Seorang pemuda bernama Wang Fei yang dianggap lemah dan tertindas berusaha mendobrak batasan dan ingin menentukan nasibnya sendiri dengan menjadi lebih kuat.
"Jika langit tidak adil dan ingin membatasi takdirku, maka aku bersumpah akan meruntuhkan langit itu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jin kazama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. Amarah Induk Belalang Sembah.
Bab. Amarah Induk Belalang Sembah.
"Mati! Mati! Mati!"
Belalang Sembah terus mengucapkan kalimat itu sambil mengayunkan lengannya untuk menebas. Kali ini amarah telah menguasai kesadarannya, sehingga yang tersisa hanyalah naluri dari binatang buas yang membunuh lawannya tanpa ampun.
Atau lebih tepatnya, dia telah memasuki keadaan mengamuk di mana hanya ada insting membunuh di dalam dirinya.
Namun, meskipun begitu, di bawah tekanan yang luar biasa seperti ini, cahaya di mata Wang Fei bukannya meredup, tetapi justru menyala menjadi semakin terang.
"Memangnya kenapa kalau lebih kuat? Aku tidak akan mati semudah itu! Siapa yang membunuh siapa, semuanya masih belum bisa diputuskan!" gumamnya dengan tekad yang menyala-nyala.
Seketika, semangat bertarungnya bangkit, dan pada saat itu Jiwa Perang Shio Kerbau yang ada di dalam tubuhnya mulai bersinar. Namun berbeda dengan sebelumnya, jika dahulu itu muncul dan memadat lalu menjadi butiran cahaya, kali ini prosesnya menjadi lebih cepat. Ketika cahaya dari Jiwa Perang itu bersinar, kekuatan pelahap langsung menyerapnya sehingga auranya kembali meletus dengan hebat.
"BOOM!"
Bagaikan bom energi yang meledak, gelombang kejut yang dihasilkannya mampu mendorong Belalang Sembah untuk mundur sejauh enam langkah.
Merasakan adanya kesempatan, Wang Fei segera mundur menjauh untuk mengambil napas.
Sekali lagi sebutir pil energi ditelan, dan ketika meleleh, pil itu langsung dimurnikan sehingga energi spiritualnya yang banyak terkuras kembali pulih.
Regenerasinya yang sebelumnya terhambat karena serangan yang bertubi-tubi kini akhirnya bisa bekerja dengan lebih baik.
Dalam batas waktu tertentu itu, Dantian Batu menjadi lebih agresif. Kekuatan penelan mulai menyedot energi dari segala arah sehingga bekerja dengan sangat cepat dalam proses regenerasinya.
Rasa sakit pun secara perlahan mulai banyak berkurang.
Dan juga kejutan yang paling menyenangkan adalah... tanpa disadari Langkah Petirnya menjadi semakin terampil, gerakannya menjadi lebih halus, dan tubuhnya juga terasa jauh lebih ringan.
Meskipun awalnya itu hanya sebuah peningkatan kecil karena tidak bisa mengimbangi kecepatan dari Belalang Sembah yang luar biasa, tetapi secara perlahan tebasan-tebasan yang mampu dilancarkan oleh Belalang Sembah juga sebagian besar mampu ditangkis olehnya sehingga luka-luka yang ada di tubuhnya kini menjadi semakin sedikit.
Di sisi lain, Belalang Sembah yang terpental seketika langsung menunjukkan amarah yang luar biasa. Dengan gila, matanya yang merah darah menyala semakin terang.
Niat membunuh yang tak terbendung akhirnya menyembur deras.
Bagaikan gelombang tsunami dan tanah longsor, badai angin dan logam berputar semakin kencang sehingga menciptakan kehancuran yang semakin meluas.
Lalu, dengan kecepatan yang melampaui nalar, sosoknya kembali melesat dengan kecepatan tinggi sambil menebaskan lengan sabitnya ke arah Wang Fei.
Wang Fei sendiri juga tidak kalah ganasnya. Ketika Xue Jian diangkat, api petir tiga warna berkobar dengan liar, diiringi dengan pedang energi dari atribut gelap yang mulai mengembun menjadi sepuluh bagian.
Senjata-senjata tersebut akhirnya maju serentak bersama Wang Fei untuk menggempur Belalang Sembah.
Namun, seperti kata pepatah, di bawah dominasi kekuatan absolut, semua kekuatan yang lebih lemah tidak ada artinya.
Pedang energi yang sebelumnya mampu menembus tubuhnya dengan mudah kini hanya dengan satu kali sapuan lengan mampu dihempaskan semuanya hingga terpental beberapa meter.
Bahkan dalam prosesnya, semuanya meledak dan hancur berkeping-keping di udara.
"DUAR! DUAR! DUAR!"
Melihat itu, Wang Fei sama sekali tidak terkejut. Dia justru mulai menebas dan menyerang titik-titik vital dari monster Belalang Sembah.
Meskipun tahu kerusakan itu mungkin tak berarti, tetapi jika luka kecil ditumpuk terus-menerus dan kecepatannya juga ditingkatkan hingga maksimal, maka lambat laun dia pasti akan berhasil.
Akhirnya terjadilah pertempuran yang sangat sengit dan juga menegangkan antara Wang Fei dan Belalang Sembah.
Meskipun beberapa kali tubuhnya masih terluka oleh sabetan sabit logam, akan tetapi Wang Fei yang sudah menjadi penggila perang sama sekali tidak peduli. Eksekusi Pedang Kilat dan Pedang Terbang juga menjadi semakin cepat.
Menyaksikan pemandangan itu, Belalang Sembah yang sebelumnya sangat agresif dan ganas menjadi sangat gelisah.
Meskipun kesadarannya tenggelam, namun seiring dengan berjalannya waktu dan menyusutnya keganasan dari pembakaran esensi darah dan juga inti iblis, maka kesadarannya pun secara perlahan mulai kembali.
"Sialan! Apa-apaan ini? Kenapa bocah ini tidak mati dan justru menjadi semakin ganas? Apakah dia benar-benar dari ras manusia?" serunya dengan penuh keterkejutan.
...◦~●❃●~◦...
Di kejauhan medan perang, sang pembunuh bayaran terus mengawasi keduanya. Semakin lama dia melihat, keterkejutan yang ada di matanya pun menjadi semakin hebat.
Meskipun dia adalah seorang kultivator yang berada di Ranah Pembentukan Inti Level 9 Tahap Puncak, dia sama sekali tidak berani meremehkan kemampuan dari Belalang Sembah.
Tak peduli apa, meskipun dalam mode mengamuk kekuatannya hanya berada di Tingkat 5, tetapi dengan kecepatan seperti itu, jika dia yang menghadapinya, bisa dipastikan dia akan kelelahan dan mati dalam penindasan amukan Belalang Sembah.
Dan ketika menatap Wang Fei, keserakahan yang ada di matanya menjadi semakin pekat.
"Bocah itu memiliki terlalu banyak rahasia. Apa pun yang terjadi, aku harus mendapatkan rahasia itu," ucapnya sambil tersenyum menyeringai.
Berbeda dengan sosok raksasa yang berjarak satu kilometer dari pembunuh bayaran tersebut. Dahi monster itu justru berkerut dalam.
"Bahkan setelah membakar esensi darah dan juga inti iblisnya, putraku masih belum mampu membunuhnya? Sungguh mengejutkan!" serunya dengan tak percaya.
Setelah menghela napas panjang, dia kembali berkata,
"Kali ini tampaknya aku harus mengambil tindakan. Jika tidak, maka putra bodohku yang sombong itu akan benar-benar mati di tangannya."
Secara mengejutkan, ternyata Belalang Sembah yang mengintai di balik bayang-bayang merupakan induk dari Belalang Sembah yang saat ini bertarung sengit melawan Wang Fei. Kekuatannya sendiri juga sangat mengerikan.
Ketika dia datang, semua monster menggigil dan gemetar ketakutan. Kebanyakan dari mereka memilih untuk bersembunyi dan tidak berani keluar sedikit pun dari sarang mereka.
Bagaimana tidak? Tempatnya bukan di sini, melainkan di wilayah tengah yang jauh lebih dalam. Bahkan di antara para monster iblis, kekuatannya sendiri telah mencapai Bintang 5. Itu setara dengan seorang kultivator dari ras manusia yang berada di Ranah Gerbang Bumi.
Selama ini dia menyembunyikan napasnya sehingga pembunuh bayaran berjubah hitam yang bersembunyi sama sekali tidak mengetahui keberadaannya. Jika tidak, maka dia tidak akan pernah berani berlama-lama di sana dan akan memilih pergi untuk menyelamatkan diri.
Gila saja, itu adalah Binatang Iblis Bintang 5. Di bawah dominasi makhluk dengan kekuatan seperti itu, pembunuh bayaran tersebut bagaikan setitik debu yang tak berarti.
Dan tepat ketika induk Belalang Sembah ingin mengawasi sedikit lebih lama, kejadian yang tak terduga terjadi. Di medan perang, nyawa putranya benar-benar terancam oleh bahaya kematian.
Ketika pedang tajam tersebut mengayun untuk menebas kepalanya, sang induk pun akhirnya meraung dengan suara yang menggelegar dari segala penjuru hutan.
"Dasar bajingan! Berhenti! Beraninya kau ingin membunuh putraku!" ucapnya dengan lantang.
Matanya melotot tajam karena marah, bahkan saking marahnya seolah mata itu mampu menyemburkan api.
Detik berikutnya, aura yang begitu ganas dan luar biasa dahsyat pun meletus. Gelombang energi angin bercampur dengan kekuatan logam segera menyebar ke segala arah. Energi tersebut segera bermanifestasi menjadi bilah-bilah tajam yang mampu menembus dan mengoyak segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Hanya dalam waktu singkat, pohon-pohon besar yang rapat dan padat langsung tercabik-cabik dan hancur menjadi serpihan.
Didukung dengan kecepatan angin, sosok raksasanya melesat bagaikan gunung besar yang bergerak seperti badai. Dan tepat ketika matanya menyipit menatap ke arah sosok manusia berjubah hitam yang menatapnya dengan teror,
amarahnya kembali melonjak naik.
Induk Belalang Sembah berpikir,
"Siapa bajingan kecil ini? Apakah dia rekan dari ras manusia itu? Apakah dia sedang diam-diam mengamati situasi dan ingin memberikan serangan mendadak pada putraku? Dasar sialan! Mati!" gumamnya dengan niat membunuh yang menyala-nyala.
Detik berikutnya, lengan raksasanya yang sangat tajam serta berbentuk sabit logam segera terayun dengan kencang.
Bagaikan diterjang amukan badai, wajah pembunuh bayaran itu menjadi sangat pucat.
"Ah... Tidak! Tidak! Jangan! Aku tidak ingin ma..."
"SLASH!"
Belum sempat kata-katanya selesai, tubuhnya sudah terbelah menjadi dua bagian. Darah merah pun menyembur deras, dan ketika energi angin badai yang bercampur logam menderu, sisa potongan tubuhnya tercabik-cabik dan hancur menjadi serpihan daging cincang yang tersebar ke berbagai arah.
Sungguh nasibnya begitu tragis. Niat hati ingin menjadi kuat dengan mewarisi semua teknik milik Wang Fei dan menjadi yang tertinggi di dunia, namun sebelum angan-angannya sempat terwujud, dia sudah mati di bawah pembunuhan dari induk Belalang Sembah yang salah paham.
izin iklan ya guys aku baru up butuh bantuan teman2 buat baca novel ku
utk itu saya uplaus satu vote