Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Datang dari Darah Daging Sendiri
Pagi itu, udara di kediaman keluarga Sterling terasa begitu hangat dan damai. Hari Minggu adalah hari yang selalu dinanti, saat seluruh anggota keluarga bisa berkumpul tanpa beban pekerjaan atau urusan sekolah. Di ruang keluarga yang luas dan nyaman, suasana begitu cerah dan penuh tawa.
James duduk di kursi utama, wajahnya yang biasanya serius kini merekah dengan senyum lebar sambil tertawa mendengar cerita lucu yang dilontarkan oleh Zio. Di sebelahnya, Victoria duduk sambil merajut, sesekali ikut tertawa bahagia. Di sofa lain, Daniel, Kevin, Ziva, dan Zea duduk berjejer, saling bersenda gurau. Bekas pertengkaran dan kesalahpahaman kemarin seakan sudah hilang tak berbekas, digantikan oleh kedamaian yang manis. Ziva merasa sangat bahagia, akhirnya ia bisa merasakan bagaimana rasanya kehangatan keluarga yang utuh, sesuatu yang dulu hanya bisa ia impikan.
Namun, kedamaian itu ternyata hanya berlangsung sesaat. Tawa yang riang itu tiba-tiba terhenti seketika saat suara bel pintu utama berbunyi nyaring memecah suasana.
James mengerutkan kening, melirik jam di dinding. Pagi-pagi begini, tamu siapa yang datang? Biasanya tamu hormat tidak datang Di jam istirahat keluarga seperti ini.
"Masukkan siapa yang datang," perintah James pada pelayan.
Pintu besar terbuka lebar, dan di sanalah muncul sosok-sosok yang wajahnya tidak asing, namun aura yang mereka bawa justru membuat udara hangat di ruangan itu seketika berubah menjadi dingin dan kaku. Datanglah rombongan keluarga Efendi, adik kandung James beserta istri dan kedua anaknya. Wajah mereka tidak membawa senyum ramah, melainkan penuh kesombongan dan pandangan yang lapar, seolah datang bukan untuk bersilaturahmi, melainkan untuk menagih hak.
Begitu melihat mereka, senyum di wajah James seketika lenyap. Ekspresinya berubah datar, dingin, dan tajam, sangat berbeda dengan keramahannya tadi. Ia bahkan tidak beranjak dari tempat duduknya, hanya menatap tajam ke arah pintu.
"Ada perlu apa kalian datang ke sini di jam seperti ini?" tanya James dengan nada suara yang sangat dingin dan penuh jarak, seolah yang berdiri di hadapannya bukanlah saudara kandung, melainkan orang asing yang tidak diharapkan kehadirannya.
Perubahan drastis pada sikap ayahnya itu tidak luput dari perhatian Ziva. Gadis itu mengerutkan kening, rasa penasaran bercampur firasat buruk mulai menyelimuti hatinya. Selama ini ia melihat ayahnya selalu ramah, sopan, dan hangat pada siapa pun, bahkan pada orang yang baru dikenal. Tapi sikap dingin yang kini ditunjukkan James pada saudaranya sendiri... jelas sekali ada masalah besar yang terpendam di antara kedua keluarga ini. Ada rahasia dan ketidakharmonisan yang dalam.
Efendi yang mendengar pertanyaan tajam itu bukannya merasa sungkan atau malu, malah melangkah masuk dengan angkuh, duduk di sofa tanpa diminta izin, seolah rumah itu juga miliknya. Ia melipat tangannya di dada, menatap kakak kandungnya dengan tatapan penuh tuntutan.
"Masih saja bertanya ada perlu apa, Kak?" ucap Efendi dengan nada nada yang tidak sopan dan tinggi. "Kita kan saudara kandung, wajar saja aku datang berkunjung. Tapi kalau bicara jujur... aku datang karena ada hal penting yang harus kita bahas. Kak, harta peninggalan Ayah dulu jumlahnya begitu banyak dan nilainya sangat besar. Semua aset, tanah, saham, dan perusahaan-perusahaan keluarga... mengapa sampai sekarang Kakak belum memberikan aku satu pun anak perusahaan yang besar? Padahal aku juga anak kandung Ayah, aku juga berhak!"
Suasana ruangan seketika hening. Tawa yang tadi menggema kini hilang lenyap.
James mendengus kasar, menatap adiknya itu dengan tatapan kecewa yang mendalam.
"Efendi, aku sudah memberimu satu perusahaan cabang yang nilainya tidak sedikit, dan selama bertahun-tahun ini aku juga menanggung seluruh biaya hidup keluargamu, biaya sekolah anak-anakmu, hingga kebutuhan sehari-hari kalian semua. Apakah itu belum cukup? Kau tahu betul, kalau aku tidak menopang, kalian sudah tidak ada apa-apanya sekarang," jawab James dengan nada tegas namun penuh rasa lelah.
"Cukup? Tentu saja belum cukup!" seru Efendi dengan nada tinggi, wajahnya memerah menahan emosi. "Itu cuma remah-remah, Kak! Lihatlah Kakak, duduk di sini sebagai pemimpin keluarga Sterling, memegang kendali atas perusahaan utama yang paling besar dan paling menguntungkan. Itu aset terbesar peninggalan Ayah! Mengapa aku tidak bisa mengambil hakku atas perusahaan itu? Mengapa hanya Kakak yang berhak menikmati semuanya? Itu tidak adil!"
"Adil? Kau bicara soal keadilan?!" suara James ikut meninggi, amarahnya mulai meletup. "Kau lupa betapa kacaunya keadaan perusahaan dan aset keluarga kita saat Ayah meninggal? Saat itu semua berantakan, terancam bangkrut, terjerat hutang besar, dan hampir saja nama keluarga Sterling hilang dari peta bisnis. Saat itu kau di mana, Efendi? Kau hanya sibuk bersenang-senang dan menghabiskan uang, bahkan tidak mau mengurus apa pun! Aku yang turun tangan, aku yang bekerja siang malam, aku yang berjuang mati-matian memulihkan semuanya, menata ulang dari nol hingga menjadi sekuat sekarang ini. Semua yang ada sekarang adalah hasil keringat dan kerja kerasku! Bukan warisan murni, melainkan sesuatu yang aku selamatkan dan bangun kembali. Jadi jangan kau bicara soal hak di sini!"
Pertengkaran itu semakin memanas. Ziva dan saudara-saudaranya hanya diam menyaksikan, mereka sadar ini bukan tempat bagi anak-anak untuk campur tangan urusan orang tua, namun ketegangan di udara begitu tebal hingga bisa membuat siapa pun sesak napas. Ziva mulai mengerti, ternyata ketidaksukaan dan masalah harta inilah yang menjadi jurang pemisah di antara mereka.
"Pokoknya aku tidak mau tahu alasan apa pun!" teriak Efendi keras, suaranya menggelegar di ruangan. "Intinya aku juga punya hak waris yang sama! Serahkanlah kepemilikan perusahaan utama itu padaku, atau kita selesaikan ini di pengadilan! Aku tidak akan diam saja melihat Kakak menimbun semua harta sendirian!"
Teriakan yang lancang dan penuh tuntutan itu akhirnya menjadi titik puncak yang meledakkan amarah seseorang yang sedari tadi menahan diri.
BRAK!
Kevin tiba-tiba berdiri dengan kasar, meja kecil di sampingnya terguling karena benturan kakinya. Wajahnya memerah padam, urat lehernya menonjol, matanya menatap tajam penuh kemarahan yang meluap-luap. Ia sudah tidak sanggup lagi mendengar kata-kata tidak tahu malu itu keluar dari mulut pamannya sendiri.
"CUKUP, PAMAN!!" teriak Kevin menggelegar, suaranya begitu keras dan berwibawa hingga membuat seluruh isi ruangan tersentak kaget. "Jika tujuan Paman datang ke rumah kami yang jauh-jauh ini hanya untuk meributkan harta dan merebut apa yang bukan milik Paman, maka lebih baik Paman pergi sekarang juga! Kalian tidak disambut di sini! Kehadiran kalian hanya membawa keributan dan racun saja!"
Efendi terkejut, wajahnya memerah karena dipermalukan oleh keponakannya sendiri. "Kamu... kamu anak muda tidak tahu sopan santun! Aku ini pamanmu, saudara kandung ayahmu! Berani-beraninya kamu mengusirku?!"
"Untuk orang yang datang dengan niat buruk dan mau menggerogoti hak orang lain, aku tidak butuh sopan santun!" bantah Kevin tanpa gentar sedikitpun. Ia langsung memberi isyarat pada beberapa orang tubuh yang sudah bersiaga di sudut ruangan. "Keluarkan mereka! Jangan biarkan mereka menginjakkan kaki di rumah ini lagi sebelum mereka sadar diri!"
Dengan sigap, beberapa orang berbadan besar segera mendekat, dengan sopan namun tegas mereka mengantar rombongan keluarga Efendi keluar dari rumah mewah itu, meski masih terdengar teriakan dan ancaman kemarahan dari mulut Efendi dan istrinya.
Setelah pintu tertutup rapat, suasana kembali hening namun terasa berat. James duduk kembali dengan wajah lelah dan sedih, seolah usianya bertambah sepuluh tahun hanya dalam waktu singkat.
Ziva menghela napas panjang. Ia tahu, peristiwa hari ini bukan sekadar pertengkaran biasa. Ini adalah permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya. Niat buruk mereka sudah terang-terangan, dan orang yang haus harta seperti itu tidak akan menyerah hanya dengan diusir sekali. Mereka akan mencari cara lain, bahkan cara kotor sekalipun, untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Firasat buruk itu membuat bulu kuduk Ziva meremang. Ia tahu persis betapa kejamnya perang perebutan kekuasaan dan harta. Ia tidak mau keluarganya, orang-orang yang baru saja ia temukan dan ia sayangi, terluka atau menjadi sasaran kejahatan.
"Ini belum selesai. Bahkan ini baru permulaan. Perang besar sedang menanti kami di depan," batin Ziva tegas, matanya menatap pintu tertutup itu tajam. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti keluarga Sterling. Aku akan pastikan kalian aman, apa pun yang terjadi."
Segera, di dalam benak Ziva mulai tersusun rencana. Sebagai pemimpin organisasi, ia memiliki banyak orang kepercayaan yang andal. Ia akan mengirimkan pasukan terbaiknya, menyebarkan mereka diam-diam di sekitar rumah, di kantor, dan di setiap tempat yang sering dikunjungi keluarganya. Mereka akan bertindak sebagai bayang-bayang, melindungi tanpa diketahui, memastikan tidak ada bahaya yang mendekat.
Namun, saat Ziva sedang menyusun rencana perlindungan itu, ia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik punggung tegapnya, kakak keduanya itu ternyata sudah bertindak jauh lebih dulu.
Kevin yang berdiri di sana dengan wajah masih serius, diam-diam mengirim pesan singkat lewat ponselnya yang hanya dia yang tahu isinya. Di dalam pesan itu tertulis perintah tegas: "Perketat penjagaan di seluruh area kediaman, pasang pengawalan ketat 24 jam di sekitar Ayah, Ibu, Daniel, Zio, Zea, dan terutama Ziva. Perkuat keamanan kantor, awasi setiap pergerakan keluarga Efendi. Jangan sampai ada celah sedikit pun. Segera keragakan pasukan keamanan khusus, aku tidak mau ada hal buruk menimpa siapa pun. Tanggung jawabmu nyawa!"
Kevin sudah mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari. Naluri pelindungnya yang kuat, rasa takut kehilangan yang baru saja ia ceritakan pada Ziva kemarin, membuatnya tidak pernah lengah sedetik pun. Ia tahu betul betapa berbahayanya orang yang sudah buta harta, dan ia sudah bersiap menyusun benteng pertahanan yang kokoh di sekeliling keluarganya, bahkan sebelum bahaya itu benar-benar datang mengetuk pintu.
Badai mungkin sudah datang, tapi kali ini, keluarga Sterling tidak akan bertarung sendirian. Dan yang paling penting, mereka tidak akan bertarung terpisah-pisah, melainkan berdiri bahu-membahu, bersatu dalam satu tujuan.