Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Maira terbangun dari tidur nya, dia merasa ingin buang air besar. Maira melihat ke samping nya, dan dia tidak menemukan Azam di sana.
"Kemana mas Azam malam- malam seperti ini?" Maira bertanya pada diri nya sendiri.
Maira segera bangun dan turun dari tempat tidur nya, dia melihat ke sekeliling nya dan tidak menemukan keberadaan suami nya.
"Apa mungkin mas Azam di kamar mandi ya?" Maira kembali bertanya pada diri nya sendiri.
Maira berjalan ke arah pintu kamar mandi, pintu dalam keadaan tertutup dan tidak ada suara air di dalam. Itu arti nya Azam tidak ada di sana, Maira langsung masuk dan benar saja dia tidak menemukan suami nya di kamar mandi.
Maira langsung menuntaskan hajat nya, setelah itu dia berniat mencari suami nya.
"Mungkin haus dan dia pergi ke dapur buat mengambil air minum!" Maira berfikir positif tentang suami nya.
Kebetulan Maira merasa haus, dia pun melangkah kan kaki nya menuju ke arah dapur. Tapi saat mencapai pintu dapur, dia melihat sosok manusia yang berlawanan jenis sedang duduk di meja makan. Kedua nya sedang berpelukan, Maira penasaran dengan apa yang di lihat nya.
Lampu dapur memang sedang menyala, dan dua orang itu duduk membelakangi Maira.
"Aku bahagia sekali mas, Mama merestui hubungan kita. Aku sudah tidak sabar lagi untuk segera menjadi istri mu!" Nia berkata sambil membelai wajah Azam.
"Aku juga Nia, dengan begitu aku bisa menepati janji ku pada Mas Damar untuk menjaga kau dan Ayu sampai nanti!" Azam menjawab nya sambil mengelus kepala Nia.
Maira yang melihat dan mendengar nya, langsung menutup mulut nya dengan kedua tangan nya. Dia sangat terkejut dan masih tidak percaya, suami nya dan juga istri dari almarhum kakak nya sedang bermesraan di dapur tengah malam seperti ini.
"Mas, Ayu pasti bahagia sekali karena sebentar lagi dia akan memiliki Ayah. Aku kasihan pada nya, selama ini dia selalu di buly karena tidak memiliki Ayah!" Nia kembali berkata.
"Kamu tenang saja sayang, Ayu tidak akan mengalami nya lagi. Kita berdua akan membesar kan Ayu bersama, Ayu juga putri ku, penerus keluarga ini!" Jawab Azam lagi.
"Mas, boleh aku bertanya suatu hal pada mu?" Tanya Nia dengan lembut.
"Tanyakan saja!" Jawab Azam santai.
"Mas, kenapa saat ini Maira tidak kunjung hamil?, padahal kan usia pernikahan kalian sudah 5 tahun. Apa Maira mandul ya?" Nia bertanya pada Azam.
Maira yang mendengar pertanyaan Nia, hati nya mendadak perih. Dia tidak kunjung hamil, karena Azam yang meminta nya minum pil kontrasepsi. Azam bilang pada nya, agar mereka menunda memiliki keturunan sendiri, karena ada Ayu yang harus mereka urus. Azam ingin fokus pada Ayu, sebab Ayu adalah putri kakak nya dan sang kakak sudah meninggal dunia.
"Sayang, sebenar nya Maira tidak mandul. Aku sengaja meminta nya meminum obat penunda kehamilan, aku ingin kami fokus mengurus Ayu dahulu. Ayu kan masih kecil saat mas Damar meninggal, dan dia masih butuh sosok Ayah. Dan aku akan menjadi sosok Ayah bagi Ayu, itu lah sebab nya aku menunda punya anak dari Maira agar bisa lebih memperhatikan Ayu!" Azam menjelaskan alasan di balik ke tidak hamilan Maira.
"Mas, kau benar - benar menyayangi Ayu seperti putri kandung mu sendiri, terima kasih mas!" Nia langsung mengalungkan tangan nya di leher Azam.
"Aku akan melakukan apapun untuk Ayu dan diri mu, aku bahkan tidak pernah memberikan gaji ku para Maira. Semua gaji ku sebagian besar untuk mu dan Ayu!" Azam berkata sambil memandang wajah Nia.
"Aku bahagia mendengar nya, Mas!" Kedua nya semakin mengeratkan pelukan mereka.
Maira terpaku di tempat nya, hati nya begitu sakit melihat pemandangan di depan mata nya. Saat ini lampu yang berada di ruang keluarga memang sengaja di padam kan, sehingga Azam dan Nia tidak menyadari kehadiran Maira yang sedang berdiri di pintu pembatas.
Air mata mengalir begitu saja tanpa bisa Maira tahan lagi, suami yang sangat di cintai nya kini menduakan nya dengan ipar nya sendiri. Dengan langkah pelan, Maira meninggal kan tempat itu dan kembali ke dalam kamar nya. Maira melupakan tujuan awal nya yang ingin mengambil air minum di dapur.
'Tega sekali Mas, aku melakukan apa saja untuk mu dan keluarga mu, tapi ini lah balasan yang aku terima, pengkhianatan!' Batin Maira sambil menangis.
Maira meremas erat selimut yang dia gunakan, rasa kecewa, marah, kesal dan benci bercampur aduk menjadi satu. Semua itu berubah menjadi api dendam di hati nya, ya Maira dendam atas perbuatan suami dan keluarga nya.
'Mas, aku bisa menerima apapun bentuk kesalahan mu dan keluarga mu, tapi tidak dengna pengkhianatan. Aku berjanji akan membalas rasa sakit ini, aku akan membuat kau dan keluarga mu merasakan rasa sakit yang lebih dari apa yang aku alami saat ini!' Batin Maira di dalam hati.
Maira menghapus sisa air mata yang mengalir di pipi nya, dia tidak ingin menjadi lemah. Jika diri nya lemah, maka mereka semua akan semakin menindas nya. Maira bertekad, dia tidak akan pergi dari rumah itu sebelum hati nya puas melihat penderitaan mereka.
Maira segera membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur, lalu dia menarik selimut hingga sebatas dada nya.
Ceklek.
Pintu pun terbuka, Azam masuk ke dalam kamr mereka. Maira berpura - pura memejam kan mata nya, dia tidak mau ketahuan oleh Azam jika dia bangun tadi. Maira merasakan tempat tidur sedikit bergerak, Azam sudah naik ke atas nya dan mulai membaringkan tubuh nya di samping Maira.
Setelah beberapa saat, Maira pura - pura terbangun. Dia menyibak kan selimut nya dan turun dari tempat tidur.
"Mau kemana kamu dek?" Tanya Azam.
"Aku haus mas, aku mau mengambil air minum ke dapur!" Jawab Maira yang berusaha agar terlihat biasa saja.
"Oh,,,!" Azam hanya ber oh saja.
Maira segera keluar dari dalam kamar nya, dan di dapur dia tidak lagi melihat kehadiran Nia di sana.
'Hmmm, mungkinkah jalang itu sudah tidur?' Guman Maira sambil menuang kan air ke dalam gelas nya
Maira meminum air nya hingga kandas tak tersisa, dia duduk di meja makan. Dia memikir kan cara untuk membalas perbuatan mereka semua, tekad Maira sudah bulat. Maira pastikan semua orang akan meninggal kan rumah ini dalam waktu 3 bulan ke depan, Maira berencana untuk kembali ke rumah orang tua nya saat waktu itu tiba.
Angsuran rumah ini sudah berjalan selam 3 tahun, dan selama ini Maira lah yang membayar nya. Dia sudah tidak sabar lagi untuk melihat Azam keteteran saat jatuh tempo tanggal pembayaran nya tiba.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH