Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Teratai Di Atas Abu
Bab 5 — Teratai yang Tidur Dalam Abu
Malam itu, udara di dalam gubuk terasa dingin meski perapian masih menyala pelan. Sejak mendengar kenyataan pahit dari A Bao, hati Lian Hua terasa kosong dan berat, seolah ada batu besar yang menindih dadanya. Ia duduk bersila di sudut ruangan, memejamkan mata, mencoba menenangkan kekacauan di dalam pikirannya. Meski tahu jalan kultivasi biasa tertutup baginya, ia tak bisa membuang begitu saja tekad yang telah tertanam dalam—tekad untuk tumbuh kuat, dan menuntut balas atas kehancuran klannya.
Tangan kanannya tergenggam erat di dada, memegang liontin giok pusaka klan yang selalu dibawanya ke mana saja. Seperti biasa, batu giok itu terasa dingin dan halus di telapak tangan. Namun malam itu, saat pikirannya benar-benar tenang dan seluruh perasaannya tercurah pada benda itu, perlahan-lahan timbul perubahan aneh.
Cahaya hijau samar mulai memancar dari sela-sela jari-jemarinya. Sinar itu lembut, tak menyilaukan, namun perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya, menyelimutinya bagai selimut hangat. Di saat yang sama, hawa dingin yang biasa menjalar di dalam badannya perlahan menghilang, digantikan rasa damai yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Lian Hua terkejut, namun ia tak membuka matanya. Ia membiarkan perasaan itu membawanya pergi, membiarkan kesadarannya melayang makin jauh, meninggalkan raga fisiknya, meninggalkan gubuk reyot itu, hingga akhirnya segala suara dan bayangan di sekelilingnya lenyap sepenuhnya.
Saat ia kembali bisa melihat, Lian Hua mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang sama sekali asing.
Di hadapannya terbentang hamparan luas bakau dan kolam air tenang yang tak berujung. Air di sana bening namun berwarna kelabu, tenang tanpa riak sedikit pun. Di atas permukaan air itu, tumbuh ribuan bunga teratai yang bermekaran indah. Anehnya, seluruh bunga itu hanya memiliki dua warna: putih bersih seputar awan pagi, dan hitam pekat sehitam malam tanpa bintang. Keduanya tumbuh bersisian, saling berhadapan, saling melengkapi, namun tak pernah bersatu. Di udara, tercium aroma samar bunga yang manis namun dingin, seolah membawa hawa yang berusia ribuan tahun lamanya.
Langit di atas kepalanya tak ada matahari maupun bulan, hanya cahaya redup yang berasal dari bunga-bunga itu sendiri, menerangi seluruh ruangan luas yang tak memiliki dinding maupun atap, namun terasa tertutup dan terasing dari dunia luar.
"Ini di mana...?" gumam Lian Hua pelan. Suaranya bergema lembut, namun tak ada jawaban yang datang. Ia melangkah maju, mendekati salah satu bunga teratai putih yang besar dan indah. Saat ia menyentuh kelopaknya dengan jari, seketika aliran pengetahuan yang tak terhitung jumlahnya mengalir masuk ke dalam benaknya—sejarah kuno, aturan alam, rahasia tenaga, dan prinsip kehidupan yang tak pernah ia dengar atau pelajari sebelumnya.
Ia tertegun, lalu berbalik menatap bunga teratai hitam di sebelahnya. Saat ia menatapnya, ia merasakan hawa yang sama sekali berbeda: gelap, dalam, namun penuh kekuatan yang dahsyat, seolah berisi rahasia kehancuran dan kelahiran kembali yang tersembunyi.
Lian Hua teringat pesan gurunya, bahwa liontin ini menyimpan rahasia besar leluhur. Ternyata... rahasia itu ada di sini, di tempat misterius ini. Ia sadar, tempat ini bukanlah dunia nyata, melainkan ruang batin yang tersimpan di dalam pusaka itu, tempat yang mungkin hanya bisa dimasuki oleh pewaris sejati Klan Teratai Suci.
Ia berdiri diam di tengah lautan bunga itu, merasakan betapa kecil dan lemahnya dirinya, namun juga merasakan ada harapan baru yang perlahan tumbuh di dasar hatinya. Jalan kultivasi biasa memang tertutup, tapi di sini, di antara teratai putih dan hitam ini, mungkin ada jalan lain yang sedang menunggunya.
Saat ia sedang tenggelam dalam kekaguman dan harapan itu, tiba-tiba suasana berubah. Angin yang semula tenang seolah berhenti berhembus. Cahaya yang menyinari tempat itu berdenyut pelan, seolah mengikuti irama detak jantung yang sangat besar dan tua.
Dari kejauhan, di tengah-tengah antara barisan bunga putih dan bunga hitam, terdengar suara yang berat, dalam, namun juga lembut dan berwibawa. Suara itu terdengar begitu kuno, seolah telah ada sejak dunia ini pertama kali tercipta, dan telah menunggu ribuan tahun hanya untuk saat ini.
Suara itu membelah keheningan, dan memanggil namanya dengan jelas, seolah berbicara langsung ke dalam sanubarinya:
"Lian Hua... Pewaris terakhir Klan Teratai Suci... Kau akhirnya datang..."