Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan
Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.
Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.
Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.
Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.
Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.
Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sang Raja Mafia
Bab 9 – Rumah Sang Raja Mafia
“Aku akan menculikmu… lagi.”
Kalimat itu keluar begitu santai dari mulut Kael, namun dampaknya membuat bulu kuduk Alya meremang. Ia menatap pria di depannya itu tak percaya.
“Kamu sadar nggak sih? Kalimatmu makin lama makin kriminal dan melanggar hukum!” sergah Alya sambil berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat.
Kael justru tersenyum miring, tampak sangat santai dan tak peduli.
“Aku memang kriminal, Alya. Itu bukan rahasia lagi.”
“Aduh, aku benci sekali saat kamu benar dan aku tidak bisa membantah,” gerutu Alya kesal, memalingkan wajahnya.
Tanpa peduli dengan omelan gadis itu, Kael menarik tangan Alya menuju mobil hitam mewah yang sudah menunggu dengan mesin menyala.
“Aku nggak ikut! Aku nggak mau ikut ke rumah ayahmu!” Alya meronta sekuat tenaga, kakinya menyeret di tanah. “Aku mau pulang! Aku mau ikut ibuku saja!”
“Ibumu tidak ikut ke sana. Dia akan dibawa ke safe house.”
“Apa itu? Rumah hantu?” tanya Alya bingung dan waspada.
“Rumah aman. Tempat yang dijaga ketat agar tidak ada yang bisa menyakitinya.”
“Aku lebih suka rumah biasa yang tidak ada orang mau menembak atau menculik!”
Kael berhenti di depan pintu mobil terbuka. Ia menatap Alya lekat-lekat dengan tatapan tajamnya yang memaksa.
“Alya.”
“Apa lagi?”
“Masuk ke dalam mobil sendiri dengan baik-baik… atau aku gendong dan masukkan ke sana seperti karung beras. Pilih.”
Mata Alya membelalak. “Kamu tega?!”
“Coba saja aku.”
Dengan wajah manyun dan hati yang dongkol setengah mati, Alya akhirnya masuk ke dalam mobil sambil terus bergumam tidak jelas.
“Pemaksa. Sombong. Menyebalkan. Psikopat… tapi tampan.”
Kael yang baru saja hendak masuk tiba-tiba berhenti. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Alya.
“Kau bilang apa barusan? Kau bilang aku tampan?”
“Aku nggak bilang apa-apa! Kamu pendengaranmu kurang jelas!” sanggah Alya cepat, wajahnya tiba-tiba memanas.
Sudut bibir Kael terangkat membentuk senyum tipis yang sangat tampan dan mematikan. Ia lalu masuk dan duduk di samping Alya.
Di mobil lain, Ibu Alya sudah duduk dengan nyaman ditemani oleh beberapa pengawal wanita yang berpenampilan ramah namun tetap waspada.
Alya menatap ke arah mobil ibunya dengan cemas.
“Ibuku… benar-benar aman kan? Kamu janji nggak bakal biarkan apa-apa terjadi padanya?” tanyanya pelan.
Kael menjawab tanpa menoleh, matanya menatap lurus ke jalanan gelap di depan.
“Selama dia bersama orang-orangku… dia lebih aman daripada di mana pun.”
“Kok aku susah percaya ya sama orang yang hobinya mengancam dan bikin orang takut?”
Kael menoleh perlahan, menatap wajah gadis di sampingnya.
“Karena kau belum tahu bedanya… ancaman itu untuk musuhku. Sedangkan janji… itu khusus untuk orang yang aku sayangi.”
Jantung Alya berdetak tidak karuan lagi. Detak jantungnya berantakan mendengar kalimat itu. Ia buru-buru memalingkan wajah ke arah jendela, berpura-pura melihat pemandangan malam untuk menyembunyikan pipinya yang memerah.
Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Iring-iringan mobil akhirnya memasuki sebuah kawasan elit yang sangat terjaga di puncak bukit tertinggi kota.
Gerbang besi tempa yang sangat besar dan megah terbuka perlahan secara otomatis.
Di balik gerbang itu, sebuah bangunan megah berdiri gagah. Bukan sekadar rumah, tapi lebih mirip istana kerajaan. Jauh lebih besar dan lebih mewah daripada rumah Kael yang selama ini ditempati Alya.
Pilar-pilar marmer putih menjulang tinggi, taman yang tertata rapi dengan bunga-bunga mahal, air mancur besar di halaman depan, dan di setiap sudut jalan terdapat penjaga bersenjata lengkap yang berdiri tegak seperti patung.
Alya ternganga melihatnya. Mulutnya sedikit terbuka takjub.
“Ini… ini rumah atau istana kerajaan sih?”
“Rumah ayahku. Markas besar keluarga Lorenzo,” jawab Kael singkat.
“Berapa orang sih yang tinggal di sini? Sampai sebesar ini?”
“Cukup banyak… cukup untuk membuatmu pusing dan tersesat kalau jalan sendiri.”
“Aku rasa kepalaku sudah pusing sejak tadi malam,” gumam Alya lemas.
Mobil berhenti tepat di tangga utama. Kael turun lebih dulu, lalu berjalan mengelilingi mobil untuk membukakan pintu bagi Alya.
Saat Alya hendak melangkah turun, tangan Kael menahan lengan gadis itu pelan.
“Apa lagi?” tanya Alya siap-siap kesal.
“Dengar aku baik-baik. Di dalam sana, jangan bicara dulu kalau tidak benar-benar perlu.”
“Aku bukan anak TK yang harus disuruh diam!”
“Dan yang paling penting… jangan mudah marah. Ayahku tidak suka orang yang emosian.”
“Itu mustahil! Hidup denganmu saja sudah bikin emosi naik turun!”
Kael mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya merendah menjadi lembut.
“Kalau kau merasa takut atau gugup… pegang tanganku. Aku ada di sini.”
Alya mendengus sinis, berusaha terlihat gagah.
“Mimpi. Aku tidak takut sama sekali.”
Ia turun dari mobil lebih dulu dan berjalan mendahului.
Namun begitu melihat deretan pria berjas hitam berjajar rapi dengan wajah datar dan tatapan mematikan, langkah kaki Alya otomatis melambat. Tanpa sadar, ia mulai menggeser tubuhnya mendekat ke sisi Kael, hingga bahunya hampir menyentuh lengan pria itu.
Kael melirik ke bawah, melihat tangan kecil Alya yang sudah siap untuk menggenggamnya namun masih ditahan oleh gengsi.
“Kau baru saja bohong besar tadi,” bisik Kael pelan.
“Aku cuma… cuma jalan lurus kok,” jawab Alya gugup.
“Jalan lurus tapi menempel di sampingku?”
“Diamlah! Jangan banyak omong!”
Kael tampak sangat puas melihat reaksi gadis itu.
Mereka berjalan masuk ke dalam aula utama.
Ruangan itu sangat luas dan megah. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit memancarkan cahaya hangat. Tangga melingkar yang indah menghubungkan lantai dasar dan atas.
Dan di ujung aula itu, tepat di tengah ruangan, terdapat sebuah kursi besar berwarna hitam yang terlihat seperti singgasana.
Di sana duduk seorang pria tua.
Rambutnya putih bersih dan disisir sangat rapi. Wajahnya tegas, penuh dengan garis-garis pengalaman dan kekuasaan. Tatapan matanya tajam, dingin, dan mampu membuat siapa saja yang menatapnya merasa kecil dan takut.
Alya langsung tahu. Ini dia. Pemimpin keluarga ini. Ayah Kael.
Pria tua itu menatap Alya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Tatapannya datar, dingin, dan menilai… seolah Alya adalah sebuah barang dagangan, bukan manusia. Rasanya sangat tidak nyaman.
“Jadi… ini perempuan yang membuatmu berulah,” ucapnya berat. Suaranya berat dan berwibawa, bergema di ruangan besar itu.
Kael maju selangkah, berdiri sedikit di depan tubuh Alya, seolah menjadi tameng hidup untuk menghalangi pandangan menusuk ayahnya.
“Namanya Alya. Perlakukan dia dengan hormat.”
“Aku tidak bertanya siapa namanya,” potong Tuan Lorenzo dingin.
“Tapi aku memberitahumu. Jadi panggil namanya.”
Ketegangan langsung terasa menyengat di udara. Percikan api seolah terlihat di antara pandangan ayah dan anak itu.
Tuan Lorenzo menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap putranya dengan tatapan menantang.
“Kau menolak Serena… demi gadis biasa seperti dia?”
Alya mengepalkan tangannya di samping badan. Gadis biasa kenapa? Gadis biasa juga punya harga diri! batinnya meledak.
Kael menjawab dengan tenang namun tegas.
“Aku menolak Serena karena aku memang tidak pernah menginginkan pernikahan itu. Itu keputusanku.”
“Dan kau menginginkan… ini?” tunjuknya ke arah Alya dengan dagunya.
Kata ‘ini’ terdengar sangat menyakitkan dan merendahkan.
Alya sudah siap untuk membalas, tapi Kael berbicara lebih dulu dengan nada yang meninggi sedikit.
“Hormati dia. Jangan pernah bicara seperti itu lagi di depanku.”
Seluruh penjaga dan pelayan di ruangan itu menahan napas serentak. Berani sekali Kael membentak ayahnya sendiri di depan umum?
Tuan Lorenzo tertawa kecil, tapi tawanya terdengar dingin dan menakutkan.
“Kau mengancam ayahmu sendiri, Kael?”
“Aku hanya memperingatkanmu. Jangan lewati batas.”
Alya menatap punggung lebar Kael di depannya. Dadanya terasa hangat aneh. Pria ini… benar-benar berdiri membelanya tanpa ragu sedikit pun.
Tuan Lorenzo akhirnya bangkit perlahan dari singgasana itu. Tingginya hampir menyamai Kael, dan aura kekuasaannya jauh lebih menekan dan berat.
Ia berjalan mendekati Alya selangkah demi selangkah.
“Namamu Alya?”
“Iya, Pak,” jawab Alya berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tegar, meski lututnya gemetar di dalam.
“Kau tahu siapa kami sebenarnya? Kau tahu dunia macam apa yang mau kau masuki?”
Alya menarik napas panjang.
“Sayangnya… sekarang saya sudah tahu. Dan saya tidak bodoh,” jawabnya lugas.
Beberapa pengawal langsung menegang kaku. Berani sekali gadis ini menjawab begitu!
Kael yang berdiri di samping menoleh sedikit, dan Alya bisa melihat sudut bibir pria itu bergerak naik, seolah menahan senyum bangga.
Tuan Lorenzo justru mengangkat sebelah alisnya.
“Berani. Jarang ada orang yang berani bicara seperti itu padaku.”
“Aku cuma jujur. Saya tidak suka basa-basi,” jawab Alya menelan ludah dengan susah payah.
Pria tua itu mendekat lagi, wajahnya kini sangat dekat dengan Alya.
“Dengarkan baik-baik, Nak. Kalau kau memilih bersama putraku… hidupmu tidak akan pernah damai lagi. Jalanmu akan dipenuhi darah, peluru, dan musuh.”
Alya melirik sekilas ke arah Kael yang sedang menatapnya penuh arti.
“Sejauh ini… saya rasa saya sudah melihat bagian yang berdarah-darah itu kok. Jadi tidak kaget lagi,” jawab Alya mencoba sedikit berani.
Kael kini benar-benar menahan senyum lebar.
Ayahnya menatap Alya tajam selama beberapa detik, seakan ingin menembus jiwa gadis itu. Lalu ia berbalik badan dengan wajah datar.
“Aku tidak suka dia. Dia tidak cocok.”
Kael menjawab seketika tanpa ragu.
“Bukan masalah apakah Anda suka atau tidak. Itu keputusan saya.”
“Aku belum selesai bicara!”
“Aku juga belum selesai!”
Kael tiba-tiba meraih tangan Alya dan menggenggamnya erat di depan semua orang yang menyaksikan. Genggamannya kuat, hangat, dan penuh kepemilikan.
“Dia akan tinggal bersamaku. Mulai sekarang. Dan tidak ada yang bisa melarang.”
“Apa?!” Alya membelalakkan mata kaget. “Kael! Aku nggak bilang setuju!”
Tuan Lorenzo menatap tangan mereka yang saling menggenggam dengan tatapan dingin mematikan.
“Kalau kau bersikeras membawa dia masuk ke dalam hidup kita… maka mulai malam ini juga… dia tidak lagi jadi orang biasa. Dia akan menjadi target utama semua musuh kita. Kau siap dengan konsekuensinya?”
Tubuh Alya menegang kaku. Bahaya itu kini benar-benar mengintai dirinya juga.
Kael menggenggam tangan Alya semakin erat, seolah ingin menyalurkan kekuatan padanya.
“Aku akan melindunginya dengan nyawaku sendiri.”
Ayahnya tersenyum miring, senyum yang terlihat sinis.
“Kau sombong, Kael. Kau bahkan gagal melindungi ibunya tadi sore sampai harus diculik, kan?”
SYUUUT!
Seketika itu juga, suhu ruangan seakan turun drastis.
Wajah Kael berubah gelap total. Mata yang biasanya tajam kini berubah menjadi hitam pekat dan mengerikan. Tatapannya bukan lagi tatapan marah anak muda… tapi tatapan seorang pembunuh yang siap melenyapkan nyawa siapa saja di depannya.
Alya bisa merasakan getaran kemarahan yang luar biasa dari tubuh pria di sampingnya ini.
Situasi sangat kritis. Ledakan besar sebentar lagi akan terjadi.
Namun tepat pada waktunya, seorang pelayan wanita berlari masuk ke dalam aula dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi.
“Tuan Besar! Tuan Kael!”
“Apa?!” bentak Tuan Lorenzo keras.
Pelayan itu gemetar hebat.
“Nona Serena… Nona Serena datang! Dia ada di depan dan… dia membawa surat pernikahan resmi!”