NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: KELUAR DARI LEMBAH MAYAT

Malam telah turun sepenuhnya, menyelimuti jagat raya dengan jubah hitam yang pekat.

Di luar sana, kabut Lembah Mayat semakin menebal, bergulung-gulung menyerupai lautan hantu yang tak pernah tidur.

Angin dingin berhembus pelan, menyelinap di antara celah pepohonan mati dan membawa suara-suara samar—entah itu hanya ilusi pendengaran atau jeritan jiwa-jiwa yang terperangkap dalam keabadian yang gelisah.

Di dalam pondok tua yang terisolasi itu, cahaya lampu minyak berpendar redup, berjuang melawan kegelapan.

Bayang-bayang menari liar di dinding kayu yang lapuk, menciptakan atmosfer yang asing dan mistis, bahkan bagi seorang pendekar yang telah terbiasa bertaruh nyawa seperti Rangga Nata.

Rangga berdiri tegak di samping ranjang bambu kuning. Tatapannya tak sedetik pun lepas dari wajah Ayu Wulandari.

Gadis itu masih terbaring lemah, namun ada perubahan yang membawa secercah harapan: napasnya kini lebih teratur, tidak lagi tersengal seperti saat pertama kali mereka tiba.

Warna pucat yang semula menyerupai mayat kini mulai memudar, digantikan rona tipis kehidupan, meski tubuhnya masih sangat rapuh.

Di dadanya, terlihat titik-titik bekas tusukan jarum perak halus—hasil dari teknik Totok Arus Balik yang dilakukan Nini Ruai.

Aroma herbal yang tajam kini mendominasi ruangan, menetralkan bau amis darah yang sempat tertinggal.

Nini Ruai berdiri di sisi lain, jemarinya yang lentur namun kuat tengah meracik ramuan dalam mangkuk batu.

Setiap gerakannya penuh perhitungan, seolah ia tengah menenun kembali benang takdir yang hampir putus.

“Aku sudah menahan kerusakan organ dalamnya dan mengikat rohnya agar tidak melayang keluar,” ucap Nini Ruai tanpa menoleh, suaranya jernih memecah kesunyian.

“Namun untuk memulihkan seluruh jalur meridian yang hancur oleh pukulan Macan Hitam… itu butuh waktu dan ketenangan total.”

Rangga mengangguk pelan. Ia sadar betul bahwa pukulan Macan Peremuk Gunung bukanlah serangan sembarangan. Itu adalah teknik terkutuk yang menghancurkan struktur organ dari dalam.

Rangga menarik napas panjang, menatap lekat gadis di hadapannya. Lalu, dengan suara rendah yang penuh penghormatan, ia berkata, “Namanya Ayu Wulandari.”

Nini Ruai menghentikan racikannya sejenak, namun tetap memunggungi Rangga.

“Dia…” lanjut Rangga, suaranya sedikit bergetar oleh emosi yang tertahan, “seorang pendekar wanita yang luar biasa. Baru beberapa hari aku mengenalnya di perjalanan ini. Namun, tanpa ragu sedikit pun, dia telah mempertaruhkan nyawanya demi melindungiku saat aku terdesak di Istana Macan Hitam.”

Sunyi kembali menyergap, hanya diselingi suara api lampu yang berderak pelan.

“Aneh…” gumam Nini Ruai, akhirnya berbalik. “Di zaman yang penuh pengkhianatan ini, masih ada pendekar yang cukup bodoh untuk mati demi orang yang baru dikenal?”

Rangga tidak tersinggung. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit namun bangga.

“Kalau ketulusan itu dianggap kebodohan… maka aku pun sama bodohnya dengan dia.”

Nini Ruai menatap Rangga tajam. Ada kilat ketertarikan di matanya yang dalam. Ia melihat sesuatu yang jarang ia temukan selama ratusan tahun mendekam di lembah ini: sebuah ikatan yang lebih kuat dari sekadar sumpah persilatan.

“Gadis ini…” Rangga melanjutkan dengan nada serius, “bergelar Bidadari Penebus Nyawa. Dia bukan hanya tangguh dalam bertarung, tapi hatinya terlalu suci untuk dunia yang kotor ini. Dia sering menolong tanpa meminta imbalan.”

Rangga terdiam sejenak, lalu membungkuk dalam—sebuah gestur yang sangat jarang dilakukan oleh murid Pertapa Gila. “Aku menitipkannya padamu, Nini. Jagalah dia.”

Nini Ruai mengangkat alis, sedikit terkejut dengan kerendahan hati sang Naga Emas. “Menitipkannya? Kau tidak akan menunggunya sadar?”

Rangga menggeleng tegas, matanya kembali menyala dengan kilat tugas yang mendesak. “Aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Aku harus segera kembali ke Perguruan Melati Putih.”

Suasana kembali menegang. Nini Ruai menyandarkan tubuhnya pada meja racikan, melipat tangan di dada. “Berikan aku alasan yang cukup kuat untuk membiarkanmu pergi dalam keadaan lemah begini.”

Rangga menghela napas, lalu menceritakan prahara yang menimpa perguruannya.

Tentang pimpinan perguruan yang sekarat akibat racun licik Nini Suro, serta kondisi Dewi Melati dan Selasih yang hanya memiliki waktu tiga hari sebelum racun itu merusak jantung mereka selamanya.

Ia meraba botol porselen hijau di balik jubahnya. “Empedu Macan Putih ini adalah satu-satunya kunci penawar bagi mereka. Jika aku terlambat… maka Melati Putih akan rata dengan tanah, dan kematian mereka akan menjadi beban seumur hidupku.”

Lama Nini Ruai terdiam, seolah tengah menghitung sisa waktu di kepalanya. Lalu, ia mengangguk sekali. “Baik.”

“Kau tidak perlu mencemaskan gadis ini,” lanjut Nini Ruai seraya berjalan mendekat ke ranjang Ayu. Ia menyentuh kening Ayu dengan lembut, sebuah gerakan yang hampir terasa keibuan.

“Aku akan mengobatinya dengan seluruh ilmuku. Bidadari Penebus Nyawa… gelar yang sangat berat untuk dipikul, namun aku menyukai keberaniannya.”

Rangga merasakan beban berat di pundaknya sedikit terangkat.

“Terima kasih, Nini.”

Nini Ruai mendengus pelan, kembali ke wataknya yang dingin namun jenaka.

“Jangan cepat berterima kasih, Bocah Naga. Ingat, pengobatanku tidak pernah gratis. Kau sudah membayar dengan setengah tenaga dalammu, tapi jika dia sadar nanti, aku mungkin akan menjadikannya asistenku di lembah busuk ini.”

Rangga tersenyum tipis. “Aku tahu kau tidak sekejam itu.”

“Dan satu hal lagi,” tambah Nini Ruai dengan nada peringatan. “Selama dia ada bersamaku, para bajingan golongan hitam itu tidak akan berani menginjakkan kaki di sini. Lembah ini adalah wilayahku, dan maut adalah peliharaanku. Dia aman.”

Rangga melangkah mendekati ranjang untuk terakhir kalinya. Ia menatap wajah Ayu dalam-dalam, seolah ingin memahat setiap garis wajah gadis itu dalam ingatannya.

“Ayu…” bisiknya sangat lirih, hampir tak terdengar oleh telinga manusia. “Tunggu aku. Aku akan kembali menjemputmu setelah urusanku selesai.”

Tangannya sempat terulur, ingin membelai rambut gadis itu, namun ia segera menariknya kembali dengan tekad yang bulat. Ia berbalik dan melangkah keluar dari pondok tanpa menoleh lagi.

Kabut dingin menyambutnya di luar. Namun kali ini, Rangga merasakannya berbeda. Lembah ini tidak lagi terasa menindas; seolah maut telah memberikan jalan baginya.

Di atas batu besar tak jauh dari pondok, sosok Harimau Putih telah menunggu. Binatang mistis itu berdiri megah, matanya yang bersinar biru menatap Rangga dengan pengakuan yang tulus.

Dua makhluk yang sebelumnya bertarung nyawa kini saling memahami dalam keheningan malam.

Harimau itu melompat turun, lalu berjalan perlahan membelah kabut, seolah memberi isyarat agar Rangga mengikutinya.

Rangga melesat mengikuti bayangan putih itu. Langkah demi langkah, kabut mulai menipis dan bau busuk mayat berganti dengan aroma tanah hutan yang segar.

Ketika mereka sampai di batas vegetasi yang hidup, Harimau Putih berhenti, menoleh sekali seolah mengucapkan selamat tinggal, lalu menghilang ke dalam kabut secepat pikiran.

Rangga Nata berdiri di perbatasan dua dunia. Di belakangnya adalah lembah kematian yang telah menyelamatkan cintanya; di depannya adalah rimba persilatan yang penuh dengan darah dan pengkhianatan.

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Meskipun tenaga dalamnya berkurang setengah, aura keberaniannya justru berlipat ganda.

“Macan Hitam… Nini Suro…” desisnya pelan, suaranya mengandung janji kematian yang mutlak.

“Aku akan kembali. Dan saat itu tiba, matahari pun tak akan cukup panas untuk membakar dendamku.”

Tanpa membuang waktu lagi, Rangga melesat bagaikan bayangan naga emas yang membelah kegelapan malam. Ia harus berpacu dengan waktu. Perguruan Melati Putih menunggunya. Tiga hari untuk menyelamatkan nyawa, atau kehilangan segalanya selamanya.

Bersambung…

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!