NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Labirin Antarmuka

​Cahaya merah dari puluhan drone yang mengitari mereka menciptakan bayangan yang memanjang dan kaku di atas tanah Taman Menteng. Suara tawa Pak Broto yang terdistorsi lewat pengeras suara taman terasa seperti pisau yang menggores gendang telinga Arga. Di depannya, Siska Winata berdiri dengan langkah yang berat namun presisi. Kulit di sekitar lengan prostetiknya kini tampak menghitam, dialiri kabel-kabel halus yang menyusup ke balik lehernya. Siska bukan lagi seorang CEO; dia telah menjadi boneka daging bagi kesadaran digital sang kakek.

​"Arga... jangan lakukan itu," Elina mencengkeram lengan Arga, tubuhnya bergetar hebat saat sistem sarafnya dipaksa melakukan sinkronisasi dengan parasit digital di otaknya. "Jika kau masuk ke dalam sistem ini, kau tidak akan bisa kembali. Kau akan menjadi data. Kau akan menjadi miliknya."

​Arga menatap Siska yang mulai mengangkat senjata eksperimentalnya—sebuah peluncur pulsa elektromagnetik yang mampu menghancurkan jantung manusia dalam sekejap. Dia lalu menatap Elina, wanita yang fragmen ingatannya baru saja kembali ke dalam benaknya.

​"Dia sudah mengambil orang tua kita, El. Dia mengambil Dani, dan dia mencoba mengambilmu," Arga menggenggam tangan Elina, menempelkan telapak tangan mereka pada sensor neural-link di belakang telinga Elina. "Aku tidak akan membiarkan dia mengambil masa depan kita."

​"Siska! Tembak!" perintah suara Pak Broto dari segala arah.

​Siska menarik pelatuk. Sebuah gelombang energi biru melesat cepat. Namun, Arga tidak menghindar. Dia menggunakan momen itu untuk memicu koneksi paksa. Dengan anting perak sebagai konduktor terakhir, Arga menyatukan kesadarannya dengan Elina tepat saat gelombang energi itu menghantam mereka.

​ZAAAPP!

​Dunia fisik di sekitar mereka lenyap.

​Arga membuka matanya, namun dia tidak lagi berada di taman. Dia berdiri di sebuah ruang hampa yang luas, di mana lantai dan langitnya adalah aliran kode-kode digital berwarna emas dan perak yang mengalir deras seperti sungai cahaya. Di kejauhan, dia melihat konstruksi bangunan yang sangat dia kenal: Perpustakaan tua kakeknya di Jakarta, namun dalam bentuk yang lebih megah dan tak berujung.

​"Selamat datang di pusat saraf The Prime Logic, Arga," sebuah suara berat bergema.

​Pak Broto muncul dari balik rak buku raksasa. Di dunia digital ini, dia tidak lagi berada di kursi roda. Dia tampak muda, kuat, dan mengenakan setelan jas hitam yang sempurna. Dia adalah proyeksi ego tertingginya.

​"Tempat ini luar biasa, bukan?" Pak Broto merentangkan tangannya. "Di sini, aku tidak dibatasi oleh usia atau biologi. Dan dengan otakmu sebagai prosesor tambahan, aku bisa memproses seluruh data dunia dalam satu detik. Kita akan menjadi abadi, Arga."

​"Abadi sebagai hantu dalam mesin?" Arga melangkah maju. Dia merasakan kekuatannya sendiri di sini. Pikirannya sebagai arsitek mulai bekerja. Dia tidak melihat buku, dia melihat struktur data. "Kau membunuh ayahku demi tempat sampah digital ini?"

​"Ayahmu ingin membakar perpustakaan ini! Dia ingin kita kembali menjadi manusia yang lemah dan penuh cacat!" Pak Broto berteriak, dan seketika rak-rak buku itu terbang ke arah Arga.

​Arga memejamkan mata. Dia membayangkan denah bangunan yang paling ia kuasai. Ruang Jarak Nol.

​Seketika, sebuah dinding beton imajiner muncul, menahan serangan rak buku itu. Arga mulai melakukan serangan balik dengan memanipulasi arsitektur dunia digital tersebut. Dia meruntuhkan lantai di bawah kaki Pak Broto, mengubah aliran data menjadi penjara jeruji besi.

​"Kau lupa satu hal, Kek," Arga berjalan mendekati Pak Broto yang kini terjepit di antara barisan kode yang membeku. "Kau membangun sistem ini dengan DNA-ku. Aku bukan tamumu. Aku adalah pemilik rumah ini."

​Di sudut ruangan, sosok Elina muncul. Dia tampak seperti cahaya yang redup, terbelenggu oleh rantai hitam yang merupakan virus Pak Broto. Arga berlari ke arahnya, namun Pak Broto tertawa terbahak-bahak.

​"Kau pikir semudah itu? Jika kau menghancurkanku di sini, kau juga menghancurkan Elina! Kami terhubung! Satu detak jantung, satu baris kode!"

​Arga berhenti. Dia melihat ke arah Elina. Gadis itu menatapnya dengan mata yang penuh pengorbanan. "Lakukan, Arga. Hancurkan semuanya. Aku lebih baik hilang daripada menjadi alatnya."

​Arga menatap tangannya yang mulai memudar menjadi butiran data. Dia tahu waktunya sedikit. Dia tidak bisa menghancurkan Pak Broto tanpa membunuh Elina... kecuali jika dia mengganti identitas inti sistem tersebut.

​"Aku tidak akan menghancurkanmu, Kek," bisik Arga. "Aku akan menimpamu."

​Arga mulai mengunduh seluruh fragmen memorinya yang rusak akibat serangan Siska tadi. Dia mengambil memori tentang rasa sakit, tentang kemarahan, tentang penderitaan selama di Jakarta, dan rasa cintanya yang hancur. Dia mengubah seluruh emosi manusiawi itu menjadi "beban data" yang tak terhingga.

​"Ini yang kau inginkan, kan? Kesadaran manusia?" Arga mencengkeram bahu proyeksi Pak Broto. "Rasakan beratnya menjadi manusia, Kek!"

​Arga membanjiri kesadaran digital Pak Broto dengan jutaan emosi yang kontradiktif. Rasa bersalah, kesedihan, dan rasa takut akan kematian—hal-hal yang selalu dihindari oleh sang kakek.

​"TIDAK! HENTIKAN! TERLALU BANYAK! AKU TIDAK BISA MEMPROSESNYA!" teriak Pak Broto. Wajah mudanya mulai retak, menua dengan sangat cepat, dan hancur menjadi serpihan abu digital.

​Sistem The Prime Logic mengalami kegagalan fungsi massal karena tidak sanggup menampung "logika emosional" yang Arga berikan.

​Taman Menteng.

​Arga dan Elina tersentak bangun secara bersamaan. Mereka terjatuh di atas rumput, terengah-engah dengan keringat dingin yang membanjiri tubuh. Di depan mereka, Siska Winata mematung. Senjatanya terjatuh. Matanya kosong, dan asap keluar dari lengan prostetiknya. Pak Broto yang berada di dalam saraf Siska telah hangus akibat overload emosi yang dikirim Arga.

​Drone-drone di langit mulai jatuh satu per satu seperti laron yang terbakar. Lampu-lampu Monas meredup, kembali ke pengaturan normal.

​"Sudah... berakhir?" bisik Elina, suaranya kembali normal sepenuhnya.

​Arga tidak menjawab. Dia melihat tangannya. Dia ingat semuanya sekarang. Dia ingat cintanya, ingat pengkhianatannya, dan ingat pengorbanannya. Namun, dia merasakan kekosongan yang aneh. Sebagian dari dirinya seolah tertinggal di dalam labirin itu.

​"Nadia! Kita harus pergi!" teriak Arga saat melihat pasukan keamanan mulai pulih dari gangguan elektromagnetik.

​Mereka berlari menembus kegelapan taman, meninggalkan Siska yang kini hanya menjadi raga tanpa jiwa. Saat mereka mencapai mobil pelarian, Arga menoleh ke arah Monas untuk terakhir kalinya.

​"Ke mana kita pergi sekarang?" tanya Nadia dari kursi kemudi.

​Arga menggenggam tangan Elina. "Ke tempat di mana tidak ada satelit yang bisa melihat kita. Ke tempat di mana kita hanya menjadi Arga dan Elina."

​Namun, di saku jaket Arga, ponsel satelitnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor anonim masuk:

​"Pembersihan selesai. Subjek Broto telah dihapus. Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Arga. Kami akan menghubungi Anda kembali untuk fase kedua Proyek Horizon."

​Arga menatap layar itu dengan ngeri. Dia menyadari bahwa dia bukan hanya menghancurkan kakeknya, tapi dia baru saja memvalidasi sistem itu untuk "pihak lain" yang jauh lebih besar dan tersembunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!