NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: PANGGUNG UNTUK SANG PEMBOHONG

Pagi itu, mansion Winchester kedatangan tamu tak diundang. Tiga mobil hitam berhenti tepat di depan lobi, dan yang turun bukan hanya Aldric Halim bersama Shania, tapi juga dua orang pria bertubuh besar dengan seragam putih khas perawat rumah sakit jiwa, didampingi seorang pria berkacamata yang mengaku sebagai dokter saraf.

Keano, yang baru saja selesai sarapan, berdiri di ambang pintu lobi dengan wajah sedingin es. Tangannya masuk ke saku celana, auranya sangat mengancam.

"Tuan Halim," sapa Keano dengan nada rendah yang berbahaya. "Mau apa Anda membawa pasukan sirkus ini ke rumahku?"

Aldric berdehem, mencoba terlihat berwibawa di depan menantunya. "Keano, ini demi kebaikan Alzena. Kami punya bukti kuat bahwa traumanya setelah koma telah menyebabkan gangguan jiwa berat. Dia delusi, agresif, dan membahayakan dirinya sendiri. Kami di sini untuk membawanya menjalani rehabilitasi paksa."

Shania yang berdiri di belakang Aldric memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Kak Keano, tolong mengertilah. Kak Alzena kemarin di kelab malam benar-benar seperti orang kesurupan. Kami hanya ingin dia sembuh."

Tepat saat itu, terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang tegas dari arah tangga. Arcelia—yang dipanggil semua orang sebagai Alzena—turun dengan santai. Dia tidak memakai baju pasien atau daster yang lusuh. Dia mengenakan jumpsuit*m merah darah yang sangat mencolok, rambutnya dikuncir kuda tinggi, dan tangannya memegang sebuah tablet.

"Wah, ramai sekali ya pagi ini," ucap Arcelia sambil tersenyum miring. Dia berjalan lurus ke arah Keano dan berdiri tepat di sampingnya. "Ada apa, Pa? Kangen sama aku sampai bawa dokter segala?"

Aldric menunjuk Arcelia dengan jari gemetar. "Lihat itu, Keano! Cara bicaranya, tatapannya... itu bukan Alzena! Dia sudah kehilangan kewarasannya!"

Dokter di samping Aldric maju selangkah. "Nyonya Alzena, kami hanya ingin memeriksa kesehatan Anda. Tolong ikut kami dengan tenang agar tidak perlu ada kekerasan."

Arcelia tertawa renyah, suara tawanya terdengar sangat meremehkan. "Dokter, sebelum Anda mendiagnosis saya gila, mungkin Anda mau lihat sesuatu yang lebih menarik di tablet ini?"

Arcelia memutar tabletnya menghadap ke arah Aldric dan Shania. Di sana, sedang berlangsung siaran langsung di salah satu platform media sosial terbesar yang sudah ditonton oleh puluhan ribu orang. Ternyata, Arcelia sudah memasang kamera tersembunyi yang menyiarkan seluruh kejadian di lobi itu secara *live*.

"Halo, warga New Ardent!" Arcelia melambaikan tangan ke arah kamera kecil yang tersembunyi di bros bajunya. "Kalian lihat kan? Ini ayah kandung saya, Tuan Aldric Halim, sedang mencoba menjemput paksa putrinya ke rumah sakit jiwa hanya karena saya memegang bukti korupsi perusahaannya."

Wajah Aldric memucat seketika. "Matikan itu! Alzena, apa yang kamu lakukan?!"

"Kenapa, Pa? Takut?" Arcelia melangkah maju, mendekati ayahnya hingga jarak mereka hanya sejengkal. "Dokter, Anda tahu tidak? Tuan Aldric ini menjanjikan posisi direktur di salah satu anak perusahaannya kalau Anda berhasil menyuntik saya dengan obat penenang hari ini. Saya punya rekaman percakapan Anda berdua tadi malam di telepon."

Keano yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya. Dia menatap dokter tersebut dengan tatapan yang seolah bisa membunuh. "Jadi, kau bersekongkol untuk menculik istriku?"

"T-tidak, Tuan Keano! Itu tidak benar!" sanggah sang dokter dengan keringat bercucuran.

"Oh, benar kok," Arcelia menekan tombol lain di tabletnya. Suara Aldric dan sang dokter terdengar jelas sedang bernegosiasi soal "pelenyapan" Alzena ke RSJ selama sisa hidupnya. Suara itu menggema di lobi, didengar oleh semua orang, termasuk ribuan penonton *live streaming*.

Shania mencoba merebut tablet itu. "Itu editan! Kamu licik, Alzena!"

PLAK!

Arcelia menepis tangan Shania dengan satu tamparan keras yang membuat Shania terhuyung. "Jangan sentuh barang mahal gue dengan tangan kotor lo, ular."

Virel yang baru saja sampai karena mengikuti mobil ayahnya, langsung masuk ke lobi. Dia melihat adiknya berdiri tegak dengan penuh kemenangan. Ada rasa bangga sekaligus ngeri melihat betapa pintarnya adiknya membalikkan keadaan.

"Ayah, cukup!" bentak Virel. "Ayah sudah keterlaluan. Pulang sekarang sebelum polisi datang karena laporan percobaan penculikan!"

Aldric menatap Virel dengan marah. "Kau membela dia?! Dia akan menghancurkan kita, Virel!"

"Bukan Alzena yang menghancurkan kita, Pa," sahut Arcelia sambil melipat tangannya di dada. "Papa sendiri yang menghancurkan diri Papa lewat keserakahan. Sekarang, sebelum semua orang di kota ini datang ke sini buat melempar telur busuk ke muka Papa, mendingan Papa pergi."

Keano maju, merangkul pundak Arcelia dengan posesif. "Tuan Halim, mulai detik ini, jika Anda atau orang suruhan Anda berani menginjakkan kaki di tanah Winchester lagi, aku tidak akan segan-segan meratakan gedung Halim Group dengan tanah dalam semalam. Pergi dari sini!"

Aldric, Shania, dan rombongan medis gadungan itu akhirnya lari tunggang-langgang meninggalkan mansion dengan perasaan malu yang luar biasa. Reputasi mereka hancur total karena siaran langsung tersebut.

Setelah mereka pergi, Arcelia mematikan siaran langsungnya. Dia menghela napas panjang, bahunya yang tegang sedikit rileks.

"Puas?" tanya Keano. Dia memutar tubuh Arcelia agar menghadapnya.

"Lumayan," jawab Arcelia. Dia menatap Keano, ada sedikit keraguan di matanya. "Lo beneran nggak mikir kalau gue gila? Gue baru aja permaluin keluarga gue sendiri di depan umum."

Keano mengusap pipi Arcelia dengan ibu jarinya. "Jika menjadi cerdas dan berani seperti ini disebut gila, maka aku lebih suka kau gila selamanya, Alzena."

Keano mencium kening Arcelia cukup lama. Arcelia tidak menolak, dia merasa untuk pertama kalinya ada orang yang benar-benar berdiri di pihaknya tanpa mempedulikan seberapa buruk perangainya.

Virel mendekat dengan langkah ragu. "Zen... Kakak mau bicara."

Arcelia menoleh pada Virel. Sifat bar-barnya sedikit melunak karena dia tahu Virel tidak berniat jahat. "Soal apa, Kak?"

Virel menatap Keano sejenak, lalu kembali ke adiknya. "Soal panti asuhan yang Ayah sebutkan tadi malam. Kakak sudah mulai cari tahu. Dan Kakak nemuin satu dokumen lama yang disembunyikan Ayah di brankas pribadinya. Itu surat adopsi... tapi ada dua nama di sana."

Jantung Arcelia berdegup kencang. Ini dia.

"Ayo bicara di dalam," ajak Keano, menyadari bahwa pembicaraan ini terlalu sensitif untuk di teras.

Mereka bertiga masuk ke ruang kerja. Virel meletakkan sebuah kertas usang yang sudah menguning. Di sana tertulis: Akte Kelahiran Kembar: Alzena Mirelle Halim & Arcelia Mirelle Halim.

"Kita punya adik, Zen. Atau lebih tepatnya, kamu punya kembaran," suara Virel bergetar. "Ayah membuang Arcelia karena ramalan sialan dari kakek. Selama ini Kakak pikir Arcelia sudah meninggal karena sakit saat bayi, tapi ternyata... dia dikirim ke panti asuhan."

Arcelia terdiam, air matanya hampir jatuh tapi dia menahannya. Dia menatap kertas itu. Identitas aslinya. Nama yang selama ini dia gunakan di dunia hacker.

Keano menatap kertas itu, lalu menatap Arcelia dalam-dalam. "Alzena... apa ini alasan kau begitu membenci ayahmu?"

Arcelia menelan ludah. Dia tidak bisa mengaku bahwa dia adalah Arcelia yang masuk ke tubuh Alzena, tapi dia bisa menggunakan fakta ini.

"Iya," jawab Arcelia lirih. "Aku tahu soal ini sejak lama. Dan aku nggak akan berhenti sampai ayah membayar setiap tetes air mata yang jatuh karena keputusannya itu."

Virel memegang tangan adiknya. "Maafin Kakak, Zen. Kakak telat tau semuanya. Mulai sekarang, Kakak bakal bantu kamu. Apapun yang kamu butuhin buat hancurin rencana Ayah, Kakak bakal kasih."

Malam itu, aliansi baru terbentuk. Di dalam ruang kerja yang remang, Arcelia menyadari bahwa dia bukan lagi petarung tunggal. Dia punya kakak yang mulai bangun, dan dia punya suami yang... entah kenapa mulai terasa seperti rumah baginya.

...****************...

TBC

1
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!