NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:455
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Badai dan Sangkar Velvet

​Adrenalin adalah sebuah zat kimia tubuh yang sangat menipu. Saat ia mengalir deras di dalam pembuluh darah, seseorang bisa merasa memiliki kekuatan layaknya pahlawan super yang mampu menaklukkan dunia, atau dalam kasus Kanaya Larasati, mampu menaklukkan arogansi seorang CEO tiran di ruang rapatnya. Namun, begitu zat itu habis terbakar dan menguap dari sistem saraf, tagihan kelelahan yang datang setelahnya selalu terasa brutal dan tanpa ampun.

​Pukul tiga sore di lantai dua puluh lima Gedung Dirgantara.

​Naya duduk membungkuk di depan monitornya. Keberhasilan presentasinya pagi tadi terasa seperti memori dari kehidupan lain. Saat ini, kepalanya berdenyut dengan ritme yang menyakitkan, seolah-olah ada sekumpulan pekerja konstruksi yang sedang memaku baja di dalam tengkoraknya. Matanya yang luar biasa kering terus menatap deretan angka pada dokumen spreadsheet—rincian spesifikasi vendor material Travertine dan Calacatta Gold yang harus ia selesaikan hari ini juga sesuai perintah Juna.

​Naya mengetik dengan gerakan patah-patah. Ia belum memejamkan mata lebih dari dua jam dalam kurun waktu empat puluh delapan jam terakhir. Secangkir kopi ketiganya untuk hari ini sudah menjadi dingin dan berbau apak di sudut meja.

​"Mbak Naya, ini sampel warna sealant (perekat) untuk lantai lobi yang Mbak minta dari vendor," ucap seorang desainer junior, meletakkan sebuah papan kecil berisi berbagai macam warna dempul di atas meja Naya dengan hati-hati. Desainer junior itu menatap Naya dengan raut wajah prihatin. "Mbak terlihat pucat sekali. Mbak tidak apa-apa?"

​Naya memaksakan sebuah senyum, meskipun otot wajahnya terasa kaku. "Saya baik-baik saja, Rina. Terima kasih sampelnya. Tolong pastikan vendor lighting tidak mengubah spesifikasi lumen lampu gantung di area resepsionis. Angkanya harus mutlak sesuai dengan PDF yang saya kirim tadi pagi. Jika mereka banyak alasan, ancam saja dengan penalti kontrak. Kita tidak punya ruang untuk kesalahan."

​"Baik, Mbak Naya," junior itu mengangguk dan segera undur diri, tidak berani mengganggu seniornya yang terlihat seperti sedang berada di ambang batas kewarasan.

​Naya mengusap wajahnya kasar, lalu kembali fokus pada dokumennya. Ia menekan tombol Save, melampirkan puluhan fail teknis ke dalam sebuah email resmi, dan mengirimkannya langsung ke departemen logistik.

​Begitu kotak email menunjukkan status terkirim, Naya membiarkan punggungnya merosot sepenuhnya ke sandaran kursi ergonomisnya yang terasa keras. Ia telah selesai. Pekerjaannya hari ini telah tuntas.

​Waktu bergulir dengan kecepatan yang menyiksa. Pukul enam sore, langit Jakarta yang sedari siang sudah tertutup mendung tipis, kini berubah wujud menjadi kanvas abu-abu gelap kehitaman yang mengancam. Awan cumulonimbus raksasa menggantung rendah di atas cakrawala SCBD, menutupi sisa-sisa cahaya matahari sore, seolah-olah siap menumpahkan seluruh amarahnya ke atas aspal ibu kota.

​Naya mematikan komputernya. Ia membereskan meja kerjanya dengan gerakan yang sangat lambat, memasukkan tablet, kabel pengisi daya, dan kotak pensilnya ke dalam ransel kanvasnya yang sudah mulai pudar warnanya.

​"Sudah mau pulang, Naya? Atau bersiap untuk tidur di meja lagi malam ini demi mendapatkan pujian atasan besok pagi?"

​Suara melengking yang dibalut nada manis beracun itu menghentikan gerakan tangan Naya.

​Siska. Wanita itu kembali muncul, berdiri di ujung kubikel Naya dengan tas desainer mewah tersampir di lengannya. Siska sudah bersiap untuk pulang, riasannya sudah diperbaiki, dan ia terlihat sangat segar, sangat kontras dengan penampilan Naya yang menyerupai korban selamat dari medan perang.

​Naya menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara dingin dari pendingin ruangan. Ia terlalu lelah. Ia tidak memiliki sisa tenaga, baik fisik maupun emosional, untuk meladeni permainan hierarki kasta murahan ini.

​Naya menyandang ranselnya ke bahu sebelah kanan. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Siska dengan sorot mata yang begitu redup, dingin, dan kosong, hingga membuat senyum sinis di wajah seniornya itu sedikit goyah.

​"Pekerjaan saya sudah selesai seratus persen, Mbak Siska. Jika Mbak Siska memiliki kelebihan energi untuk mencampuri jadwal tidur saya, mungkin energi itu lebih baik digunakan untuk merevisi draf desain lounge lantai lima yang saya dengar baru saja ditolak lagi oleh divisi operasional siang tadi," balas Naya dengan nada bicara yang sangat datar, sedatar garis electrocardiogram pasien yang sudah meninggal. "Permisi, saya ingin pulang."

​Tanpa menunggu balasan atau melihat wajah Siska yang seketika berubah merah padam karena egonya kembali ditusuk, Naya berbalik dan melangkah berjalan menuju lorong lift dengan langkah yang sangat presisi dan mekanis.

​Namun, pertahanan mental dan kesombongan Naya di lantai dua puluh lima harus dibayar dengan harga yang sangat mahal saat pintu lift membawanya turun dan terbuka di lantai dasar.

​Begitu Naya melangkah keluar dari area turnstile (gerbang putar) keamanan lobi utama, suara gemuruh hujan badai yang mengerikan langsung terdengar memekakkan telinga.

​Hujan tidak sekadar turun; ia turun layaknya tirai air raksasa yang dijatuhkan dengan marah dari langit, menghantam aspal jalanan di depan pelataran lobi drop-off dengan brutal hingga menciptakan kabut air. Angin monsun kencang berhembus masuk ke dalam lobi setiap kali pintu kaca otomatis terbuka, membawa cipratan air hujan yang dinginnya langsung menusuk menembus pori-pori kulit.

​Naya berdiri mematung di dekat pilar raksasa di lobi luar, terlindung dari tampias hujan langsung namun tetap merasakan hawa dingin yang luar biasa merayap naik dari sol sepatunya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, mengusap lengannya yang hanya terbalut kemeja katun kerja tipis berwarna biru muda. Ia tidak membawa mantel tebal. Ia tidak membawa payung. Ia sama sekali tidak siap menghadapi cuaca ekstrem ini.

​Jalanan di luar gedung terlihat seperti mimpi buruk logistik. Kemacetan parah khas SCBD saat hujan badai telah terjadi. Lampu merah kendaraan bermotor membentuk antrean panjang yang tidak bergerak layaknya sungai darah yang membeku.

​Naya merogoh saku celananya dengan tangan bergetar, mengeluarkan ponsel pintarnya. Ia membuka aplikasi pemesanan taksi daring, matanya menatap layar dengan keputusasaan yang semakin memuncak.

​Indikator baterainya berwarna merah menyala, menunjukkan angka kritis tiga persen. Aplikasi itu terus menampilkan ikon lingkaran yang berputar-putar tanpa henti, mencari pengemudi di tengah lonjakan permintaan yang menggila. Harga sewanya sudah naik tiga kali lipat dari harga normal, namun tidak ada satu pun pengemudi yang mau mengambil pesanannya.

​'Ayo, kumohon. Satu pengemudi saja. Siapa pun. Aku berani bayar berapa pun asal aku bisa segera merebahkan punggungku di kasur,' Naya merapal doa dalam hati, giginya mulai bergemeretak tanpa bisa ia kontrol untuk menahan hawa dingin yang meresap menembus kemejanya.

​Pandangan matanya sesekali mulai berkunang-kunang, memunculkan titik-titik hitam di ujung penglihatannya. Bekerja nyaris tanpa tidur selama dua malam penuh membuat sisa energinya benar-benar sudah mencapai titik nadir terbawah. Tubuhnya mulai melakukan penolakan.

​Tiba-tiba, layar ponselnya berkedip redup. Angka tiga persen berubah menjadi satu persen. Dan dalam hitungan dua detik yang krusial itu, layar tersebut berubah menjadi hitam pekat. Mati total.

​Naya menjatuhkan tangannya dengan lemas, ponselnya nyaris terlepas dari genggamannya. Ia menghembuskan napas panjang yang terdengar seperti rintihan putus asa. Terjebak di lobi gedung perkantoran mewah, tanpa uang tunai yang cukup untuk menyetop taksi argo konvensional yang sangat langka, di tengah amukan badai Jakarta, dengan tubuh yang nyaris pingsan.

​'Bagus sekali, Kanaya. Sempurna,' rutuknya pada nasibnya sendiri. Ia menyandarkan punggungnya ke pilar beton yang dingin, menutup matanya sejenak, berharap keajaiban akan jatuh dari langit.

​Di saat yang bersamaan, dari arah basement khusus VIP yang berada di bawah lobi, sebuah mobil sedan Maybach S-Class berwarna hitam legam meluncur mulus naik ke permukaan. Mobil super-mewah itu membelah tirai hujan seolah cuaca ekstrem di luar sana tidak memiliki otoritas atas keberadaannya. Ia berhenti tepat di depan karpet merah lobi utama, kap mesinnya yang panjang menutupi sebagian besar pandangan Naya ke arah antrean jalan raya.

​Pintu belakang mobil itu terbuka.

​Arjuna Dirgantara, yang baru saja menyelesaikan rapat krusial tambahan dengan klien asing di luar gedung dan hendak kembali ke kantornya untuk mengambil dokumen, melangkah keluar dari mobil.

​Supir pribadinya, Pak Karta, dengan sigap sudah berada di luar, membukakan payung golf raksasa berwarna hitam untuk melindungi sang CEO dari amukan badai. Juna merapikan jas abu-abu arangnya dengan satu tangan, memancarkan wibawa absolut seorang penguasa saat ia bersiap berjalan masuk menuju lift VIP.

​Namun, langkah kakinya yang penuh otoritas itu tiba-tiba terhenti di tempat.

​Mata hitam elangnya yang tajam dan selalu waspada layaknya radar, secara otomatis menangkap sebuah anomali visual. Di sudut lobi yang agak gelap, berdiri sesosok perempuan mungil yang sedang memeluk dirinya sendiri. Gadis itu menggigil hebat. Wajahnya sepucat kertas HVS, bibirnya sedikit membiru karena kedinginan, dan rambutnya yang basah oleh tampias hujan terlihat menempel menyedihkan di pipinya.

​'Apa yang masih dia lakukan berdiri di sana?' batin Juna, rahangnya otomatis mengeras. Sebuah reaksi insting yang rumit meledak di dalam dadanya—perpaduan antara rasa kesal karena bawahannya tidak bisa menjaga diri, dan sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang sangat tidak ingin ia sebut sebagai kepedihan atau rasa khawatir. 'Presentasi sialan itu sudah selesai pagi tadi. Seharusnya dia sudah berada di apartemen kumuhnya sejak sore, meringkuk di bawah selimut hangat dan mengganti waktu tidurnya yang hilang.'

​Juna memberikan isyarat tangan yang sangat presisi pada supirnya untuk berhenti mengikutinya. Ia memutar arah langkahnya. Tanpa memedulikan tampias air hujan yang mulai membasahi ujung celana bahannya yang mahal, Juna berjalan dengan langkah lebar dan dominan menghampiri Naya.

​Ujung sepatu kulit pantofel hitamnya yang mengkilap berhenti tepat di batas genangan air, hanya dua jengkal dari tempat Naya berdiri kedinginan.

​"Apakah Anda sedang mencoba mempraktikkan aksi demonstrasi pro-lingkungan menolak pemanasan global dengan membekukan diri Anda sendiri di lobi gedung saya, Kanaya?" sindir Juna. Suara baritonnya yang berat, datar, dan sarat akan sarkasme kejam itu memotong bisingnya suara hujan dengan sangat mudah.

​Naya tersentak mundur hingga punggungnya menabrak pilar dengan cukup keras. Ia mendongak cepat. Matanya yang lelah dan berair melebar melihat pria tinggi tegap itu berdiri menjulang di hadapannya seperti menara otoritas yang siap menghakiminya.

​"P-Pak Arjuna," suara Naya bergetar parah. Ia berusaha keras menutupi kelemahannya, berdiri dengan postur tegap, namun ia tidak bisa mencegah rahang bawahnya yang gemeretak karena suhu tubuhnya yang anjlok drastis. "S-Saya... saya sedang menunggu taksi daring saya. Tapi aplikasinya error sejak satu jam yang lalu karena badai ini."

​Juna melirik tajam ke arah layar ponsel di genggaman tangan Naya yang kini hanya berupa layar hitam pekat.

​"Taksi Anda tidak akan pernah datang dari langit karena ponsel Anda sudah mati kehabisan daya. Dan Anda sepertinya tidak cukup cerdas untuk mencari colokan listrik di pos keamanan depan," ucap Juna absolut, menyampaikan fakta logis tanpa memberikan sedikit pun nada simpati. Ia menatap Naya dengan ketegasan seorang tiran yang sedang menghukum prajuritnya. "Masuk ke mobil saya. Sekarang."

​Otak Naya yang sedang kekurangan suplai glukosa dan waktu tidur, membutuhkan waktu tiga detik penuh untuk memproses sintaksis dari dua kalimat pendek tersebut.

​"Maaf? M-Maksud Bapak apa?" tanya Naya terbata, mengira pendengarannya mulai terganggu oleh suara hujan dan kelelahan.

​"Saya tidak memiliki kebiasaan atau kesabaran untuk mengulang instruksi saya dua kali kepada bawahan saya, Kanaya," desis Juna, suaranya merendah. Ia melangkah satu tahap lebih dekat, hingga bayangan bahunya yang lebar menutupi tubuh Naya sepenuhnya dari tampias angin yang menggigit.

​Juna menatap tepat ke dalam mata Naya. "Ponsel Anda mati. Hujan di luar sedang turun seperti air bah. Antrean taksi tidak akan masuk ke pelataran ini. Jika Anda pingsan dan terkena hipotermia akut di lobi saya malam ini, besok pagi saya harus direpotkan dengan klaim asuransi kesehatan Anda, dan itu akan merusak seluruh jadwal kalkulasi konstruksi desain saya. Masuk ke mobil itu."

​'Alasan korporat macam apa lagi ini?!' batin Naya memberontak, gengsinya yang telah diinjak-injak oleh Siska tadi kembali meronta minta dibela dengan mati-matian. 'Dia pikir aku akan mengemis tumpangannya layaknya gadis malang di sinetron murahan? Dia pikir aku selemah itu? Aku masih punya dua kaki. Aku bisa menembus hujan badai ini sampai ke stasiun MRT terdekat.'

​"Terima kasih banyak atas tawaran kebaikan Anda yang luar biasa ini, Pak Arjuna. Tapi itu benar-benar tidak perlu. Saya tidak ingin merepotkan atasan saya," Naya menolak dengan nada sopan namun dibalut dengan keangkuhan yang jelas. Ia mengangkat wajahnya. "Saya masih bisa berlari ke kedai kopi di gedung sebelah, meminjam pengisi daya sepuluh menit, dan menunggu hujan ini sedikit—"

​"Masuk ke mobil saya, atau saya keluarkan Surat Peringatan (SP) pertama atas dasar tindakan insubordinasi dan sabotase kelancaran proyek perusahaan detik ini juga," potong Juna dengan cepat. Nada baritonnya merosot drastis menjadi sebuah ancaman korporat yang sangat dingin, kejam, dan sama sekali tidak memberikan ruang untuk dibantah.

​Naya mematung. Matanya membelalak menatap bosnya dengan tidak percaya.

​Pria ini benar-benar perwujudan dari iblis berdasi. Dia tahu persis bagaimana cara memelintir otoritasnya dan menggunakan ancaman karier untuk memaksa orang lain tunduk pada kehendaknya. Hembusan angin kencang yang membawa titik-titik air es kembali menerpa lobi, membuat Naya tanpa sadar merapatkan lengannya semakin kuat hingga memeluk dadanya sendiri. Ia sangat kedinginan, pandangannya berputar, dan ia tahu, di lubuk hatinya yang paling rasional, ia tidak memiliki sisa tenaga fisik untuk memenangkan perdebatan keras kepala ini melawan seorang tiran.

​Dengan gerakan kaku, wajah ditekuk penuh kekalahan, dan langkah yang sangat enggan, Naya akhirnya mengalah.

​Ia melangkah melewati Juna—yang menyeringai sangat tipis dan tak terlihat di dalam hatinya karena berhasil mendominasi gadis itu—lalu berjalan masuk ke dalam kursi penumpang bagian belakang mobil super-mewah tersebut.

​Juna menyusul masuk di pintu sebelahnya dan duduk. Pak Karta, yang sejak tadi menunggu dengan sabar, segera menutup pintu Juna dan berlari mengitari mobil untuk masuk ke kursi pengemudi.

​Begitu pintu mobil hidrolik berlapis baja itu tertutup rapat, dunia luar seolah lenyap tertelan dimensi lain.

​Ruangan kabin Maybach yang sepenuhnya kedap suara itu seketika memblokir seluruh amukan badai monsun, suara klakson yang memekakkan telinga, dan hiruk-pikuk kekacauan Jakarta. Hening. Sangat hening. Kehangatan dari sistem climate control (pengatur suhu) mobil yang canggih perlahan-lahan menyapu kulit Naya yang membeku bagai pelukan yang lembut.

​Namun di saat yang sama, atmosfer di dalam kabin itu luar biasa mengintimidasi, canggung, dan menyesakkan napas.

​"Jalan, Pak Karta. Dan minta rute alamat Nona Kanaya kepadanya," instruksi Juna pada supirnya. Matanya langsung tertuju pada layar tablet resolusi tinggi di pangkuannya tanpa menoleh sedikit pun pada gadis yang duduk kurang dari setengah meter di sebelahnya.

​Naya menyebutkan alamat apartemen kecilnya di pinggiran Jakarta Selatan kepada Pak Karta. Setelah itu, ia menggeser tubuh mungilnya dan menyandarkan punggungnya sedalam dan sejauh mungkin ke sudut pintu mobil sebelah kiri, berusaha menjaga jarak spasial ekstrem agar ujung bajunya tidak bersentuhan dengan aura bosnya.

​Aroma di dalam kabin mobil ini sangat identik dengan sosok Arjuna Dirgantara. Perpaduan maskulin yang luar biasa mahal dan eksklusif antara vetiver murni, kayu aras, dan lada hitam yang elegan namun sangat mendominasi penciuman. Aroma itu seolah menginvasi sistem saraf dan pernapasan Naya, membuatnya kesulitan mengatur napas dengan normal tanpa merasa terintimidasi oleh eksistensi pria itu.

​Di sebelahnya, Juna sudah menyalakan lampu baca kecil berfokus sempit (spotlight) di atas kursinya. Cahaya kekuningan itu menyorot profil wajah Juna dari samping. Rahangnya yang tegas, hidungnya yang lurus, dan ekspresinya yang tak tersentuh membuatnya terlihat seperti pahatan patung pualam Romawi kuno yang dihidupkan hanya untuk memerintah manusia fana.

​'Tarik napas, Kanaya. Hembuskan. Jangan panik. Ini hanyalah tumpangan logistik dari seorang atasan arogan yang ketakutan jadwal proyek triliunannya molor karena desainernya sakit. Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak,' Naya mengingatkan dirinya sendiri dengan keras di dalam kepala, memalingkan wajahnya menatap kaca jendela yang tertutup titik-titik air hujan di luar.

​Namun, kehangatan dari heater mobil mewah yang perlahan meresap dan menyelimuti tubuh Naya layaknya selimut tebal di musim dingin, memiliki efek samping yang sangat fatal bagi seseorang yang sedang mengalami kelelahan ekstrem.

​Otot-otot leher dan punggung Naya mulai mengendur satu per satu tanpa bisa dicegah oleh logikanya. Kepalanya terasa luar biasa berat, seolah ditarik oleh gravitasi yang berlipat ganda. Rasa lelah kronis yang ia timbun selama dua hari dua malam berturut-turut tanpa tidur, ditambah stres mental dari sindiran Siska, kini menagih hak istirahatnya secara brutal pada sistem biologisnya.

​Napas Naya perlahan mulai melambat, ritme dadanya naik turun dengan teratur dan dalam. Dalam waktu kurang dari lima belas menit menembus kemacetan lalu lintas jalan tol Jakarta yang merayap lambat di tengah hujan, Kanaya Larasati telah jatuh tertidur pulas di dalam sangkar beludru sang CEO.

​Melalui pantulan samar dari kaca jendela mobil yang gelap, Arjuna yang sejak tadi berpura-pura fokus pada tablet-nya, menyadari perubahan ritme napas gadis di sebelahnya.

​Juna perlahan menurunkan tablet ke pangkuannya dengan tanpa suara. Ia memutar kepalanya sedikit, membiarkan mata elangnya mengamati wajah Naya tanpa filter arogansi yang biasa ia pakai di kantor.

​Wajah yang selalu menampilkan perlawanan berapi-api, tatapan menantang, dan kebanggaan yang membara di ruang rapat itu, kini terlihat sangat berbeda. Dalam tidurnya, gadis keras kepala itu terlihat sangat polos, damai, pucat, dan... rentan. Terlalu rentan untuk hidup di dunia yang dipenuhi oleh serigala korporat.

​Kepala Naya yang awalnya bersandar pada bantalan kursi, perlahan merosot ke samping bawah seiring dengan guncangan halus suspensi udara mobil saat melewati sambungan jalan tol. Setiap kali Pak Karta mengerem sedikit mendadak untuk menyesuaikan jarak dengan kendaraan di depannya, kepala Naya terantuk pelan ke arah kaca jendela yang keras.

​'Kau mendorongnya terlalu keras beberapa hari ini, Arjuna,' batin Juna berbisik pelan, sebuah kesadaran asing yang hangat tiba-tiba menghantam ulu hatinya, meretakkan kedinginan logikanya dengan kekuatan yang tidak bisa ia tahan. 'Dia bukan robot korporat sepertimu yang bisa hidup tanpa tidur. Dia hanyalah seorang gadis desainer muda yang berusaha setengah mati membuktikan kemampuannya dan mempertahankan harga dirinya di depan arogansimu.'

​Juna mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, berusaha menarik pandangannya dan fokus kembali pada deretan angka anggaran di layar tablet-nya. Namun, konsentrasinya telah hancur total berantakan. Matanya terus melirik ujung kepala gadis itu dengan rasa cemas tak beralasan yang menggerogoti dadanya.

​Tiba-tiba, sebuah sepeda motor memotong lajur dengan sangat sembarangan di tengah guyuran hujan lebat. Pak Karta, karena terkejut, menginjak pedal rem dengan cukup keras secara refleks.

​Tubuh Naya yang sedang tertidur lelap tanpa sabuk pengaman penuh, terdorong ke depan dan ke samping oleh daya inersia. Kepalanya meluncur tajam, menuju material panel kayu keras (wood trim) di pinggiran pintu mobil bagian dalam.

​Insting Juna bekerja seratus kali lipat jauh lebih cepat daripada rasionalitas korporat dan gengsi kebangsawanannya. Tangannya melesat membelah udara di dalam kabin secepat kilat.

​Hap.

​Juna menahan sisi kanan wajah dan kepala Naya dengan telapak tangannya yang besar, hangat, dan kokoh, tepat sepersekian milidetik sebelum dahi gadis itu menghantam panel pintu yang keras.

​Juna menahan napasnya secara absolut. Waktu seolah membeku secara permanen di dalam kabin Maybach tersebut.

​Kulit pipi Naya terasa luar biasa hangat dan lembut di telapak tangannya yang kasar. Sangat lembut, berbeda dengan semua benda bertekstur keras yang biasa Juna sentuh di lokasi konstruksi. Naya menggumam pelan dalam tidurnya, mengerutkan hidungnya yang bangir sebentar karena gangguan guncangan barusan.

​Lalu, hal yang paling menghancurkan kewarasan Juna terjadi.

​Secara tidak sadar, di alam bawah sadarnya yang sedang mencari kenyamanan, Naya justru menggeser kepalanya sedikit dan menyandarkan pipinya lebih dalam ke pelukan telapak tangan Juna. Gadis itu menghela napas panjang dengan damai, menjadikan tangan sang tiran sebagai bantal pribadinya, lalu melanjutkan tidurnya tanpa menyadari badai psikologis yang baru saja ia ciptakan pada pria di sebelahnya.

​Darah Juna berdesir hebat layaknya disapu gelombang pasang. Jantungnya, yang selama dua puluh delapan tahun selalu berdetak dalam ritme metronom yang sempurna dan tidak pernah terpengaruh oleh entitas apa pun, mendadak kehilangan ketukannya. Ia berhenti bernapas selama lima detik penuh, matanya membelalak kecil menatap wajah yang tertidur di tangannya.

​'Sialan,' rutuk Juna di dalam palung hatinya yang terdalam. Matanya terkunci pada wajah damai Naya, merasakan denyut nadi halus gadis itu di pergelangan tangannya. 'Berapa banyak batas logikaku yang akan kauruntuhkan malam ini, Kanaya?'

​Logikanya yang terlatih berteriak dengan sangat lantang, menyuruhnya menarik tangan itu sekarang juga, membiarkan Naya terbangun karena guncangan, dan kembali menjadi CEO dingin yang menjaga jarak profesional mutlak dari bawahannya.

​Namun, Arjuna Dirgantara, sang kaisar bisnis pewaris takhta yang terkenal tidak pernah memiliki belas kasihan dalam kamusnya, ternyata memilih untuk tuli terhadap logikanya sendiri. Ia tetap diam tak bergerak.

​Ia membiarkan lengannya menggantung di udara dengan posisi yang canggung dan menguras tenaga, mengabaikan otot lengannya yang mulai terasa kebas dan pegal, hanya demi satu tujuan irasional: agar tidur gadis keras kepala ini tidak terganggu oleh guncangan jalanan hingga mereka tiba di apartemennya nanti.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​Kamera mengambil sudut rendah (low angle), menampilkan sepasang sepatu kets putih berbahan kanvas yang warnanya sudah memudar dan sedikit menguning, menapak ragu di atas genangan air berlumpur di sebuah halte bus yang reyot di pinggiran kota Jakarta.

​Tujuh tahun yang lalu. Malam hari di bawah guyuran badai yang sama persis.

​Kanaya remaja, yang saat itu baru berusia delapan belas tahun, mengenakan seragam putih abu-abu SMA yang sudah basah kuyup hingga menempel di tubuh kurusnya. Ia duduk memeluk lututnya yang gemetar di sudut halte yang atapnya bocor. Di pangkuannya, sebuah ransel sekolah yang sudah pudar warnanya ia dekap erat-erat dengan kedua tangannya, melindungi buku-buku sketsa arsitektur amatir berharganya agar tidak basah oleh air hujan.

​Bibirnya gemetar kedinginan. Perutnya keroncongan karena ia belum makan sejak siang hari demi menghemat ongkos bus yang tak kunjung tiba.

​Tiba-tiba, suara deru mesin V8 yang sangat halus namun bertenaga terdengar mendekat. Sebuah mobil sedan mewah Eropa keluaran terbaru—sebuah Maybach berwarna hitam—melaju kencang melewati halte tersebut. Ban lebarnya menghantam genangan air lumpur kotor tepat di depan halte dengan kecepatan tinggi.

​BYUR!

​Cipratan gelombang air lumpur kotor menyembur deras layaknya ombak kecil, menghantam tubuh mungil Naya dan membasahi setengah wajah serta seragam putihnya dengan noda cokelat yang menjijikkan.

​Mobil mewah itu tidak melambat. Kaca jendelanya yang gelap tetap tertutup rapat. Pemiliknya yang duduk di kursi belakang yang hangat, sama sekali tidak peduli pada eksistensi gadis kecil miskin yang kedinginan di pinggir jalan.

​Naya mengusap air lumpur dari mata dan bibirnya dengan punggung tangannya yang gemetar hebat. Ia tidak menangis. Air matanya telah lama mengering oleh kerasnya kehidupan. Matanya yang tajam justru menatap lurus ke arah lampu belakang merah dari mobil mewah yang semakin menjauh ditelan kabut hujan itu. Giginya bergemeretak, bukan murni karena kedinginan, melainkan karena kemarahan yang absolut pada kemiskinan yang membuatnya tidak terlihat, tidak dihargai, dan mudah diinjak-injak oleh mereka yang berada di balik kaca mobil mewah.

​"Suatu hari nanti," bisik Naya remaja di tengah gemuruh petir yang membelah langit, suaranya tidak terdengar seperti isakan gadis kecil, melainkan seperti sebuah sumpah berdarah dari seorang pejuang yang siap membakar dunia. "Aku tidak akan pernah lagi berdiri kedinginan di halte bus yang kotor ini. Aku akan duduk di dalam gedung-gedung tinggi yang mereka sombongkan itu, dan aku akan membuat mereka semua menunduk pada kemampuanku."

​Kamera memperbesar (zoom in) secara sinematik ke arah tangan Naya yang meremas ujung ranselnya yang basah hingga kuku-kuku jarinya memutih pucat.

​Momen kilas balik itu merekam detik-detik lahirnya gengsi, ego pertahanan diri, dan cangkang pualam dingin yang akan Kanaya Larasati bawa hingga ia dewasa.

​Kamera kemudian beralih perlahan (fade out), kembali ke masa kini. Kamera kini menyorot sebuah ironi takdir yang luar biasa puitis: Naya dewasa yang kelelahan, kini sedang tertidur dengan sangat damai dan hangat di dalam kabin mobil mewah yang jenisnya persis sama dengan yang mencipratinya tujuh tahun yang lalu, wajahnya dilindungi dan disangga dengan lembut oleh telapak tangan pria paling berkuasa di ibu kota, yang kini tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis tersebut.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!