NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:965
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tubuh Yang Menggoda

Kamar utama Lucien hanya diterangi oleh lampu meja yang redup, menciptakan suasana yang tenang sekaligus berat. Pintu kamar mandi baru saja terbuka, menyisakan uap hangat yang perlahan menghilang di udara.

Lucien keluar hanya dengan handuk putih yang melilit pinggangnya. Rambutnya masih basah, sisa airnya sesekali menetes ke bahunya yang lebar. Tanpa jas kaku yang biasa ia pakai, bentuk tubuhnya terlihat jelas—otot dadanya bidang dan perutnya yang rata tampak keras, hasil dari disiplin yang ketat.

Ia berdiri di depan cermin, mengusap rambutnya yang berantakan dengan handuk kecil. Di bawah cahaya lampu yang minim, kulitnya yang pucat terlihat kontras dengan bayangan otot-otot tubuhnya. Pria itu tampak sangat maskulin sekaligus santai, jauh dari kesan CEO yang biasanya selalu rapi dan formal.

Lucien menyentuh pipinya di cermin. Bekas tamparan Aurora sore tadi sudah hilang, tapi rasanya masih tertinggal. Ia tidak terlihat marah, justru ada senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya saat mengingat wajah panik istrinya itu.

Tepat saat ia hendak mengambil kemeja tidurnya, terdengar ketukan pelan dari balik pintu kayu mahoni kamarnya.

"Lucien? Kau sudah tidur?"

Suara Aurora terdengar ragu-ragu di luar sana. Lucien terdiam sejenak, menatap pintu kamarnya. Alih-alih segera berpakaian, ia justru melangkah mendekati pintu dengan tubuh yang masih hanya terlilit handuk.

Ia meraih gagang pintu, lalu menariknya terbuka sedikit, menampakkan separuh tubuhnya yang masih basah dan beruap di hadapan Aurora.

Aurora sudah menyiapkan kalimatnya sejak di depan pintu. Ia menarik napas panjang, bersiap untuk bicara dengan nada yang sangat formal demi menutupi rasa canggung akibat kejadian tamparan tadi.

"Aku mau mengunjungi nenek e—"

Kalimat itu terputus di udara. Mata Aurora membelalak sempurna, nyaris melompat keluar dari kelopaknya saat pintu terbuka dan pemandangan di depannya bukan sosok Lucien yang memakai piyama sutra rapi, melainkan dada bidang yang masih basah dan hanya berbalut handuk di pinggang.

"L-LUCIEN!" pekik Aurora.

Wajahnya langsung berubah merah padam, lebih merah dari gaun Clara di toko buku tadi. Ia secara refleks menutup matanya dengan kedua telapak tangan, tapi telat—otaknya sudah terlanjur merekam detail otot perut Lucien yang sangat jelas.

"Kau... kau ini benar-benar tidak punya sopan santun, ya?!" teriak Aurora dari balik telapak tangannya.

"Kenapa kau buka pintu dengan keadaan telanjang seperti ini?! Kau sengaja mau memamerkan tubuhmu atau kau memang sudah hilang akal sehat?"

Ia melangkah mundur beberapa tindak, tapi tetap tidak berani membuka matanya.

"Aku datang ke sini untuk bicara serius, bukan untuk melihat... melihat otot-ototmu itu! Pakai bajumu sekarang juga, Lucien Valehart! Kau benar-benar tidak tahu malu!"

Lucien yang masih berdiri di ambang pintu justru menyandarkan bahunya di kusen, menatap reaksi panik istrinya dengan ekspresi datar yang menyebalkan.

"Ini kamarku. Kau yang mengetuk pintu saat aku baru selesai mandi," jawab Lucien santai, suaranya terdengar sangat rendah dan tenang, sama sekali tidak merasa bersalah.

"Dan aku tidak telanjang. Aku pakai handuk."

"HANDUK ITU BUKAN BAJU!" omel Aurora lagi, suaranya makin meninggi karena malu yang luar biasa.

"Pakai pakaian yang layak! Cepat! Atau aku akan pergi dan kau jangan harap bisa bicara denganku sampai tahun depan!"

Lucien menghela napas pendek, merasa sedikit geli melihat Aurora yang masih menutup mata dengan rapat sampai jari-jarinya bergetar.

"Baiklah, baiklah. Tunggu di sana. Jangan kabur."

Ia menutup pintu kamarnya sejenak, meninggalkan Aurora yang masih berdiri mematung di lorong yang sepi. Di dalam, Lucien dengan cepat menyambar jubah mandi sutra berwarna hitam miliknya. Ia tidak repot-repot mengeringkan rambutnya dengan benar, hanya menyisirnya ke belakang dengan jari sebelum kembali membuka pintu.

Sekarang Lucien sudah berdiri lebih "sopan" dengan jubah mandi yang menutupi seluruh tubuhnya, meskipun bagian lehernya masih sedikit terbuka memperlihatkan tulang selangkanya yang tegas.

"Buka matamu. Aku sudah berpakaian," ujar Lucien pelan.

Aurora perlahan menurunkan tangannya. Ia mengintip sedikit, memastikan tidak ada lagi pemandangan "berbahaya" sebelum akhirnya berani menatap wajah Lucien sepenuhnya. Meski begitu, rona merah di pipinya masih enggan hilang.

"Lama sekali," gerutu Aurora sambil merapikan gaun tidurnya yang sebenarnya sudah rapi. Ia berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang baru saja hancur berantakan.

"Jadi..." Lucien melipat tangan di depan dada, bersandar pada pintu. "Tadi kau bilang mau mengunjungi nenekmu? Malam-malam begini?"

Aurora menggeleng, ia sedikit mendongak menatap Lucien. "Bukan malam ini, bodoh. Besok pagi."

Ia terdiam sejenak, lalu menatap ujung sepatunya. "Aku ingin ke sana sendirian. Hanya sebentar."

Lucien hanya menaikkan satu alisnya, masih bersandar di pintu dengan jubah mandi hitamnya. "Apa soal museum lagi? Kau benar-benar ambisius kalau sudah menyangkut proyek itu."

"Tentu saja. Ini warisan keluargaku yang tersisa, Lucien. Aku tidak mau ada kesalahan sedikit pun," jawab Aurora tegas, meski ia berusaha keras tidak menatap leher Lucien yang masih sedikit basah.

"Jadi, aku hanya ingin memberitahumu kalau besok aku akan pergi ke sana pagi-pagi sekali. Kau tidak perlu khawatir, aku bisa mengurus diriku sendiri."

Lucien terdiam sejenak, menatap Aurora dengan tatapan yang sulit dibaca. "Ke sana sendirian?"

"Ya. Kenapa? Kau takut aku akan diculik oleh buku-buku tua di sana?" sindir Aurora sambil mendengus.

Lucien menarik napas panjang. Ia teringat tatapan tajam Clara sore tadi dan bagaimana keluarga Ashford lainnya mungkin masih menyimpan dendam.

"Bukannya aku takut kau diculik buku, Aurora. Tapi kau tahu sendiri posisimu sekarang berbeda. Banyak mata yang mengawasi."

"Aku akan baik-baik saja," potong Aurora, tidak mau diperlakukan seperti barang pecah belah.

"Lagipula, kau punya perusahaan untuk dijalankan."

"Jadi, kita sepakat ya? Besok pagi aku pergi sendiri. Sekarang, pakailah bajumu yang benar dan tidurlah. Kau terlihat... berantakan," ujar Aurora sebelum berbalik cepat untuk kembali ke kamarnya, tidak memberi celah bagi Lucien untuk membantah.

Lucien hanya bisa berdiri mematung di lorong, menatap punggung Aurora yang menjauh dengan perasaan campur aduk.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!