Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1--Reuni Terkutut Memutusan Dari Jaringan Toxic
“hah, sialan … aku baru saja dipecat,” keluh pemuda tersebut.
Nama pemuda itu Aris. Di usia 24 tahun, wajahnya terlihat lebih dewasa dari seharusnya—guratan lelah tercermin jelas dari matanya yang kurang tidur.
Aris adalah definisi dari pemenang yang jatuh. Dulu, dia adalah siswa berprestasi, ketua OSIS yang dikagumi, dan kekasih dari Tata, gadis paling populer di sekolahnya.
Namun, dunia berputar terlalu cepat. Kematian kakeknya yang mendadak, putus kuliah karena kendala biaya, hingga dipaksa menjadi buruh pabrik demi menyambung hidup, membuat Aris perlahan menghilang dari radar teman-temannya.
Dan sekarang satu-satunya jalan hidup sebagai buruh pabrik pun dihilangkan oleh tuhan seolah rezeki dia sangat seret.
“Sekarang gue kerja dimana coba?”
hp dia tiba-tiba bergetar. Hari ini, sebuah undangan digital mampir ke ponselnya yang layarnya sudah retak seribu.
“Apaan ini?” Gumam dia sembari membuka undangan dari layar hp dia.
"Reuni Akbar & Syukuran Kelulusan Angkatan SMA - Hotel Grand Merapi."
Aris ragu. Namun, secercah harapan muncul; mungkin dengan bertemu teman lama, dia bisa mendapatkan info pekerjaan yang lebih baik setelah pemecatannya kemarin.
***
Aris tiba dengan motor bebek tua peninggalan kakeknya yang mengeluarkan bunyi pos-pos setiap kali gas ditarik.
Di parkiran, motornya terjepit di antara deretan mobil mewah; Honda Civic terbaru, BMW, hingga pajero sport milik teman-temannya yang kini tampak seperti "orang sukses".
“Gila, angkatan gue udah pada sukses semua.” Kagum dia.
Aris masuk ke aula hotel dengan jas yang sedikit kebesaran—itu jas pinjaman dari tetangga kontrakannya.
Sontak kemunculan Aris membuat semua orang di sana menatapnya. Sebuah jenis tatapan tak enak dipandang, tatapan dari atas sampai bawah, tatapan merendahkan.
Mereka semua di sana terlihat sangat berwibawa dan sukses sementara Aris? Mereka baru saja melihat dia mengendarai motor bebek sementara mereka semua sudah pada naik mobil.
"Eh, ini Aris? Aris si Ketua OSIS?"
Suara tawa pecah di pojok ruangan. Seorang pria bernama Dani, yang dulu selalu berada di bawah bayang-bayang Aris, kini berdiri dengan setelan jas slim-fit dan jam tangan emas yang sengaja ia pamerkan saat memegang gelas sampanye.
Ia dulu merasa sangat tertinggal oleh Aris karena kepintarannya namun sekarang? Ternyata Aris cuma jadi gembel doang. Jabatan dan kepintaran memang gak bisa mengalahkan satu hal : harta! Orang miskin memang sulit untuk menaikan derajat, modal pintar doang mah gak cukup.
"Gila, Ris! Aku pikir tadi ada tukang ojek nyasar masuk hotel. Ternyata kamu!"
“Gue setuju!”
“Hahaha kasihan banget, kukira siapa ternyata ketua OSIS kita … tapi dengar-dengar kamu putus kuliah karena kendala biaya? Susah ya jadi orang gak mampu.”
Aris mengepalkan tangan. Mereka semua teman angkatan SMA-nya, ia tidak menyangka setelah sukses meraka mala terbuai oleh harta dan lupa diri! Padahal dulu mereka masih asik nongkrong bareng, masalah PR juga Aris yang bantu selesaikan, pendispilan siswa pula, namun sekarang? Mereka berubah
Dani menepuk bahu Aris dengan keras, seolah ingin menunjukkan pada semua orang bahwa Aris kini berada di bawah levelnya.
"Lama nggak kelihatan, Dani. Kamu makin sukses ya," jawab Aris berusaha tetap tenang, meski ia tahu tepukan itu lebih mirip penghinaan.
Dan juga semua tatapan yang kini menghujani dia seperti penghinaan, ia tetap bersikap santai.
"Yah, begitulah. Setelah lulus aku langsung pegang bisnis properti bokap. Eh, denger-denger kamu kerja jadi buruh pabrik ya? Wah, sayang banget otak Ketua OSIS cuma buat angkut barang," sindir Dani yang diikuti tawa kecil dari teman-teman di sekelilingnya.
“Ternyata pinter doang gak cukup!”
“Sayang sekali dunia memang gak adil Aris, ginilah cara mainnya. Selama punya kuasa dan relasi, kita bisa gampang naik derajatnya!”
ucapan itu membuat Aris naik pikam. Ia bisa saja mengamuk dan menghajar mereka satu-satu, tapi dia sabar. Mereka sekarang jadi orang sukses beberapa punya relasi dengan orang besar, ia malah bisa kena sendiri.
Tapi yang paling buat dia jengkel adalah itu semua diucapkan oleh orang yang gak pernah merintis dari bawah, alias modal uang bapak sama ibu! Dasar anak maja!
Namun, suasana tiba-tiba hening saat seorang wanita cantik dengan gaun merah elegan mendekat. Tata. Mantan kekasih yang dulu berjanji akan menemaninya dari nol, namun menghilang saat Aris mulai jatuh miskin dan berhenti di tengah kuliah, datang.
"Aris?" Tata menatap Aris dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya bukan lagi tatapan cinta, melainkan rasa kasihan yang menusuk. "Kamu... benar datang dengan motor tua yang di parkiran itu? Aku pikir setidaknya setelah beberapa tahun, kamu sudah punya kemajuan."
"Aku baru saja di PHK. belum punya kemajuan apa pun, Ta. Masih begini-begini saja," jawab Aris singkat. Suaranya datar, tanpa ada nada ingin membela diri.
Tata mendesah pelan, menyilangkan tangan di depan dadanya yang dihiasi kalung berlian berkilau.
"Seharusnya kamu dengerin aku dulu, Ris. Kalau kamu mau sedikit lebih 'pintar' cari celah, mungkin kamu nggak akan semalang ini. Lihat kamu sekarang, jas itu bahkan nggak cocok di badanmu."
“Aku bersyukur telah putus denganmu, coba lihat dani … dia sekarang menjadi ratusan kali lebih baik dari kamu! Dasar pengangguran miskin!”
Dani tertawa kecil, melingkarkan tangannya di bahu Tata dengan gerakan posesif.
"Sudahlah sayang, nggak perlu dikasih nasihat. Orang kayak dia ini tipikal yang terlalu idealis tapi nggak sadar realita. Percuma pintar kalau dompet kosong."
Aris hanya menatap tangan Dani yang nangkring di bahu mantan kekasihnya itu. Tidak ada amarah yang meledak, hanya ada rasa hambar yang menyakitkan. Ia menyadari bahwa tempat ini bukan untuknya.
Harapannya mencari relasi pekerjaan di sini adalah sebuah kesalahan besar. Mereka bukan lagi teman yang ia kenal, melainkan sekumpulan orang asing yang mabuk akan status.
“Sudahlah, daripada nganggur sini kukasih kerjaan … kamu kerja jadi petugas kebersihan di kantorku saja, gimana?"
“Ambil saja Aris, daripada ngangur!”
“Pekerjaan sebagai pembersih sampah juga dermawan!”
Tata tertawa. “Dani itu terlalu berlebihan!”
“Ada tapinya … tapi.” Potong Dani. “Berlutuk sama aku dulu, bilang ‘tolong jadikan aku bawahamu’ dan akan kupertimbangkan untuk menjadi kamu staf petugas kebersihan.”
Darah Aris mendidih. Itu jelas adalah sebuah penghinaan level tertinggi. Ia melihat Tata yang malah tertawa dan ikut mengolok-ngolok dirinya, membiarkan dani mempermalukannya. Harapannya untuk mencari info pekerjaan di sini pupus. Mereka bukan teman, mereka hanya burung pemakan bangkai yang senang melihat singa yang terluka.
Tanpa sepatah kata, Aris berbalik. Dia tidak butuh relasi beracun ini.
"Terima kasih tawarannya. Tapi aku lebih suka mengurus 'sampah' milikku sendiri daripada melihat 'sampah' yang pakai jas seperti kalian," ucap Aris dingin sebelum melangkah keluar aula.
Ia mengabaikan panggilan ejekan Dani dan tatapan iba dari Tata yang terasa lebih menyakitkan daripada makian, dia baru sadar bahwa tindakan barusan sudah terlalu berlebihan. Ia berjalan keluar dari aula mewah itu, langkah kakinya terasa berat namun mantap.
Aris memacu motor bebeknya membelah kemacetan, meninggalkan gemerlap lampu hotel menuju arah pinggiran kota yang gelap.
Pikirannya melayang pada kenangan masa kecil, saat ia berlari di antara pohon-pohon rindang di lahan kakeknya.
Lalu dia punya sebuah pikiran yang terlintas, bukankah dia memiliki sebuah lahan milik kakeknya?
Setelah kakek itu meninggal itu resmi jadi miliknya bahkan sang kakek juga sudah berpesan, namun saat itu Aris masih mengadu nasib di pusat kota, berkuliah—yang pada akhirnya putus kuliah karena kedala biaya dan berakhir jadi buruh pabirk.
Itupun dia baru saja dipecat.
'Cucuku … aku wariskan lahan itu untukmu, kamu boleh melakukan apapun yang kamu suka kalau sedang membutuhkan.’
Aris itu anak desa sebelum dia mengadu nasib ke pusat kota, dia tentu tahu tentang bertani dan lain-lain. Daripada meneruskan hidup di kota, bagaimana kalau dia mencoba mengadu nasib dengan lahan milik kakeknya?
Aris melajukan motornya semakin menjauh dari kerlip lampu gedung-gedung pencakar langit. Angin malam menerpa wajahnya, mendinginkan sisa-sisa emosi yang masih bergejolak di dada. Pikiran tentang Tata yang tertawa dan Dani yang memintanya berlutut perlahan ia buang ke aspal yang ia lalui.
“Kakek benar, kota ini tidak ramah untuk orang sepertiku,” bisiknya di balik helm.
Pikirannya kini terpusat pada satu tujuan: Desa Suka cita. Di sana, di pinggiran kabupaten, terletak sebidang lahan seluas satu hektar milik kakeknya. Dalam ingatan Aris, lahan itu adalah tanah subur dengan pohon-pohon buah yang rimbun dan udara yang bersih.
“Kurasa ini saatnya pulang … menjadi warga biasa dan bertani,” dia menetapkan tekad untuk pulang dan mengadu nasib.
Namun dia belum tahu, kenyataan pahit yang menunggu di desa itu. Kenyataan bahwa lahan indah dan subur itu kini menjadi lahan kosong dan penuh polusi.