"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 NAMA YANG SEMAKIN HANGAT
Nama Kai kini tidak lagi sosok yang dingin dan cuek, tapi...
Usil dalam mode kalem.
Sepanjang malam, Ana terus saja melihat pesan itu dan membuatnya bingung dan malu.
"(Tarik nafas, hembuskan perlahan.) Tenang Ana, tenang.."
"Ini pasti mimpi."
Mengacak rambutnya pelan. Gadis itu sangat penasaran dengan Kai yang baru ia kenal.
"Siapa sebenarnya Kai? Kenapa dia tau nama waktu kecil aku ya?"
Melihat ke arah jam, "Jam 2 malam?! Gawat, nanti aku bisa bangun terlambat!" pekik Ana dan langsung memejamkan matanya.
Keesokan paginya, Ana menuruni tangga dan sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
"Ibu, aku berangkat ya."
"Kamu nggak sarapan dulu?" tanya Ibu yang sudah duduk di meja makan bersama kedua anaknya yang lain.
"Aku bisa sarapan di Sekolah. Dah." timpalnya.
"Uh.. dia terlihat sangat rapih hari ini. Ana lagi jatuh cinta, kah?" tanya Citra lalu menyesap teh nya.
"Nggak boleh. Harus belajar giat dulu. Baru boleh punya pacar." gerutu Ibu, Citra langsung menoleh ke arah Raka yang sedari tadi memakan makanannya dengan tak semangat.
"Hem. Nanti seperti dia putus cinta, CK." ketus Citra, lalu beranjak dari meja makan setelah selesai sarapan.
Ayah yang baru keluar dari dapur, bingung, "Semua orang pada kemana?" Sambil membawa teflon ditangannya.
Raka pun ikut pergi dan berpamitan pada orang tuanya, suasana kembali sunyi.
"Anak - anak kita sibuk banget ya." sahut Ayah mencoba menghangatkan suasana.
Tapi, hanya dapat tatapan sinis dari istrinya.
"Aku juga mau pergi sekarang ke Kedai. Kamu jangan lupa cuci piring ya." tegas Ibu.
"Oke sayang. Hati hati dan semangat bekerja!"
Tatapan sinis yang kedua untuk suaminya di pagi hari yang sangat cerah ini.
Ayah hanya tersenyum, sambil melambaikan tangan. Sudah terbiasa dengan sikap istrinya itu.
Di dalam bis, semua menatap Ana penuh kagum dan suka.
"Dia sangat cantik,"
"Apa kita minta nomor ponsel-nya?"
"Aku rasa dia udah punya pacar.."
Pemuda - pemuda yang duduk di belakang bis mulai membicarakannya.
"Pacar?" batin Ana, tak sadar ia tersenyum ketika ada yang sebut kata 'pacar'.
Bis pun berhenti di depan Gerbang, Ana langsung turun setelah membayar.
Menarik nafas gugup, Ana berjalan sambil melihat sekelilingnya. Tampak normal.
"Ternyata Kai, nggak membocorkan rahasia setelah malam itu. Tapi, aku masih belum bisa percaya sama dia 100%." batin Ana, masih curiga dengan kebaikan Kai.
Di lorong kelas, terlihat Nathan sedang memainkan ponselnya dan tidak melihat Ana. Ana yang melihat hal itu, langsung mengendap - endap berjalan seperti kepiting agar Nathan tidak bisa mengganggunya.
"Hum? Dia kayaknya nggak tahu aku ada disini. Aku harus jalan pelan - pelan."
Jalan terjinjit - jinjit, tapi itu adalah keputusan terbodoh yang dilakukan Ana.
"Oi! Kamu berusaha menghindar dari aku, ya?" celetuk Nathan.
[Menoleh dengan mata gemetar.]
"Nggak." singkatnya, kembali berjalan normal.
Nathan melebarkan tangannya untuk menghalangi jalan Gadis itu. "Tunggu. Urusan kita belum selesai, lho.."
"Urusan apa? Sebentar lagi bel masuk bunyi, ayolah minggir."
Nathan masih tetap menghalangi jalan Ana. Ana berniat menyeruduk namun,,
Namun, tersandung oleh kaki sendiri dan Nathan yang sedang menghalangi jalannya, berubah jadi menangkapnya dalam pelukan.
BUGH!
Ana terkejut begitupun dengan Nathan.
Ana yang sadar posisi mereka saling berpelukan, pun langsung membenarkan posisinya dan menjauh.
Rasa canggung keduanya pun dimulai, tapi entahlah Nathan tidak begitu canggung tapi jantungnya yang berdebar kencang.
Dan di kesempatan itu, Ana langsung pergi meninggalkan Nathan dengan raut wajah malu.
"Kejadiannya begitu cepat, "Fyuh... Jantungku rasanya mau meledak." sahut Nathan, sambil mengelus - elus dadanya.
Sesampainya di Kelas, Kai sudah duduk di rapi di meja lebih dulu. Dan saat Ana akan duduk di mejanya sendiri, Kai mengisyaratkan dengan jarinya agar Ana menghampirinya.
Ana hanya memandangnya dan mengangkat satu alisnya. Tak menggubris.
Ting!
[Pesan dari Kai.]
Ana membacanya dan pesan itu bertuliskan, "Kenapa mengabaikan perintahku? Kamu lupa, aku masih pegang rahasia-mu?"
"Apa?! Kenapa dia memanfaatkan kejadian semalam?" batin Ana dalam hatinya jadi kesal.
Ana dengan terpaksa menghampiri meja Kai.
"Ada apa, Kai?" sambil tersenyum.
"Kamu jangan senang dulu, aku harus mengerjakan tugas - tugas. Jadi, ke perpustakaannya besok aja." jelas Kai dengan nada serius.
Ana terkejut dan senyum sumringah.
"Oh begitu, nggak apa - apa kok. Kita nggak perlu-"
"Maksud kamu nggak perlu, apa? Kita tetap belajar bersama besok." gerutu Kai, lalu menoleh ke arah jendela.
"Hehe,, oke. Besok kita belajar bersama." jawab Ana.
Mendengar kalimat itu, Kai langsung menatap sangat lembut ke arah Ana dan membuat Ana gugup.
"Kenapa Kai bersikap kayak gini? Berubah - ubah kayak bunglon." batin Ana, bingung.
"Oke deh, kalau gitu aku kembali ke meja ya. Semangat." sahut Ana, lalu kembali ke meja nya.
Kai menatap Ana, tanpa sadar tersenyum melihat tingkah manis Ana. Membuat jantungnya berdebar.
Terlihat guru pelajaran pertama masuk dan menyapa mereka.
"Semuanya tampak cerah, termasuk Kai. Hari ini, sepertinya kamu sedang bahagia ya? Aih! Ibu senang deh lihat kamu senyum dikit gini. Nggak cuek lagi." Sahut Bu Shinta, Guru Bahasa Inggris yang juga mengagumi ketampanan Kai.
[Semua tampak serentak melihat ke arah Kai.]
Kai kembali cuek, ekspresinya datar. Merasa malu.
Ana pun ikut menengok ke belakang yang semakin membuatnya gelagapan. Wajah tampannya langsung menoleh ke arah jendela.
"Woh... Kai, bisa tersenyum juga ya? Momen langka." celetuk Sheila dan Jeje hanya menatap tanpa ekspresi ke arah Kai dan bergantian kini ke arah Ana.
Ana yang tak pernah menganggap itu hal yang serius pun, hanya fokus pada catatannya.
"Baiklah, baiklah. Jangan membuat Kai semakin malu. Sekarang buka buku catatan kalian!" tegasnya, karena situasi semakin tak kondusif apalagi beberapa siswa perempuan bersiul dan bersorak menggoda Kai.
Ana yang sedang membaca lembar demi lembar catatannya itu, menjadi pemandangan yang tidak membosankan bagi Kai yang diam - diam memandangnya.
[Guru menjelaskan, tapi tatapannya hanya pada satu gadis. Ana.]
Angin sepoi - Sepoi menyapu lembut rambut Ana. Dan tatapannya serius membaca buku, sangat menggemaskan.
"Aku kenapa sih? Kenapa aku terus lihat dia." batin Kai, menahan dirinya.
Disisi lain, Nathan yang berada di kelas yang berbeda dengan Kai dan Ana, tak sengaja melihat jus yang pernah ia berikan untuk Ana.
"(Tersenyum.) Aku beli jus-mu. Itu masih baru, kan?" tanya Nathan, sambil menunjuk jus di meja Ian.
"Bos kalau mau beli aja sendiri."
"Kamu udah berani?" tanya Nathan dengan menaikkan satu alisnya.
"Huft, baiklah. Ambil aja, nggak perlu bayar." jelas Ian.
"Nggak. Aku beli jus nya, nih." Menyodorkan selembar uang.
"Buat siapa sih? Bukannya, bos nggak suka jus semangka?" tanya Ian, bingung.
Nathan tersenyum miring.
#Bersambung...