NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Racun dari Masa Lalu

Rumah Sakit Keluarga Pradipa berdiri di puncak bukit pinggiran kota—sebuah bangunan putih minimalis yang lebih mirip resort mewah daripada tempat orang sakit. Hanya anggota keluarga inti yang dirawat di sini. Dan saat ini, hanya satu pasien yang menghuni lantai paling atas.

Kakek Wijaya Pradipa.

Aditya melangkah keluar dari mobil Alesha, menatap gedung itu dengan perasaan campur aduk. Di belakangnya, Maya sang kepala keamanan mengikuti tanpa suara, bahu kanannya sedikit kaku—cedera kronis yang disebut sistem.

"Satu hal yang perlu kau tahu," Alesha berjalan di sampingnya, suaranya rendah agar tidak terdengar Maya. "Dokter keluarga kami, Dokter Hendra, sangat protektif terhadap Kakek. Dia tidak akan suka dengan kehadiranmu."

"Kenapa?"

"Karena dia sudah merawat Kakek selama tiga tahun. Dan dia akan menganggapmu ancaman."

Mereka memasuki lobi. Seorang perawat menyambut dengan senyum profesional, lalu mengantarkan mereka ke lift khusus yang hanya bisa diakses dengan kartu VIP.

Lantai 5. Koridor sunyi dengan karpet tebal dan dinding berpanel kayu. Hanya ada satu pintu di ujung—pintu kayu jati dengan ukiran lambang keluarga Pradipa: matahari terbit di atas gunung.

Aditya berhenti. Jantungnya berdetak lebih kencang.

"Matahari," bisiknya.

"Apa?" Alesha menoleh.

"Lambang keluarga Anda. Matahari terbit."

"Warisan dari kakek buyut. Katanya itu simbol harapan." Alesha menyentuh pintu. "Tapi harapan itu mulai pudar."

Pintu terbuka.

Ruangan itu luas—mungkin lebih besar dari seluruh lantai kos Aditya. Jendela kaca dari langit-langit ke lantai menampilkan pemandangan kota. Di tengahnya, sebuah ranjang rumah sakit canggih dengan monitor dan selang infus. Dan di atas ranjang itu, seorang pria tua terbaring dengan mata tertutup.

Kakek Wijaya.

Tapi sebelum Aditya bisa melangkah, suara berat memecah keheningan.

"Alesha! Apa maksudnya ini?"

Seorang pria setengah baya dengan jas putih dokter muncul dari ruang samping. Wajahnya tegang, alisnya bertaut. Dokter Hendra.

"Aku membawa bantuan, Dok."

"Bantuan?" Dokter Hendra menatap Aditya dari ujung kepala ke ujung kaki. "Anak ini? Apa dia dokter? Spesialis saraf? Peneliti?"

"Hanya asisten baru," Alesha menjawab tenang. "Tapi dia punya... keahlian khusus."

"Keahlian khusus," ulang Dokter Hendra dengan nada mengejek. "Apa dia bisa menyembuhkan penyakit yang tidak terdeteksi oleh Mayo Clinic, Johns Hopkins, dan Charité?"

Aditya tidak menunggu izin. Ia berjalan melewati Dokter Hendra dan berdiri di samping ranjang Kakek Wijaya.

"Anak muda, jangan sentuh—"

Tapi Aditya sudah menatap mata kakek itu.

Tiga detik.

All-Seeing Eye Teraktivasi.

Nama: Wijaya Pradipa

Usia: 84 tahun

Kondisi: Koma akibat racun kultivator tingkat menengah.

Zat: "Bayangan Layu"—racun langka yang menyerang jiwa, bukan tubuh. Dibuat oleh kultivator Alam Master ke atas.

Sumber racun: Terminum melalui teh ginseng.

Pelaku: Tidak terdeteksi (data terhapus oleh artefak penyamar).

Waktu kejadian: 3 tahun 4 bulan 12 hari yang lalu.

Satu-satunya penawar: Pil Pemulihan Jiwa (tersedia di Toko Sistem—3000 Koin). Atau: Teknik Pemurnian Jiwa Matahari (belum terbuka).

Kesadaran tersisa: 7%. Mampu mendengar, tidak mampu merespons.

Aditya menghela napas panjang.

"Kakek bisa mendengar kita," katanya pelan.

Semua orang menoleh.

"Apa?" Maya yang dari tadi diam akhirnya bersuara.

"Beliau bisa mendengar. Tapi tidak bisa merespons. Racun yang digunakan..." Aditya menatap Dokter Hendra. "...namanya Bayangan Layu. Racun ini menyerang jiwa, bukan tubuh. Itu sebabnya semua alat medis tidak mendeteksi apa-apa. Secara fisik, Kakek sehat."

Dokter Hendra terbelalak. "Bayangan—apa? Dari mana kau tahu semua ini?"

"Pertanyaan yang lebih penting," Alesha memotong, suaranya berubah tajam, "siapa yang memberi Kakek teh ginseng tiga tahun empat bulan dua belas hari yang lalu?"

Maya melangkah maju. "Nyonya, saya yang bertugas saat itu. Tapi teh itu—"

"Teh itu dikirim oleh seseorang yang dianggap keluarga," Aditya menyelesaikan. "Pelaku tidak terdeteksi oleh sistemku. Dia menggunakan artefak penyamar."

Hening.

Dokter Hendra mundur selangkah, wajahnya pucat. Maya menatap Aditya dengan ekspresi yang berbeda—bukan lagi curiga, tapi waspada. Dan Alesha...

Alesha menatap kakeknya dengan mata berkaca-kaca.

"Jadi Kakek diracuni. Bukan sakit."

"Ya."

"Dan pelakunya masih di luar sana."

"Kemungkinan besar."

Alesha mengepalkan tinjunya. Otot rahangnya mengeras—Aditya bisa melihat urat di lehernya menegang. Wanita ini sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari kemarahan.

"Apa kau bisa menyembuhkannya?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Cek Toko Sistem.

Pil Pemulihan Jiwa: 3000 Koin. Koin saat ini: 150.

Misi yang tersedia: Misi Harian (10 Koin/hari). Tidak cukup.

"Aku butuh waktu," Aditya mengaku. "Penawarnya bisa kudapatkan, tapi... tidak sekarang. Aku perlu menyelesaikan banyak misi dulu."

"Misi?" Dokter Hendra memotong. "Alesha, apa-apaan ini? Kalian bicara soal racun, misi, sistem—ini bukan rumah sakit jiwa!"

"Dokter Hendra," Alesha berbalik, tatapannya sedingin es. "Anda dipekerjakan untuk merawat Kakek. Bukan untuk mempertanyakan metodenya. Jika Anda tidak bisa menerima ini, pintu ada di belakang Anda."

Dokter Hendra membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia menunduk, lalu keluar ruangan dengan langkah gontai.

Maya bersiul pelan. "Satu orang berhasil kau usir dalam waktu lima menit, anak baru. Itu rekor."

Tapi Aditya tidak mendengarkan. Matanya masih tertuju pada Kakek Wijaya. Pria tua itu terbaring tenang, napasnya teratur, wajahnya damai. Tapi di balik itu, jiwanya terjebak dalam racun yang menggerogoti kesadarannya sedikit demi sedikit.

7% kesadaran tersisa.

Aditya membungkuk, mendekatkan mulutnya ke telinga sang kakek.

"Kakek," bisiknya. "Saya tidak tahu apakah Kakek bisa mendengar. Tapi saya berjanji akan membangunkan Kakek. Dan saat itu, ceritakan pada saya siapa yang melakukan ini. Karena orang itu... akan saya temukan."

Tiba-tiba monitor detak jantung di samping ranjang melonjak.

Bip... bip... bipbipbip...

lalu kembali normal.

Alesha menutup mulutnya. Maya berdiri tegak.

Dan Aditya tersenyum tipis.

Kakek Wijaya baru saja menjawab.

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!