Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Saat Bayangan itu Tidak Lagi Jauh
Elora tidak langsung menyadari kapan tepatnya semuanya mulai terasa berbeda. Awalnya hanya hal kecil yang mudah ia abaikan—tatapan orang asing yang terlalu lama bertahan di keramaian, langkah kaki yang terasa seperti selalu muncul di jarak yang sama setiap kali ia berpindah tempat, atau mobil yang tampak kebetulan berada di jalan yang sama lebih dari satu kali dalam sehari. Dunia hiburan memang tidak pernah benar-benar memberi ruang untuk merasa sepenuhnya aman, jadi Elora belajar untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal seperti itu, menganggapnya sebagai bagian dari hidup yang memang harus ia jalani. Tapi ada satu batas tipis yang perlahan mulai ia lewati tanpa ia sadari, ketika hal-hal kecil itu tidak lagi terasa seperti kebetulan.
Hari itu Elora tidak bersama Arshaka. Jadwal mereka berbeda, seperti biasa, dan kali ini bahkan tidak ada pertemuan yang mengharuskan mereka berada di tempat yang sama. Elora hanya punya satu sesi singkat pemotretan dan beberapa wawancara ringan yang seharusnya tidak memakan banyak waktu. Tidak ada hal besar, tidak ada acara publik yang terlalu ramai, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Elora merasa bisa bernapas sedikit lebih longgar tanpa tekanan kehadiran Arshaka yang selalu berada di sampingnya. Tapi justru di hari yang terasa lebih tenang itulah, sesuatu mulai bergerak tanpa suara di belakangnya.
Awalnya hanya mobil hitam yang terlihat terlalu sering muncul di kaca spion taksi yang Elora tumpangi. Tidak ada yang mencurigakan secara langsung, tidak ada gerakan agresif, hanya keberadaan yang konsisten di beberapa titik yang sama. Elora mencoba mengabaikannya, menatap ke depan, membuka ponsel, atau berbicara dengan manajernya melalui pesan singkat untuk memastikan jadwal berikutnya berjalan sesuai rencana. Namun semakin lama perjalanan berlangsung, semakin jelas bahwa mobil itu tidak pernah benar-benar pergi, bahkan ketika mereka melewati beberapa jalan berbeda yang seharusnya memutus arah.
Elora mulai merasakan ketidaknyamanan itu tumbuh pelan di dalam dirinya, seperti sesuatu yang tidak bisa dijelaskan tapi terus mengganggu di latar belakang pikirannya. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya kebetulan, bahwa di kota sebesar ini, melihat mobil yang sama di beberapa titik tidak selalu berarti ada sesuatu yang salah. Tapi tubuhnya mulai merespons lebih dulu daripada pikirannya. Bahunya sedikit menegang, pandangannya sesekali kembali ke kaca spion tanpa ia sadari, dan setiap kali ia berpindah tempat, rasa itu ikut berpindah bersamanya.
Saat taksi berhenti di depan lokasi pemotretan, Elora sempat ragu untuk turun. Bukan karena takut secara jelas, tapi karena ada sesuatu yang terasa tidak selesai di belakangnya. Ia sempat menoleh sekali ke arah jalan, dan mobil itu masih ada. Berhenti tidak jauh, terlalu diam untuk disebut hanya kendaraan yang lewat. Tapi sebelum ia bisa benar-benar memikirkan lebih jauh, manajernya sudah memanggilnya dari depan gedung, dan Elora akhirnya memutuskan untuk masuk, menekan perasaan itu ke bagian pikirannya yang lain, seperti yang sudah sering ia lakukan selama ini.
Pemotretan berjalan seperti biasa pada awalnya. Lampu, arahan fotografer, perubahan pose, dan senyum profesional yang harus ia tampilkan di depan kamera membuat Elora sejenak melupakan apa pun yang terjadi di luar ruangan itu. Di sini ia tahu perannya. Di sini ia tahu bagaimana cara bertahan. Tapi di sela-sela jeda, saat ia duduk kembali di kursi make-up untuk memperbaiki riasan, perasaan itu kembali datang, lebih jelas dari sebelumnya, seperti sesuatu yang menunggu di luar ruangan tanpa pernah benar-benar pergi.
“Lo kelihatan capek,” salah satu staf berkata pelan sambil merapikan rambut Elora.
Elora tersenyum tipis. “Cuma kurang tidur.”
Tapi bahkan ia sendiri tahu itu bukan jawaban yang sepenuhnya benar. Karena ini bukan soal lelah fisik. Ini soal sesuatu yang tidak terlihat tapi terus menempel di belakangnya sejak beberapa jam terakhir. Dan semakin lama ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas bahwa itu bukan hanya ada di pikirannya.
Saat sesi selesai dan Elora keluar dari studio, hari sudah mulai gelap. Jalanan tidak terlalu ramai, hanya beberapa kendaraan yang lewat sesekali. Manajernya menawarkan untuk mengantar, tapi Elora menolak dengan alasan ingin pulang sebentar sendiri. Ia ingin ruang. Ia ingin diam. Ia ingin mengembalikan dirinya ke keadaan normal sebelum semua ini terasa terlalu berat. Tapi begitu ia berjalan keluar dari gedung, dunia di luar terasa sedikit berbeda dari sebelumnya.
Mobil itu masih ada.
Kali ini lebih dekat.
Tidak terlalu mencolok, tidak berhenti di depan gedung, tapi cukup berada di posisi yang membuat Elora tidak bisa lagi menganggapnya kebetulan. Ia berhenti sejenak di trotoar, berpura-pura membuka ponsel, mencoba terlihat seolah tidak memperhatikan apa pun di sekitarnya. Tapi jari-jarinya sedikit kaku, dan napasnya tidak lagi setenang beberapa menit sebelumnya. Ia mulai berjalan perlahan menuju arah yang berbeda dari rute yang seharusnya ia ambil, berharap mungkin jika ia mengubah arah, situasinya akan ikut berubah.
Tapi mobil itu ikut bergerak.
Elora mulai mempercepat langkahnya.
Bukan berlari, tapi cukup cepat untuk membuat pikirannya mulai fokus pada satu hal saja—jarak antara dirinya dan sesuatu yang tidak ia kenal di belakangnya. Jalanan mulai terasa lebih sepi, lampu jalan lebih jarang, dan suara kota yang biasanya menjadi latar hidupnya kini terasa lebih jauh dari biasanya. Ia mencoba menelpon seseorang, tapi tangannya sedikit gemetar saat membuka layar ponsel. Dan di saat itulah, ia mendengar suara yang membuat langkahnya berhenti seketika.
Bukan suara keras.
Bukan teriakan.
Hanya suara langkah yang tidak lagi berada jauh di belakangnya.
Elora menoleh pelan.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia melihat sosok itu dengan lebih jelas.
Seseorang berdiri tidak jauh di belakangnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat batas aman yang selama ini ia percaya mulai terasa tidak lagi berarti. Wajahnya tidak sepenuhnya terlihat jelas di bawah cahaya jalan, tapi kehadirannya cukup untuk membuat udara di sekitar Elora terasa berbeda.
“Kamu…” suara Elora keluar lebih pelan dari yang ia sadari.
Orang itu tidak menjawab.
Hanya berdiri.
Tidak mendekat.
Tidak pergi.
Dan justru itu yang membuat situasi terasa semakin tidak stabil.
Elora mundur satu langkah.
Lalu satu lagi.
Tapi sebelum ia bisa benar-benar berbalik dan pergi, suara mesin mobil yang tadi mengikutinya terdengar lebih dekat dari sebelumnya. Mobil itu kini berhenti di ujung jalan, bukan lagi sekadar mengikuti, tapi seperti sudah memastikan posisinya.
Dan di titik itu, Elora akhirnya sadar.
Ini bukan lagi kebetulan.
Tangannya mulai mencari ponsel lagi, kali ini lebih cepat, lebih panik, tapi sebelum ia sempat menekan satu nama di kontaknya, langkah lain terdengar dari sampingnya. Elora langsung menoleh, jantungnya semakin cepat, dan untuk sesaat ia tidak tahu harus bergerak ke arah mana.
Dan di saat itu, pikirannya hanya sempat memikirkan satu nama.
Arshaka.
Tapi Arshaka tidak ada di sana.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Elora benar-benar merasakan perbedaan antara “dilindungi” dan “sendirian”.
⸻
Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌
See you di bab selanjutnya...