NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​BAB 9: Antara Debu dan Permata

Pagi itu, sinar matahari menerpa halaman belakang rumah Keluarga Wijaya dengan sangat cerah, namun suasananya terasa tegang. Pak Wijaya berdiri di teras belakang dengan setelan jas rapi, didampingi oleh Bunda Siti yang matanya sembab karena menangis semalaman.

.

"Guntur, kumpulkan semua kuli proyek di sini. Sekarang!" perintah Pak Wijaya dengan suara bariton yang tegas.

.

Guntur yang masih mengantuk mendengus kesal. "Ada apa sih, Pa? Masih pagi begini. Mereka itu cuma kuli, kasih makan saja sudah cukup."

.

"Papa merasa semalam ada yang menjaga nyawa Papa. Penyakit jantung Papa hilang seketika setelah ledakan itu! Papa ingin berterima kasih secara langsung," sahut Pak Wijaya dengan tatapan yang sulit dibantah.

.

Sepuluh kuli, termasuk Arjuna, berdiri berjejer di halaman. Arjuna sengaja berdiri di paling ujung, menunduk sangat dalam hingga wajahnya tertutup caping bambu yang ia temukan di gudang. Sarung hijaunya penuh noda semen kering.

.

"Siapa di antara kalian yang semalam keluar dari bedeng?" tanya Pak Wijaya sambil berjalan perlahan di depan barisan kuli.

.

Semua kuli diam membisu. Pak Slamet melirik ke arah Arjuna, tapi ia ingat janji setianya untuk merahasiakan "cahaya putih" yang ia lihat semalam.

.

"Ayo jawab! Siapa yang main dukun-dukunan semalam?!" bentak Guntur sambil menendang kaki salah satu kuli. "Atau kamu ya, Gembel?!" Guntur berhenti tepat di depan Arjuna.

.

Arjuna hanya merapatkan kedua tangannya di depan dada. "Mboten, Den. Kulo namung tilem. (Tidak, Tuan. Saya cuma tidur.)"

.

Bunda Siti melangkah mendekat. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencium aroma yang sangat ia kenali—bukan bau semen, bukan bau keringat, tapi aroma melati yang sangat samar dari tubuh kuli itu.

.

"Buka capingmu, Nak..." pinta Bunda Siti dengan suara gemetar.

.

Arjuna membeku. Ia memutar tasbih kayunya di dalam saku sarungnya secepat kilat, merapalkan doa Panglimunan (pengabur pandangan) agar wajahnya tampak buram di mata mereka.

.

"Nyuwun sewu, Nyonya... rae kulo sampun rusak, mboten pantes dipirsani. (Mohon maaf, Nyonya... wajah saya sudah rusak, tidak pantas dilihat.)" jawab Arjuna dengan suara yang disamarkan menjadi serak.

.

"Buka! Atau saya seret kamu kembali ke penjara!" ancam Guntur sambil merenggut paksa caping bambu dari kepala Arjuna.

.

Sreettt! Caping itu terlempar ke tanah.

.

Pak Wijaya dan Bunda Siti terbelalak. Karena doa Arjuna, wajah yang mereka lihat adalah wajah seorang pria tua yang penuh kerutan dan luka bakar, sangat jauh dari rupa Arjuna yang tampan.

.

"Astaghfirullah... maafkan saya, Pak," ucap Bunda Siti kecewa. Ia lemas dan hampir jatuh jika tidak ditangkap oleh Pak Wijaya. Harapannya untuk bertemu Juna pupus seketika.

.

Guntur tertawa terbahak-bahak. "Tuh kan, Pa! Bunda! Dia cuma kuli tua yang cacat! Mana mungkin dia Juna atau orang sakti?"

.

Pak Wijaya menghela napas panjang. Ia memberikan amplop berisi uang besar kepada semua kuli sebagai bonus. Saat giliran Arjuna, Pak Wijaya menatap mata kuli itu lama. Meskipun wajahnya tampak tua dan rusak, sorot matanya terasa sangat familiar—tenang dan dalam seperti samudera.

.

"Ambil ini, Pak Tua. Terima kasih sudah bekerja keras," ucap Pak Wijaya.

.

Arjuna menerima amplop itu, lalu melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia menyerahkan kembali amplop itu kepada Pak Slamet. "Niki kagem sampeyan, Pak Slamet. Anak sampeyan butuh dhuwit sekolah. (Ini buat Anda, Pak Slamet. Anak Anda butuh uang sekolah.)"

.

Setelah itu, Arjuna berbalik dan mulai berjalan menuju gerbang belakang. Ia tidak membawa satu sen pun harta dari rumah itu.

.

"Heh! Mau ke mana kamu?! Pekerjaanmu belum selesai!" teriak Guntur.

.

Arjuna berhenti sejenak tanpa menoleh. "Tugas kulo sampun rampung neng mriki, Den. Sampah sampun resik. (Tugas saya sudah selesai di sini, Tuan. Sampah sudah bersih.)"

.

Arjuna melangkah keluar dari gerbang rumah Wijaya. Begitu ia sampai di tikungan jalan yang sepi, sosok wajah tuanya menghilang, kembali menjadi wajah Arjuna yang asli namun penuh wibawa. Kyai Loreng muncul di sampingnya, mengibaskan ekornya dengan bangga.

.

"Ayo, Kyai... dalane isih dowo. (Ayo, Kyai... jalannya masih panjang.)"

.

Arjuna berjalan menuju terminal bus. Ia akan pergi ke pesisir selatan, menemui seorang "Guru Gila" yang konon menguasai rahasia angin dan ombak. Di belakangnya, Bunda Siti masih menatap gerbang dengan perasaan hampa, tidak tahu bahwa mutiara yang ia cari baru saja melangkah pergi sebagai debu.

Terminal Tirtonadi siang itu panasnya luar biasa. Arjuna berjalan sendirian, menyandang tas kusam berisi daun lontar, dengan sarung hijau yang masih penuh sisa noda semen kering. Suara klakson bus dan teriakan pedagang asongan memenuhi telinga, namun hati Arjuna tetap tenang sedalam air sumur.

.

"Tahu... tahu! Aqua... aqua!" teriak para pedagang asongan bersahutan.

.

Arjuna duduk di pojok terminal, dekat tempat pembuangan sampah yang baunya menyengat. Tiba-tiba, seorang Orang Gila dengan pakaian compang-camping yang sudah menyatu dengan kulit, rambut gimbal, dan tertawa-tawa sendiri sambil membawa tulang ayam sisa, mendekat.

.

Orang gila itu duduk tepat di samping Arjuna. "Heh, kuli semen! Bagianmu mana? Ini tulangku, mana tulangmu? (Heh, kuli semen! Bagianmu endi? Iki balungku, endi balungmu?)" tanya orang gila itu sambil tertawa terbahak-bahak.

.

Orang-orang yang lewat menutup hidung dan menjauh. "Halah, gembel ketemu orang gila! Pas banget!" ejek salah satu sopir bus yang sedang beristirahat.

.

Arjuna tidak merasa risih. Ia justru tersenyum, lalu mengambil sedikit air putih dari botolnya. "Tidak punya tulang, Mbah. Hanya punya doa. (Mboten nggadhahi balung, Mbah. Namung nggadhahi donga.)"

.

Orang gila itu berhenti tertawa. Matanya yang tadinya tampak buram, tiba-tiba menjadi sangat tajam seperti keris yang baru diasah. Ia mengendus punggung Arjuna.

.

"Wangi... baunya bunga surga. Tapi kok mau jadi sampah di sini? (Wangi... mambune kembang suwargo. Naging kok gelem dadi sampah neng kene?)" bisik orang gila itu, suaranya berubah menjadi berat dan berwibawa.

.

Seketika itu, Kyai Loreng yang berada di dimensi gaib langsung menunduk dan memejamkan mata. Harimau putih itu tidak berani menatap orang gila tersebut. Ternyata, orang gila di depan Arjuna ini bukan orang sembarangan—ia adalah sosok Wali Penyamar yang tingkatannya jauh di atas manusia biasa.

.

"Mencari sejatinya hidup, Mbah. (Madosi sejatine urip, Mbah,)" jawab Arjuna dengan penuh hormat.

.

Orang gila itu mengambil debu dari tanah, lalu melemparkannya ke wajah Arjuna. Pyarrr! Arjuna tidak memejamkan mata, tatapannya tetap tenang. Debu itu ajaibnya berubah menjadi butiran emas yang jatuh di sarung Arjuna, namun Arjuna sama sekali tidak mempedulikan emas itu.

.

"Pintar kamu! Emas kok kamu biarkan jadi debu. Sekarang ikut aku! Ada 'surat' yang harus kamu ukir pakai darahmu sendiri. (Pinter kowe! Emas kok mbok jarke dadi lebu. Saiki melu aku!)"

.

Orang gila itu berlari sangat cepat menuju arah selatan, melompati pagar terminal seolah-olah terbang. Arjuna langsung mengikuti, berlari secepat angin mengejar langkah kaki sang Guru baru tersebut.

.

Di jalan raya, mobil mewah Keluarga Wijaya lewat. Guntur ada di dalam mobil itu, sedang tertawa bersama pacarnya. Guntur melihat Arjuna yang sedang berlari mengejar orang gila, lalu Guntur meludah keluar jendela.

.

"Lihat itu! Orang gila mengejar orang sinting! Hahaha! Dasar sampah!" ejek Guntur.

.

Arjuna mendengar, namun ia justru mendoakan Guntur agar selamat. Ia terus berlari mengikuti sang Guru menuju pesisir Parangtritis. Di sana, ada rahasia Kultivasi Batin yang lebih dahsyat yang sedang menunggu Arjuna.

.

"Zikir Sirri tidak bisa berhenti di sini, Kyai... (Zikir Sirri mboten saged mandheg neng kene, Kyai...)" batin Arjuna sambil terus berlari menembus debu jalanan.

Gemuruh ombak Pantai Parangtritis menyambut kedatangan Arjuna dan si Orang Gila yang berlari laksana angin. Matahari hampir tenggelam, menciptakan garis cakrawala berwarna merah darah yang sangat indah namun mencekam.

.

Si Orang Gila itu berhenti tepat di bibir pantai, di mana ombak setinggi dua meter berkali-kali menghantam karang. Ia tertawa terbahak-bahak, lalu tiba-tiba melempar tas kusam Arjuna ke tengah laut!

.

"Hahaha! Tulisanmu, duniamu, dan kesombonganmu... biarkan dimakan ikan!" teriak si Orang Gila sambil menunjuk ke arah tas yang terombang-ambing ombak.

.

Arjuna tertegun. Di dalam tas itu ada Lontar Gaib yang ia ukir dengan susah payah. Namun, sedetik kemudian, Arjuna tersenyum tulus. Ia melepaskan ikat kepalanya dan bersimpuh di atas pasir yang basah.

.

"Jika itu kehendak-Mu, biarlah semua hanyut, Gusti... (Yen niku kerso-Mu, kersane sedoyo kentir, Gusti...)" bisik Arjuna pasrah.

.

Melihat ketenangan Arjuna, si Orang Gila itu mendadak diam. Ia berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Arjuna. "Sekarang, duduklah di atas air itu. Jangan tenggelam sebelum kau bisa menuliskan nama Tuhanmu di atas ombak!"

.

Arjuna melangkah masuk ke dalam air yang dingin. Setiap langkahnya membuat air laut itu seolah-olah mengeras menjadi lantai kaca. Kyai Loreng muncul di permukaan air, berjalan dengan gagah di samping Arjuna.

.

Arjuna duduk bersila tepat di jalur ombak yang paling besar. Blar! Sebuah ombak raksasa menghantam tubuhnya, namun Arjuna tidak bergeser satu senti pun. Ia mulai menggetarkan Zikir Sirri dari dalam relung jantungnya yang terdalam.

.

Di saat yang sama, jauh di Jakarta, Guntur sedang berpesta pora di sebuah kelab malam. Tiba-tiba, ia merasakan dadanya sesak luar biasa, seolah-olah ia sedang tenggelam di dasar laut. Ia jatuh tersungkur di lantai dansa, megap-megap mencari udara.

.

"Guntur! Kamu kenapa?!" teriak pacarnya panik.

.

Guntur tidak bisa menjawab. Secara gaib, setiap hantaman ombak yang diterima Arjuna di Parangtritis, sedang "mencuci" kotoran hati dan nasib buruk yang seharusnya menimpa Guntur dan Pak Wijaya malam itu. Arjuna kembali memanggul bala bantuan bagi keluarganya di tengah kesunyian samudera.

.

Tiba-tiba, dari arah laut, muncul sosok wanita anggun berpakaian hijau sutra yang sangat cantik. Ia hanya tampak oleh mata batin Arjuna. Wanita itu tersenyum dan memberikan kembali tas kusam Arjuna yang tadi dibuang.

.

"Bawa ini, Satria... namamu sudah tertulis di Lauhul Mahfudz sebagai penjaga tanah ini," ucap sosok tersebut sebelum menghilang menjadi buih laut.

.

Arjuna membuka matanya. Tasnya kembali ke pangkuannya, dan ajaibnya, seluruh daun lontar di dalamnya kini berwarna emas murni tanpa ada sedikit pun air yang membasahinya.

.

Si Orang Gila di pinggir pantai bersujud syukur. "Lulus! Kamu sudah lulus ujian laut! Sekarang, namamu bukan lagi Arjuna sang kuli, tapi Syekh Arjuna Sang Musafir Sirri!"

.

Arjuna berjalan kembali ke pantai dengan langkah ringan. Ia telah menguasai satu tingkat lagi ilmu Malamatiyah: Ilmu tentang Keikhlasan Mutlak.

.

Malam itu, Arjuna bermalam di sebuah goa karang. Ia mulai mengukir rencana baru. Ia tahu, sebentar lagi ia akan dipanggil kembali ke Jakarta, bukan untuk menjadi kuli, melainkan untuk menyelamatkan ayahnya yang akan dikhianati oleh mitra bisnisnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!