NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Hitam Di Atas Putih

Pagi di SMA 1 Nusa Bangsa dimulai dengan aroma rumput basah dan semangat yang sedikit dipaksakan. Bagi kelas XI MIPA 1, hari Selasa berarti dua jam pertama akan dihabiskan di lapangan olahraga. Biasanya, Cinta menyukai jam pelajaran ini karena ia bisa melepas penat dari rumus-rumus fisika, namun pagi ini, ada rasa gugup yang menyelip di antara langkahnya menuju ruang ganti.

"Cin, lihat deh," bisik Sarah sambil membetulkan ikat rambutnya. "Si Murid Baru itu... sepertinya dia memang diciptakan untuk memakai baju olahraga."

Cinta mengikuti arah pandang Sarah. Di tengah lapangan, Rian sedang melakukan pemanasan sendiri. Ia mengenakan kaos olahraga sekolah yang pas di tubuhnya, memperlihatkan bahu yang tegap dan lengan yang kokoh. Berbeda dengan murid laki-laki lain yang sibuk bercanda atau berebut bola basket, Rian terlihat fokus, gerakannya efisien dan terkontrol.

"Jangan melamun, nanti kena bola," goda Sarah sambil menyenggol bahu Cinta.

"Siapa yang melamun? Aku cuma sedang memperhatikan teknik pemanasannya, sepertinya dia sudah terbiasa berolahraga," bela Cinta cepat, meski ia tahu pipinya mulai merona karena tertangkap basah.

Pak Hendra, guru olahraga mereka, meniup peluit dengan nyaring. Materi hari ini adalah lari estafet. Pak Hendra membagi kelas menjadi beberapa kelompok, dan seolah semesta sedang hobi bermain-main dengan skenario novel Cinta, ia ditempatkan di kelompok yang sama dengan Rian dan Sarah.

"Oke, Rian sebagai pelari terakhir," instruksi Pak Hendra. "Cinta, kamu pelari ketiga. Pastikan serah terima tongkatnya mulus."

Jantung Cinta berdegup kencang saat ia berdiri di posisinya, menunggu Sarah berlari ke arahnya. Saat tongkat berpindah ke tangannya, Cinta memacu kakinya sekuat tenaga. Angin pagi menerpa wajahnya, dan satu-satunya hal yang ia lihat adalah sosok Rian yang sudah bersiap di ujung lintasannya.

Cinta mendekat. Rian mengulurkan tangannya ke belakang tanpa menoleh, sebuah tanda kepercayaan tinggi pada pelari sebelumnya. Saat telapak tangan Rian menyentuh tongkat yang dipegang Cinta, ada kontak fisik singkat yang membuat sensasi hangat merambat ke lengan Cinta.

"Lari, Rian!" teriak Cinta sedikit terengah.

Rian melesat. Kecepatannya luar biasa, meninggalkan pelari dari kelompok lain dengan selisih jarak yang cukup jauh. Saat ia melewati garis finis, ia tidak berlebihan merayakan kemenangannya. Ia hanya mengatur napas, berjalan kembali ke arah kelompoknya, dan menatap Cinta dengan tatapan yang sedikit lebih lembut dari biasanya.

"Kerja bagus," ucap Rian pendek saat berpapasan dengan Cinta.

Cinta hanya bisa mengangguk, masih berusaha mengatur napas dan debaran jantung yang entah kenapa lebih dipicu oleh kata-kata Rian daripada oleh lari sejauh seratus meter tadi.

...****************...

Sore harinya, suasana sekolah sudah mulai sepi, namun aula belakang yaitu bangunan tua dengan lantai kayu yang luas mulai riuh oleh suara teriakan yang serempak.

Cinta berdiri di balik pilar pintu masuk aula. Ia membawa buku catatannya, berpura-pura sedang memantau kegiatan ekstrakurikuler sebagai bagian dari tugas OSIS, padahal matanya hanya mencari satu sosok.

Di tengah barisan murid yang mengenakan seragam karate putih bersih, Rian berdiri tegak. Berbeda dengan penampilannya yang biasanya berantakan di kelas, kali ini ia terlihat sangat rapi. Sabuk putih melilit pinggangnya, namun cara ia berdiri menunjukkan bahwa ia bukan seorang pemula dalam dunia bela diri.

"Semuanya, ambil posisi" teriak pelatih karate mereka.

Cinta memperhatikan Rian. Gerakan Rian sangat tajam. Saat ia melancarkan pukulan, terdengar suara gesekan kain seragamnya yang menandakan tenaga yang besar di balik gerakan tersebut. Tidak ada keraguan, tidak ada gerakan sia-sia. Rian tampak seperti orang yang berbeda. Ia tampak tenang, disiplin, dan sangat berwibawa.

Latihan fisik yang berat dimulai. Mereka diminta melakukan push up dengan kepalan tangan di atas lantai kayu yang keras. Banyak murid yang mulai mengeluh dan gemetar, namun Rian tetap stabil. Keringat membasahi dahi dan lehernya, membuat beberapa helai rambut hitamnya menempel di dahi, menambah kesan intens pada wajahnya.

"Kamu, murid baru," panggil pelatih sambil menunjuk Rian. "Maju ke depan. Lakukan Kata dasar pertama."

Keheningan menyelimuti aula. Murid-murid lain duduk bersimpuh di pinggir lapangan untuk menonton. Rian melangkah maju ke tengah aula. Ia membungkuk hormat dengan khidmat.

Saat Rian mulai bergerak, Cinta merasa seolah-olah sedang menyaksikan sebuah tarian yang mematikan. Setiap langkah, tangkisan, dan pukulan dilakukan dengan presisi yang sempurna. Suara kakinya yang beradu dengan lantai kayu menciptakan irama yang tegas. Rian tidak hanya sekadar menggerakkan tubuh tapi ia seolah sedang menyalurkan seluruh emosi dan kekacauan yang selama ini ia pendam ke dalam bentuk seni yang teratur.

Cinta terpaku. Ia baru menyadari maksud ucapan Rian di ruang OSIS kemarin. Disiplin adalah tentang mengendalikan kekuatan. Rian memiliki kekuatan besar di dalam dirinya yaitu kemarahan, kekecewaan, dan harga diri. Dan di sini, di atas lantai aula ini, ia sedang menjinakkan semua itu.

Setelah selesai, Rian kembali membungkuk. Seluruh anggota karate bertepuk tangan, bahkan pelatih memberikan anggukan apresiasi yang jarang diberikan kepada murid baru.

"Latihan selesai! Silakan bersihkan area," instruksi pelatih.

Cinta buru-buru memalingkan wajah dan berpura-pura menulis di bukunya saat murid-murid mulai berhamburan keluar. Ia berniat pergi sebelum Rian melihatnya, namun sebuah suara menghentikannya.

"Tugas OSIS sampai sore ini, Bu Sekretaris?"

Rian berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia sedang menyampirkan handuk kecil di lehernya, dan wajahnya masih basah oleh keringat. Seragam putihnya tampak sedikit berantakan setelah latihan berat, tapi auranya terasa sangat segar.

Cinta berbalik, mencoba bersikap profesional. "Aku harus memastikan semua ekskul berjalan sesuai jadwal. Bagaimana latihan pertamamu? pelatih sepertinya terkesan."

Rian berjalan mendekati pilar tempat Cinta berdiri. "Lumayan. Setidaknya di sini tidak ada yang bertanya kenapa aku tidak memakai dasi."

Cinta tertawa kecil. "Tapi kamu memakai sabuk, dan itu jauh lebih kaku daripada dasi sekolah."

Rian tersenyum tipis, kali ini sebuah senyuman yang benar-benar sampai ke matanya. "Setidaknya sabuk ini punya fungsi untuk menahan beban, bukan cuma sekadar hiasan leher agar terlihat benar."

Cinta terdiam sebentar, menatap Rian yang tampak begitu kontras dengan cahaya senja yang masuk dari jendela aula. "Kamu terlihat... sangat cocok di sana tadi. Maksudku, karate sepertinya memang tempatmu."

"Mungkin," jawab Rian pelan. Ia menatap ke arah aula yang sudah kosong. "Di sini, semuanya hitam di atas putih. Kalau kamu berlatih keras, kamu jadi kuat. Kalau kamu lengah, kamu jatuh. Tidak ada politik, tidak ada anak pejabat yang bisa membeli teknik. Hanya kamu dan latihanmu."

Cinta merasakan simpati yang mendalam. Ia ingin mengatakan sesuatu untuk menghibur Rian, namun ia merasa kata-kata tidak akan cukup. "Mau pulang? Ojekku sepertinya sebentar lagi sampai."

"Aku antar sampai depan," kata Rian.

Mereka berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Kali ini, tidak banyak percakapan yang terjadi, namun keheningan di antara mereka terasa sangat nyaman, bukan lagi keheningan yang canggung seperti hari pertama.

Di depan gerbang, Rian menunggu sampai Cinta naik ke motor ojeknya.

"Rian," panggil Cinta sebelum motor itu melaju. "Besok ada kuis Sejarah. Ibu Ratna bilang detail Perang Diponegoro sangat penting."

Rian memakai helmnya, lalu menatap Cinta dari balik kaca helm yang bening. "Aku tahu. Aku sudah mencatatnya di buku pemberianmu."

Cinta tersenyum lebar, merasa menang. "Bagus. Sampai bertemu besok, Pendekar."

Rian hanya memberikan gestur hormat ala karate sebelum menyalakan mesin motornya.

Malam itu, di dalam kamarnya yang tenang, Cinta tidak langsung tidur. Ia membuka laptopnya dan mengetikkan judul baru untuk bab di draf novelnya.

Ia menyadari bahwa ia telah belajar satu hal penting dari Rian hari ini yaitu bahwa keteraturan dan disiplin bukan hanya tentang menaati aturan tertulis, tapi tentang bagaimana seseorang menguasai dirinya sendiri. Dan bagi Cinta, Rian bukan lagi sebuah variabel yang mengacaukan hidupnya tapi ia adalah pelengkap yang membuat hidup Cinta terasa lebih nyata, lebih berani, dan sedikit lebih berwarna.

Cinta menutup laptopnya dengan senyuman yang masih tertinggal. Ia tidak sabar menunggu hari esok, hari di mana ia bisa kembali duduk di sebelah masalah yang kini telah menjadi bagian dari ceritanya.

1
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!