Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
###
Pagi itu, langit tampak sedikit mendung. Awan abu-abu menggantung rendah, seolah mencerminkan suasana hati Alya yang masih belum benar-benar pulih.
Ia berjalan pelan menuju ruang kelas, tasnya disampirkan di bahu tanpa semangat seperti biasanya. Beberapa mahasiswa menyapanya, namun hanya dibalas dengan senyum kecil.
Di dalam kelas, ia duduk di kursi paling dekat jendela.Tatapannya kosong, menembus kaca, seolah mencari jawaban dari sesuatu yang bahkan ia sendiri belum pahami sepenuhnya.
Raka datang beberapa menit kemudian dan langsung duduk di sampingnya.
“Kamu belum berubah juga,” katanya tanpa basa-basi.
Alya menghela napas. “Aku lagi berusaha.”
“Berusaha atau menghindar?” tanya Raka tajam.
Alya menoleh, sedikit kesal. “Aku cuma butuh waktu, Rak.”
Raka mengangguk pelan. “Aku tahu. Tapi jangan sampai kamu terlalu lama diam… sampai semuanya jadi jauh.”
Kalimat itu membuat Alya terdiam. Ia tahu maksud Raka dan itu yang sebenarnya ia takuti.
Sementara itu, Arka berdiri di depan kelas, mempersiapkan materi kuliah hari itu.
Namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya ada di sana. Matanya sempat mencari satu sosok di dalam ruangan.
Alya..
ia melihatnya duduk di dekat jendela.
Tapi berbeda,tidak ada senyum kecil yang biasanya muncul saat mata mereka bertemu.
Tidak ada tatapan hangat yang ada hanya… jarak.
Arka menahan napas sejenak sebelum akhirnya memulai kelas seperti biasa.
Kuliah berlangsung normal.
Arka menjelaskan materi dengan tenang, mahasiswa mencatat, dan suasana kelas berjalan sebagaimana mestinya.
Namun bagi Alya, semuanya terasa hambar.
Beberapa kali ia berusaha fokus, tapi pikirannya terus kembali pada satu hal..Arka.
Dan lebih tepatnya… perubahan di antara mereka.Saat kelas hampir selesai, Arka berkata, “Sebelum kita akhiri, saya ingin menyampaikan sesuatu.”
Mahasiswa mulai memperhatikan.
“Ada tugas tambahan minggu ini. Tapi tidak seperti biasanya, tugas ini akan dilakukan secara berpasangan.”
Beberapa mahasiswa mulai berbisik.
“Silakan pilih pasangan kalian sendiri,” lanjut Arka.
Raka langsung menoleh ke Alya. “Kita bareng ya?”
Alya mengangguk. “Iya.”
Namun sebelum suasana kembali ramai, Arka menambahkan
“Dan untuk beberapa kelompok tertentu… saya akan menentukan sendiri pasangannya.”
Kalimat itu membuat beberapa mahasiswa penasaran. Alya tidak terlalu memperhatikan.
Sampai Arka menyebut
“Alya.”
Ia terdiam.
“Dan… saya akan mendampingi langsung untuk tugas ini.”
Suasana kelas langsung hening beberapa detik. Beberapa mahasiswa saling pandang.
Raka menoleh cepat ke Alya. “Serius?”
Alya membeku, Ia tidak tahu harus merasa apa. Setelah kelas selesai, Alya keluar lebih cepat dari biasanya.
Ia berjalan cepat menuju taman kampus, mencoba menenangkan pikirannya.
Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara dari belakang.
“Alya.”
Ia menutup mata sejenak sebelum akhirnya berbalik.
Arka berdiri di sana.
“Ada yang ingin saya jelaskan,” katanya.
Alya menghela napas. “Tentang tugas itu?”
Arka mengangguk. “Itu bukan tanpa alasan.”
Alya menatapnya. “Kenapa, Pak?”
Arka tidak langsung menjawab.
Ia melangkah sedikit lebih dekat.
“Aku ingin kita punya waktu untuk benar-benar bicara.”
Nada suaranya berubah.
Lebih personal...
Lebih jujur....
Alya menunduk. “Kita sudah bicara…”
“Belum cukup,” potong Arka pelan. “Kamu masih menjauh.”
Alya terdiam.
Ia tidak bisa menyangkal.
“Alya,” lanjut Arka, “aku tidak ingin kamu menjauh karena sesuatu yang seharusnya bisa kita hadapi bersama.”
Alya menggigit bibirnya pelan.
“Aku cuma takut…” ucapnya lirih.
“Takut apa?”
Alya mengangkat wajahnya.
“Takut kalau aku kalah… dari masa lalu itu.”
Arka langsung menggeleng. “Ini bukan tentang kalah atau menang.”
“Tapi rasanya seperti itu,” sahut Alya. “Aku datang setelah semuanya terjadi. Aku bahkan tidak tahu cerita lengkapnya. Aku hanya… ada di akhir.”
Arka menatapnya dalam.
“Kamu bukan akhir, Alya.”
Kalimat itu membuat Alya terdiam.
“Kamu adalah awal yang baru,” lanjut Arka pelan.
####
Hari-hari berikutnya, tugas itu mulai berjalan.
Mereka bertemu lebih sering. Bukan hanya sebagai dosen dan mahasiswa.
Tapi sebagai dua orang yang sedang mencoba memahami satu sama lain.
Mereka mulai berdiskusi di perpustakaan.
Duduk berdampingan,kadang hening.
Kadang penuh percakapan.
Awalnya terasa canggung, Namun perlahan…
Rasa itu mulai mencair.
Suatu sore, hujan turun tiba-tiba saat mereka masih berada di perpustakaan.
Alya berdiri di depan jendela, menatap tetesan air yang jatuh deras.
“Sepertinya kita harus menunggu,” katanya.
Arka berdiri di sampingnya.
“Tidak apa-apa.”
Hening sejenak.
Lalu Alya berkata pelan
“Pak… boleh aku tanya sesuatu?”
Arka mengangguk.
“Kalau waktu itu… hubungan Bapak tidak berakhir… apakah hidup Bapak akan berbeda sekarang?”
Pertanyaan itu membuat suasana berubah.
Arka tidak langsung menjawab.
Ia memandang ke luar jendela.
Lalu berkata
“Mungkin berbeda.”
Alya menunduk.
“Tapi aku tidak tahu apakah itu akan lebih baik.”
Alya menatapnya lagi.
“Kenapa?”
Arka tersenyum tipis.
“Karena aku tidak akan bertemu kamu.”
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup untuk membuat hati Alya bergetar.
Hujan masih turun, Namun untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir…
Alya merasa hangat,bukan karena suasana.
Tapi karena sesuatu yang perlahan kembali.
Kepercayaan..
##
Di sisi lain..
Raka berdiri di koridor kampus, memperhatikan dari kejauhan.
Ia melihat Alya dan Arka di dalam perpustakaan. Dan entah kenapa…
Ada sesuatu dalam hatinya yang terasa aneh.
Ia tersenyum kecil Tapi kali ini…
Tidak sepenuhnya ringan.
maaf lancang🙏🙏🙏