Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11: Batas yang Terlampaui
Sore itu di kafe, suasananya sangat ramai. Musik akustik diputar, aroma kopi memenuhi ruangan, tapi pikiranku tidak ada di sana. Fokusku terbagi dua: membaca catatan Mandarin di depanku dan sesekali melirik Luq yang sedang berlalu-lalang dengan nampan di tangannya.
Luq tampak seperti bayangan. Gerakannya lambat, matanya sayu, dan dia hampir menabrak pelanggan saat mengantar pesanan. Aku merasa gelisah. Ini sudah hari keempat dia menjalani shift subuh di gudang dan shift sore di kafe. Dia tidak tidur cukup, mungkin hanya dua atau tiga jam sehari.
Tiba-tiba, suara denting gelas pecah yang nyaring memecah kebisingan kafe. Semua orang menoleh.
Aku berdiri dengan cepat. Luq jatuh terduduk di dekat meja kasir, nampan berisi beberapa cangkir kopi berceceran di lantai. Wajahnya pucat pasi, nyaris putih.
"Kak Luq!" teriakku sambil berlari.
Vino dan Kak Hazel yang kebetulan sedang duduk di pojok kafe juga langsung berlari menghampiri. Hazel sigap menarik Luq untuk duduk di kursi, sementara aku segera mengambil air minum.
"Luq, lo denger gue?!" Hazel menepuk pipi Luq pelan. Luq membuka matanya perlahan, napasnya tersengal-sengal.
"Gue... gue nggak apa-apa," gumamnya, suaranya parau dan lemah. Dia mencoba berdiri, tapi kakinya gemetar hebat. "Gue harus lanjut kerja. Masih ada dua jam lagi."
"Duduk, Luq! Lo gila ya?!" bentak Hazel—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan pada sahabatnya sendiri. "Lo pingsan, bego! Lo bener-bener udah di batas fisik lo!"
Luq menundukkan kepalanya, tangannya gemetar hebat. Aku melihat air mata jatuh ke lantai. Bukan karena sakit fisik, tapi karena rasa frustrasi. "Kalau gue berhenti, gimana biaya daftar ujian gue? Gimana obat Ibu? Gue nggak punya pilihan lain, Zel. Gue harus buktiin kalau gue bisa kuliah."
Hening sejenak di kafe itu. Aku merasa sesak. Luq bukan hanya sedang berjuang melawan kemiskinan, dia sedang bertarung melawan harga dirinya sendiri.
Aku mendekat, berlutut di depannya, dan menggenggam tangannya yang dingin. "Kak, dengerin aku. Kakak nggak akan bisa kuliah kalau Kakak sakit parah di rumah sakit. Kakak nggak akan bisa bantu Ibu kalau Kakak sendiri yang tumbang."
Luq menatapku, matanya merah. "Tapi gimana, Rea?"
"Aku punya ide," kataku tegas. Aku mengeluarkan laptopku dari tas. "Aku nggak cuma rangkum materi, tapi aku bakal bikin jadwal belajar dan kerja yang paling efisien buat Kakak. Kita pake algoritma Time-Blocking."
"Algoritma apa?" tanya Vino bingung.
"Ini teknik manajemen waktu buat programmer. Kita pecah waktu istirahat Kakak jadi interval-interval kecil tapi berkualitas. Dan Kakak... harus lepas satu pekerjaan. Gudang itu terlalu berbahaya buat kesehatan Kakak."
"Tapi gajinya..." Luq membantah.
"Gue yang cariin tambahan," potong Hazel. "Gue punya kenalan di bengkel modifikasi motor, tempatnya lebih santai, kerjanya fleksibel, dan bayarannya lumayan. Lo pindah ke sana, atau gue yang bakal nungguin lo di gudang tiap pagi dan nyeret lo pulang."
Luq terdiam lama, memandang kami bertiga: aku, Hazel, dan Vino. Dia sadar, dia tidak bisa lagi berjuang sendirian. Dia akhirnya mengangguk pelan.
Malam itu, kami tidak belajar. Kami hanya duduk di teras belakang kafe. Luq tidur sebentar di kursi panjang, sementara aku dan Hazel menyusun ulang jadwal hidupnya di laptop.
Aku menulis baris kode untuk jadwal barunya:
if (physical_limit \=\= exceeded) { stop_working(); rest(); }
Ternyata, menjadi mentor bukan berarti dia harus selalu kuat. Menjadi mentor juga berarti belajar untuk mengandalkan orang lain. Dan malam itu, aku belajar satu hal penting: bahwa terkadang, bentuk keberanian terbesar bukanlah memaksakan diri sampai hancur, melainkan keberanian untuk berkata, "Aku butuh bantuan."