Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 14: ASABAT, ASLI BAKAR-BAKARAN TAPI BUKAN BAN (NERO POV)
Mimpi itu nggak mau pergi. Selama seminggu berturut-turut, sosok perempuan berbaju kulit merah itu muncul lagi, berdiri di padang abu-abu yang sama, dan membisikkan kalimat yang sama. "Bakar egomu." Gue selalu bangun dengan perasaan hampa yang makin dalem.
Sore ini, gue mutusin buat jalan kaki mendaki bukit di pinggiran desa. Gue butuh tempat tinggi buat ngelihat semuanya secara objektif. Pas nyampe di puncak, gue narik napas dalem-dalem. Udaranya dingin, tapi seger banget nembus paru-paru.
Dari sini, gue bisa liat pemandangan pedesaan yang khas banget. Atap-atap rumah penduduk yang tertata, asap dapur yang mulai ngepul, hamparan sawah hijau, dan menara masjid kecil tempat Ainun biasa ngajar ngaji. Semuanya kelihatan damai, beda banget sama badai yang lagi perang di dalem dada gue.
Gue duduk di atas batu besar, natap langit yang mulai berubah warna jadi oranye kemerahan.
"Mualaf..." bisik gue pelan ke diri sendiri.
Kata itu akhirnya keluar juga dari mulut gue. Jujur, keinginan itu bukan cuma muncul karena gue bucin sama Ainun. Semenjak diskusi sama Ustadz Davi, ngelihat ketulusan Mas Ikdam, dan ngerasain kedamaian di desa ini, ada sesuatu yang "klik" di hati gue. Gue ngerasa cara hidup mereka, ketenangan mereka, itu yang selama ini jiwa gue cari di tengah bisingnya knalpot dan gemerlap klub malam.
Tapi masalahnya... dunia nggak sesimpel itu.
Gue pegang kalung salib yang melingkar di leher gue. Ini pemberian nyokap pas gue ulang tahun ke-17. Gue bayangin muka bokap yang keras (yang pasti bakal meledak kalau denger anaknya pindah keyakinan). Beliau pasti mikir gue makin 'sesat' gara-gara dihukum di desa.
Belum lagi Oma. Oma Thalita emang toleran, tapi beliau adalah orang yang sangat memegang teguh tradisi keluarga. Ngomong ke Oma soal ini rasanya lebih horor daripada disuruh balapan di sirkuit basah tanpa rem.
"Gue takut, Nun," gumam gue sambil natap ke arah barat, seolah-olah Kairo ada di balik cakrawala itu.
Gue takut kehilangan keluarga gue. Gue takut dibilang pengkhianat. Tapi di sisi lain, gue ngerasa ego gue (si Nero yang sok kuat dan nggak butuh Tuhan) emang udah mulai kebakar. Gue pengen 'login' ke dunia Ainun bukan cuma buat dapetin dia, tapi karena gue ngerasa itu adalah rumah yang sebenernya buat jiwa gue.
Gue nutup mata, nyoba ngebayangin sosok perempuan di mimpi itu lagi. Mungkin 'ego' yang harus gue bakar adalah rasa takut gue sendiri. Takut kehilangan fasilitas, takut dibenci, dan takut melangkah ke jalan yang bener-bener baru.
Gue berdiri, ngerasain angin bukit yang makin kencang. Pemandangan desa di bawah sana mulai gelap, lampu-lampu rumah mulai nyala satu-satu kayak bintang yang jatuh ke bumi.
"Kalau ini emang jalannya, kasih gue kekuatan buat ngomong," doa gue dalam hati, entah kepada siapa, tapi gue ngerasa ada yang denger.
Gue turun dari bukit dengan langkah yang lebih mantap, meski perut gue masih mulas tiap kali ngebayangin gimana reaksi bokap nanti. Gue harus siap sama segala konsekuensi, karena ternyata, mencintai Ainun itu artinya gue harus berani menghadapi diri gue sendiri dan seluruh dunia gue yang lama.
.
.
.
Turun dari Bukit. Gue langsung ke rumah Ikdam yang deket rumah Pak Malik. Ikdam lagi asyik ngebersihin motor trail-nya di depan rumah. Gue nggak banyak omong, langsung duduk di bangku kayu panjang sambil ngelempar kerikil ke jalanan. Muka gue pasti kelihatan kayak orang yang baru aja kalah judi seratus juta.
"Napa lo, Ro? Muka kusut amat kayak cucian belum disetrika tiga minggu," celetuk Ikdam tanpa nengok, masih fokus ngelap shockbreaker.
"Dam... gue dapet mimpi aneh mulu. Terus semalem gue ke bukit," kata gue pelan.
Ikdam naruh lapnya, terus duduk di sebelah gue. Dia nawarin rokok, tapi gue geleng. Gue lagi pengen napas plong. "Terus? Lo dapet wangsit apa di atas bukit? Mau jadi petapa?"
"Gue pengen mualaf, Dam," kata gue singkat.
Gue bisa denger suara napas Ikdam yang sempet berhenti sedetik. Dia nggak langsung teriak kegirangan atau meluk gue sambil bilang "Allahu Akbar". Dia malah diem, natap gue dalem banget, seolah lagi nyari apakah gue lagi prank atau lagi mabuk kecubung.
"Ini gara-gara Ainun... atau gara-gara lo emang ngerasa nemu?" tanya Ikdam serius.
"Awalnya mungkin karena dia. Tapi makin ke sini, setelah ngobrol sama lo, sama Davi, liat desa ini... gue ngerasa 'kosong' gue selama ini tuh keisi, Dam. Tapi gue takut," gue nunduk, natap sepatu kets gue yang udah dekil. "Gue takut sama bokap. Gue takut dibilang cuma mau 'login' demi cewek."
Ikdam nepuk punggung gue kenceng banget sampe gue batuk. "Ro, dengerin gue. Kalau lo mualaf cuma buat Ainun, gue yang pertama kali bakal nendang lo balik ke Jakarta. Ainun itu manusia, dia bisa bikin lo kecewa kapan aja. Tapi kalau lo mualaf karena lo butuh 'pegangan', itu baru laki."
Gue diem, nyerna omongan dia.
"Soal keluarga lo... itu emang bagian dari 'membakar ego' yang dibilang di mimpi lo itu," lanjut Ikdam. "Lo harus siap kehilangan kenyamanan lo demi sesuatu yang lebih abadi. Tapi santai aja, Bro. Gue di sini. Davi di sini. Kita nggak bakal biarin lo sendirian kalau emang lo mau melangkah."
"Tapi gimana cara ngomong ke Oma, Dam? Beliau baik banget sama gue, gue nggak mau beliau mikir gue nggak hormat sama tradisi keluarga," tanya gue lagi.
Ikdam nyengir, gaya khasnya yang bikin suasana jadi chill balik lagi. "Oma Thalita itu sosialita lama, Ro. Dia udah liat dunia lebih luas dari lo. Beliau itu bijak. Coba aja ngomong pelan-pelan pas beliau lagi good mood. Lo jangan langsung bilang 'Oma, gue mau ganti server ya!', ya kagetlah beliau. Bilang kalau lo nemuin kedamaian di sini."
Gue sedikit lega. Nongkrong sama Ikdam emang selalu bikin otak gue yang tadinya kusut jadi agak lurus dikit. Dia nggak maksa, tapi dia ngasih jaminan kalau dia bakal ada di samping gue.
"Udah, jangan dipikirin mulu sampe botak. Mending bantuin gue ganti oli nih. Anggap aja latihan sabar sebelum lo bener-bener mualaf," canda Ikdam sambil ngelempar kunci pas ke arah gue.
Gue ketawa kecil. Di tengah pergolakan batin gue, setidaknya gue punya temen kayak Ikdam yang nggak nge-judge masa lalu gue dan siap jadi saksi perubahan gue.
------
Berat banget, pusingggggg~