi pil berwarna hitam pekat yang mengeluarkan aroma amis yang samar—sebuah obat peningkat kekuatan terlarang yang ia peroleh dari pedagang gelap dengan harga ribuan perak.
"Kau ingin bermain kekuatan, Fang Han? Kau ingin menunjukkan sihirmu?" bisiknya pada angin malam yang berhembus kencang, menerbangkan jubah mahalnya.
"Aku akan menunjukkan padamu apa artinya pengorbanan yang sesungguhnya demi sebuah kemenangan. Aku akan menelan pil ini, menghancurkan potensi masa depanku sendiri untuk naik ke tahap yang lebih tinggi jika perlu, asalkan aku bisa melihat wajahmu hancur berkeping-keping di bawah telapak kakiku. Kau mengambil harga diriku di depan Meili, dan aku akan mengambil nyawamu, jiwa pamannmu, dan seluruh masa depanmu sebagai bayarannya. Tidak akan ada ampun."
Di sudut lain kediaman yang gelap, jauh dari jangkauan cahaya obor aula, Sersan Hu sedang berbisik dengan tiga orang pria kepercayaannya di kegelapan koridor yang sunyi. Aura mereka dingin, seperti belati yang sedang diasah.
"Kau yakin bisa menangani prajurit tua yang pernah menjadi atasanmu itu?" tanya salah satu anak buahnya dengan suara rendah.
"Dia sudah lumpuh di satu kaki dan paru-parunya sudah rusak parah karena gas racun perang di perbatasan utara," jawab Sersan Hu dengan seringai kejam yang memperlihatkan deretan giginya yang tidak rata di bawah cahaya bulan yang redup.
"Aku akan memastikan dia mati secara perlahan, sesak napas dalam darahnya sendiri. Aku ingin dia hidup cukup lama hanya untuk melihat keponakan kesayangannya dipotong-potong menjadi potongan daging oleh Tuan Muda Zhao Chen. Ini bukan lagi soal uang pajak perak yang diminta Zuo Chen, kawan. Ini soal kepuasan dendam yang telah tertunda selama sepuluh tahun lamanya di dalam jiwaku yang terbakar."
Sementara itu, di dalam kamarnya yang mewah dan dipenuhi perabotan sutra, Lin Meili menatap cermin perunggu besarnya. Di bawah cahaya lilin yang temaram, ia melihat wajah cantiknya yang kini tampak kuyu, pucat, dan penuh dengan bayang-bayang ketakutan. Ada bagian kecil dalam nuraninya—bagian yang dulu pernah bermain bersama Fang Han di tepi sungai—yang berbisik bahwa mereka semua sedang menuju jurang kehancuran yang tak terelakkan. Namun, rasa malu yang mendalam dan egonya yang terluka segera membungkam suara kecil itu dengan paksa.
"Maafkan aku, Fang Han," gumamnya pelan, hampir tak terdengar oleh telinganya sendiri, seolah-olah kata-kata itu ditujukan pada mayat yang belum ada.
"Tapi di dunia yang kejam ini, kau seharusnya tetap menjadi pelayan yang patuh dan menerima nasibmu. Kau seharusnya tidak pernah mencoba untuk bangkit dari lumpur tempatmu berada. Karena saat kau memilih untuk bangkit dan melawan kami, kau hanya memaksa kami semua untuk menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya agar kami bisa tidur dengan tenang. Jangan salahkan aku, salahkan takdirmu yang mencoba menjadi naga padahal kau hanyalah seekor cacing."
Malam itu, Desa Qinghe tampak tenang, damai, dan sunyi dari luar. Suara jangkrik bersahut-sahutan di sela-sela rumpun bambu. Namun, di balik pintu-pintu kayu jati yang megah dan pagar-pagar tembok yang kokoh milik keluarga Zhao, sebuah rencana pembunuhan massal sedang dimatangkan dengan api kebencian yang berkobar.
Amarah Zhao Chen telah menjadi api yang siap membakar apa saja yang menghalangi jalannya, dan takdir Fang Han kini benar-benar berada di ujung tanduk. Sang asisten tabib tidak tahu bahwa saat ia sedang berjuang memahami energi di dalam nadinya, di kejauhan, musuh-musuh dari masa lalu pamannya dan musuh dari masa depannya sedang bersumpah darah untuk memastikan bahwa matahari hari ketujuh akan menjadi matahari terakhir yang ia lihat.
Pertempuran ini bukan lagi sekadar urusan pajak atau pertengkaran anak muda; ini telah menjadi perang eksistensi antara mereka yang ingin mempertahankan status quo yang zalim dan seorang pemuda yang membawa jiwa dari dunia lain untuk menuntut keadilan. Di kegelapan malam, Desa Qinghe sedang menahan napas, menanti ledakan yang akan mengubah sejarah desa itu selamanya.
Hari kelima di Desa Qinghe tidak dimulai dengan kicauan burung, melainkan dengan suara hantaman daging pada batang pohon ek yang membeku. Di balik gubuk Tabib Lu, Fang Han berdiri dengan napas yang keluar seperti uap putih di udara pagi yang menggigit. Tubuhnya hampir telanjang, hanya mengenakan celana rami tipis yang sudah basah kuyup oleh keringat dan embun.
Di kedua pergelangan kakinya, terikat balok timah tambahan. Di punggungnya, sebuah keranjang penuh batu tajam menekan tulang belikatnya hingga memar keunguan. Namun, yang paling menyiksa bukanlah beban fisik itu, melainkan tuntutan konsentrasi yang diminta oleh Tabib Lu.
"Lagi, Fang Han! Fokuskan pandanganmu pada daun yang jatuh itu. Jangan gunakan tanganmu, gunakan kehendakmu!" teriak Tabib Lu dari bawah pohon rindang, matanya tajam mengawasi setiap gerak-gerik muridnya.
Fang Han memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang seperti genderang perang. Ia memusatkan seluruh sisa energinya pada sehelai daun kering yang melayang turun. Ia bisa merasakan aliran energi Qi yang tipis merayap dari ulu hatinya, mengalir ke ujung jari tengahnya yang bergetar.
Sret!
Daun itu terbelah dua di udara, seolah-olah disayat oleh pisau tak kasat mata. Fang Han jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal, sementara darah merembes dari hidungnya akibat tekanan mental yang terlalu besar.
Tabib Lu mendekat, ia tidak menawarkan bantuan untuk berdiri. Ia hanya meletakkan tangan di pundak Fang Han yang gemetar.
"Hanya itu?" tanya Tabib Lu, suaranya dingin namun ada nada kecemasan yang tersembunyi. "Kau baru saja membelah sehelai daun. Sedangkan Zhao Chen, musuhmu itu, sudah bisa membelah batu dengan telapak tangannya karena dia hampir menyelesaikan tahap Pembentukan Otot. Kau pikir dengan membelah daun kau bisa menyelamatkan pamanmu dari amarahnya?"