Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama Tidak Seperti di Novel
Zahra tidak bisa tidur. Bukan karena kasurnya tidak nyaman justru sebaliknya, kasur ini terlalu nyaman sampai rasanya aneh. Badan capek tapi mata malah melek. Pikiran yang harusnya istirahat malah jalan sendiri ke mana-mana.
Dia menatap langit-langit kamar yang gelap. Hari ini dia menikah. Kalimat itu masih terasa asing kalau diulang di dalam kepala. Seperti kalimat milik orang lain yang nyasar ke dalam pikirannya.
Zahra Aldiva Hendra, dua puluh satu tahun, yang minggu lalu masih rebahan di kamarnya sambil nonton drama Korea sekarang sudah jadi istri orang.
Istri CEO.
Istri pria tiga puluh delapan tahun yang tidur di kamar ujung koridor dan tidak pernah senyum tulus ke siapapun.
"Ya Allah."
Zahra menarik selimut ke atas muka. Diam sebentar. Lalu menyingkirkannya lagi karena malah sesak. Jam di HP menunjukkan angka 02.17.
Dia coba pejamkan mata. Satu menit. Dua menit. Nggak bisa.
Akhirnya dia menyerah, bangkit, ambil cardigan dari koper yang belum sepenuhnya dia bongkar, dan keluar kamar dengan langkah pelan supaya tidak berisik.
Dapur sepi dan lampunya masih menyala redup. Zahra membuka lemari atas, mencari sesuatu yang hangat. Teh, kopi, apapun. Yang dia temukan di pojok belakang adalah kaleng coklat bubuk yang kelihatan jarang disentuh tapi masih ada isinya.
"Coklat hangat. Oke."
Dia ambil panci kecil, susu dari kulkas, mulai masak dengan api paling kecil. Diaduk pelan-pelan kayak yang ibunya ajarin, jangan buru-buru, jangan sampai gosong, tambah sedikit garam biar rasanya lebih nendang.
Zahra sedang fokus mengaduk dan mikirin hal-hal nggak jelas waktu tiba-tiba ada suara langkah kaki dari arah tangga. Bahunya langsung naik.
Dia menoleh.
Rafandra berdiri di ambang dapur. Kaos hitam polos. Celana panjang tipis. Rambut yang biasanya tersisir rapi sekarang sedikit berantakan di satu sisi. Tanpa kemeja. Tanpa jam tangan. Tanpa semua lapisan rapi yang selalu dia bawa ke mana-mana.
Zahra buru-buru berpaling ke pancinya lagi. Fokus. Coklat. Aduk.
"Kamu kenapa belum tidur?"
Suaranya beda di jam segini. Lebih berat. Sedikit parau suara orang yang baru bangun atau belum tidur sama sekali.
"Nggak bisa tidur," jawab Zahra jujur, masih mengaduk. "Om sendiri kenapa bangun?"
"Dengar suara dari dapur."
Zahra mengernyit. "Emang kedengaran sampai kamar Om? Kamar kita beda lantai lho."
"Aku memang tidur ringan."
Zahra melirik sebentar ke arahnya. Rafandra sudah berjalan ke kulkas, ambil air putih, minum beberapa teguk dengan santai. Seolah ini hal yang biasa, padahal ini jam dua pagi, hari pertama pernikahan mereka, dan mereka berdua ngumpul di dapur kayak dua orang yang kost di tempat sama.
Situasinya absurd. Tapi entah kenapa Zahra tidak merasa seekstrem yang harusnya.
"Mau?" Zahra menunjuk pancinya. "Gue bikin kebanyakan soalnya."
Rafandra menatap panci itu sebentar. Lalu mengangguk singkat. "Boleh."
Zahra tuangkan ke dua cangkir, sodorkan satu ke Rafandra. Mereka duduk di island counter Zahra di satu sisi, Rafandra di sisi lain. Dua cangkir coklat mengepul di tengah.
Diam.
Tapi diam jam dua pagi di dapur entah kenapa beda rasanya dari diam di meja makan tadi. Lebih ringan. Lebih... manusia pada umumnya. Kayak jam segini mengikis semua lapisan formal yang biasanya ada di antara mereka.
"Kamu sering tidak bisa tidur?" tanya Rafandra.
"Kalau lagi banyak pikiran, iya." Zahra meniup cangkirnya pelan. "Om?"
"Kadang."
"Biasanya ngapain?"
"Kerja."
Zahra menatapnya. "Serius? Jam segini kerja?"
"Pikiran tidak mengenal jam kerja."
Zahra diam sebentar. Lalu, sebelum bisa nahan: "Itu menyedihkan, Om."
Rafandra menoleh. Alisnya naik ekspresi paling ekspresif yang pernah Zahra lihat di wajah itu sejak mereka ketemu.
"Menyedihkan?"
"Iya." Zahra tidak mundur. "Kalau satu-satunya hal yang bisa bikin lo tenang itu kerjaan artinya nggak ada hal lain di hidup lo yang ngasih ketenangan yang sama. Itu... ya, menyedihkan."
Rafandra menatapnya lama. Zahra mulai menyesal.
"Maaf, gue—"
"Tidak salah." Suaranya pelan. Memotong tanpa kasar. "Kamu tidak salah."
Zahra menutup mulut.
Rafandra menatap cangkirnya. Ibu jarinya bergerak pelan di permukaan keramik satu-satunya tanda ada sesuatu yang sedang diproses di dalam kepala yang tenang itu.
"Sudah lama seperti itu," katanya akhirnya. Bukan pembelaan. Lebih ke pengakuan kecil yang kayaknya nggak sengaja keluar.
Zahra tidak merespons. Hanya angguk pelan. Dan mereka duduk lagi dalam diam, dua orang yang sama-sama nggak bisa tidur, di dapur yang lampunya redup, dengan coklat panas yang makin lama makin dingin.
Anehnya, ini momen paling nggak canggung yang mereka punya sejak pertama ketemu.
.
.
.
Jam setengah empat, Zahra menguap untuk ketiga kalinya.
"Tidur," kata Rafandra.
"Om juga dong."
"Nanti."
"Om selalu bilang nanti." Zahra bangkit, bawa cangkirnya ke wastafel. "Kalau terus kayak gitu yang rugi Om sendiri."
Dia nggak lihat ekspresi Rafandra waktu ngomong itu, punggungnya ke arah wastafel. Tapi dia dengar suara kursi bergeser, langkah kaki yang pelan mendekat.
"Kamu selalu seperti ini?"
Zahra meletakkan cangkir yang sudah dibilas, berbalik. Rafandra berdiri beberapa langkah dari sana. Menatapnya bukan cuma mengamati seperti biasa. Tapi beneran melihat, dengan cara yang beda dan bikin Zahra tiba-tiba nggak tau mau naruh tangan di mana.
"Seperti apa?" tanya Zahra.
"Ngomong tanpa kamu pikir. Tanpa filter."
Zahra mempertimbangkan sebentar. "Mostly iya. Kenapa?"
Rafandra tidak langsung jawab. "Tidak apa-apa." Dia berbalik. "Tidur yang nyenyak, Zahra." Dan dia keluar dapur, naik tangga, menghilang.
Zahra berdiri sendirian, menatap pintu yang kosong.
"Ngomong tanpa kamu pikir. Tanpa filter."
Dia bilang itu dengan nada apa? Zahra nggak bisa pastiin. Bukan nyindir, itu yang Zahra tangkap. Tapi bukan juga pujian yang gamblang.
Lebih kayak... dia lagi nyimpen informasi. Mengarsipkan Zahra ke dalam sistem di kepalanya yang rapi itu.
Zahra matiin lampu dapur dan naik ke kamarnya.
Kali ini matanya lebih berat waktu rebahan. Pikiran yang tadi muter kencang sudah agak mereda. Entah efek coklat panasnya, entah percakapan tadi yang melonggarkan sesuatu di dadanya.
Sebelum matanya bener-bener tutup, satu pikiran terakhir melintas:
Rafandra Surya Wibowo, tanpa kemeja rapi dan jam tangan mahalnya, ternyata manusia juga.
.
.
.
Zahra bangun jam delapan karena aroma kopi.
Turun ke bawah, Mbak Reni sudah ada di dapur. Di meja makan, sarapan sudah tersaji lengkap nasi goreng, telur mata sapi, jus jeruk. Tapi kursinya kosong.
"Bapak sudah berangkat dari tadi, Mbak," kata Mbak Reni. "Jam setengah enam. Tapi minta sarapan Mbak Zahra disiapkan dulu sebelum beliau pergi."
Zahra menatap meja makan itu. Rafandra berangkat jam setengah enam. Artinya setelah percakapan tadi, dia tidur kalau sempat tidur paling lama dua jam.
Di bawah piring Zahra ada kertas kecil terlipat. Zahra ambil, buka. Tulisan tangan. Rapi. Tegas. Persis seperti orangnya.
"Nomor Mbak Reni di bawah. Kalau ada keperluan apapun hubungi dia. Kalau ada yang mengganggu, hubungi aku."
Di bawahnya, nomor HP Rafandra. Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada kalimat manis.
Tapi Zahra duduk menatap kertas dua baris itu jauh lebih lama dari yang seharusnya.
"Kalau ada yang mengganggu, hubungi aku."
Bukan hubungi security. Bukan hubungi siapapun yang lain. Tapi dia. Zahra lipat kertas itu pelan, masukkan ke saku.
Lalu duduk, ambil sendok, mulai makan sendirian di meja yang terlalu panjang, di rumah yang masih terasa asing, di hari kedua hidup barunya. Tapi hari ini rasanya beda dari kemarin.
Nggak lebih mudah. Nggak lebih jelas juga. Hanya... sedikit kurang sepi. Dan untuk sekarang, itu sudah cukup.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼