Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.
Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.
Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.
Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Ketika bel pulang kedua hampir berbunyi, Sekar tahu ia harus pergi. Kali ini, ia tidak menahan lebih lama dari yang seharusnya. Ia mengusap rambut Sea dengan lembut, menatap wajah kecil itu dalam-dalam, seolah ingin mengingat setiap detailnya.
“Ibu harus pergi dulu ya…” ucapnya pelan.
Sea tidak langsung menjawab. Ia hanya memeluk Sekar erat, lebih erat dari biasanya, seolah juga mengerti bahwa momen seperti ini tidak selalu bisa mereka dapatkan. “Ibu datang lagi kan?” tanyanya lirih.
Sekar menelan haru, lalu mengangguk. “Iya… Ibu akan selalu cari cara buat ketemu Sea.”
Kali ini, saat mereka berpisah, tidak ada yang terasa dirampas. Hanya ada jeda. Dan di antara jeda itu, ada harapan kecil yang tetap hidup.
Setelah Sea pergi dengan Mila, Sekar berdiri beberapa saat, menenangkan dirinya. Saat itulah seorang wanita menghampirinya, Bu Ani, wali kelas Sea. Wajahnya hangat, tapi matanya menyimpan sesuatu yang dalam, seolah ia sudah lama memperhatikan.
“Bu Sekar?” panggilnya lembut.
Sekar sedikit terkejut, tapi segera mengangguk. “Iya, Bu…”
Bu Ani tersenyum tipis. “Terima kasih sudah datang dengan cara yang… bijak.”
Sekar terdiam sejenak, tidak langsung mengerti maksudnya. Namun sebelum ia sempat bertanya, Bu Ani melanjutkan dengan suara pelan.
“Sea sering cerita,” ujarnya. “Tentang ibunya. Tentang rumahnya yang dulu. Tentang hal-hal yang dia nggak terlalu mengerti… tapi dia rasakan.”.
Jantung Sekar berdegup sedikit lebih cepat.
“Dia anak yang pintar… dan sensitif,” lanjut Bu Ani. “Dia tahu ada yang berubah, walaupun mungkin dia belum bisa menjelaskan dengan kata-kata.”
Sekar menunduk, jemarinya saling menggenggam. Ada rasa haru sekaligus perih mendengar itu.
“Saya tidak tahu semua detailnya,” kata Bu Ani hati-hati, “tapi saya bisa melihat mana yang tulus dan mana yang… dibuat-buat.”
Sekar mengangkat pandangannya perlahan. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang jarang ia temukan akhir-akhir ini, dukungan. Efek perselingkuhan itu, Sekar jadi tak bisa mengekspresikan diri. Ia juga tak bisa menjelaskan dimana posisinya sebagai korban. Diamnya malah dimanipulatif, fakta dibolak-balik hingga ia yang tertuduh sebagai yang bersalah. Tetapi lagi-lagi, jangankan membela diri, Sekar tak mampu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Bu Ani tersenyum lembut. “Sebagai guru… saya berdiri di pihak anak. Tapi sebagai perempuan…” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam, “saya juga paham posisi ibu.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dada Sekar menghangat.
“Saya hanya ingin Ibu tahu,” lanjut Bu Ani, “selama semuanya dilakukan dengan cara yang baik dan tidak mengganggu proses belajar Sea… saya tidak akan menghalangi.”
Sekar terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. “Terima kasih, Bu…” suaranya lirih, penuh kelegaan yang selama ini jarang ia rasakan. “Saya… nggak nyangka akan dibantu seperti ini.”
Bu Ani mengangguk pelan. “Kadang, anak cuma butuh satu hal, kejujuran yang pelan-pelan. Dan kehadiran yang tidak menyerah.”
Sekar menarik napas dalam, merasakan sesuatu yang berbeda tumbuh di dalam dirinya. Bukan lagi sekadar bertahan, tapi mulai membangun kembali. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… perpisahan itu tidak terasa seperti kehilangan. Melainkan… janji untuk kembali.
***
Siang itu terasa biasa bagi orang lain, anak-anak berlarian keluar dari gerbang sekolah, suara tawa bercampur dengan panggilan para orang tua. Tapi bagi Sekar, setiap detik terasa seperti menunggu vonis. Ia berdiri sedikit jauh dari keramaian, seperti biasa, bersembunyi di balik bayangan pohon besar, berharap hari ini menjadi salah satu hari di mana ia bisa melihat Sea… dan mungkin, memeluknya sebentar.
Ketika akhirnya Sea muncul di antara kerumunan, jantung Sekar langsung berdebar. Anak itu terlihat sedikit lebih tinggi, rambutnya diikat rapi, dan tas pink yang dulu ia berikan masih tergantung di pundaknya. Sekar tersenyum tanpa sadar, langkahnya perlahan maju.
“Sea…” panggilnya pelan.
Sea berhenti. Anak itu menoleh. Mata mereka bertemu. Untuk satu detik, hanya satu detik, wajah Sea menunjukkan sesuatu yang familiar. Seperti dulu. Seperti rindu. Tapi itu hanya sebentar. Sangat sebentar. Ekspresi itu berubah. Sea tidak berlari. Tidak tersenyum lebar. Tidak memanggil “Ibu” seperti biasanya. Ia hanya berdiri di sana diam, dengan tatapan yang… asing.
Langkah Sekar terhenti di tengah jalan. “Ayo sini, sayang…” Sekar mencoba lagi, suaranya lebih lembut, hampir memohon.
Sea berjalan mendekat, tapi pelan. Tidak ada semangat di langkahnya. Tidak ada tangan kecil yang terulur. Ia berhenti beberapa langkah dari Sekar, menjaga jarak yang sebelumnya tidak pernah ada di antara mereka.
Sekar berjongkok, mencoba menyamakan tinggi. “Sea… Ibu kangen,” ucapnya lirih, tangannya terangkat, ingin menyentuh pipi anaknya.
Tapi sebelum tangannya sampai Sea mundur satu langkah. Gerakan kecil itu terasa seperti tamparan. Tangan Sekar menggantung di udara. Beku.
“Ibu…” suara Sea pelan, tapi ada keraguan di dalamnya. “Kenapa… Ibu jarang datang?”
Sekar terdiam. Pertanyaan itu menusuk, tapi bukan itu yang paling menyakitkan. Yang menyakitkan adalah cara Sea mengucapkannya bukan seperti anak yang rindu, tapi seperti anak yang… menuntut jawaban. “Ibu datang kok… Ibu selalu cari cara buat ketemu Sea,” jawab Sekar cepat, suaranya mulai goyah.
Sea menggeleng kecil. “Nggak…” Satu kata. Pendek. Tapi cukup untuk membuat napas Sekar terasa berat. “Sea nungguin… tapi Ibu nggak datang.”
Sekar menggeleng, panik. “Bukan gitu, sayang, Ibu,”
“Sekarang Sea sama Mama Mila aja.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Datar. Tanpa emosi. Tanpa ragu. Dan dunia Sekar runtuh di detik itu. Ia tidak langsung bereaksi. Tidak bisa. Otaknya seperti berhenti bekerja, hanya mengulang kalimat itu berulang-ulang, Mama Mila. Bukan “Mbak Mila”. Bukan “dia”. Tapi “Mama”.
Sekar menatap Sea, mencoba mencari sesuatu—keraguan, penyesalan, apa pun—tapi yang ia temukan hanya wajah kecil yang terlihat… sudah menerima.
“Ibu… sibuk ya?” lanjut Sea pelan. “Kata Mama… Ibu sekarang punya kehidupan sendiri.”
Sekar menahan napas. Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. “Itu… bukan…” suaranya pecah, tapi ia berusaha tetap tenang. “Sea… dengar Ibu…”
Tapi Sea sudah menunduk. Tangannya memegang erat tali tas pink itu, tas yang dulu Sekar belikan dengan penuh harap. “Aku nggak apa-apa kok…” ucapnya pelan, hampir seperti menenangkan. “Sea udah biasa.”
Kalimat itu lebih menyakitkan dari apa pun. Biasa. Anaknya… sudah terbiasa tanpa dirinya. Air mata akhirnya jatuh. Tanpa bisa ditahan. Tanpa bisa disembunyikan.
Sekar menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menahan suara yang hampir keluar. Ia tidak mau Sea melihatnya hancur seperti ini. Tidak mau membuat anak itu merasa bersalah.
“Ibu…” Sea menoleh sedikit, ada keraguan kecil di matanya. “Jangan nangis…”
Sekar menggeleng cepat, memaksa tersenyum meski wajahnya sudah basah. “Nggak… Ibu nggak nangis…” Tapi suaranya mengkhianatinya.
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤
Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦♀️🤣
.Damar 🤩🤗