Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 16 : RETAKNYA HARGA DIRI DI AMBANG MAUT
Malam di Jakarta yang biasanya bising oleh suara klakson dan hiruk-pikuk kehidupan, mendadak terasa sunyi dan dingin bagi Devan dan Anya. Mobil melaju menembus jalanan protokol menuju Rumah Sakit Medika Utama dengan kecepatan yang membahayakan. Di dalam kabin mobil, tidak ada suara tawa seperti saat mereka berburu pengkhianat tadi. Yang ada hanyalah suara napas Devan yang memburu dan jemari Anya yang saling meremas dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih.
Setelan penyamaran mereka yang konyol—wig yang miring, jas yang robek, dan kumis palsu yang masih menyisakan bekas lem—kini terasa seperti kostum badut yang mengejek situasi mereka. Mereka adalah dua pembohong yang tertangkap basah oleh takdir.
"Ini salahku, Anya," bisik Devan, suaranya parau, tangannya mencengkeram kemudi hingga otot-otot lengannya menonjol. "Seharusnya aku tidak pernah membuat ide kontrak gila itu. Aku tahu Papa punya penyakit jantung dan kanker, tapi aku justru memberinya racun lewat kebohongan ini."
Anya tidak bisa menjawab. Air mata sudah membasahi pipinya, merusak riasan tebal yang ia gunakan untuk menyamar. Rasa bersalahnya terasa seperti batu besar yang menyumbat tenggorokannya. Ia teringat tatapan bangga Papa Arkatama saat mereka menikah, tawa tulus pria tua itu saat melihat mereka "mesra" di meja makan. Semuanya adalah palsu, dan kini kepalsuan itu mungkin akan membunuh orang yang paling menyayangi mereka.
...****************...
Begitu mereka sampai di lorong ICU, aroma antiseptik yang tajam menyambut mereka—aroma yang selalu diasosiasikan dengan kehilangan. Di sana, Mama Arkatama duduk di kursi tunggu kayu dengan bahu yang merosot. Wajahnya yang biasanya penuh keceriaan dan bedak mahal, kini pucat pasi dan sembap.
"Mama..." panggil Devan lirih.
Mama Arkatama mendongak. Begitu melihat anak dan menantunya datang dengan pakaian yang berantakan, kemarahan yang tenang namun mematikan terpancar dari matanya. Ia berdiri perlahan, menatap mereka berdua dengan tatapan yang lebih menyakitkan daripada tamparan.
"Kenapa kalian berpakaian seperti ini? Apa kalian baru saja merayakan kemenangan atas kebohongan kalian?" suara Mama Arkatama dingin, bergetar karena emosi yang tertahan.
"Ma, ini tidak seperti yang Mama pikirkan..." Anya mencoba mendekat, namun Mama Arkatama mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Anya tetap di tempat.
"Jangan panggil aku Mama untuk saat ini, Anya," ucapnya pedas. "Seseorang mengirimkan salinan kontrak itu ke nomor pribadi Papa saat dia sedang di rumah sakit untuk kontrol rutin. Dia membacanya. Dia membaca bagaimana anaknya sendiri menganggap pernikahan sebagai transaksi bisnis. Dia membaca bagaimana menantu yang dia cintai ternyata hanya berada di sini karena hutang dua belas miliar."
Mama Arkatama menatap Devan dengan kecewa. "Papa pingsan seketika. Jantungnya tidak kuat menahan pengkhianatan dari orang yang dia percaya akan meneruskan dinasti ini dengan cinta, Devan. Bukan dengan materai!"
Devan jatuh berlutut di depan Mamanya. "Ma, maafkan aku. Aku melakukannya karena aku takut Papa akan memecatku dan memberikan perusahaan pada orang lain jika aku tidak segera menikah. Aku hanya ingin membuktikan aku bisa memimpin!"
"Membuktikan apa?!" bentak Mama Arkatama, air matanya tumpah lagi. "Papa menginginkan kamu menikah agar ada seseorang yang menjagamu saat dia tidak ada! Dia ingin kamu bahagia, bukan sekadar punya status di atas kertas! Kamu pikir perusahaan itu lebih berharga daripada nyawa Papamu?"
Di dalam ruang ICU, melalui celah kaca, mereka bisa melihat Papa Arkatama terbaring lemah dengan berbagai kabel dan selang yang menempel di tubuhnya. Monitor detak jantung mengeluarkan bunyi tit... tit... tit... yang sangat lambat, seolah-olah nyawa pria itu sedang berjuang untuk tetap bertahan di dunia ini.
Suasana di lorong rumah sakit semakin memanas. Anya tidak tahan lagi melihat Devan disalahkan sepenuhnya. Ia maju dan berdiri di samping Devan yang masih berlutut.
"Mama, dengarkan saya," ucap Anya dengan nada tegas namun penuh kesedihan. "Memang benar, awalnya ini adalah kontrak. Saya setuju karena saya putus asa ingin menyelamatkan Mama saya dan butik kami. Saya egois. Tapi Devan... Devan mencoba melindungi semuanya."
"Melindungi dengan bohong?" sindir Mama Arkatama.
"Bukan hanya itu," lanjut Anya, suaranya mulai terisak. "Selama sebulan ini, terutama saat di Maldives... kontrak itu sudah tidak ada artinya bagi kami. Devan menyelamatkanku berkali-kali. Dia melindungiku dari masa laluku, dia mendukung pekerjaanku. Dan malam itu... kami benar-benar menjadi suami istri karena kami menginginkannya, bukan karena pasal mana pun dalam dokumen itu."
Devan mendongak, menatap Anya dengan terkejut. Ia tidak menyangka Anya akan mengakui perasaan itu di saat seperti ini.
"Ma," Devan meraih tangan Mamanya. "Aku mencintai Anya. Aku terlambat menyadarinya, tapi pernikahan ini sekarang nyata bagiku. Aku tidak peduli lagi dengan kontrak itu. Aku akan merobeknya di depan Papa jika dia bangun nanti. Aku hanya ingin Papa tahu bahwa aku benar-benar bahagia bersamanya sekarang."
Mama Arkatama terdiam, menatap kejujuran di mata anak laki-lakinya. Namun, luka hati seorang ibu dan istri tidak bisa sembuh begitu saja.
"Kalian harus mengatakannya sendiri padanya. Jika Tuhan masih memberikan kesempatan bagi Papa untuk bangun," ucap Mama Arkatama sambil berpaling kembali ke arah kaca ICU. "Dan jika Papa tidak bangun... Devan, aku tidak akan pernah memaafkanmu karena membiarkannya pergi dalam keadaan mengira hidupmu adalah sebuah kepalsuan."
Malam itu terasa sangat panjang. Mereka bertiga duduk dalam keheningan yang menyiksa di lorong rumah sakit. Anya menyandarkan kepalanya di bahu Devan, dan Devan menggenggam tangan Anya seolah-olah wanita itu adalah satu-satunya pegangannya agar tidak jatuh ke dalam jurang penyesalan.
Tiba-tiba, dokter keluar dari ruang ICU dengan wajah yang sangat serius. "Keluarga Tuan Arkatama?"
Mereka serentak berdiri. Jantung Anya berdegup kencang hingga ia merasa mual.
"Kondisinya kritis. Ada pendarahan di otak akibat benturan saat pingsan tadi. Kami harus melakukan operasi darurat sekarang juga, tapi peluang keberhasilannya sangat kecil karena kondisi jantung dan kankernya yang sudah menyebar," jelas dokter tersebut. "Jika ada yang ingin disampaikan, silakan masuk sekarang. Satu per satu. Waktu kalian tidak banyak."
Devan memandang Anya dengan tatapan hancur. Ini adalah momen yang paling ia takuti. Ia harus masuk ke sana, melihat ayahnya yang sekarat, dan mengakui bahwa seluruh kebahagiaan yang ayahnya lihat selama sebulan terakhir adalah sebuah desain yang ia susun sendiri.
"Masuklah, Devan," bisik Anya sambil mengusap punggung tangan suaminya. "Katakan kebenaran dari hatimu. Papa pasti mendengarnya."
Dengan langkah kaki yang terasa berat seperti memikul beban seluruh dunia, Devan melangkah masuk ke dalam ruangan yang dingin itu. Di sana, di bawah lampu neon yang pucat, ia melihat pria yang selama ini menjadi musuh sekaligus pahlawannya sedang bertaruh nyawa.
Konflik di dalam diri Devan mencapai puncaknya. Apakah ia akan jujur dan mengambil risiko membuat kondisi ayahnya semakin memburuk karena syok, ataukah ia akan terus berbohong hingga napas terakhir ayahnya demi memberikan "kedamaian" palsu?