Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.
Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.
Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Ritual Darah di Menara Pedang Hitam
Langit di atas Lembah Kematian tidak lagi berwarna abu-abu, melainkan merah tembaga. Aroma besi—aroma darah—tercium kuat di udara. Setelah Wang Jian menyelamatkan Wang Meili, mereka tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Dari kejauhan, sebuah pilar cahaya hitam melesat ke angkasa, berasal dari pusat kekuasaan Klan Wang-Xia: **Menara Pedang Hitam**.
"Mereka sudah memulainya," bisik Wang Meili dengan wajah pucat. Tubuhnya masih gemetar, bukan hanya karena luka, tapi karena ketakutan spiritual yang mendalam. "Itu adalah *Ritual Pemanggilan Arwah Primordial*. Mereka mengorbankan ribuan tawanan dari klan cabang untuk memberi makan jiwa Lin Xia."
Wang Jian menatap pilar hitam itu. Dengan **Napas Kehampaan**, ia bisa merasakan bahwa pilar itu bukan sekadar cahaya, melainkan lubang hitam yang menyedot energi alam (Qi) dari radius ratusan mil. "Jika mereka berhasil membangkitkan nenek moyang mereka dalam keadaan haus darah, tidak ada satu pun dari Fase Bumi yang bisa selamat," ujar Jian.
### **Kemunculan Sang Algojo: Wang Gura**
Saat mereka bersiap untuk bergerak, tanah di depan mereka meledak. Dari dalam lubang, muncul seorang pria raksasa dengan zirah yang terbuat dari duri-duri besi. Ia membawa sebuah palu raksasa yang di tengahnya tertanam sebuah pedang pendek—ciri khas senjata hibrida Klan Wang-Xia.
Ia adalah **Wang Gura**, algojo utama Klan Wang-Xia, seorang ahli di **Ranah Kristalisasi Inti (Bintang 5)**.
"Wang Jian... si kutu dari garis keturunan angin," suara Gura menggelegar, menciptakan gelombang kejut yang merontokkan daun-daun di sekitar. "Tuan Muda Ruo memerintahkan aku untuk membawa kepalamu, tapi melihat kau telah membunuh dua tetua kami, aku akan membawa seluruh tubuhmu dalam keadaan hancur."
Gura tidak menunggu jawaban. Ia mengangkat palunya, dan aura merah menyala—**Manifestasi Unsur: Api Iblis**—menyelimuti senjatanya.
### **Pertempuran: Kecepatan Angin vs Beban Api**
"Meili, mundur!" teriak Jian.
Jian menyadari bahwa melawan bintang 5 di Ranah Kristalisasi Inti dengan kekuatan fisik murni adalah bunuh diri. Ia harus menggunakan keunggulan tekniknya.
**Teknik Langkah: Gerak Tanpa Jejak (Vakum Sudut).**
Saat Gura mengayunkan palunya, Jian tidak melompat mundur. Sebaliknya, ia menciptakan zona vakum kecil di depan kakinya, yang menyedot tubuhnya maju ke arah Gura dengan kecepatan yang tidak wajar. Ini adalah pembalikan logika tempur; biasanya orang menjauh dari serangan berat, tapi Jian justru masuk ke dalam radius serangan.
*BUM!*
Palu Gura menghantam tanah, menciptakan kawah sedalam lima meter. Namun Jian sudah berada di belakang punggung raksasa itu.
"Apa?!" Gura terkejut. Kecepatannya sebagai ahli Kristalisasi Inti seharusnya jauh di atas praktisi Pemurnian Qi.
"Kau terlalu berat, Gura. Udara di sekitarmu menolak untuk bergerak bersamamu," ucap Jian dingin.
Jian menyentuh punggung zirah Gura. Ia tidak memukul, melainkan menempelkan telapak tangannya.
**Teknik Rahasia: Implosi Tekanan Atmosfer!**
Jian memanipulasi udara di dalam zirah Gura. Ia menciptakan ruang hampa di dalam zirah tersebut, sementara udara di luar zirah tetap pada tekanan normal. Sesuai hukum alam, udara di luar akan berusaha menghancurkan apa pun untuk mengisi ruang hampa tersebut.
*KRETEK!*
Zirah baja tebal milik Gura mulai menciut ke dalam, menjepit tubuh raksasa itu dengan kekuatan jutaan ton tekanan udara. Gura menjerit kesakitan saat tulang-tulangnya—yang sudah diperkuat di **Ranah Penguatan Tulang**—mulai retak di bawah tekanan fisik yang tidak masuk akal ini.
### **Sisi Gelap Garis Keturunan Ke-4**
"KAU... KECIL... BERANINYA!" Gura meraung. Tiba-tiba, matanya berubah menjadi hitam pekat. Pembuluh darah di lehernya menonjol dan berwarna ungu.
Inilah kengerian keturunan Lin Xia. Ketika terdesak, mereka bisa memicu **Darah Iblis Rubah** yang mengalir di tubuh mereka. Kekuatan Gura melonjak drastis, menembus batas Ranah Kristalisasi Inti Bintang 5 dan menyentuh **Bintang 8** dalam sekejap.
Gura meledakkan energinya, menghancurkan zona tekanan Jian. Ia berbalik dan mencengkeram leher Jian dengan satu tangan.
"Teknik anehmu tidak berguna di hadapan kekuatan absolut!" Gura mengangkat Jian tinggi-tinggi. Api hitam mulai membakar kulit Jian.
Di saat kritis itu, Meili berteriak, "Jian! Gunakan *Mutiara Samudra*! Gabungkan dengan anginmu!" Meili melemparkan sebuah permata biru yang bersinar terang ke arah Jian.
Jian menangkap mutiara itu. Saat jari-jarinya menyentuh permukaan mutiara, energi air yang sangat murni mengalir masuk. Dalam benak Jian, sebuah instruksi kuno dari **Wang Tian** muncul secara tiba-tiba:
> *"Angin dan Air bukanlah musuh. Air memberi bobot pada angin, dan angin memberi arah pada air. Gabungkan keduanya untuk menciptakan Badai Primordial."*
>
### **Evolusi Teknik: Pedang Badai Kehampaan**
Jian menutup matanya di tengah cekikan Gura. Ia menarik napas dalam-aliran Qi transparannya menyatu dengan energi biru dari mutiara.
Seketika, uap air di udara memadat di sekitar Jian, membentuk ribuan jarum es yang berputar dalam pusaran angin vakum yang sangat kencang. Gura tidak bisa melepaskan cengkeramannya karena tangannya seolah membeku di udara.
"Ini untuk semua orang yang kau korbankan!"
Jian menggerakkan tangannya seperti memotong kertas.
**Seni Gabungan: Tarian Pedang Badai Kristal!**
Ribuan jarum es yang dipercepat oleh tekanan udara tinggi melesat menembus tubuh Gura. Karena kecepatan jarum tersebut melampaui kecepatan suara, mereka menembus zirah dan daging Gura seolah-olah itu hanya mentega.
Gura terpaku. Matanya yang hitam perlahan memudar. Tubuhnya kini penuh dengan lubang kecil yang tidak mengeluarkan darah, karena luka-lukanya langsung membeku oleh suhu dingin dari teknik alkimia Jian.
*Gubrak!*
Sang algojo jatuh tak bernyawa.
### **Pesan dari Kegelapan**
Saat Gura tewas, sebuah bayangan keluar dari mayatnya. Itu adalah proyeksi astral dari **Wang Ruo**.
"Luar biasa, sepupuku yang malang," bayangan Ruo bertepuk tangan pelan. "Kau menggabungkan warisan Istri Pertama dan Kedua. Tapi kau terlambat. Ritual sudah mencapai tahap akhir. Ibunda Lin Xia sudah terbangun, dan dia sangat lapar akan 'darah murni' sepertimu. Sampai jumpa di Menara Pedang Hitam... jika kau berani."
Bayangan itu menghilang, meninggalkan Jian yang terengah-engah dan Meili yang jatuh terduduk.
Jian melihat tangannya yang gemetar. Ia baru saja membunuh seorang ahli yang jauh di atas ranahnya, tapi ia merasa ini baru permulaan. Di ujung sana, Menara Pedang Hitam terus berdenyut, mengirimkan gelombang kegelapan yang mulai menutupi seluruh Benua Tengah.
"Kita tidak bisa pergi ke Barat sekarang," ujar Jian sambil menatap Meili. "Jika kita lari, tidak akan ada tempat untuk bersembunyi. Kita harus menghancurkan menara itu sebelum Lin Xia benar-benar bangkit."
**Status Kultivasi Wang Jian (Bab 33):**
* **Ranah:** Pemurnian Qi (Bintang 3 - Terobosan saat bertarung).
* **Senjata:** Mutiara Samudra (Pinjaman dari Meili).
* **Teknik Baru:** Tarian Pedang Badai Kristal (Elemen Angin + Air).
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah