Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: PEMBANTAIAN DI BALIK KABUT
Hutan Kabut Abadi tidak pernah sesunyi ini. Kabut kelabu yang biasanya berputar liar tertiup angin pegunungan, kini seolah membeku, tertahan oleh aura yang lebih berat dan lebih purba. Di pinggiran hutan, dekat air terjun tempat Han Jian menghilang dua hari lalu, Tetua Kedua—Han Feng—berdiri dengan wajah yang penuh dengan ketidaksabaran. Di belakangnya, dua belas murid elit penegak hukum klan bersiaga dengan pedang terhunus.
"Sudah dua hari, Tetua. Mustahil dia selamat di bawah sana," bisik salah seorang murid, mencoba memecah keheningan yang mencekam. "Kolam itu terhubung dengan urat lava bawah tanah. Bahkan seorang ahli tingkat Pusaran Bumi pun akan terpanggang hidup-hidup."
Han Feng menyipitkan mata, tatapannya tajam menusuk tirai kabut. "Jangan meremehkan tikus yang sedang terdesak. Kristal Pengukur Jiwa tidak mungkin hancur tanpa alasan. Aku ingin melihat mayatnya, atau setidaknya fragmen tulang yang ia bawa. Ada sesuatu yang tidak beres dengan bocah itu."
Tepat saat kata-kata itu selesai diucapkan, permukaan kolam hitam di bawah air terjun meledak.
BOOM!
Cairan hitam membumbung tinggi ke udara, namun yang keluar dari sana bukan sekadar air. Sebuah bayangan melesat secepat kilat, mendarat dengan dentuman keras di atas dahan pohon raksasa yang menjorok ke kolam. Han Jian berdiri di sana. Ia tidak lagi tampak seperti pemuda kurus yang ringkih. Tubuhnya kini lebih tegap, otot-ototnya kencang dan terdefinisi dengan sempurna, dan kulitnya memancarkan kilau perunggu samar di bawah sinar matahari yang menembus kabut.
"Han Jian!" Han Feng berteriak, suaranya mengandung campuran antara kejutan dan kegembiraan yang jahat. "Kau benar-benar masih hidup. Serahkan teknik itu sekarang, dan aku mungkin akan membiarkanmu mati tanpa siksaan."
Han Jian menatap ke bawah, ke arah orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai keluarga namun memperlakukannya lebih rendah dari anjing. Di matanya, Han Feng bukan lagi sosok tetua yang menakutkan, melainkan hanya gundukan daging yang fana.
"Tetua Kedua," suara Han Jian terdengar seperti gesekan logam, berat dan dingin. "Dunia di bawah sana sangat panas. Aku belajar satu hal: api tidak pernah bernegosiasi dengan kayu yang akan dibakarnya."
"Lancang! Habisi dia!" perintah Han Feng.
Empat murid penegak hukum melompat serentak. Mereka adalah kultivator tingkat tiga dan empat Pemurnian Qi. Pedang mereka bersinar dengan cahaya biru saat mereka melepaskan teknik Pedang Angin Pembelah. Empat tebasan energi tajam melesat ke arah Han Jian dari berbagai sudut.
Han Jian tidak menghindar. Ia hanya mengepalkan tangan kanannya. Saat tebasan energi itu hampir menyentuh kulitnya, ia mengayunkan tinjunya ke udara kosong di depannya.
KRAAAKK!
Bukan suara benturan pedang, melainkan suara udara yang meledak karena tekanan fisik murni. Gelombang kejut dari tinju Han Jian menghancurkan keempat tebasan energi itu berkeping-keping seperti kaca. Tidak berhenti di sana, tekanan itu terus melaju, menghantam keempat murid tersebut di udara.
Suara tulang rusuk yang patah terdengar serempak. Keempatnya terpental ke belakang, menghantam pohon-pohon besar dengan suara yang mengerikan sebelum jatuh tak bernyawa ke tanah.
Han Feng tertegun. Matanya membelalak tak percaya. "Tanpa Qi... kau melakukannya hanya dengan kekuatan otot? Mustahil! Teknik apa yang kau pelajari?!"
"Ini bukan teknik, Han Feng. Ini adalah evolusi," jawab Han Jian. Ia melompat turun dari pohon. Saat kakinya menyentuh tanah, bumi di sekitarnya retak sedalam beberapa inci.
Murid-murid yang tersisa mulai gemetar. Mereka telah melihat rekan-rekan mereka tewas dalam sekejap tanpa sempat memberikan perlawanan. Rasa takut mulai menggerogoti nyali mereka.
"Jangan takut! Dia hanya menggunakan sisa energi dari inti bumi! Serang bersama!" Han Feng menghunus pedang panjangnya, auranya yang berwarna hijau pekat meledak, menandakan kekuatannya di tingkat Pusaran Bumi tingkat tujuh.
Sisa murid elit itu mengepung Han Jian, mencoba menggunakan Formasi Pengikat Rantai. Rantai-rantai baja yang diperkuat dengan energi Qi melesat, melilit lengan dan kaki Han Jian. Mereka menarik dengan sekuat tenaga, mencoba merobek tubuh pemuda itu.
"Sekarang! Mati kau!" Han Feng melesat maju, pedangnya mengarah langsung ke tenggorokan Han Jian.
Han Jian berdiri diam, membiarkan rantai-rantai itu mengikatnya. Saat ujung pedang Han Feng hanya berjarak satu inci dari kulitnya, Han Jian menarik napas dalam. Seluruh Tulang Perunggu Bumi di tubuhnya berdenyut.
"Hancur."
Han Jian menyentakkan tangannya ke luar. Rantai-rantai baja yang seharusnya mampu menahan banteng liar itu meledak menjadi potongan-potongan logam kecil. Potongan-potongan itu melesat seperti peluru, menembus tubuh para murid yang memegangnya. Jeritan kesakitan memenuhi hutan saat mereka tumbang satu per satu.
Di saat yang sama, Han Jian menangkap pedang Han Feng dengan dua jari.
KLANG!
Pedang baja kualitas tinggi itu berhenti mendadak. Han Feng mencoba menariknya, namun pedang itu seolah-olah tertanam di dalam gunung karang. Han Jian menatap langsung ke mata sang Tetua, memperlihatkan lingkaran merah lava di pupil matanya.
"Kau menghabiskan puluhan tahun untuk membangun Dantian-mu, Han Feng. Tapi bagiku, itu hanyalah gelembung sabun yang siap pecah," ucap Han Jian.
Han Jian memutar jarinya, dan pedang itu patah menjadi dua. Sebelum Han Feng sempat bereaksi, Han Jian meluncurkan pukulan lurus ke arah perut sang Tetua—tepat di titik di mana Dantian-nya berada.
BOOM!
Hantaman itu begitu kuat hingga jubah di punggung Han Feng hancur berkeping-keping. Han Feng memuntahkan darah segar yang bercampur dengan fragmen organ dalam. Ia terlempar ke belakang, menabrak barisan pohon pinus hingga tumbang, sebelum akhirnya berhenti dengan tubuh yang remuk.
Han Jian berjalan perlahan mendekati Han Feng yang sekarat. Seluruh hutan kembali sunyi, hanya menyisakan aroma darah dan tanah yang terbakar.
Han Feng menatap Han Jian dengan tatapan kosong, nyawanya perlahan memudar. "Kau... kau adalah... bencana bagi klan..."
"Bencana ini diciptakan oleh kalian sendiri," jawab Han Jian dingin. Ia mengambil pedang patah milik Han Feng dan membuangnya ke samping. "Klan Han bangga dengan fondasi mereka. Aku akan kembali untuk merobohkan setiap pilar yang kalian miliki."
Han Jian tidak membunuh Han Feng secara langsung. Ia membiarkan pria itu merasakan perlahan bagaimana energinya bocor keluar dari Dantian-nya yang telah hancur total—sebuah ironi yang selama ini dialami Han Jian.
Ia berbalik dan berjalan masuk kembali ke dalam kedalaman Hutan Kabut Abadi. Ia tahu bahwa dengan kematian murid-murid elit dan hancurnya Tetua Kedua, Klan Han akan mengirim pasukan yang lebih besar, mungkin dipimpin oleh Tetua Agung sendiri.
Namun Han Jian tidak lagi merasa takut. Tulang-tulangnya haus akan lebih banyak energi. Ia perlu mencari tempat yang lebih tenang untuk sepenuhnya menyerap sisa energi Inti Bumi yang masih mengalir di sumsumnya. Di balik kabut, ia melihat sebuah puncak gunung yang menjulang tinggi, tempat yang belum pernah dijamah manusia.
"Selanjutnya, aku akan menempa sumsumku menjadi perak," gumamnya pada diri sendiri.
Langkah Han Jian kini mantap. Setiap jejak kaki yang ditinggalkannya di tanah hutan adalah tanda bahwa era baru telah dimulai—era di mana seorang pria tanpa Dantian akan mendikte hukum langit dengan kekuatan tulangnya sendiri. Di balik pohon-pohon tua, mata-mata binatang buas yang tadinya ingin memangsa, kini menunduk ketakutan, mengenali pemangsa baru yang jauh lebih mengerikan telah lahir di jantung bumi mereka.
Han Jian menghilang di balik kabut, meninggalkan jejak pembantaian yang akan mengguncang pondasi Klan Han hingga ke akar-akarnya. Perburuannya baru saja dimulai.