Kebun jagung milik Bu Sarah selalu berbuah lebat setiap saat, dengan luas yang begitu luar biasa sehingga bila tidak tau jalan maka akan tersesat di dalam sana.
Namun kabar yang beredar mengatakan bahwa kebun jagung itu memang meminta tumbal nyawa manusia, kebun milik janda cantik itu memang sudah di jauhi oleh para warga karena Mereka sangat takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Mendatangi kebun
"Eh ada tamu, perlu apa ya?" Bu Sarah menyambut ramah ketika mereka datang ke kebun jagung.
"Jalan jalan saja karena sedang tidak ada pekerjaan ini, Bu! kalian mau lihat apa Bu Sarah sudah panen jagung." Arya menjawab sambil tersenyum ramah.
"Kebetulan yang bagian ujung utara sana sudah panen karena memang sudah cukup tua, Ayo saya antar kalau mau milih jagung." ajak Bu Sarah kepada mereka.
"Berapa perbiji nya sekarang, Bu?" Ridwan juga ikut bertanya agar wanita ini tidak merasa curiga dengan kedatangan mereka semua.
"Kalau saya jual di pasar sekitar seribu rupiah, tapi kalau dengan kalian sepuluh ribu lima belas biji." Bu Sarah memberikan diskon untuk mereka.
Ridwan tersenyum senang dan dia segera mengikuti wanita ini untuk menuju bagian utara, sebab bagian yang sana yang memang sudah dipanen oleh mereka dan terlihat ada beberapa orang yang sedang membantu panen jagung itu, sebab tidak mungkin Bu Sarah bisa panen sendiri dengan jumlah yang begitu banyak.
Usaha kebun jagung milik janda ini memang maju pesat sehingga dia mampu memperkerjakan orang yang memanen kebun tersebut, untuk para pekerja mereka tidak pernah bercerita ada yang aneh di kebun jagung ini dan bahkan mereka mengatakan bahwa Bu Sarah adalah orang yang baik dan selalu memberikan uang tambahan ketika mereka bekerja.
Bahkan Bu sarah juga akan memberi beberapa jagung kepada mereka saat pulang dari sini, jadi sebenarnya kebun jagung itu masih hanya gosip belaka karena Purnama juga sudah membuktikan bahwa tidak ada yang aneh di dalam kebun jagung tersebut, sehingga sulit untuk mengatakan bahwa Bu Sarah memiliki sesuatu di kebun jagung ini.
Namun meski demikian tapi masih ada saja yang curiga dengan Bu Sarah tersebut sehingga mereka agak takut bila mau ke sini, apa lagi bila malam hari maka mereka pasti akan sangat menjauhi kebun jagung tersebut karena mereka takut nanti akan celaka bila datang di kebun jagung ini.
Memang hanya kebun jagung milik Bu Sarah yang aman dari gangguan para pemuda nakal yang berjaga di pos ronda, sebab biasanya para pemuda itu akan kelaparan saat malam hari dan mengambil apa saja yang ada di desa karena mereka juga hanya memakan saja tanpa menjual berlebihan kepada orang lain.
Tapi kalau untuk kebun jagung milik Bu Sarah memang sama sekali tidak ada yang mendatangi, sebab mereka merasakan takut yang luar biasa ketika melewati kebun jagung milik janda itu, jadi sebiji saja tidak pernah ada orang yang berani mencuri dan mereka ketika di beri pun masih agak ragu saat menerima.
"Nah ini jagung nya, silahkan pilih saja." Bu Sarah menunjuk jagung yang sudah di panen.
"Wah besar semua seperti ini buah jagungnya ya, Buk." Ridwan sangat senang melihat buah jagung itu.
"Lumayan, tapi yang bagian sana sebenarnya lebih besar namun belum cukup umur untuk dipanen." jawab Bu Sarah.
"Sebesar ini tapi cuma dapat harga seribu rupiah, tapi kalau di kali berapa banyak tentu menjadi banyak uang juga ya." Arya tersenyum manis.
Bu Sarah juga tersenyum karena dia tahu bahwa Arya sedang bergurau dengan dirinya saat ini, hanya Amir yang tetap diam karena sejak tadi dia terus memperhatikan ke sana kemari untuk melihat apa ada mobil dari Imron di sekitar kebun jagung Bu Sarah ini, sebab Dia masih sangat risau dengan keberadaan sang sepupu yang saat ini entah ada di mana dan bahkan sama sekali tidak ada kabar dari mereka.
"Mas Amir enggak beli juga?" Sarah menegur Amir yang masih tetap diam.
"Ini beli sama Mas Ridwan saja sekalian, Bu." Amir agak gugup menjawab karena dia tadi cukup kaget.
"Oh iya, wong tidak ada yang memasakkan ya." Bu Sarah tertawa kecil.
"Ini memang rombongan para duda, Bu." Digo tersenyum sambil menunjuk tiga pria itu.
"Calon mantu kurang ajar, pantas saja Kiara tak kunjung mau kau nikahi." Arya menggerutu kesal kepada Digo.
Digo tertawa dan dia sedikit menjauh karena tadi niat dia hanya bercanda kepada mereka bertiga, memang ketiga pria tampan ini adalah duda karat yang sudah lama menjadi jomblo namun tak kunjung mendapat pasangan lagi entah karena belum niat atau karena belum ada datang jodoh.
Kalau Arya memang sudah memutuskan bahwa dia tidak akan menikah lagi dengan wanita mana saja karena cinta dia hanya untuk Fatma seorang, tapi kalau Amir dan Ridwan masih ada sedikit harapan karena mereka juga terkadang ingin menjalin hubungan dengan wanita yang ada di luar sana.
"Eh saya sekalian mau nanya ini, Bu! apa tadi ada mobil lewat menuju arah sana ya?" Amir bertanya kepada bu Sarah.
"Banyak sih, mobil seperti apa yang sedang Mas Amir cari?" Bu Sarah menjawab serius juga.
"Apa mobil mereka, Mas?" Amir saja tidak tahu mobil apa yang sudah dikendarai oleh Imron.
"Lah aku juga tidak tahu, kan mereka bangkrut toh jadi ya mana tahu dia pakai mobil apa." Ridwan menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Apa saudara kalian ada yang mau datang dan tidak tahu jalan?" tanya Bu Sarah kepada mereka berdua.
"Iya, tadi malam bilang sudah di jalan tapi mungkin saja tersesat sehingga sampai sekarang belum sampai rumah." angguk Amir pelan.
"Kalau tadi malam saya juga kurang tahu ya Karena sudah tidur, tapi kalau dari pagi sampai siang ya banyak mobil lewat di jalan ini." jawab Bu Sarah.
"Ah ke mana ya Mereka pergi kok sampai sekarang belum sampai rumah juga." Amir mengeluh pelan.
Ridwan juga sama demikian karena mereka pun bingung kenapa sampai sekarang Imron tak kunjung datang ke rumah, mau di hubungi juga tidak bisa sehingga mereka pun bingung harus bagaimana ini, terlebih lagi sudah tidak ada kabar dari mereka berdua sehingga Amir dan Ridwan tidak tahu mau mencari ke arah mana.
"Bu saya ikut ambil dari pohon boleh?" tawar Digo Karena dia sudah masuk ke dalam kebun.
"Ini sudah banyak yang di panen." Bu Sarah agak sungkan mau mencegah.
"Cuma ambil yang ini saja karena terlihat agak besar, maaf ya Bu." Digo tersenyum dan segera berjalan kembali menuju mereka.
Tidak ada yang tahu bahwa ekor mata Digo menangkap sesuatu yang tidak biasa ketika tadi dia sedang mengambil jagung itu, mengambil jagung hanya sebuah alasan karena dia mengambil sesuatu yang lebih penting, namun dia tidak mengatakan secara langsung di depan bu Sarah saat ini karena menurut dia lebih baik nanti di bicarakan dengan Arya.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
knp iblis jagung msh bisa melihat para member ❓❓😱
kira-kira rencana purnama apa yaaa , kok pke senyum-senyum bgtu sih ❓❓🤣
kok bisa-bisanya Bu Sarah mempunyai pegawai para iblis ❓❓😱😱
licik jg yaa. 🤣🤣
biarlah Clara pendarahan trs , biar keguguran 🤣🤣
tp knp Kiara tahu yaaa kalau Clara sdg di ganggu oleh iblis itu. ❓❓
baca novel mu dg di iringi suara hujan di luar 🤗
semangat trs kak nov nulis nya ,, insyaallah kalau sdh rezeki psti akan meroket pendapatan nya 🤲🏻 Aamiin
semoga Umar sllu selamat dr iblis itu 😱