NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18: Sosok yang Tumbuh dalam Diam

Malam itu, Kak Hazel yang mengambil alih semuanya. Dia yang mengurus pemakaman, dia yang memastikan Luq tetap minum air dan makan sedikit. Aku hanya bisa memperhatikan dari jauh, melihat bagaimana sahabat baik bisa menjadi keluarga di saat tersulit.

Saat kami kembali ke rumah, keadaan terasa hampa. Kak Hazel membiarkan Luq menginap di rumah kami malam itu agar dia tidak sendirian di rumahnya yang kosong.

Larut malam, aku menemukan Luq duduk sendirian di teras belakang, menatap langit Jakarta yang mendung. Aku mendekat dengan segelas teh hangat.

"Kak," panggilku pelan.

Luq menoleh. Matanya bengkak. "Rea... maaf ya. Gue harusnya nemenin kamu belajar tadi, tapi malah berakhir kayak gini."

"Kakak jangan ngomong gitu," kataku sambil duduk di sampingnya. "Sekarang fokus Kakak cuma satu, istirahat."

"Gimana caranya, Rea? Setiap kali gue merem, gue ngerasa Ibu masih nungguin gue pulang. Dia masih nunggu gue sukses."

"Ibu sudah tahu Kakak hebat," jawabku. "Kakak sahabat Kak Hazel, Kakak partner aku, dan Kakak anak yang paling hebat. Ibu sudah tenang di sana."

Luq menunduk, air mata kembali jatuh di pipinya yang kasar. Aku memberanikan diri. Aku meletakkan teh itu, lalu menempelkan kepalaku di bahunya. Itu bukan tindakan romantis, itu adalah caraku bilang, "Aku di sini."

Dia tidak menolak. Dia malah menyandarkan kepalanya di kepalaku. Kami duduk dalam diam, ditemani suara jangkrik di halaman belakang rumah.

Aku sadar, hidup tidak punya reset button. Kita tidak bisa kembali ke kode sebelum error terjadi. Kita hanya bisa melanjutkan baris kode berikutnya dengan membawa memori dari baris sebelumnya.

Malam ini, aku kehilangan sosok "mentor" yang selalu tegar. Tapi di depanku, ada seorang laki-laki yang sedang terluka, yang perlu aku bantu untuk bangkit. Dan aku tahu, dengan bantuan Kak Hazel dan aku, Luq tidak akan hancur. Dia hanya perlu waktu untuk menyusun kembali puing-puing hatinya.

...----------------...

Sudah tiga hari sejak pemakaman Ibu Luq. Rumah kami—tempat Luq tinggal sementara—terasa berbeda. Kak Hazel lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk menemani Luq, dan aku pun lebih sering belajar di ruang tamu daripada di kamar, supaya Luq tidak merasa sendirian.

Sore itu, suasana rumah sedang sepi. Luq sedang duduk di sofa, fokus menatap layar laptopnya. Dia memakai kaus hitam polos dan celana training panjang. Di sampingnya, tumpukan buku tebal tentang pemrograman C++ dan modul praktik teknik informatika SMK miliknya tertata rapi.

Tiba-tiba, suara kunci pintu terdengar. Papa dan Mama pulang dari perjalanan dinas luar kota yang cukup lama.

"Kami pulang!" seru Mama.

Aku segera beranjak dari sofa, menyusul Kak Hazel yang sudah lebih dulu berdiri. Saat Papa dan Mama masuk ke ruang tamu, langkah mereka terhenti. Mereka tidak langsung menyapa kami, tapi tatapan mereka tertuju pada sosok laki-laki yang duduk di sofa, yang baru saja menutup laptopnya dan berdiri dengan sopan.

Luq tampak sedikit kikuk. Tubuhnya yang dulu kurus di masa SD, kini sudah lebih tegap. Wajahnya yang dulu sering kotor karena main lumpur, kini terlihat lebih dewasa, rahangnya tegas, dan matanya yang teduh menatap Papa dan Mama dengan rasa hormat.

"Selamat sore, Om, Tante," sapa Luq dengan suara rendah yang sopan.

Papa dan Mama saling berpandangan, lalu menatap Kak Hazel yang berdiri di sebelahku.

"Hazel... ini siapa?" tanya Mama, suaranya terdengar ragu. "Teman Sekelas mu?"

Kak Hazel tersenyum lebar. "Ibu, Ayah, masa lupa? Ini Luq."

Ayah memicingkan mata, mendekat ke arah Luq. "Luq? Luq yang dulu sering main bola sama Hazel sampai bajunya kotor semua pas masih SD?"

Luq mengangguk sopan, suaranya sedikit serak, mungkin karena terlalu banyak menangis dua hari belakangan ini. "Iya, Om. Saya Luq."

Ibu menutup mulutnya dengan kedua tangan, tampak sangat terkejut. "Ya ampun, Luq! Ibu benar-benar hampir tidak mengenali kamu. Kamu sudah besar sekali! Dulu kamu kurus sekali, sekarang... astaga, kamu jadi pria yang tampan dan dewasa."

Ayah menepuk bahu Luq dengan keras—sebuah gestur keakraban yang membuat Luq sedikit tersenyum. "Benar kata Ibu. Dulu kalau main bola pasti rebutan posisi striker sama Hazel. Sekarang sudah beda jauh auranya. Kamu SMK sekarang? Jurusan apa?"

"Teknik Informatika, Om," jawab Luq singkat.

"Informatika? Wah, anak pintar ya!" Ayah tampak kagum.

Ibu mendekat, menatap wajah Luq lebih lekat. Dia pasti menyadari ada kesedihan mendalam di balik tatapan Luq—mungkin Ibu sudah dengar kabar tentang Ibu Luq dari Kak Hazel. Tanpa banyak tanya, Ibu justru memeluk Luq dengan hangat, persis seperti dia memeluk kami saat kami sedih.

"Terima kasih sudah menjaga Hazel dan Rea selama Ibu pergi," bisik Ibu.

Luq tampak kaku sesaat, lalu perlahan membalas pelukan itu. Dia terlihat seperti seorang pria dewasa yang sedang berjuang keras menahan air matanya.

"Luq kerja sekarang, Bu," sela Kak Hazel, mencoba mencairkan suasana. "Dia kerja di kafe sekaligus bantu di bengkel Pak Edi. Dia sibuk sekali, jadi tidak sempat main ke sini."

Ayah duduk di sofa, mengundang Luq untuk ikut duduk. "Dua pekerjaan sekaligus? Di usiamu? Itu tanggung jawab yang besar, Luq. Om bangga. Tidak banyak anak muda yang mau bekerja keras seperti itu sambil sekolah."

Luq hanya tersenyum tipis. "Saya cuma ingin belajar mandiri, Om. Lagipula, saya punya mimpi untuk kuliah nanti."

Aku memperhatikan dari sudut ruang tamu, merasa haru melihat pemandangan ini. Luq yang biasanya selalu menjaga jarak, yang selalu merasa dia adalah "orang luar" di keluarga ini karena statusnya, kini diterima dengan begitu hangat. Ayah dan Ibu tidak melihatnya sebagai "teman Kak Hazel yang dulu sering main bola", mereka melihatnya sebagai sosok pria muda yang tangguh.

Malam itu, makan malam terasa berbeda. Biasanya hanya kami bertiga. Kini ada Luq di meja makan. Ayah terus memancing cerita tentang bagaimana Luq belajar koding di sela-sela shift kerjanya di kafe. Luq, yang awalnya pendiam, mulai bisa bercerita tentang dunia IT yang sedang dipelajarinya, meski terkadang raut wajahnya kembali sendu saat teringat ibunya.

"Duh, Luq, kamu pasti jarang makan enak ya?" Mama mulai mengambilkan lauk pauk ke piring Luq. "Ini, ambil daging rendangnya. Banyakin nasinya. Kamu kurus banget, pasti kurang asupan!"

Papa tidak mau kalah. Dia menuangkan air jeruk segar ke gelas Luq. "Iya, ini makan yang banyak. Katanya kamu kerja sambil sekolah ya? Teknik Informatika? Wah, hebat kamu!"

Luq, yang bingung harus berbuat apa, hanya bisa pasrah saat piringnya menggunung dengan makanan. "Eh, iya Om, Tante. Terima kasih banyak..."

Aku yang duduk di depan Luq merasa diabaikan. "Ma... Pa... aku yang anak kandung kalian loh di sini," kataku sambil menyenggol lengan Mama.

"Kamu kan bisa ambil sendiri, Rea! Lagian kamu mah udah gemuk tuh pipinya, nggak usah banyak-banyak," goda Papa sambil tertawa.

"Ih, Papa!" seruku cemberut, yang langsung disambut tawa oleh Kak Hazel.

"Nih, Luq, tambah lagi ayam gorengnya," Mama menumpuk ayam goreng di atas piring Luq sampai nyaris jatuh.

"Ma, nanti Luq meledak kalau dimakan semua," ujar Kak Hazel terkekeh.

Luq akhirnya tertawa lepas. Suara tawa yang sudah lama tidak kudengar darinya. Di sela-sela mengunyah rendang, dia berkata, "Makasih banyak, Tante. Jujur, udah lama saya nggak ngerasa makan kayak gini. Biasanya cuma roti sisa di kafe atau mie instan di bengkel."

Suasana meja makan mendadak hening sejenak. Ada nada kesedihan yang terselip, tapi Mama segera menepisnya dengan senyum hangat. "Ya sudah, mulai sekarang, kalau kamu lapar, ke sini aja. Jangan sungkan-sungkan. Kamu kan udah kayak anak sendiri sama Tante dan Om."

Aku melihat Luq. Dia tidak terlihat seperti pemuda yang baru saja kehilangan ibunya. Dia terlihat seperti seorang pemuda yang sedang "pulang".

Setelah makan malam, kami pindah ke teras belakang. Kak Hazel dan Papa asyik membicarakan teknis motor, sementara Mama mengajakku ke dapur. Luq duduk sendirian di kursi bambu, menatap bintang-bintang.

Aku menghampirinya, membawakan segelas teh hangat. "Seneng ya, dimanjain Mama?"

Luq menoleh, lalu tersenyum—senyum yang benar-benar sampai ke matanya. "Iya. Gue ngerasa kayak balik ke masa SD, pas Ibu masih ada, masih sehat dan sering masak banyak kalau gue main ke sini.. Untuk bagi bagi sama hazel."

"Mama sama Papa emang kaget. Mereka masih ngebayangin Kakak yang dulu main bola terus tackle orang sampai nangis," candaku.

"Gue emang nakal banget ya dulu?"

"Banget. Tapi sekarang, Kakak jadi orang paling bertanggung jawab yang aku kenal."

Luq menatapku lekat. "Makasih, Rea. Buat semuanya. Buat hari ini, buat rumah ini, dan buat... ada di sini."

Malam itu, di bawah langit Jakarta yang tenang, aku sadar bahwa Luq mungkin kehilangan ibunya, tapi dia tidak kehilangan keluarga kedua nya. Dia punya Kak Hazel, punya Mama dan Papa yang sudah mulai jatuh hati padanya, dan dia punya aku.

Perjalanan kami masih panjang. Ujian-ujian hidup masih menunggu di depan sana. Tapi melihat Luq bisa tertawa lagi setelah malam yang tragis kemarin, aku tahu kami akan baik-baik saja.

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!