NovelToon NovelToon
Pewaris Tersembunyi

Pewaris Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: JAYDEN AHMAD

LIMA TAHUN IA DI INJAK-INJAK. SATU MALAM IA MEREBUT SEGALANYA.

Rizky Santoso adalah aib. sampah. suami tak berguna yang ditakdirkan untuk hidup di dapur, di bawah kaki istrinya yang kaya raya,
Adelia. selama 5 tahun, hinaan adalah sarapannya dan pengkhianatan adalah makan malamnya.

Ketika Adelia mencampakkannya demi seorang selingkuhan, ia pikir hidup Rizky telah berakhir.

DIA SALAH BESAR.

Di malam tergelapnya, takdir datang menjemput. Dua sosok misterius berjas hitam membawakan sebuah kebenaran yang mengguncang kota: pria yang ia buang adalah PUTRA MAHKOTA dari kerajaan bisnis yang paling berkuasa.

kini, Rizky kembali. Bukan lagi sebagai suami yang tunduk, tapi sebagai raja yang dingin dan tak tersentuh. ia akan duduk di singgasana kekuasaannya dan menyaksikan mereka yang pernah menghinanya...
bertekuk lutut.

Penyesalan Adelia tidak akan ada artinya. Karena dalam permainan takdir ini, sang pewaris telah kembali untuk mengambil apa yang jadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JAYDEN AHMAD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: AWAL DARI SEBUAH TAKHTA

Haryo membawanya ke sebuah kamar tidur utama yang luas, jauh lebih besar dari kamar yang ia tempati bersama Adelia.

Jendela-jendela besar menghadap ke taman belakang yang rimbun, dan di tengah ruangan, sebuah ranjang berukuran king dengan seprai sutra putih bersih tampak mengundang.

Kamar mandi pribadinya dilengkapi dengan jacuzzi dan pancuran hujan. Semua adalah kemewahan yang belum pernah ia rasakan, bahkan di rumah Adelia sekalipun.

"Pakaian bersih sudah ada di lemari, Tuan Muda. Jika ada yang Anda butuhkan, cukup tekan tombol interkom di samping ranjang, kata Haryo, menunjuk sebuah panel kecil di dinding. "Saya akan menunggu di luar jika Anda memerlukan sesuatu.

Rizky mengangguk. "Terima kasih, Haryo.

Begitu Haryo menutup pintu, Rizky berdiri di tengah ruangan, membiarkan keheningan mewah itu menyelimutinya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Pria yang basah kuyup, rambut acak-acakan, dan mata yang masih menyimpan jejak kesedihan. Tapi di balik semua itu, ada kilatan baru. Kilatan tekad yang membara.

Ia masuk ke kamar mandi. Air hangat dari pancuran terasa seperti membasuh semua kotoran, bukan hanya dari tubuhnya, tapi juga dari jiwanya. Ia menggosok kulitnya kuat-kuat, seolah ingin menghilangkan setiap jejak penghinaan yang pernah menempel. Aroma sabun beraroma sandalwood yang mewah memenuhi udara. Ketika ia keluar, tubuhnya terasa ringan, pikirannya jernih.

Di lemari, sudah tergantung beberapa setelan piyama sutra dan pakaian kasual yang terlihat pas dengan ukurannya. Rizky memilih piyama sutra berwarna abu-abu gelap. Ia merasa aneh mengenakan pakaian semewah itu, tapi ia tahu, ini adalah awal dari kebiasaan barunya.

Makanan hangat sudah menunggunya di meja kecil di sudut kamar. Semangkuk bubur ayam dengan irisan jahe dan telur rebus, ditemani teh herbal hangat. Rizky makan perlahan, menikmati setiap suapan. Ini bukan sekadar makanan, ini adalah simbol. Simbol dari perhatian yang selama ini ia rindukan, simbol dari sebuah rumah yang kini menerimanya.

Setelah makan, Rizky merebahkan diri di ranjang. Seprai sutra terasa dingin dan lembut di kulitnya. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi.

Pikirannya kembali pada Adelia. Pada Bramantyo. Pada tatapan meremehkan mereka. Rasa sakit itu masih ada, tapi kini bercampur dengan sebuah tujuan. Ia tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Ia akan membuat mereka menyesal. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan kekuasaan.

Ia tertidur pulas, tidur pertama yang benar-benar nyenyak setelah lima tahun.

Sinar matahari pagi menembus tirai tebal, membangunkan Rizky. Ia mengerjap, butuh beberapa saat untuk menyadari di mana ia berada. Ini bukan kamar sempitnya di rumah Adelia. Ini adalah kamar tidur utama di Kediaman Hadiningrat.

Ia bangkit, berjalan ke jendela, dan membuka tirai. Pemandangan taman yang luas dan terawat membentang di hadapannya. Air mancur di tengah taman memancarkan kilauan di bawah sinar matahari pagi. Burung-burung berkicau merdu. Ini adalah dunia yang sama sekali berbeda.

Di meja samping ranjang, sudah tersedia satu set pakaian yang disiapkan. Kemeja linen putih, celana chino berwarna krem, dan sepatu kulit kasual. Semuanya terlihat sederhana namun berkualitas tinggi. Rizky mengenakannya. Ia merasa nyaman, namun juga sedikit canggung. Ia masih Rizky yang sama, tapi kini ia membawa nama Hadiningrat.

Ia keluar dari kamar. Haryo sudah menunggunya di koridor.

"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa Haryo dengan senyum tipis. "Tuan Besar sudah menunggu Anda untuk sarapan.

Rizky mengangguk. "Pagi, Haryo."

Mereka berjalan menuju ruang makan utama. Ruangan itu jauh lebih besar dari ruang makan di rumah Adelia, dengan meja panjang yang bisa menampung dua puluh orang. Suryo Hadiningrat sudah duduk di ujung meja, membaca koran pagi. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan.

"Pagi, Ayah," sapa Rizky, sedikit canggung mengucapkan kata 'Ayah'.

Suryo menurunkan korannya, menatap Rizky dengan senyum hangat. "Pagi, Nak. Bagaimana tidurmu?"

"Nyenyak sekali," jawab Rizky jujur.

"Bagus. Duduklah. Mari kita sarapan.

Sarapan berlangsung dalam keheningan yang nyaman. Suryo sesekali melirik Rizky, seolah sedang mempelajari putranya. Rizky makan dengan tenang, sesekali melirik ayahnya. Ia merasa ada ikatan yang mulai terbentuk, ikatan yang hilang selama dua puluh lima tahun.

Setelah sarapan, Suryo mengajak Rizky ke ruang kerjanya. Ruangan yang sama tempat mereka bertemu semalam.

"Rizky, saya tahu ini semua mendadak, Suryo memulai, duduk di balik meja kerjanya. "Tapi Hadiningrat Group adalah warisan yang besar. Saya tidak bisa membiarkannya jatuh ke tangan yang salah. Saya ingin kau mengambil alih.

Rizky menatap ayahnya. "Saya sudah bilang, saya tidak tahu apa-apa tentang bisnis.

"Itu akan berubah," kata Suryo. Ia menekan sebuah tombol di mejanya. Sebuah layar besar muncul dari dinding, menampilkan grafik-grafik kompleks dan data-data keuangan. "Hadiningrat Group memiliki lebih dari seratus anak perusahaan. Dari properti, pertambangan, perbankan, hingga teknologi dan media. Ini adalah sebuah kerajaan.

Rizky menelan ludah. Skala ini jauh melampaui apa yang bisa ia bayangkan.

"Kau akan mulai dari bawah," Suryo melanjutkan. "Kau akan belajar dari setiap departemen. Kau akan bekerja dengan para direktur dan manajer terbaik. Haryo akan menjadi bayanganmu, memastikan kau aman dan mendapatkan semua yang kau butuhkan. Saya akan menjadi mentormu.

"Berapa lama waktu yang saya punya?" tanya Rizky.

Suryo tersenyum tipis. "Tergantung padamu. Tapi saya tidak punya banyak waktu lagi. Saya ingin melihatmu duduk di kursi ini sebelum saya pergi.

Rizky mengangguk. Ia mengerti. Ini bukan hanya tentang balas dendam. Ini tentang warisan. Tentang tanggung jawab.

"Saya akan melakukannya," kata Rizky, tatapannya penuh tekad. "Saya akan belajar. Saya akan menjadi pemimpin yang Anda inginkan.

Suryo bangkit, berjalan mendekati Rizky, dan menepuk bahunya.

"Saya tahu kau bisa, Nak. Kau punya darah Hadiningrat. Dan kau punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak orang kaya: pengalaman hidup yang pahit. Itu akan membuatmu menjadi pemimpin yang lebih baik.

"Ada satu hal lagi, kata Rizky, suaranya merendah. "Adelia. Mantan istri saya. Dan Bramantyo selingkuhan nya.

Suryo menatap Rizky, matanya menyipit.

"Mereka sudah saya selidiki. Perusahaan Adelia, Maheswari Corp, sedang dalam masalah keuangan. Dan Bramantyo... dia hanya seekor lintah yang menempel pada Adelia.

"Saya ingin mereka merasakan apa yang saya rasakan, kata Rizky, suaranya dingin. "Saya ingin mereka menyesal. Tanpa ampun.

Suryo tersenyum. "Itu adalah hakmu, Nak. Tapi ingat, balas dendam terbaik adalah kesuksesan yang gemilang. Biarkan mereka melihatmu bangkit. Biarkan mereka melihatmu menjadi raja. Dan biarkan penyesalan itu membakar mereka dari dalam.

Rizky mengangguk. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ini bukan lagi tentang kemarahan sesaat. Ini adalah strategi. Sebuah permainan catur yang besar, dan ia baru saja mendapatkan bidak-bidak terkuat.

"Haryo," panggil Suryo. "Mulai hari ini, Rizky akan menjadi Wakil Presiden Direktur di Hadiningrat Group. Siapkan semua dokumen dan perkenalkan dia kepada para direktur besok pagi. Dan pastikan dia mendapatkan semua pelatihan yang dia butuhkan.

Haryo muncul di ambang pintu. "Siap, Tuan Besar."

Rizky menatap ayahnya, lalu pada Haryo. Dunia baru telah terbuka di hadapannya. Dunia yang penuh tantangan, tapi juga penuh potensi. Ia tidak lagi takut. Ia tidak lagi ragu.

Ia adalah Rizky Hadiningrat. Dan takhta itu, kini menunggunya.

1
AHMAD SAEPUDIN
Mohon dukungannya yah warga NOVELTOON 🥰
"jangan lupa share, like, dan komen, maaf kalo ada alur yang berantakan komen aja di kolom komentar ini yahh☺️🙏♥️
Gio Raraawi
suka cerita nya
AHMAD SAEPUDIN: Makasih banyak kak 🙏 seneng banget kakak suka ceritanya, ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Ngeju Aroma
joss
Ngeju Aroma
💪💪
Ngeju Aroma
semangat kak💪💪
AHMAD SAEPUDIN: Makasih banyak kak 🙌 sering-sering mampir ya, biar makin rame 😁☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!