NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.

Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.

Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.

Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.

Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 5.

Malam turun perlahan di istana.

Lampu-lampu lentera menyala satu per satu, menerangi lorong panjang dengan cahaya keemasan yang hangat. Namun di balik keindahan itu, sebagian tempat tetap gelap.

Seperti taman kecil di belakang paviliun ratu, tempat itu sudah lama terbengkalai dipenuhi rumput liar yang tumbuh tinggi. Tanahnya kering, tak ada pelayan yang mau datang ke sana kecuali jika diperintah. Dan malam itu, Evelyn berdiri di sana sendirian. Angin malam menggerakkan ujung gaunnya, ia menatap tanah kosong di depannya. Lalu perlahan menutup mata, dan saat membukanya kembali... ia sudah berada di dalam ruang ajaib.

Udara hangat menyambutnya, rumput hijau bergoyang pelan. Semua terasa hidup, berbeda jauh dengan dunia luar yang penuh racun dan kebohongan.

Evelyn berjalan menuju rak besar di dekat rumah kayu, tangannya menyusuri deretan benda. Terdapat obat-obatan, buku dan peralatan. Tangannya berhenti pada sesuatu yang sederhana, benih.

Ia mengambil beberapa kantong kecil, dan membukanya satu per satu.

“Padi tahan dingin… gandum cepat panen… tanaman obat…”

Senyum tipis muncul di wajahnya, inilah jawabannya. Bukan sekadar teori di aula tadi, tapi solusi nyata. Ia menoleh ke arah sungai kecil di dalam ruang ajaib itu, airnya sangat jernih dan mengalir tanpa henti.

Evelyn berjalan ke tepiannya, ia berlutut. Tangannya menyentuh air, dingin dan nyata. Ia mengamati alirannya, pelan dan juga teratur. Dan saat itulah, ia menyadari sesuatu.

“Bukan hanya benih… air juga kuncinya.”

Ia berdiri, matanya mulai bersinar. Jika sistem ini bisa diterapkan di dunia luar, maka bukan hanya hasil panen yang meningkat... seluruh wilayah bisa berubah.

Beberapa saat kemudian, Evelyn kembali sadar. Ia sudah berada lagi di istana. Tanpa ragu, ia langsung menuju taman belakang. Kali ini, ia tidak datang dengan tangan kosong. Bersama Kasim Bernard yang setia, ia mulai bekerja. Gerakannya cepat dan terarah, seolah semua sudah ia rencanakan.

“Yang Mulia… apakah ini tidak berbahaya?” bisik kasim Bernard pelan.

Evelyn menggeleng. “Yang berbahaya justru jika kita tidak melakukan apa-apa.”

Mereka mulai menggali tanah, secara diam-diam, tanpa menarik perhatian. Benih-benih dari ruang ajaib ditanam satu per satu, seperti yang ia lihat di dalam ruang ajaib.

Evelyn menuangkan air dari kendi kecil, namun air itu bukan air biasa. Ia telah mengambilnya dari ruang ajaib.

Hari pertama, tidak ada yang berubah.

Hari kedua, tanah mulai lembap.

Hari ketiga... akhirnya, tunas kecil mulai muncul.

Bernard menatapnya dengan mata membesar. “Ini… terlalu cepat…”

Evelyn tidak terkejut, ia hanya tersenyum tipis.

“Masih awal.”

Dalam hatinya ia tahu, semua ini bukan sekadar cepat. Ini… luar biasa.

Beberapa hari kemudian, paviliun ratu masih terlihat tenang seperti biasa. Para selir sibuk dengan urusan masing-masing. Namun di balik itu, perubahan kecil mulai terjadi.

Seorang pelayan dapur berbisik.

“Sayuran dari dapur ratu terlihat lebih segar…”

Yang lain menjawab pelan. “Dan katanya… jumlahnya lebih banyak dari biasanya…”

Rumor mulai menyebar, seperti api kecil yang belum terlihat.

Di paviliun Sophia, seorang pelayan berlutut.

“Mereka bilang, ratu mulai menanam sesuatu di belakang istananya…”

Sophia mengangkat alis. “Menanam? Sejak kapan ratu menjadi petani?”

“Namun… hasilnya aneh, Nyonya. Sepertinya, tumbuh sangat cepat.”

Senyum Sophia perlahan menghilang.

Ia berdiri, dan berjalan menuju jendela. Ia menatap ke arah paviliun ratu dari kejauhan, matanya menyipit. “Dia tidak melakukan sesuatu tanpa alasan… selidiki.”

Sementara itu...

Di taman belakang.

Evelyn berdiri di antara tanaman yang kini sudah tumbuh subur, daunnya hijau dan segar. Tidak seperti tanaman biasa di istana.

Ia menyentuh salah satu batang dengan lembut. “Langkah pertama berhasil…”

Kasim Bernard berdiri di belakangnya, masih tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Jika ini diketahui—”

Evelyn tersenyum. “Justru itu, biarkan mereka tahu sedikit demi sedikit. Cukup untuk membuat mereka penasaran… tapi tidak cukup untuk di mengerti.”

Bernard menunduk hormat, ia merasa Ratu bukan hanya ingin bertahan. Namun, sedang membangun sesuatu.

Angin sore berhembus lembut, daun-daun bergoyang pelan. Evelyn menatap taman itu, tapi yang ia lihat bukan hanya tanaman. Ia melihat sebuah kekuatan, pengaruh, dan... masa depan.

“Dengan ini, aku tidak hanya akan bertahan di istana... aku akan menguasainya.”

Malam itu lebih sunyi dari biasanya, angin hampir tidak berhembus. Bahkan suara serangga pun seakan enggan terdengar.

Di dalam paviliun ratu, semua pelayan telah mundur. Hanya satu lampu minyak yang menyala, cahayanya kecil. Namun cukup untuk menerangi dua sosok di dalam ruangan.

Evelyn duduk tenang, di depannya kasim Bernard berlutut. Namun kali ini, suasananya berbeda. Tidak seperti biasanya yang penuh hormat formal. Malam ini… ada sesuatu yang berat di udara.

“Yang Mulia…” suara Bernard pelan. “Bolehkah hamba berbicara tanpa batasan?”

“Bicaralah.”

Bernard menarik nafas dalam, seolah sedang memutuskan sesuatu yang sangat besar. “Saya telah melayani tiga generasi di istana ini…”

Ia berhenti sebentar, matanya terlihat jauh. “Dan ada hal-hal… yang tidak pernah boleh dibicarakan.”

Evelyn tidak menyela, tapi jari-jarinya sedikit menegang.

“Permaisuri sebelumnya… bukan orang biasa,” lanjut Bernard.

Evelyn sedikit menyipitkan mata. “Permaisuri sebelum aku?”

Bernard mengangguk pelan. “Namanya… Eleanor.”

Nama itu terasa asing, namun entah kenapa ada sesuatu yang bergetar di dalam diri Evelyn.

“Dia dicintai rakyat, dihormati menteri. Namun… ditakuti oleh orang-orang istana.”

Evelyn mengangkat alis. “Ditakuti?”

Bernard menunduk lebih dalam. “Karena… dia tahu terlalu banyak.”

Hening.

Lampu minyak bergoyang pelan, bayangan mereka bergerak di dinding.

“Permaisuri Eleanor…” suara Bernard semakin rendah. “Memiliki kemampuan yang tidak bisa dijelaskan.”

Evelyn tidak bergerak, namun di dalam dirinya... sesuatu mulai terhubung. Samar-samar tapi jelas.

“Tanaman di taman istananya, tumbuh lebih cepat dari biasanya. Obat yang ia berikan… menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan.” Lanjut Bernard.

Evelyn menatap tajam. “Dan…?”

“Dan suatu hari…” Bernard menelan ludah. “Semua itu… menghilang.”

Hening panjang.

Evelyn bersandar sedikit, tatapannya berubah dalam. “Dia mati?”

“Tidak ada yang tahu.” Bernard menggeleng perlahan. “Dia… menghilang.”

Jawaban itu lebih dingin daripada kematian.

“Sejak saat itu, istana berubah. Semua hal yang berhubungan dengan permaisuri Eleanor… dihapus.” Kasim Bernard menarik nafas dalam-dalam. “Catatan dibakar, dan pelayan dipindahkan atau menghilang.”

Evelyn menyipitkan mata. “Dan kau… masih ingat?”

“Karena saya tidak cukup penting untuk diperhatikan.” Kasim Bernard tersenyum tipis.

Evelyn diam sejenak, pikirannya berputar cepat.

“Kenapa kau memberitahuku ini sekarang?” tanyanya pelan.

Bernard mengangkat kepala. “Karena Yang Mulia… mulai menunjukkan hal yang sama.”

Evelyn berjalan perlahan menuju jendela, langit malam diluar sangat gelap tanpa bintang. Ia teringat ruang ajaib, dan sekarang… seorang permaisuri dari masa lalu.

“Menurutmu, apa yang terjadi padanya?” katanya pelan.

Bernard menunduk lagi. “Seseorang seperti itu… tidak dibiarkan hidup terlalu lama.”

Jawaban itu dingin, namun terdengar realistis.

Evelyn tersenyum tipis, tak ada kehangatan dalam senyumnya. “Kalau begitu… aku harus lebih berhati-hati.”

Bernard tidak menjawab. Namun ia tahu, Ratu di depannya… bukan tipe orang yang akan mundur karena takut.

Evelyn berbalik, tatapannya tajam. “Apakah ada yang tahu tentang ini?”

Bernard menggeleng. “Hanya sedikit yang masih hidup. Dan mereka… tidak akan berbicara.”

Evelyn mengangguk pelan.

Ia kembali duduk, kali ini aura di sekitarnya berbeda, lebih dingin. Karena sepertinya, ia baru saja menemukan bagian penting dari teka-teki besar.

“Permaisuri Eleanor…” gumamnya pelan.

Nama itu terasa berat, seperti membawa sejarah dan meninggalkan jejak.

Setelah Kasim Bernard pergi, ruangan kembali sunyi. Evelyn menutup mata, dan masuk ke ruang ajaib. Angin hangat menyambutnya. Ia berjalan langsung ke rumah kayu, membuka pintu dan masuk ke dalam. Tangannya menyentuh rak buku, seperti mencari sesuatu. Dan di sudut, ia menemukannya. Sebuah buku tua, berbeda dari yang lain. Lebih usang, tapi lebih hidup.

Ia membukanya perlahan, di halaman pertama tertulis satu nama... Eleanor.

Napas Evelyn tertahan, jari-jarinya sedikit bergetar. Ia membalik halaman, ada tulisan tangan di sebuah catatan. Dan sesuatu yang membuat matanya menyipit.

Kalimat pertama yang terbaca...

“Jika seseorang menemukan buku ini, maka kau adalah penerusku."

Sunyi.

Jantung Evelyn berdetak lebih cepat, ia tersenyum dingin.

“Jadi… aku bukan yang pertama.” Ia menutup buku itu pelan, tatapannya berubah lebih tajam dari sebelumnya. “Dan akan kupastikan... aku tidak akan menghilang seperti Eleanor.”

Angin di ruang ajaib tiba-tiba berhembus lebih kencang, seakan merespon kata-katanya. Dan jauh di dalam ruang itu, sesuatu yang belum terbuka… perlahan mulai bergerak.

1
Tiara Bella
waduh pinter bngt author ceritanya saling menyambung ya
Wanita Tangguh🧩🌠: Kurang tau kak, mungkin beberapa ada yg gk lanjut baca 🤭 pas beberapa bab gak sesuai ekspektasi mereka, jd gk lanjut baca. Gpp, nulis ini aku santai aja kak bt selingan karya Leya😁
total 3 replies
Surianto Tiwoel
wah,, pasti ibu suri yg bunuh,, ibunya Alexander
Miss Typo
Raja dan Ratu bikin perasaan campur aduk, harusnya formal aja eh romantis bgt lagi 🤣
Tiara Bella
so sweet bngt ya raja Alexander sm ratu Evelyn.....😍
Rita
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
😅😅😅😅😅
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
😅😂😂😂😂😂
Rita
wah siap2 evelyn ngambek😅😂😂
Rita
waahhhh👍👍👍👍
Nyonya Gunawan
Kirain alex beneran koma..😄😄
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili
Rita
ceritanya bagus,seru,tegang g betele2
Rita
berani macam2 tunggu pembalasan ku😅😂pov evelyn
Rita
bangun̈in singa betina
Rita
ikut panik
Rita
waspada yg bs dilakukan plus bersiap
Rita
peka
Rita
waspada
Rita
tuh 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!