NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Berat

BAB 20 — Rahasia yang Berat

Mobil memasuki batas kota London kembali. Pemandangan hijau tenang di tepi danau perlahan berganti menjadi gedung-gedung tinggi dan hiruk pikuk lalu lintas yang tak pernah tidur.

Dan seiring dengan itu, suasana di dalam mobil pun perlahan berubah.

Senyum lepas yang menghiasi wajah Adrian selama dua hari terakhir perlahan memudar, digantikan oleh kerutan kening yang familiar. Bahunya yang rileks kembali menegak kaku. Topeng Dr. Vale perlahan dipasang kembali, selebaran demi selebaran, menutupi sisi manusiawi yang hanya muncul di tempat jauh.

Alena duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Hatinya terasa berat, sangat berat.

Dia tahu ini akan terjadi. Dia tahu momen indah di vila itu hanya sementara, sebuah liburan kecil dari kenyataan pahit. Tapi tetap saja... rasanya sakit sekali harus kembali ke dalam kotak es ini.

 

❄️ Dua Orang Asing

Keesokan paginya, di koridor fakultas yang ramai.

Alena berjalan bersama teman-temannya, tertawa kecil mendengar cerita mereka, tapi matanya terus mencari-cari satu sosok di antara kerumunan.

Dan tidak lama kemudian, dia melihatnya.

Adrian Vale berjalan tegap dengan setelan jas biru tua yang rapi, dasi tersimpul sempurna, wajah datar tanpa ekspresi. Dia berjalan diapit oleh beberapa rekan dosen dan staf, tampak sangat sibuk dan sangat berwibawa.

Jantung Alena berdegup kencang. Tangannya terkepal di samping badan.

Saat jarak mereka hanya tersisa beberapa meter, Alena secara refleks menundukkan kepala sedikit, siap menyapa, siap menerima setidaknya anggukan kecil atau tatapan akrab.

Tapi...

Adrian berjalan lewat begitu saja.

Matanya melirik sekilas ke arahnya... tapi kosong. Hampa. Tidak ada sinyal, tidak ada kedipan, tidak ada rasa kenal sama sekali.

"Selamat pagi, Sir," ucap Alena pelan, nyaris tak terdengar, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Hmm," hanya ada dengusan singkat, dingin, dan tak peduli. Lalu pria itu terus berjalan menjauh, meninggalkan Alena terpaku di tempat dengan dada yang terasa diremas sakit.

Teman-temannya di samping tertawa kecil. "Wih, galak banget sih si Dr. Vale. Untung lo cuma lihat, Len. Kalau disapa bisa bikin jantung copot."

Alena hanya bisa memaksakan senyum kecut.

Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu bahwa pria dingin yang berjalan pergi itu adalah orang yang sama yang memeluknya erat semalam, yang menciumnya dengan penuh cinta, yang memasakkan sarapan untuknya meski gagal.

Mereka tidak tahu bahwa di balik punggung tegap itu, tersimpan rahasia besar yang menghancurkan hati Alena setiap hari.

 

👩‍🏫 Bayang-bayang Sophia

Tekanan bertambah berat saat sosok mantan tunangan itu mulai muncul lagi, dan kali ini lebih sering dari sebelumnya.

Siang itu di ruang guru, Alena sedang mengantarkan tugas yang diminta. Saat dia baru saja membuka pintu, dia melihat pemandangan yang membuat kakinya terpaku di ambang pintu.

Adrian sedang duduk di mejanya, dan di hadapannya berdiri Sophia.

Wanita itu tampak cantik, elegan, dan sangat percaya diri. Dia sedang meletakkan sebuah kotak makan siang di meja Adrian, tangannya dengan akrab menyentuh lengan pria itu sambil tertawa manis.

"Untukmu, Adrian. Aku masak sendiri lho. Jangan lupa dimakan ya."

Adrian tidak menepis. Dia hanya tersenyum tipis—senyum profesional yang sopan—dan mengangguk. "Terima kasih, Sophia."

Alena merasa dunia seakan berputar. Dadanya sesak sampai sulit bernapas.

Cantik. Pintar. Setara. Dan bebas mendekat kapan saja tanpa perlu sembunyi.

Apa yang bisa Alena lakukan selain mundur perlahan dan pergi meninggalkan tugas itu di meja depan tanpa suara? Dia tidak punya hak untuk cemburu. Dia tidak punya hak untuk marah. Karena di mata dunia, dia tidak ada. Dia hanyalah bayangan.

 

👯 Teman yang Curiga

"Len, lo akhir-akhir ini aneh banget sih?"

Malam harinya di asrama, teman sekamar Alena, Rina, menatapnya curiga sambil melipat baju.

Alena yang sedang duduk di tepi kasur mengerutkan kening pura-pura tidak tahu. "Aneh gimana?"

"Gimana ya... sering pulang malam, terus kalau ditanya kemana aja jawabnya ngalihin terus. Terus kadang kalau HP bunyi kaget banget. Terus yang paling aneh..." Rina mendekat, matanya menyipit meneliti wajah Alena. "...kulit lo kelihatan bersih dan cerah gitu, terus kadang ada bau parfum cowok mahal banget yang nempel di baju lo. Itu parfum bukan sembarang orang punya lho."

Jantung Alena berdegup kencang sampai rasanya mau meledak.

Bau parfum Adrian...

Dia tidak sadar ternyata aroma musk khas pria itu begitu kuat menempel di tubuh dan bajunya.

"Ah enggak lah... itu mungkin bau di kantin atau di perpus," jawab Alena berusaha tertawa santai, tapi suaranya terdengar gagap dan tidak yakin.

"Yah kalau kata lo begitu sih..." Rina mengangkat bahu, tapi tatapan curiganya tidak hilang. "Tapi hati-hati ya, Len. Kita cewek, jangan sampai main api sama orang yang salah apalagi yang udah punya masa lalu atau status rumit. Nanti yang ada hati lo yang hancur."

Kata-kata itu seperti tamparan keras yang tepat mengenai sasaran.

Alena mengangguk kaku, lalu segera masuk ke kamar mandi untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

 

💔 Sendirian dalam Gelap

Malam itu, Alena tidak pergi ke apartemen Adrian. Dia mengirim pesan singkat bahwa dia sedang tidak enak badan dan ingin istirahat.

Sebenarnya dia hanya butuh waktu sendirian. Butuh waktu untuk menenangkan gejolak di dalam dadanya yang sudah tidak tertahankan.

Dia duduk di balkon sempit asramanya, memeluk lututnya erat-erat. Angin malam London bertiup dingin menusuk tulang, tapi tidak sedingin perasaannya saat ini.

Alena mulai berpikir.

Dia punya kekasih, tapi rasanya seperti jomblo.

Dia dicintai, tapi rasanya seperti tidak punya siapa-siapa.

Saat dia sedih, dia tidak bisa cerita ke siapa pun.

Saat dia bahagia, dia tidak bisa pamer ke siapa pun.

Saat dia butuh sandaran, dia harus menunggu sampai malam tiba dan pintu tertutup rapat.

Rahasia ini... rasanya semakin berat untuk dipikul sendirian.

Kenapa harus begini? Kenapa cinta mereka harus hidup di bawah tanah? Kenapa mereka harus takut pada bayangan mereka sendiri?

Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Menetes deras membasahi pipi dan lututnya.

Alena menangis pelan, sangat pelan, agar tidak terdengar oleh siapapun. Menangis karena lelah, menangis karena bingung, dan menangis karena dia merasa... sangat kesepian.

Meskipun hatinya penuh dengan cinta untuk seseorang, meskipun dia tahu dia dimiliki... nyatanya saat ini, di detik ini, di tengah dunia yang luas ini... dia benar-benar sendirian.

Dan rahasia ini... lambat laun mulai mencekiknya.

----kalau kalian suka novel ini jangan lupa tinggalin jejak yah gays----🥰

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!