Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.
Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.
Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Kedamaian
"Keadilan sering kali terasa seperti akhir dari sebuah perjalanan, namun tak jarang ia hanyalah pintu gerbang menuju misteri yang lebih dalam. Saat kita merasa paling aman dan paling bahagia, saat itulah biasanya kebenaran yang paling mengejutkan justru mulai menampakkan dirinya. Tidak ada yang pernah benar-benar berakhir sampai semua lembaran kisah terbaca tuntas."
...****************...
Hari-hari setelah penangkapan Hengki dan Luna terasa begitu tenang dan damai. Angin sepoi-sepoi bertiup masuk melalui jendela kamar, membawa aroma bunga dari taman yang selama ini terabaikan karena kesedihan.
Di ruang tengah kediaman utama keluarga Abraham, suasana kini dipenuhi tawa dan kehangatan. Pak Abraham tampak jauh lebih muda dan bersemangat dibandingkan beberapa bulan lalu. Beban di pundaknya telah hilang, digantikan oleh rasa bangga terhadap putra bungsunya dan calon menantunya.
"Jadi, kapan kalian berencana menggelar pernikahan?" tanya Pak Abraham tiba-tiba sambil menyeruput teh hangatnya.
Pertanyaan itu membuat wajah Rosella serta-merta memerah padam. Ia menunduk malu, sementara Hariz tersenyum lebar menatap kekasihnya.
"Kami belum membahas detailnya, Yah," jawab Hariz lembut. "Yang penting sekarang Ella sudah tenang dan merasa aman. Tapi kalau Ayah bertanya, saya siap kapan saja. Saya ingin segera mengikatnya dengan ikatan yang sah dan halal secepat mungkin."
Rosella mendongak, menatap Hariz dengan mata berbinar. "Riz..."
"Ayah sangat senang mendengarnya," sahut Pak Abraham dengan senyum lebar. "Kalian berdua sudah melewati api, melewati badai, dan membuktikan bahwa cinta kalian tulus. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Mulai hari ini, kalian bebas mencintai satu sama lain tanpa perlu memikirkan masa lalu."
Malam harinya, saat bulan purnama bersinar terang, Rosella diam-diam keluar menuju taman belakang. Ia duduk di bangku kayu, menatap langit dengan pandangan kosong.
"Arkan... Kakak sudah berhasil. Kakak sudah balaskan dendammu..." bisiknya pelan, air mata jatuh lagi. "Tapi kenapa Kakak masih merasa hampa? Kenapa rasanya Kakak masih sendirian?"
Tiba-tiba, sebuah selimut halus terbungkuskan ke bahunya. Rosella menoleh, melihat Hariz berdiri di sana dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Belum tidur, Ell?" tanya Hariz lembut, lalu duduk di sampingnya.
"Aku kangen Arkan, Riz... Aku bersyukur dia sudah tenang, tapi aku rindu suaranya, rindu kebersamaan kita," jawab Rosella lirih.
Hariz mengangguk mengerti, lalu memeluk bahu wanita itu erat-erat.
"Rindu itu wajar, Ell. Rindu itu bukti kalau cinta kita pada mereka tidak pernah mati. Arkan pasti sangat bangga sama kamu. Dia melihat dari atas, dan dia pasti senang melihat Kakak sekarang bisa tersenyum lagi."
Hariz menatap dalam ke manik mata Rosella.
"Dan mulai sekarang, Kamu tidak akan pernah sendirian lagi. Aku akan ada di sini, mengisi hari-harimu, menjadi teman berbagi, menjadi pelindung, dan kelak akan menjadi suami yang setia sampai tua nanti. Biarkan aku mencintaimu sepenuhnya, agar luka di hatimu perlahan sembuh total."
Rosella membenamkan wajahnya di dada bidang Hariz, merasakan detak jantung yang stabil dan menenangkan. "Terima kasih, Hariz... Terima kasih sudah datang dalam hidupku yang gelap ini."
Beberapa bulan berlalu. Persiapan pernikahan Hariz dan Rosella berjalan lancar. Pak Abraham membebankan seluruh urusan kepada panitia, ia ingin memberikan pernikahan termewah dan terindah untuk putra dan calon menantunya sebagai bentuk penebusan dosa.
Rosella tampak semakin cantik dan berseri. Kesedihan di wajahnya perlahan berganti menjadi senyum yang manis dan tulus. Hariz pun sibuk membenahi perusahaan yang sempat porak-poranda akibat ulah Hengki. Dengan kecerdasannya, perlahan tapi pasti nama baik Grup Abraham kembali pulih bahkan menjadi lebih kuat.
Namun, ketenangan itu mulai terganggu oleh kabar yang datang dari penjara.
Suatu siang, Hariz dipanggil oleh pengacara keluarga, Pak Budi, dengan wajah cemas.
"Ada apa, Pak Budi? Kenapa wajah anda begitu serius?" tanya Hariz saat mereka duduk di ruang kerja pribadi.
"Begini, Tuan Muda Hariz... Kami mendapat laporan aneh dari pihak penjara," jawab Pak Budi terbata-bata. "Tuan Hengki... dia mengaku tidak sendirian dalam kasus pembunuhan Arkan Faiz."
Hariz mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Bukankah dia dan Luna yang merencanakan semuanya? Bukankah buktinya sudah sangat kuat?"
"Benar, Tuan. Tapi... Tuan Hengki bersikeras mengatakan bahwa ada 'orang ketiga' yang menjadi otak utamanya. Orang yang memerintahkan dia untuk membereskan Arkan, dan orang yang juga mengatur aliran dana besar itu," jelas Pak Budi. "Dia bilang, dia hanya eksekutor, sedangkan dalang sebenarnya masih bebas dan berada di dekat kita."
Jantung Hariz berdegup kencang. Darah seakan berhenti mengalir sejenak.
"Siapa orangnya? Apa dia menyebutkan namanya?" tanya Hariz tegang.
"Dia menolak menyebutkan nama kecuali jika dia bertemu langsung dengan Anda atau Nona Rosella. Dia bilang hanya mau bicara pada kalian berdua. Dan dia mengancam, kalau permintaannya tidak dipenuhi, dia akan melakukan hal gila yang bisa menyeret nama keluarga lagi," lapor Pak Budi.
Hariz menunduk, pikirannya berkecamuk. Apakah ini hanya akal-akalan Hengki untuk membalas dendam atau mencari perhatian? Ataukah benar ada sesuatu yang terlewat?
"Baiklah, Pak Budi. Saya akan pergi menjenguknya besok," putus Hariz akhirnya. "Saya harus tahu kebenarannya. Kalau memang masih ada tikus yang bersembunyi, saya harus tangkap sebelum dia menggigit lagi."
Keesokan harinya, dengan pengawalan ketat, Hariz dan Rosella pergi ke Lembaga Pemasyarakatan tempat Hengki ditahan. Rosella awalnya menolak, ia takut melihat wajah orang yang telah menghancurkan hidupnya. Tapi Hariz meyakinkannya bahwa ia harus hadir agar semua selesai tuntas.
Suasana di dalam penjara sangat pengap dan dingin. Bau apek dan suasana suram membuat bulu kuduk merinding. Mereka dipersilakan duduk di ruang kunjungan, terpisah oleh kaca tebal dan telepon genggam.
Beberapa menit kemudian, Hengki muncul.
Penampilan pria itu sangat berubah. Rambutnya dipotong pendek, wajahnya pucat dan kurus, namun matanya masih menyimpan kilatan tajam yang sama. Ia tersenyum sinis melihat Hariz dan Rosella di seberang kaca.
Mereka mengangkat telepon masing-masing.
"Ada apa, Hengki? Katamu mau bicara?" tanya Hariz langsung tanpa basa-basi, nadanya dingin.
Hengki tertawa kecil, suara tawanya terdengar seram melalui saluran telepon. "Kelihatannya kalian bahagia sekali ya... Siap-siap mau nikah lagi. Hati-hati, siapa tahu pernikahan ini juga membawa sial seperti yang dulu."
"Jangan omong kosong kamu!" potong Rosella kali ini, suaranya bergetar menahan marah. "Kau panggil kami ke sini cuma untuk menghina? Apa yang kau mau katakan? Katakan sekarang!"
Hengki menatap Rosella, lalu mendesah pelan. "Aku mau memberitahu kalian... bahwa kalian belum menang sepenuhnya. Kalian hanya memenggal ekor ular, tapi kepalanya masih hidup dan akan tumbuh ekor baru."
"Maksudmu apa?" tanya Hariz tajam.
"Black Horizon... perusahaan cangkang itu... itu bukan ideku sepenuhnya," bisik Hengki, suaranya turun menjadi serius dan misterius. "Ada seseorang yang ebih berkuasa, dan jauh lebih kejam dariku yang memegang kendali utama. Aku hanya anak buah kecil yang mereka pakai."
"Siapa?!" desak Hariz.
Hengki tersenyum miring, lalu menempelkan wajahnya sangat dekat ke kaca, menatap Rosella lekat-lekat.
"Dia orang yang sangat kalian kenal, Rosella... Orang yang selama ini kalian anggap baik, orang yang ada di dekat kalian."
Hengki menunjuk ke arah luar jendela, seolah menunjuk ke arah kediaman Abraham.
"...Dan dia yang benar-benar menyuruhku membunuh Arkan. Karena Arkan bukan cuma tahu soal uang... Arkan tahu beberapa rahasia... rahasia masa lalu..."
Rosella tertegun, jantungnya berdegup kencang tak karuan. "Apa... apa maksudmu?"
"Carilah kotak tua di gudang rumah lamamu," kata Hengki pelan namun jelas. "Di sana ada beberapa berkas lama. Baca itu, dan kalian akan tahu siapa musuh sebenarnya. Dia lebih dekat dari yang kalian bayangkan."
Tiba-tiba, penjaga datang memberi tanda waktu kunjungan habis.
"Hei, waktu habis!"
Hengki berdiri, lalu sebelum pergi, ia berteriak melalui telepon. "HATI-HATI DENGAN ORANG YANG KALIAN PERCAYA! DIA SERIGALA BERBULU DOMBA!"
Hengki ditarik pergi, meninggalkan Hariz dan Rosella yang duduk terpaku di tempat. Keringat dingin mulai bercucuran.
Siapa yang dimaksud Hengki? Siapa orang dekat yang berbahaya itu? Dan apa hubungannya dengan masa lalu Arkan dan Rosella?
Misteri besar kembali terbentang di depan mata mereka. Perjalanan ini ternyata belum selesai.