Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Mata yang Terbuka dan Rapat Aliansi Keputusasaan
Tinta di atas perkamenku baru saja mengering, namun di kedalaman labirin yang tak terjangkau oleh cahaya, kata-kataku telah berubah menjadi darah, daging, dan baja.
Di Lantai 100 Dungeon—sebuah area terlarang yang bahkan belum pernah dipetakan oleh Zeus atau Hera Familia di masa kejayaan mereka—udara dipenuhi oleh debu kosmis dan sisa-sisa kristal es. Kawah raksasa menganga akibat jatuhnya Menara Pengetahuan Herta. Puing-puing baja purba berasap, berbaur dengan dinding labirin organik yang mencoba menyembuhkan dirinya sendiri.
Di tengah kehancuran itu, dua sosok berdiri.
"Kau yakin koordinatnya di sini, Dan Heng?" suara seorang gadis memecah keheningan yang mencekam. March mengusap lengannya yang kedinginan, busur esnya bersinar redup di tengah kegelapan. Mata merah mudanya memindai lautan puing di sekeliling mereka.
Pemuda berambut hitam di sebelahnya tidak langsung menjawab. Dan Heng menunduk, matanya yang setajam elang menatap sebuah tumpukan kristal nol mutlak yang hancur. Tombak Cloud-Piercer di tangannya memancarkan pendar energi hijau yang tenang namun mematikan.
"Sistem navigasi Kereta Astral tidak pernah salah," jawab Dan Heng pelan. Ia melangkah maju, menyingkirkan sebuah pilar baja raksasa hanya dengan satu ayunan tombaknya, seolah pilar itu terbuat dari kapas.
Di balik pilar itu, terbaring sesosok tubuh manusia. Rambutnya abu-abu berantakan, mengenakan pakaian gelap yang robek di beberapa bagian. Cangkang kosong itu tidak bernapas, tidak juga memancarkan aura kehidupan layaknya makhluk fana. Namun di tengah dadanya, berdenyut sebuah cahaya kuning keemasan yang menakutkan. Stellaron.
"Astaga! Dia benar-benar ada di sini!" March berlari kecil, berlutut di samping sosok itu. Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak sebelum menyentuh dahi sang wadah. Suhu tubuhnya sedingin es. "Hei... hei, bangunlah. Apa kau bisa mendengarku?"
Seakan merespons kehangatan dari sentuhan March, kelopak mata sosok itu bergetar. Perlahan, mata berwarna emas ambar itu terbuka. Kosong. Tanpa ingatan. Tanpa masa lalu. Hanya ada kebingungan murni saat ia menatap reruntuhan asing dan dua wajah yang menunduk ke arahnya.
"S-siapa... kalian?" bisiknya parau. "Di mana... aku?"
"Tenanglah. Kau aman sekarang," March tersenyum lega, meraih tangannya dan membantunya duduk. "Namaku March, dan pria bermuka datar ini Dan Heng. Kita harus segera membawamu kembali ke kereta. Himeko dan Welt sudah menunggu."
Namun, sebelum sang wadah bisa berdiri, Dungeon Orario merespons kehadiran anomali di dalam perutnya.
Dinding organik di sekitar kawah raksasa itu berdenyut beringas. Suara raungan yang tidak menyerupai monster mana pun di dunia ini bergema. Dari balik kegelapan, merayap keluar makhluk raksasa gabungan dari mutasi labirin dan sisa-sisa iblis Antimatter Legion. Makhluk itu tidak memiliki wajah, hanya rahang berisi ribuan taring kristal dan lengan yang terbuat dari magma hitam.
Niat membunuh yang sangat pekat menyapu kawah tersebut.
"Ugh, kenapa tempat ini sangat tidak ramah?!" March cemberut, menarik busurnya. Panah es abadi terbentuk dari udara kosong, membekukan kelembaban Dungeon seketika. "Dan Heng, lindungi dia!"
"Tidak perlu disuruh," Dan Heng memutar tombaknya, mengambil kuda-kuda. Aura naga air di belakangnya berdesir, membelah udara beracun labirin.
Sang Penjelajah (Trailblazer) yang baru saja bangkit hanya bisa menatap dalam diam. Takdirnya di dunia fana ini baru saja dimulai.
Di Atas Permukaan – Ruang Rapat Rahasia Guild, Orario
Suasana di ruang bundar itu bisa diiris dengan sebilah pisau. Ini adalah pemandangan yang mustahil terjadi. Dewa-Dewi dari Familia kelas atas berkumpul di satu meja tanpa ada perdebatan remeh. Tidak ada anggur, tidak ada tawa.
Loki duduk di ujung meja, wajahnya pucat namun rahangnya mengeras penuh tekad. Di belakangnya berdiri Finn dan Aiz. Finn menyilangkan tangan, menyembunyikan getaran energi cyan yang terus mengalir di nadinya. Aiz berdiri diam layaknya boneka porselen, matanya menatap kosong, namun setiap orang di ruangan itu bisa merasakan panas yang menyengat setiap kali mereka tidak sengaja menatapnya.
Di seberang meja, Freya duduk menyilangkan kaki. Dewi Kecantikan itu menopang dagunya, namun matanya yang mampu melihat warna jiwa tidak berkedip menatap Finn dan Aiz.
Bagi Freya, jiwa Finn dulunya berwarna emas cemerlang, dan jiwa Aiz berwarna perak badai. Namun malam ini, Freya melihat sesuatu yang membuatnya nyaris kehilangan napas. Di dalam jiwa Finn, tertancap anak panah kosmis yang cahayanya menelan segalanya. Di dalam jiwa Aiz, sebuah lubang hitam raksasa sedang menelan bintang-bintang. Itu bukan jiwa manusia; itu adalah wadah bagi sesuatu yang tak terbatas.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Loki?" suara Hephaestus memecah keheningan. Sang Dewi Pandai Besi itu menatap Loki tajam. Di belakang Hephaestus, Tsubaki berdiri tegak, menyandang palu amber raksasa yang belum pernah dilihat siapa pun di Orario. "Tsubaki tiba-tiba mendapatkan... kekuatan pelindung yang bahkan tidak berasal dari Falna-ku. Dan aku berani bertaruh, hal yang sama terjadi pada Finn dan Aiz."
Hestia, yang duduk di antara mereka dengan wajah tegang, menggenggam tangan Haruhime yang berdiri gemetar di belakangnya. "H-Haruhime juga... sihirnya berubah. Aku bisa merasakan pikirannya terhubung dengan seluruh anak-anakku secara instan. Ini bukan sihir peri atau grimoire. Ini... sesuatu yang lain."
Loki memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang.
"Dunia kita sedang diinvasi," ucap Loki datar, membuka matanya dan menatap seluruh Dewa di ruangan itu.
Gumaman kaget terdengar dari beberapa Dewa lain, namun Loki memukul meja dengan keras. Brakk!
"Diam dan dengarkan!" bentak Loki, suaranya mengandung otoritas yang jarang ia tunjukkan. "Ini bukan invasi monster dari luar tembok. Ini bukan Evilus. Ini adalah invasi dari pilar-pilar kosmis yang menyebut diri mereka Aeon. Suka atau tidak, Falna yang kita banggakan ini hanyalah mainan anak-anak dibandingkan dengan kekuatan yang mereka sebut Path."
Royman, tetua Guild, berkeringat dingin. "L-Loki-sama, tolong jelaskan dengan bahasa yang bisa kami pahami. Apa tujuan mereka?"
"Tujuan mereka ada di dasar Dungeon," Loki mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ada sebuah anomali. Sesuatu yang disebut Stellaron, atau Kanker Semua Dunia. Benda itu memiliki inang berbentuk manusia. Jika entitas-entitas di luar sana menemukannya, atau jika inang itu hancur karena monster Dungeon... maka bukan hanya Orario yang akan rata dengan tanah, tapi seluruh dunia fana ini."
Freya menyipitkan matanya. "Dan siapa yang membawa mereka kemari, Loki? Dewa mana yang begitu bodoh mengundang hukum alam semesta untuk turun ke dunia kita?"
"Bukan Dewa, Freya," Loki tersenyum pahit, menatap Dewi Kecantikan itu. "Seorang manusia fana. Seorang penulis tanpa nama. Dia menggunakan tinta dan perkamen untuk meretas realitas kita. Apa pun yang dia tulis, menjadi fakta."
Hening. Kesunyian absolut merayap di ruangan itu. Konsep bahwa seorang manusia tanpa Falna bisa memanipulasi hukum dunia lebih dari seorang Dewa adalah sebuah penistaan yang tak terbayangkan.
"Kita tidak punya pilihan," Finn akhirnya angkat bicara, melangkah maju dari balik bayangan Loki. Mata ras Pallum-nya bersinar dengan tekad The Hunt. "Kita harus membentuk ekspedisi aliansi skala penuh. Malam ini juga. Hephaestus Familia, Freya Familia, Hestia Familia, Ganesha Familia. Kita semua harus turun menembus lantai yang belum pernah kita capai, dan mengambil inang itu sebelum penulis gila tersebut menyelesaikan naskahnya."
Ottar, Boarlum raksasa dari Freya Familia, menatap tuannya, menunggu perintah.
Freya tersenyum tipis. "Sangat menarik. Sebuah perlombaan melawan takdir yang ditulis ulang. Baiklah, Loki. Freya Familia akan ikut. Aku ingin melihat sendiri, seperti apa wujud dari 'Kanker Semua Dunia' itu."
Hephaestus mengangguk tegas. "Senjata-senjataku siap."
Hestia menelan ludah, menatap Haruhime yang membalasnya dengan anggukan kecil yang dipenuhi cahaya empati The Harmony. "Hestia Familia... juga akan membantu."
Lantai 18 – Kota Rivira yang Hancur
Aku menatap layar hologram biru yang diproyeksikan Silver Wolf dari pergelangan tangannya. Gadis peretas itu sedang meretas titik-titik komunikasi dari Oculus sihir milik Guild.
"Wah, wah. Bos-bos besar di dunia ini akhirnya bergerak," Silver Wolf meniup gelembung permen karetnya hingga pecah. "Mereka membentuk party besar-besaran. Loki, Freya, Hephaestus, Hestia. Level gabungan mereka lumayan juga kalau ditotal, tapi tanpa perlindungan Path, mereka cuma sekumpulan HP bar yang tebal."
Kafka berdiri dari dekat api unggun, menepuk sisa debu dari jas ungunya. Ia tersenyum menatapku.
"Mereka mengejar Kanker Semua Dunia yang baru saja kau hidupkan di bawah sana, Anonym," ucap Kafka santai. Ia meraih pedang katananya, menyarungkannya ke pinggang bersama senapan sub-mesinnya. "Jika mereka sampai lebih dulu, mereka mungkin akan membunuh anak itu karena ketakutan. Elio tidak akan menyukai masa depan itu."
Aku berdiri, menyimpan perkamenku ke dalam tas kulit. "Kita punya keuntungan posisi. Kita sudah di Lantai 18, sementara mereka baru akan menyusun formasi di permukaan."
"Benar sekali," Kafka melangkah maju, hak sepatunya mengetuk bebatuan lantai labirin. "Ayo kita bergerak, Penulis. Mari kita sambut si Perintis (Trailblazer) dan kawan-kawan kereta astral-nya. Oh, dan Silver Wolf..."
Kafka menoleh sedikit ke belakang, senyum berbahaya tersungging di bibirnya.
"...tinggalkan sedikit 'kejutan' untuk aliansi Dewa-Dewi di belakang kita. Kita tidak ingin mereka turun terlalu cepat, bukan?"
Silver Wolf menyeringai lebar, jari-jarinya menari cepat di atas keyboard cahaya.
"Dimengerti, Kafka. Mengubah kode spawn monster dari Lantai 19 hingga 30. Difficulty set to: Nightmare Mode."
Labirin di bawah kaki kami bergetar hebat. Aku bisa mendengar raungan ribuan monster bermutasi yang tiba-tiba muncul dari dinding-dinding Dungeon. Panggung ini benar-benar telah menjadi milik kami. Dan aku... aku akan memastikan ceritaku berakhir tepat seperti yang kuinginkan.