Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Fajar di Ladang Tua
Wira terbangun sebelum fajar benar-benar pecah.
Pondok kecil itu masih gelap, tetapi garis cahaya tipis di sela rumbia mulai mengubah warna udara. Tubuhnya terasa kaku karena tidur yang pendek dan tak tenang. Punggungnya pegal, lehernya agak nyeri, dan telapak tangannya masih memegangi kain berisi cincin tua tanpa sadar. Di sekelilingnya, orang-orang lain juga belum benar-benar pulih. Panca tertidur miring dengan wajah kusut, Jaya duduk diam di dekat pintu sambil memandang ke luar, Ki Rangga bersandar pada dinding dengan mata setengah terpejam, dan Raden Seta sibuk membuka lipatan naskah ibunya seperti orang yang tidak bisa benar-benar berhenti memikirkan isi tulisan itu.
Wira menatap mereka satu per satu lalu bangkit perlahan.
“Apa kita aman?” tanyanya pelan.
Jaya menoleh cepat. “Untuk saat ini, ya.”
“Untuk saat ini,” ulang Panca dengan suara berat saat terbangun. “Aku benci kata itu.”
Ki Rangga membuka mata sepenuhnya lalu menatap luar pondok. “Jangan terlalu lama diam. Kalau mereka masih mencari, fajar justru waktu yang baik untuk bergerak.”
Wira mengusap wajahnya. Di luar, kabut tipis menyelimuti ladang tua yang mereka lewati malam tadi. Suara serangga pagi mulai terdengar, dan udara terasa lembap. Tidak ada tanda-tanda orang mendekat, tetapi ketenangan itu justru membuat Wira lebih waspada. Pengalaman beberapa malam terakhir mengajarkannya bahwa bahaya tidak selalu datang dengan suara keras.
Raden Seta menutup naskah itu lalu menoleh ke Wira. “Kita harus lanjut sebelum matahari naik terlalu tinggi.”
Wira mengangguk. Ia mendekat dan duduk di depan naskah yang dilipat itu. “Aku masih ingin tahu satu hal.”
“Apa?” tanya Raden Seta.
“Kenapa tulisan ibu terasa seperti dia tahu semuanya lebih dulu?”
Raden Seta diam sebentar, lalu menjawab, “Karena mungkin memang begitu.”
Wira menahan napas. Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi juga berat. Ia belum sepenuhnya bisa menerima bahwa ibunya mungkin sudah menyiapkan semua ini jauh sebelum ia sadar apa yang sedang terjadi.
Ki Rangga bangkit dan meregangkan bahunya. “Kita akan tahu lebih banyak kalau sampai ke tujuan berikutnya.”
Panca duduk sambil menguap lebar. “Aku harap tujuan berikutnya punya makanan.”
“Kalau beruntung,” balas Jaya.
“Kalau tidak?”
“Kalau tidak, kau akan tetap hidup sambil mengeluh.”
Panca memejamkan mata sejenak. “Itu terdengar sangat tidak adil.”
Wira hampir tersenyum. Hampir. Tetapi pikirannya kembali pada cincin tua yang disimpan di kain kecil. Ia mengeluarkannya dan menatapnya dalam cahaya pagi yang mulai masuk. Kini benda itu tampak berbeda. Ukirannya lebih jelas, dan di bagian dalam terlihat goresan halus yang sebelumnya ia tak sempat perhatikan. Ada tiga garis kecil yang saling berpotongan.
Ia menunjukkan itu pada Ki Rangga.
“Ini sebelumnya tidak terlihat.”
Ki Rangga mengamati cincin itu lalu mengangguk. “Karena cahaya berbeda.”
Raden Seta langsung menghampiri. “Tiga garis itu penanda arah.”
Wira menatapnya. “Arah ke mana?”
Raden Seta mengambil naskah ibunya dan membuka halaman yang tadi ia baca semalam. Ia menunjuk satu bagian kecil di pinggir lembar. Di sana ada gambar pendek berupa tiga garis melengkung yang mengarah ke titik tengah.
“Ini cocok,” katanya.
Panca mendekat sambil mengernyit. “Jadi cincin itu bukan hanya penutup. Dia juga memberi arah?”
“Ya,” jawab Raden Seta.
Wira menghela napas pelan. Semakin lama, benda yang ia pegang terasa semakin rumit. Bukan sekadar warisan. Bukan sekadar tanda. Ada lapisan-lapisan yang sengaja disematkan di dalamnya.
Ki Rangga memandang Wira. “Coba lihat sisi luarnya.”
Wira memutar cincin di telapak tangan. Di tepi luar, ada satu goresan kecil yang tak sejajar dengan ukiran lain. Ia baru sadar bahwa goresan itu seperti celah tipis untuk membuka sesuatu. Ki Rangga mengangguk kecil, lalu menyentuh bagian itu dengan ujung jari.
“Sepertinya ada mekanisme.”
Jaya menatap Wira. “Bisa kau rasakan?”
Wira menggeser ibu jarinya ke sela kecil itu. Benar saja, ada bagian yang sedikit longgar. Tidak banyak, tetapi cukup untuk menimbulkan kemungkinan bahwa cincin itu tidak kosong. Ia menatap Ki Rangga.
“Apa yang ada di dalam?”
Ki Rangga menggeleng. “Belum saatnya dibuka.”
Panca langsung menyela, “Kalau begitu kenapa kita terus menggendong benda-benda yang belum boleh dibuka?”
Jaya menatapnya datar. “Karena kalau dibuka sekarang, kita mungkin belum siap menghadapi isinya.”
Panca mengangkat alis. “Aku mulai curiga semua jawaban kalian didesain untuk membuat orang frustrasi.”
Raden Seta justru tampak tidak memedulikan keluhan itu. Ia lebih sibuk menatap peta kecil yang tadi tersimpan bersama naskah. “Kalau kita membaca jalur ini benar, tempat tujuan sebenarnya tidak jauh.”
Wira menatap peta itu. Ada garis melingkar yang menurun ke wilayah datar di sebelah timur ladang tua. Di sana ada tanda kecil seperti titik air atau sumur. Selain itu, ada satu simbol lain yang menyerupai bangunan kecil dengan atap miring.
“Ini menuju ke desa?”
“Ke pinggir desa,” jawab Raden Seta. “Tepatnya ke tempat yang dulu dipakai sebagai rumah singgah kecil sebelum jalur dipindahkan.”
Panca menatapnya curiga. “Kau bilang rumah singgah lagi?”
Raden Seta mengangguk. “Bukan kebetulan. Tempat-tempat seperti itu dulu dijaga untuk memindahkan barang atau orang tanpa menarik perhatian.”
Wira menatap peta itu lebih lama. Di sudutnya, ada tulisan pendek yang nyaris pudar. Setelah ia menajamkan mata, ia bisa membacanya.
“Jika tanda telah bersatu, cari rumah yang tak lagi disebut.”
Ia menatap Raden Seta. “Rumah yang tak lagi disebut?”
“Artinya tempat itu sudah lama ditinggalkan dari ingatan umum,” jawab Raden Seta. “Tapi masih ada di peta lama.”
Ki Rangga menatap luar pondok. “Kalau begitu kita harus bergerak sekarang.”
Mereka bersiap tanpa banyak bicara. Panca mengumpulkan sedikit air dari wadah bambu, Jaya memeriksa luar pondok sekali lagi, dan Raden Seta menyimpan naskah serta peta ke dalam kain. Wira melilitkan cincin tua itu kembali bersama lembaran kecil lain yang ia ambil. Ki Rangga mengikatkan kain itu di pinggangnya sendiri, dekat senjata kecil yang selama ini selalu dibawanya.
Sebelum keluar, Wira menoleh ke pondok kecil itu. Tempatnya sederhana, nyaris tak layak disebut aman. Namun di sanalah mereka sempat berhenti dan menyusun arah. Ia merasakan perasaan aneh: malam-malam pelarian yang melelahkan justru telah membawa dirinya semakin dekat pada sesuatu yang seharusnya sudah lama hilang.
Mereka berjalan menembus ladang tua saat fajar mulai menguning.
Tanah di bawah kaki terasa lembek, bekas embun menempel di ujung rumput. Di kejauhan, burung-burung kecil mulai terbang rendah. Wira menoleh ke belakang sesekali, masih belum tenang. Namun tidak ada yang mengikuti dari arah pondok. Untuk sementara, mereka memang lolos.
Ki Rangga memimpin jalan ke sisi timur ladang. Di sana ada jalur tanah sempit yang mengarah ke deretan pohon tua. Pohon-pohon itu berdiri rapat, batangnya tinggi dan cabangnya saling bertaut seperti lorong alami. Jalur itu seolah memaksa mereka masuk ke tempat yang lebih sunyi.
Panca mendecak pelan. “Ini terasa seperti jalan menuju rahasia lagi.”
Jaya menjawab singkat, “Karena memang begitu.”
Wira menatap Jaya. “Kau benar-benar pernah lewat semua tempat seperti ini?”
Jaya tidak langsung menjawab. Ia justru menatap lurus ke depan sebelum berkata, “Dulu, sebelum semuanya berubah.”
Wira menangkap nada kecil dalam suaranya. Ada masa lalu yang belum ia sentuh. Namun ia tahu bukan saatnya memaksa.
Setelah berjalan cukup jauh, mereka melihat bekas pagar bambu tua yang sudah roboh. Di baliknya, tampak bangunan kecil dengan atap miring setengah tertutup semak. Dari jauh memang terlihat seperti rumah kosong biasa. Tetapi semakin dekat, Wira mulai melihat tanda-tanda yang berbeda. Pintu depannya memiliki ukiran samar. Dinding kayunya tampak lebih tebal dari rumah biasa. Dan di sisi samping ada lubang kecil yang jelas bukan dibuat untuk ventilasi biasa.
“Ini?” tanya Wira.
Raden Seta mengangguk. “Rumah yang tak lagi disebut.”
Panca mengerutkan dahi. “Jadi ini tempatnya?”
“Bisa jadi,” jawab Raden Seta.
Ki Rangga mengamati sekeliling. “Tak ada tanda penghuni.”
“Masuk dulu,” kata Jaya.
Panca langsung menahan. “Tunggu. Kenapa selalu masuk dulu? Bagaimana kalau di dalam ada orang?”
Ki Rangga menatapnya singkat. “Kalau kau ingin tetap di luar, silakan.”
Panca mendesah. “Tidak, terima kasih.”
Mereka mendekat. Pintu rumah kecil itu sebenarnya terkunci dari dalam, tetapi engselnya tampak tua dan longgar. Jaya menekan bagian samping, dan papan pintu terbuka dengan bunyi berderit pelan. Wira langsung mencium bau kayu tua, debu, dan asap lampu yang sudah sangat lama padam.
Di dalam, ruangannya sempit namun terawat. Ada tikar, meja kecil, beberapa rak kosong, dan satu tungku kecil di sudut. Yang paling menarik perhatian Wira adalah satu panel kayu di dinding belakang yang tampak baru dibanding sekitarnya.
Raden Seta memandangnya. “Ada sesuatu di belakang.”
Ki Rangga melangkah ke panel itu lalu menekannya. Tidak langsung terbuka, tetapi ada bunyi klik kecil. Ia menekan lagi pada sisi yang lain. Kali ini panel bergerak mundur sedikit, memperlihatkan celah sempit yang mengarah ke ruang belakang.
Wira menahan napas.
Saat panel itu terbuka lebih lebar, ruangan kecil di belakangnya terlihat.
Dan di sana ada satu meja batu pendek, satu tempayan tanah, serta sebuah kotak kayu yang dilapisi kain putih seperti kotak di aula bawah tanah. Namun kotak ini lebih kecil. Di depannya ada ukiran serupa dengan simbol keluarga mereka.
Panca langsung berbisik, “Jangan bilang ini kotak lagi.”
Raden Seta memandangnya dengan tenang. “Memang kotak.”
Wira maju pelan. Jantungnya mulai berdetak cepat lagi. Tempat itu terasa seperti simpul terakhir dari rangkaian jejak yang mereka ikuti sejak jauh. Ia menatap kotak kayu kecil itu, lalu ke ukiran di depannya. Simbolnya serupa dengan cincin dan peta. Semua kembali terhubung.
Ki Rangga menatap Wira. “Buka.”
Wira mengangguk, lalu meletakkan kain berisi cincin tua di meja batu kecil itu. Aneh, begitu cincin diletakkan di sana, permukaan meja mengeluarkan bunyi pelan. Seperti ada mekanisme dalam kayu atau batu yang merespons benda itu.
Jaya langsung memiringkan kepala. “Ada lapisan lain.”
Raden Seta menatap meja itu dengan wajah tegang. “Kotak ini mungkin tidak bisa dibuka tanpa cincin.”
Panca mengangkat alis. “Jadi akhirnya ada kegunaannya.”
Wira menatap benda itu, lalu meraih cincin dari kain dan mencoba menyesuaikannya pada cekungan ukiran di tutup kotak. Ternyata pas.
Begitu cincin itu menempel, bunyi dari dalam kotak terdengar sangat pelan. Lalu kait kecil pada sisi kotak terbuka sendiri.
Semua diam.
Wira memandangi kotak itu lama sebelum akhirnya membuka tutupnya.
Di dalamnya hanya ada dua benda.
Sebuah kunci dari logam tua yang sangat kecil, dan selembar kain tipis berisi tulisan pendek.
Wira langsung mengambil kain itu. Tulisan di atasnya ditulis oleh tangan ibunya. Ia mengenali bentuk huruf-hurufnya dari naskah sebelumnya.
Ia membaca perlahan.
“Jika kau menemukan ini, berarti pintu telah dibuka. Kunci ini bukan untuk ruangan yang kita tinggalkan, melainkan untuk tempat yang tidak akan dicari orang biasa. Jangan percaya pada siapa pun yang mengaku mengetahui seluruh jalan. Ikuti tanah yang retak di belakang rumah lama. Di sana, jawaban terakhir menunggu.”
Wira membeku.
Panca mendekat sambil melongok ke kain itu. “Tanah yang retak?”
Raden Seta menatap tulisan itu. “Berarti ada satu tempat lagi.”
Jaya menoleh ke arah luar rumah kecil. “Dan mungkin orang lain juga sedang menuju ke sana.”
Ki Rangga menyambar kunci kecil itu, lalu memandang Wira. “Kau baik-baik saja?”
Wira menatap tulisan ibunya yang masih digenggam. Dadanya terasa sesak, tetapi anehnya bukan hanya karena takut. Ada rasa lega kecil yang bercampur dengan tegang. Ibunya masih menyisakan arah. Masih ada jalan. Dan sekarang ia tahu ibu itu bukan sekadar menghilang, melainkan mengatur jalur agar ia tidak tersesat.
“Tidak,” jawab Wira pelan. “Tapi aku mengerti sedikit lebih banyak.”
Panca menghela napas. “Kalimat paling tidak meyakinkan di dunia.”
Jaya justru melirik ke luar jendela kecil. “Kita harus segera ke rumah lama itu.”
Raden Seta mengangguk. “Sebelum fajar benar-benar naik tinggi.”
Ki Rangga menyimpan kunci kecil itu. “Kalau begitu bergerak.”
Wira menatap pondok kecil di belakang, lalu rumah tak lagi disebut itu, lalu kertas ibunya di tangannya. Ia tidak lagi merasa seperti orang yang sekadar diburu. Kini ia sedang bergerak menuju sesuatu yang memang dipersiapkan untuknya, entah sejak kapan. Dan di kejauhan, di antara tanah retak dan rumah lama yang disebut ibunya, jawaban terakhir tampaknya sudah menunggu.
Mereka keluar dari rumah kecil itu satu per satu.
Fajar sudah menguning sepenuhnya di atas ladang.
Dan Wira melangkah ke arah berikutnya dengan satu kepastian baru: perjalanan ini hampir sampai pada inti yang sebenarnya.
bukin pusing aja