Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - MHB
Rencana akhir pekan itu datang dalam bentuk perintah mutlak yang dikemas dengan pita manis bernama "liburan keluarga." Baskoro dan Haryo sepertinya belum puas hanya dengan menikahkan mereka; kini mereka menuntut bukti bahwa investasi perjodohan ini membuahkan hasil berupa keintiman. Maka, di sinilah mereka, berkendara menuju vila keluarga di daerah Puncak yang terpencil, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta.
Bagi Maya, liburan ini hanyalah perpindahan kantor. Di kursi penumpang, ia mendekap tas laptopnya seolah itu adalah tabung oksigen. Pikirannya sudah penuh dengan revisi kampanye iklan yang harus selesai Senin pagi. Baginya, pemandangan pohon pinus yang mulai berkabut di luar jendela hanyalah gangguan latar belakang.
"Maya, kamu tahu kan definisi liburan itu apa?" tanya Arka sambil memutar kemudi dengan santai. "Itu kegiatan di mana kamu tidak menatap layar berukuran empat belas inci selama empat puluh delapan jam."
Maya tidak menoleh, jemarinya sibuk mengetik di ponsel. "Aku punya tanggung jawab, Arka. Tidak semua orang punya kemewahan untuk mematikan otak dan hanya menikmati udara pegunungan."
Arka hanya tersenyum simpul, sebuah senyuman yang seharusnya membuat Maya waspada. Pria itu sudah belajar satu hal tentang istrinya: Maya tidak akan berhenti kecuali dipaksa berhenti.
Vila itu berdiri kokoh di lereng bukit, dikelilingi oleh kabut tebal yang mulai merayap naik. Begitu sampai, Maya langsung mencari pojok ruangan yang paling dekat dengan stopkontak. Ia membuka laptopnya dengan antusiasme yang aneh, namun tangannya meraba-raba ke dalam tas dan tidak menemukan apa pun.
Ia menggeledah kompartemen depan, samping, hingga membalikkan tas itu ke atas tempat tidur. Kosong.
"Arka!" teriakan Maya menggema di langit-langit kayu vila.
Arka yang sedang menyalakan perapian di ruang tengah hanya menyahut malas, "Ya, Sayang?"
Maya berlari menghampirinya dengan wajah merah padam. "Kabel charger-ku. Kamu lihat?"
Arka berdiri, menepuk-nepuk debu dari tangannya. Ia menatap Maya dengan ketenangan yang menjengkelkan. "Oh, benda panjang berwarna hitam yang biasanya bikin kamu jadi robot itu? Sepertinya dia tertinggal di apartemen. Atau mungkin dia lelah dan memutuskan untuk tidak ikut liburan."
"Jangan bercanda! Aku tahu kamu yang mengambilnya!" Maya mencoba meraba saku jaket Arka, namun pria itu dengan mudah menangkap kedua pergelangan tangan Maya, menguncinya di depan dada.
"Dengar, Kak," suara Arka merendah, bukan lagi suara adik tingkat yang jahil, tapi suara pria yang sedang menetapkan batas. "Wajahmu itu sudah pucat seperti mayat karena kurang tidur minggu ini. Kalau aku membiarkanmu bekerja malam ini, kamu akan ambruk sebelum kita sampai di Jakarta. Jadi, anggap saja kabel itu sedang disita oleh 'manajemen rumah tangga'."
"Kamu tidak berhak—"
Kalimat Maya terputus oleh suara guntur yang menggelegar, sangat keras hingga kaca jendela vila bergetar. Kilat menyambar, menyinari pepohonan di luar yang kini bergoyang hebat. Dalam sekejap, hujan turun dengan intensitas yang mengerikan, seolah langit baru saja dibelah.
Lalu, pet! Seluruh lampu di vila padam.
Kegelapan total. Ketakutan lama Maya kembali menyerang seketika. Tubuhnya menegang, dan tanpa sadar ia merapatkan diri ke arah Arka, satu-satunya sumber kehangatan di ruangan yang mulai mendingin itu.
"Gensetnya mati," gumam Arka. Ia bisa merasakan jantung Maya berdegup kencang melawan dadanya. "Tenang, aku di sini. Jangan lari ke mana-mana."
Udara di Puncak saat hujan badai bukan sekadar dingin; itu adalah dingin yang meresap ke dalam tulang. Perapian yang baru dinyalakan Arka belum cukup untuk menghalau suhu yang merosot tajam. Maya menggigil hebat, giginya gemeletuk.
"Ayo ke sofa depan perapian. Itu tempat paling hangat," ajak Arka.
Mereka duduk di sofa panjang, hanya diterangi oleh lidah api yang menari-nari di perapian. Arka menarik satu-satunya selimut wol tebal yang ada di ruangan itu. Ia menyampirkannya ke bahu Maya, namun melihat istrinya masih bergetar, ia menghela napas.
"Sini," Arka menarik Maya ke dalam dekapannya, membungkus mereka berdua dengan satu selimut yang sama.
Awalnya Maya ingin protes. Otaknya memutar aturan nomor empat dan nomor enam seperti kaset rusak. Tapi tubuhnya memiliki logika sendiri. Kehangatan tubuh Arka terasa begitu nyata dan menyelamatkan. Maya akhirnya menyerah, menyandarkan kepalanya di bahu Arka, dan membiarkan selimut itu melingkupi mereka berdua.
"Kenapa kamu selalu melakukan ini?" bisik Maya di tengah deru angin di luar.
"Melakukan apa?"
"Mengganggu rencanaku. Menyita kabelku. Memaksaku melakukan hal-hal yang tidak ingin kulakukan."
Arka terdiam sejenak, tangannya mengusap lengan Maya di balik selimut untuk memberi kehangatan ekstra. "Karena kamu terlalu sibuk menjadi 'Maya sang Direktur' sampai kamu lupa cara menjadi 'Maya sang Manusia'. Kamu butuh seseorang yang berani dibilang menyebalkan hanya untuk memastikan kamu tetap sehat."
Maya terdiam. Ia menatap api yang mulai stabil di depannya. Di bawah satu selimut ini, status mereka sebagai senior dan junior, sebagai orang yang dipaksa menikah, seolah menguap. Yang ada hanyalah dua manusia yang sedang mencari kehangatan di tengah badai.
Maya menyadari sesuatu: ia tidak merasa terancam. Sebaliknya, ada rasa aman yang aneh yang mulai menjalar. Ia merasa tidak perlu lagi memasang wajah kaku. Di bawah perlindungan Arka dan selimut tebal ini, ia merasa diperbolehkan untuk menjadi lemah sejenak.
"Arka..."
"Ya?"
"Terima kasih. Soal bahasamu itu... mungkin kamu benar. Aku memang butuh berhenti sejenak."
Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan pelukannya, mengecup puncak kepala Maya dengan sangat lembut. Maya tidak menghindar. Ia justru menutup matanya, menghirup aroma maskulin Arka yang bercampur dengan bau kayu bakar.
Malam itu, badai di luar memang mengamuk, namun di dalam vila yang gelap, badai di hati Maya perlahan tenang. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa berbagi selimut dengan Arka bukan lagi soal kewajiban atau akting di depan orang tua. Itu adalah tentang menemukan rumah di tempat yang paling tidak ia duga pada diri seorang pria yang dulu ia anggap sebagai bocah, namun kini terbukti menjadi pelindung paling tulus yang pernah ia miliki.
Mereka tertidur di sofa itu, terbungkus dalam satu kehangatan.
Bersambung....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡