⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"
10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.
Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Sebenarnya aku menyukaimu, itu saja
Hanum kini telah berada di rumah. Selama di butik tadi dia berusaha agar tidak bertemu dengan Dela dan langsung pulang ke rumah begitu saja. Kebetulan bos nya itu sedang sibuk dan menemukan Hanum tak ada di ruangannya, Dela pikir Hanum sudah pulang duluan. Belum lagi Devan yang kini membuatnya gundah sekaligus kesal karena terus-terusan menelponnya—tapi tidak angkat.
"Hanum, kamu ditanyain Devan dari tadi loh," kata Bunda saat dia baru ke dapur untuk bantu-bantu Bunda dan Bi Inah.
"Iya kah, Bun? Hp aku lowbat dari tadi soalnya," kata Hanum menanggapinya.
"Ya udah buruan kamu cek gih, kamu cas kan? Kasih tau si Devan itu biar dia gak kepikiran," kata Bunda meminta Hanum agar menyudahinya niatnya untuk membantu. Meskipun dia baru saja hendak mencuci piring di wastafel.
"Baiklah kalau begitu, Bun. Aku izin ke kamar dulu ya," kata Hanum lalu dia pergi ke kamarnya.
"Tampaknya Neng Hanum agak cemberut gitu ya, Bu," celetuk Bı Inah.
Bunda menarik napasnya sejenak. "Barangkali lagi capek karena kerjaan atau.. karena gak ada Devan di rumah," ucap Bunda sambil tersenyum menatap Hanum yang baru saja menutup pintu kamarnya.
"Ahihihi, Ibu mah bisa aja kepikiran. Sepertinya jelas karena itu deh," timpal Bı Inah.
Hanum mencabut ponselnya yang memang sedang dia cas. Menatap tulisan "15 panggilan tak terjawab dari Devan" di layar ponselnya.
"Kamu lagi sibuk ya? Maaf kalau gitu. Tapi kalau sudah siap, balas ya. Aku takut kamu kenapa..,"
Begitu isi pesan dari Devan.
"Apaan coba? Memangnya dia orang tua aku," kata Hanum dengan sebal. Meskipun begitu, dia coba untuk mengetik balasan.
"Iya, aku sibuk."
Tak butuh satu menit, pesan itu langsung dibaca. Hanum cukup kaget melihatnya, segera dia menekan tombol keluar tetapi ponselnya terjatuh ke atas kasur karena dia mengetik dan memegang ponselnya dengan satu tangan saja.
"Fiuh.., hampir aja gak jatuh ke lantai," ucap Hanum pelan. Lalu dia mengambil ponselnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat layar ponselnya berubah tampilan menjadi panggilan.
"Halo..?" suara Devan dari dalam.
"Aduh, kenapa harus ketekan sih..," Hanum merutuki dirinya sendiri sebab kini dia lah yang menelpon Devan.
"I-iya, Halo Van??" jawab Hanum pelan.
"Baru pulang ya? Dari tadi sepertinya kamu sibuk," kata Devan lagi.
"Iya maaf..," ucap Hanum lagi.
"Aku cuma mastiin kamu baik-baik aja di sana. Soalnya aku juga sudah tahu apa yang terjadi sama kamu kemarin, beruntung urusan kerjaanku dipercepat," terang Devan mengungkapkan kekhawatirannya.
"Makasih ya, Van. Tapi aku bisa sendiri kok..,"
"Ya sudah kalau begitu, takut kamu keganggu juga-"
"Nggak kok!" Entah mengapa ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Hanum.
"Aku.., ada yang mau aku tanyain sama kamu," kata Hanum kemudian.
"Tanya apa?"
"Kamu kenal sama Kak Dela ya?"
Hanum ingin memenangkan isi pikirannya sekarang. Dia tahu betul jika rasa penasaran baginya jika tidak ada jawaban akan membuatnya kepikiran.
"Iya.., dia.., memangnya ke rumah?"
"Dia siapanya kamu?"
"Dia pacar aku dulu."
Entah mengapa ada rasa kecewa di dalam diri Hanum sekarang.
"Kenapa rupanya?"
"Gak. Aku cuma nanya aja."
"Jangan-jangan.., kamu cemburu?" tebak Devan dari balik ponselnya itu.
Seketika itu juga membuat Hanum terbatuk-batuk. Kaget iya, malu iya. Tapi dia berusaha menenangkan dirinya.
"M-maksud kamu? Jangan ngawur ih!" kata Hanum lagi.
Terdengar suara helaan napas dari ponsel Hanum.
"Hanum.., kalau boleh jujur. Ah, tidak. Apa aku sampaikan waktu tiba di rumah saja?"
"Bilang ada apa!" seru Hanum kemudian.
"Tuh kan, kamu udah marah duluan. Aku takut jadinya hehe," kata Devan sambil tertawa kecil.
"Bilang aja cepet," kata Hanum tak sabar.
"Sejujurnya, aku suka sama Hanum."
Hanum membeku untuk beberapa saat, dia tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Ini beneran lagi bangun ya? Bentar, halo halo.., Devan coba kamu bangun dulu. Mimpi ini harus disudahi," kata Hanum kemudian.
Devan tertawa. "Aku suka saka kamu, Hanum. Bahkan dari dulu pertama kali kita bertemu pun aku sudah menyukaimu."
"Memangnya kamu mau sama aku yang sudah janda ini?" Hanum mengingatkan status dirinya itu pada Devan.
"Kamu bahkan belum pernah "disentuh" oleh suamimu sendiri," ucap Devan dengan entengnya menekankan kata itu.
Wajah Hanum menjadi merah merona karena tersipu malu mendengarnya. "Udah dulu ya, Van. Aku mau bangun sepertinya aku mimpi," kata Hanum.
"Jawab dulu, kamu suka aku gak?"
Hanum menjadi geli sendiri mendengarnya. Hendak dia akhiri telepon itu tetapi tangannya malah memencet tombol video call. Parahnya lagi, Devan langsung mengangkatnya.
"AAARGHH!!!" Seketika itu juga Hanum berteriak sampai Bunda dan Bi Inah berlari menuju kamar Hanum.
"Aya naon, Neng?!! (Ada apa, Neng?!!)" seru Bi Inah yang tiba lebih dulu sambil membawa centong nasi di tangannya.
"Hanum, kamu kenapa, Nak?!"
Sementara itu, Hanum masih menjauh dari ponsel yang kini tergelatak di atas lantai.
"M-maaf!!"
Segera saja telepon itu berakhir. Bunda langsung membuka pintu kamar Hanum yang tidak terkunci itu dan buru-buru masuk ke dalamnya.
"Ada apa?! Kamu kenapa?" katanya was-was.
Hanum jadi tambah malu dengan kelakuannya sendiri. Akhirnya dia pun membohongi kedua orang di hadapannya itu.
"Ta-tadi ada tikus, Bun. Kaget aja.., aduh maaf ya, Bun..," kata Hanum sambil merasa bersalah.
"Kirain kenapa.., bikin kaget saja kamu!" kata Bunda pada Hanum. "Ya udah besok pagi biar Bi Inah bersihin ya," katanya lagi.
"Eh gak usah, Bun. Biar Hanum aja," Hanum menolak.
"Udah, Neng. Gak apa-apa itu tugasnya Bibi," jawab Bi Inah lagi.
Akhirnya kedua orang itu pun kembali melanjutkan kegiatannya di dapur. Hanum menutup pintu kamarnya rapat-rapat. .
"Bodoh! Kamu bodoh, Hanum!" Kini dia menggerutu pada dirinya sendiri.
Bagaimana tidak? Baru saja dia memperlihatkan 'aurat' nya pada Devan. Ya, selama Devan tidak ada di rumah, Hanum melepas jilbab yang biasa dia pakai. Membiarkan rambut panjangnya yang indah itu terurai atau diikat ekor kuda. Dan tadi, dia benar-benar menunjukkan nya pada Devan.
"Kok bisa-bisanya sih..," Hanum langsung menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sementara itu, di kota lain pria itu terdiam untuk beberapa saat di ruangan kerjanya. Baru saja dia menyaksikan salah satu dari keajaiban dunia versinya sendiri. Hingga akhirnya dia tersenyum membayangkan betapa malunya perempuan itu sekarang.
Tring!
Bunyi notifikasi dari ponsel Hanum pun terdengar. Segera Hanum menyambar nya, barangkali ini pesan dari orang lain selain pria itu. Namun, di sini dia malah semakin malu. Membelalakkan matanya menatap dua kata dari Devan:
"Kamu cantik."