Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Malam Sebelum Perang
Pukul 02.00 dini hari. Villa Pradipa masih dipenuhi petugas keamanan yang membersihkan puing-puing dan memperbaiki panel listrik yang rusak. Tapi di salah satu kamar tamu, Aditya tidak bisa tidur.
Ia duduk bersila di lantai, kedua mata terpejam, mencoba merasakan aliran energi yang mulai familiar di tubuhnya. Pil Pemurnian telah membuka sesuatu—saluran-saluran kecil yang sistem sebut sebagai "jalur meridien". Kini, setelah mempelajari Silent Step, ia mulai mengerti cara mengalirkan energi itu ke bagian tubuh tertentu.
Status Kultivasi: 12% menuju Alam Bela Diri Tingkat Awal.
"Dua belas persen," bisiknya. "Setelah semua ini, baru dua belas persen."
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Maya masuk membawa dua kaleng minuman energi. Seragam keamanannya sudah diganti dengan kaos hitam polos—lengan kanannya terbuka, menampakkan bekas luka panjang dari bahu ke siku.
"Ini bekas dari Kopassus?" Aditya bertanya.
Maya menatap lengannya sendiri, lalu melempar satu kaleng ke arah Aditya. "Bukan. Itu dari misi pertama setelah aku keluar dari militer. Pengawalan salah satu direktur Pradipa. Diserang pakai golok."
"Mereka bilang cedera bahumu kronis."
"Mereka?" Maya duduk di kursi, membuka kalengnya dengan satu tangan. "Maksudmu sistemmu?"
Aditya mengangguk.
"Apa lagi yang sistemmu bilang tentang aku?"
Aditya ragu sejenak. "Dia bilang kau punya trauma masa lalu. Terkait... adik perempuanmu yang hilang."
Kaleng di tangan Maya berhenti di tengah jalan.
Hening.
Lima detik. Sepuluh detik.
"Kalau kau bukan sekutuku," suara Maya turun setengah oktaf, "aku mungkin sudah memukulmu sekarang."
"Aku tidak akan tanya lebih jauh. Maaf."
"Tidak apa." Maya meneguk minumannya. "Semua orang di tim lamaku tahu. Itu sebabnya aku keluar dari Kopassus. Adikku—namanya Rina—diculik waktu umur 14. Aku umur 22, baru lulus pendidikan. Merasa paling jago. Paling bisa nyelamatkan semua orang." Ia tertawa getir. "Sampai sekarang tidak ketemu."
Aditya tidak menjawab. Ia hanya menatap panel sistemnya. All-Seeing Eye menunjukkan bahwa Maya menyembunyikan sesuatu—angka "Luka batin: 94%" berkedip pelan.
"Kalau aku bisa membantu mencarinya..."
"Caranya gimana? Sistemmu bisa lihat orang hilang?"
"Aku tidak tahu. Tapi sistemku terus berkembang. Levelnya masih rendah sekarang, tapi..." Aditya menggenggam liontin di dadanya. "Aku merasa ini bukan kebetulan. Semua yang terjadi—liontin ini, sistem, pertemuanku dengan kalian—semuanya seperti benang yang ditarik oleh sesuatu."
"Takdir?"
"Atau jebakan." Aditya tersenyum tipis. "Tapi kalau itu jebakan, setidaknya aku tidak sendirian jatuh ke dalamnya."
Maya menatapnya lama, lalu melempar sesuatu dari sakunya—sepasang sarung tangan hitam dengan lapisan tipis di buku jari.
"Itu serat karbon. Bisa bikin pukulanmu lebih sakit tanpa melukai tangan sendiri. Besok kau akan butuh."
"Kapten Maya..."
"Aku tidak bisa selamanya menembaki orang dari kejauhan. Kau butuh bisa bertarung jarak dekat. Anggap saja investasi."
Aditya menerima sarung tangan itu. Bahannya ringan tapi kuat. Ia memakainya, mengepalkan tinju. "Terima kasih."
"Selesaikan urusan besok dulu," Maya berdiri, berjalan ke pintu. "Kalau kita selamat, kita cari adikku."
"Janji."
Maya berhenti di ambang pintu, tanpa menoleh. "Kau tahu, dulu aku benci orang sok pahlawan. Tapi entah kenapa... kau berbeda. Mungkin karena kau sebenarnya juga tidak tahu apa yang kau lakukan."
"Terima kasih... kurasa?"
"Bukan pujian. Cuma pengamatan." Maya menutup pintu.
---
Aditya menghabiskan dua jam berikutnya dengan berlatih. Silent Step sekarang bisa ia aktifkan lebih cepat—cukup dengan memfokuskan energi ke telapak kaki, hitungan tiga detik. Sarung tangan karbon dari Maya menambah kepercayaan diri, meski ia sadar kekuatan fisiknya masih terlalu rendah.
Kekuatan: 9. Kecepatan: 9. Stamina: 12. Skill: Silent Step (Level 1), All-Seeing Eye (Level 1).
"Dengan begini, besok cuma bisa jadi pengumpan," gumamnya.
Tiba-tiba panel sistem berkedip.
Notifikasi: Pendeteksian artefak kuno di dekat Anda. Lokasi: Kamar sebelah—tempat Nyonya Alesha menyimpan Belati Surya.
Aditya mengernyit. Ia keluar kamar dan berjalan ke ruang penyimpanan. Pintunya tidak terkunci.
Di dalam, Alesha duduk menghadap belati yang tergeletak di atas meja. Bilahnya masih berpendar kebiruan—lebih redup dari tadi, tapi masih terlihat jelas dalam gelap.
"Kau tidak tidur?" tanya Aditya.
"Kau juga."
Aditya duduk di kursi seberang. "Belati itu... sistemku mendeteksinya sebagai artefak kuno."
Alesha mengangguk pelan. "Aku juga baru sadar. Benda ini bukan cuma pusaka. Kakek pernah bilang, tujuh pusaka diciptakan oleh tujuh kesatria. Masing-masing punya kekuatan berbeda."
"Tujuh kesatria... yang mengabdi pada Dewa Matahari?"
Alesha menatap Aditya tajam. "Dari mana kau tahu soal itu?"
"Aku baca file yang dikirim Maya. Legenda keluarga Pradipa."
"Legenda yang bahkan aku sendiri tidak pernah percaya." Alesha menyentuh bilah belati, jarinya tidak terluka meski menyentuh bagian tajam. "Sampai malam ini."
"Mungkin legenda itu nyata." Aditya menyentuh liontin di balik kemejanya. "Dan mungkin liontin yang kutemukan di gedungmu adalah salah satu dari tujuh pusaka itu."
Alesha terdiam. Lalu bertanya: "Kenapa kau tidak bilang dari awal?"
"Karena aku sendiri tidak yakin. Sampai sekarang."
Keduanya duduk dalam diam, ditemani cahaya biru dari Belati Surya. Di luar jendela, langit mulai menunjukkan warna jingga di ufuk timur.
"Besok kita serang markas Kartel," Alesha akhirnya bicara. "Kalau kau mati, aku tidak akan memaafkanmu."
"Kalau aku mati, aku juga tidak akan bisa minta maaf."
Alesha nyaris tersenyum. "Pintar sekali."
"Makanya diangkat jadi asisten."