NovelToon NovelToon
Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Time Travel
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Afrasya Andila

Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.

Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!

Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Rencana Supermarket dan Strategi Sang Permaisuri

Pagi itu, Melan duduk di depan meja riasnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Dayang Lin sedang sibuk menyisir rambut hitam panjangnya, sesekali mencuri pandang ke arah majikannya yang terus-menerus memegang leher.

"Yang Mulia, apakah leher Anda masih sakit?" tanya Lin hati-hati.

"Apa perlu saya panggilkan tabib istana lagi? Tadi pagi Yang Mulia Raja berpesan dengan sangat tegas agar memastikan Anda tidak kelelahan."

Melan mendengus, mencoba mengabaikan debaran aneh di dadanya saat nama 'Nolan' disebut.

"Nggak usah, Lin. Ini cuma salah urat dikit gara-gara bantal keras... iya, bantal keras yang berotot," gumam Melan pelan di kalimat terakhir.

"Apa, Yang Mulia?"

"Nggak, lupakan. Lin, siapkan kereta. Hari ini saya mau ke lokasi pembangunan lagi. Oh, dan bawakan kotak penyimpanan uang pribadi saya. Kita perlu mampir ke pasar grosir tekstil dan rempah."

Lin tampak bingung. "Pasar grosir? Untuk apa, Yang Mulia?"

Melan tersenyum misterius. Matanya berkilat penuh ambisi.

"Mall itu proyek jangka panjang, Lin. Tapi saya butuh perputaran uang yang cepat. Sambil nunggu gedung jadi, saya mau mulai konsep 'Supermarket' pertama di dunia ini. Kita bakal beli barang dalam jumlah besar dengan harga murah, lalu kita kemas ulang jadi barang premium untuk dijual ke para bangsawan yang malas belanja sendiri."

Di Lokasi Pembangunan

Begitu sampai di lokasi, Melan disambut oleh aroma kayu yang baru digergaji dan semangat kerja yang luar biasa. Pondasi bangunan sudah terlihat kokoh. Jaka langsung berlari menghampiri dengan lembaran kertas di tangannya.

"Yang Mulia! Anda tepat waktu," ujar Jaka penuh semangat.

"Pondasi untuk area bawah tanah yang Anda sebut 'basement' sudah selesai digali. Tapi para pekerja bingung, untuk apa kita menggali sedalam ini kalau hanya untuk menyimpan barang?"

Melan turun dari kereta, mengangkat sedikit rok gaunnya yang praktis. "Bukan cuma buat simpan barang, Jaka. Itu bakal jadi tempat parkir kereta kuda paling rapi sedunia. Saya nggak mau di depan Mall saya nanti kereta kuda parkir semrawut kayak pasar tumpah."

Jaka menggaruk kepalanya yang tertutup helm rotan. "Parkir? Istilah Anda selalu ajaib, Yang Mulia."

"Nanti kamu juga paham. Oh ya, gimana soal seragam wanita?"

Jaka menunjuk ke arah tenda dapur. Di sana, para wanita sudah mengenakan apron berbahan kain tebal dengan saku-saku fungsional. Mereka terlihat lebih rapi dan profesional.

"Mereka sangat menyukainya. Mereka merasa bukan lagi gelandangan, tapi karyawan."

"Karyawan... saya suka kata itu," Melan mengangguk puas.

Tiba-tiba, suara kuda yang gagah terdengar dari arah jalan masuk. Baron, tangan kanan raja, datang dengan ekspresi serius. Ia tidak sendirian, ia membawa sekitar sepuluh ksatria tambahan.

"Hormat saya, Yang Mulia Permaisuri," Baron membungkuk.

"Mulai hari ini, sesuai perintah Yang Mulia Raja, pengawalan Anda akan diperketat. Saya sendiri yang akan memastikan Anda tidak 'tersesat' lagi ke hutan terlarang."

Melan memutar bola matanya. "Baron, jujur ya, bos kamu itu posesifnya minta ampun. Saya cuma mau kerja, bukan mau kabur ke kerajaan tetangga."

Baron tersenyum tipis. "Yang Mulia Raja hanya khawatir. Beliau bilang, Permaisuri sekarang jauh lebih berharga daripada seluruh cadangan emas di gudang."

Blush.

"Halah, gombalan raja es mana mungkin kayak gitu. Pasti kamu nambah-nambahin sendiri kan?" Melan berusaha menutupi wajahnya yang memerah dengan kipas.

"Saya hanya menyampaikan pesan, Yang Mulia," jawab Baron dengan nada datar namun matanya berkilat geli.

Strategi Bisnis di Pasar Grosir

Setelah meninjau proyek, Melan mengajak Baron dan pasukannya ke pasar pusat kerajaan.

Namun, bukan ke toko perhiasan mewah, melainkan ke gudang-gudang besar di pinggiran pasar.

"Yang Mulia, tempat ini kotor dan penuh debu. Apa yang Anda cari di sini?" tanya Baron sambil menepis debu di jubah zirahnya.

"Saya cari peluang, Baron," jawab Melan sambil menghampiri seorang pedagang kain yang tampak sedang lesu.

"Pak, kain rami ini kalau saya ambil sepuluh gulung besar, harganya berapa?" tanya Melan langsung tanpa basa-basi.

Si pedagang terkejut melihat wanita anggun dengan pengawalan ksatria bertanya soal kain rami murah.

"E-eh... Yang Mulia? Biasanya sepuluh gulung harganya 50 koin perak. Tapi karena Anda terlihat sangat... terhormat, saya beri 45 koin."

Melan menggelengkan telunjuknya. "Nggak, 30 koin perak. Tapi saya nggak ambil sepuluh gulung. Saya ambil seratus gulung sekarang juga, tunai."

Si pedagang hampir jatuh dari kursinya. "Se-seratus gulung? Tapi untuk apa, Yang Mulia?"

"Itu urusan saya. Gimana? 30 koin perak per sepuluh gulung, atau saya ke gudang sebelah?"

"Deal! Deal, Yang Mulia!"

Baron hanya bisa melongo melihat Permaisuri kerajaan menawar harga layaknya ibu-ibu di pasar pagi.

"Yang Mulia... Anda baru saja melakukan transaksi yang sangat tidak... anggun."

"Anggun itu nggak bikin kenyang, Baron," sahut Melan sambil menghitung koin emasnya.

"Kain ini bakal saya suruh ibu-ibu di asrama buat jahit jadi tas belanja kain yang cantik. Kita bakal jual ke para bangsawan dengan harga 5 koin perak per tas. Hitung aja untungnya berapa."

Baron terdiam, mencoba menghitung di kepalanya. "Itu... keuntungan hampir lima ratus persen?"

"Nah, pinter kamu. Jadi ksatria jangan cuma tau caranya ayun pedang, harus tau matematika juga," Melan menepuk pundak zirah Baron yang keras.

Pertemuan Tak Terduga di Kereta

Sore harinya, saat dalam perjalanan pulang ke istana, kereta Melan tiba-tiba berhenti mendadak.

"Ada apa, Baron?" teriak Melan dari dalam.

"Seorang pengemis menghalangi jalan, Yang Mulia. Tapi dia... sedikit aneh."

Melan membuka pintu kereta dan keluar. Di tengah jalan, berdiri seorang anak laki-laki dengan telinga yang sedikit runcing dan ekor yang berbulu halus di belakangnya. Dia tampak terluka.

"Manusia Binatang?" gumam Melan, teringat penjelasan Lin soal dunia fantasi ini.

Anak itu gemetar ketakutan melihat para ksatria yang menghunuskan pedang.

"Tolong... jangan bunuh saya... saya hanya mencari makan..."

Melan segera turun. "Baron, turunkan pedang kalian! Kalian ini besar-besar kok nakutin anak kecil."

Melan mendekati anak itu, mengeluarkan sebungkus roti yang tadi ia beli di pasar.

"Nih, makan. Kamu dari mana? Kenapa sampai di sini?"

Anak itu melahap roti itu dengan rakus. "Saya... saya lari dari pedagang budak di perbatasan. Mereka bilang ekor saya mahal."

Hati Melan mencelos. Budak? Di jaman begini masih ada perbudakan? Amarahnya mendidih.

"Ikut saya," ujar Melan tegas.

"Yang Mulia!" Baron memprotes. "Membawa Manusia Binatang ke istana tanpa ijin Raja bisa dianggap pelanggaran hukum!"

Melan menatap Baron dengan tatapan paling tajam yang pernah ia miliki.

"Kalau begitu, bilang ke Raja kamu, kalau dia mau tangkap anak ini, dia harus langkahi mayat Permaisurinya dulu. Lagipula, saya butuh tenaga kerja untuk bagian logistik di Mall nanti. Anak ini punya indra pendengaran yang tajam, dia bakal jadi pengawas yang hebat."

Baron mendesah pasrah. Ia tahu kalau Permaisuri sudah bicara begitu, bahkan Raja Nolan pun sulit membantahnya.

Makan Malam yang Tegang

Malam itu, suasana di meja makan istana terasa berbeda. Nolan duduk di ujung meja, memperhatikan Melan yang makan dengan sangat lahap, seolah-olah ia baru saja pulang dari medan perang.

"Saya dengar Anda membawa pulang 'peliharaan' baru ke istana," ujar Nolan memecah kesunyian. Suaranya rendah dan penuh selidik.

Melan meletakkan garpunya. "Dia bukan peliharaan, Nolan. Namanya Kibo. Dia karyawan baru saya. Dan saya harap Anda tidak keberatan, karena dia tinggal di paviliun belakang bersama Lin."

Nolan menyandarkan punggungnya, matanya menatap Melan dalam-dalam. "Anda membawa Manusia Binatang ke pusat kekuasaan manusia. Anda tahu risikonya? Para tetua kerajaan akan protes."

"Biarkan mereka protes sampai mulut mereka berbusa," sahut Melan santai.

"Kerajaan ini butuh perubahan. Kalau Anda cuma mau memimpin manusia yang membosankan dan kaku kayak Anda, silakan. Tapi saya mau membangun tempat di mana semua ras bisa belanja dan menghabiskan uang mereka."

Nolan tiba-tiba tertawa kecil. Tawa yang jarang didengar siapapun. "Anda benar-benar tidak punya rasa takut, ya? Setelah semalam 'menangis' karena mimpi pencuri, sekarang Anda menantang tetua kerajaan."

Wajah Melan mendadak panas. "Siapa yang nangis?! Saya cuma kaget! Dan jangan bahas soal semalam!"

"Kenapa? Lehermu masih sakit?" Nolan memajukan tubuhnya, senyum tipis terukir di bibirnya.

"Mau saya pijat lagi nanti malam?"

"NOLAN!" teriak Melan malu.

Di sudut ruangan, Fek Fe yang baru saja masuk untuk bergabung makan malam membeku. Ia melihat interaksi antara Raja dan Permaisuri yang terasa sangat... hidup. Tidak ada lagi suasana kaku. Ia merasa seperti orang asing di sana.

"Yang Mulia Raja..." sapa Fek Fe dengan suara manja yang dibuat-buat. "Kenapa Anda tidak mengajak saya bicara juga? Saya baru saja membeli parfum baru dari perbatasan..."

Nolan bahkan tidak menoleh ke arah Fek Fe. Matanya tetap terkunci pada wajah merah padam Melan.

"Nanti saja, Fek Fe. Saya sedang sibuk membahas 'strategi bisnis' dengan Permaisuri."

Fek Fe mengepalkan tangannya di balik gaun. Sialan! Sejak kapan Melan jadi semenarik ini di mata Raja? Aku harus melakukan sesuatu sebelum mall sialan itu benar-benar berdiri!

Sementara itu, Melan hanya bisa menunduk sambil terus mengunyah makanannya, berusaha mengabaikan tatapan Nolan yang terasa seperti mau menelannya bulat-bulat.

Gue harus fokus... Mall... Emas... Duit... Jangan baper sama pijatan raja es! teriak batin Melan berulang-ulang.

Namun jauh di dalam hatinya, Melan mulai sadar bahwa hidup di dunia ini tidak sesederhana yang ia bayangkan.

Ada sihir, ada ras lain, ada intrik politik, dan ada seorang raja yang perlahan-lahan mulai mencairkan es di hatinya sendiri—dan mungkin, di hati Melan juga.

"Oh ya, Raja," ujar Melan tiba-tiba sambil menengadah.

"Ya?"

"Besok malam, jangan berani-berani masuk ke kamar saya tanpa ijin. Saya sudah pasang bel di pintu."

Nolan hanya mengangkat gelas anggurnya. "Kita lihat saja nanti, Permaisuri. Kita lihat saja nanti."

Malam itu ditutup dengan keheningan yang berbeda. Bukan lagi keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang penuh dengan antisipasi akan apa yang akan terjadi esok hari.

Melan tahu, perjuangannya baru saja dimulai. Dari membangun pondasi gedung, hingga membangun pondasi posisinya di hati kerajaan ini—dan mungkin di hati pria di hadapannya.

1
ilaa
lanjut up thorr, penasaran sama si fek fe
merpati: ga nyangka 🤭
total 1 replies
Ma Em
Melan emang unik sdh diculik tapi msh saja memikirkan bagaimana caranya bisnis untuk mengumpulkan pundi pundi uang masuk ke kantongnya .
merpati: soalnya di kehidupan sebelumnya melan jadi pekerja, di kehidupan kedua dia mau jadi bosnya
total 1 replies
Ma Em
Semoga apa yg akan Melan lakukan segera terlaksana dan benar2 sukses dgn yg Melan bangun agar Raja dan orang2 yg ada di kerajaan Nolan tdk meremehkan Melan lagi .
merpati: melan mah nggak peduli di remehin yg penting kaya dulu 🤭🙏
total 1 replies
Andini Cantik
lanjuttttt up
Firniawati
bagus tidak menye² tapi pemilihan katanya yg campur aduk
merpati: makasih kakaa, nanti aku revisi
total 1 replies
Firniawati
ayo kak kapan updatenya?
Sesarni Andiva
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!