LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Domino Runtuh
Jam 02.17 pagi.
Di dalam van hitam tua yang melaju pelan membelah kabut Puncak, suasana hening banget. Cuma ada suara klik-klik-klik keyboard Sabiru. Cepat. Ritmis. Gak berhenti sedetik pun. Suara itu kayak detak jantung kedua di dalam mobil.
Aldo nyetir pakai satu tangan. Matanya waspada, sesekali lirik spion tengah buat mastiin nggak ada mobil lain yang ngikutin dari belakang. Jalanan sepi, cuma diterangi lampu kabut van yang kuning remang-remang.
"Koneksi aman, Biru," lapor Aldo, suaranya rendah biar nggak ganggu konsentrasi Sabiru. "Satelit Sky Group udah nangkep sinyal kita. Latensi nol koma tiga detik. Kenceng banget."
Sabiru nggak noleh. Matanya nempel (saksama) di layar laptop. Cahaya hijau dari barisan kode yang turun kayak air terjun itu memantul di wajahnya, bikin dia kelihatan pucat, tapi sorot matanya? Tajam banget. Nggak ada sisa rasa takut yang tadi malam masih menghantuinya. Sekarang cuma ada fokus. Murni. Dingin.
"Rio pasti lagi tidur nyenyak sekarang," gumam Sabiru. Suaranya rendah, hampir kayak bisikan, tapi jelas kedengeran di keheningan van itu. "Dia kira aku masih sembunyi di gubuk reot, nangisin nasib Allbiru, atau sibuk mikirin cara lari ke luar negeri."
Jari Sabiru berhenti sebentar di atas tombol Enter. Dia tarik napas panjang, nahan udara di paru-parunya beberapa detik, lalu dihembuskan pelan. Sudut bibirnya naik dikit. Senyum tipis. Dingin. Nggak sampai ke mata.
"Salah besar dia," katanya pelan. "Saat dia tidur, aku baru mulai kerja."
Tek.
Tombol ditekan. Bunyinya halus, tapi dampaknya bakal gede banget.
Layar berkedip drastis. Warna hijau hilang, diganti latar hitam pekat dengan tulisan merah darah yang muncul satu per satu:
SCRIPT: FINANCIAL_NUKE.exe - ACTIVE
TARGET: PT. PRATAMA GLOBAL & 14 SUBSIDIARY
STATUS: INJECTING MALWARE...
BYPASSING LAYER 1 SECURITY... SUCCESS.
BYPASSING LAYER 2 SECURITY... SUCCESS.
Gedung megah Rio Pratama di pusat kota Jakarta? Menara kaca setinggi 40 lantai itu bangga banget sama sistem keamanan sibernya. Katanya paling canggih se-Asia Tenggara. Dipasang sama perusahaan mahal dari Amerika. Tapi malam ini? Sistem itu bobol. Bukan didobrak paksa samap servernya panas, tapi dibuka pakai kunci duplikat yang ditinggalin ayah Sabiru dua puluh tahun lalu.
Kunci bernama "Project Rambutan". Sebuah backdoor rahasia yang cuma Arisendra dan Rio yang tahu. Tapi Rio lupa satu hal: Arisendra pernah ajarin semua rahasianya ke anak perempuan semata wayangnya sebelum dia meninggal.
"Server akuntansi utama udah jatuh," lapor Sabiru datar. Gayanya santai banget, kayak lagi lapor harga cabai di pasar, padahal dia lagi ngancurin hidup orang. "Semua data kotor Rio—catatan cuci uang, daftar suap ke pejabat, proyek fiktif, rekening gelap di Cayman Islands—sedang aku kopi dan kirim keluar."
"Ke mana?" tanya Aldo, penasaran meski tangannya tetap (stabil) di setir. Mobil belok tajam menghindari lubang di jalan.
"Tiga tempat sekaligus," jawab Sabiru sambil jarinya nari lagi di keyboard, kecepatannya makin gila. "Satu, server KPK. Dua, database OJK. Dan tiga..." Dia ketawa kecil, sekali aja. Tawa yang agak serem. "...ke semua akun media berita nasional. Plus, aku DM langsung ke Twitter pribadi para saingan bisnis Rio. Biar mereka yang nyebarin."
"Besok pagi, pas orang bangun tidur dan buka HP, Rio bukan lagi 'Raja Bisnis'. Dia jadi buronan nomor satu. Namanya bakal lebih busuk dari sampah."
Di layar, batang progress bar warna merah naik cepat banget.
UPLOAD PROGRESS: 15%... 45%... 60%...
Tiba-tiba, layar kedip merah terang. Alarm kecil di laptop bunyi bip-bip-bip terus menerus.
WARNING: COUNTER-ATTACK DETECTED!
FIREWALL MUSUH AKTIF. TRYING TO BLOCK CONNECTION.
SOURCE: RIO'S PRIVATE IT TEAM.
"Mereka sadar!" seru Aldo, refleks ngegas dikit. Adrenalinnya naik. "Tim IT Rio lagi coba blokir koneksi kita! Mereka lacak balik sinyal!"
"Biarin aja," sahut Sabiru santai. Malah kelihatan bosen. Dia nggak panik sedikitpun. "Mereka nutup pintu depan, padahal aku udah duduk di ruang tamu mereka dari lima menit lalu. Serangan balik mereka cuma umpan. Biarin mereka sibuk ngejar bayangan."
Dengan gerakan cepet dan lincah, jari Sabiru ngetik perintah baru. Dia alihin jalur data lewat serangkaian server palsu (proxy) yang tersebar di tiga negara berbeda: Singapura, Jerman, lalu Brasil. Jejak digital mereka langsung ilang. Kabur. Mustahil dilacak dalam waktu singkat.
ROUTE CHANGED: SINGAPORE -> FRANKFURT -> SAO PAULO.
BYPASS SUCCESSFUL.
UPLOAD COMPLETE: 100%.
DATA RELEASED TO PUBLIC DOMAIN.
"Selesai," ucap Sabiru. Dia sandaran ke kursi van yang keras. Leher nya bunyi kretek karena terlalu lama nunduk. Dia lepas kacamata tebalnya, usap mata yang perih dan kering. Tapi sorot matanya? Bersinar. Ada kepuasan liar di sana.
"Dalam sepuluh menit, saham perusahaan Rio bakal anjlok 90 persen saat pasar buka nanti. Rekening pribadinya bakal dibekuin otomatis sama sistem bank karena terdeteksi aktivitas mencurigakan. Dan polisi... mungkin udah jalan ke rumahnya sekarang buat nyidik."
Aldo senyum lebar banget. Bangga setengah mati. Dia tepuk pundak Sabiru pelan. "Gila... Kau hancurin kerajaan bisnis yang dibangun puluhan tahun cuma dalam setengah jam, Biru. Ayah Arisendra pasti bangga banget liat kau sekarang."
"Ini baru pemanasan, Yah," kata Sabiru sambil buka aplikasi peta lagi. Titik merah di Gudang 8B masih kedip-kedip tenang di pojok layar. "Sekarang Rio nggak punya uang buat suap polisi. Nggak punya pengaruh buat tutup kasus. Dia sendirian. Panik. Dan orang yang panik... biasanya bikin keputusan bodoh. Itu celah kita."
Getar.
HP Sabiru yang ditaruh di dashboard bunyi. Layarnya nyala terang di kegelapan van.
Notifikasi berita breaking news muncul duluan:
"SKANDAL BESAR! CEO PT. PRATAMA GLOBAL DIDUGA TERLIBAT JARINGAN CUCI UANG RATUSAN MILIAR RUPIAH! SAHAM ANJLOK DRASTIS!"
Belum sempat Sabiru baca beritanya, notifikasi WhatsApp masuk. Dari nomor nggak dikenal. Kode negara +62, tapi nomornya acak. Pasti Rio.
[Nomor Asing]: SIAPA KAU?! APA MAUMU?! HAPUS DATA ITU SEKARANG JUGA ATAU ANAK ITU MATI! AKU SUMPAH ALLBIRU AKAN KUPENGGAL KEPALANYA!
Sabiru baca pesannya. Wajahnya datar. Nggak gemetar. Nggak ada kilatan takut di mata. Dia ambil HP-nya, buka keyboard, dan ketik balasan pelan-pelan. Satu huruf demi huruf.
[Sabiru]: Tenang, Rio. Jangan emosi nanti darah tinggi. Aku Sabiru. Anak Arisendra. Data nggak bakal aku hapus. Itu asuransi aku. Lepasin Allbiru dalam 2 jam, atau video CCTV pembunuhan ayahku tahun 2004 yang baru aja aku temukan di server rahasiamu bakal viral bareng data tadi. Pilihan di tangan lo.
Sabiru tekan kirim. Lalu langsung dimatiin HP-nya. Layar jadi gelap lagi.
"Dia bakal nelepon," prediksi Sabiru sambil taruh HP di tas. "Dia bakal coba nawar-nawar, mengancam, atau minta tebusan. Tapi kita nggak akan angkat sampe kita sampai di lokasi. Biar dia menunggu dalam ketidakpastian. Itu siksaan tersendiri."
Aldo injak gas lebih dalam. Van melesat lebih kencang. Hujan deras tadi udah reda, tinggal gerimis halus yang bikin jalanan licin berkilau. Langit di timur mulai berubah warna dari hitam pekat jadi biru abu-abu. Fajar udah mulai datang, bawa harapan baru.
"Lima belas kilometer lagi ke gudang," kata Aldo, nunjuk arah depan. "Kawasan industri tua. Sepi banget pagi-pagi begini."
Sabiru lirik keluar jendela. Pemandangan pohon-pohon karet yang berlalu-lalang. Dadanya deg-degan, sih. Siapa yang nggak takut? Ini nyawa Allbiru dan Ibunya dipertaruhkan. Tapi adrenalinnya lebih gede daripada rasa takutnya. Rasanya kayak mau lomba lari final olimpiade.
"Allbiru..." bisiknya pelan. Angin pagi yang dingin masuk lewat kaca jendela yang diturunin dikit. "Tahan ya, Kak. Jangan nyerah. Aku datang. Bukan sebagai adik manjamu yang cuma bisa nangis kali ini. Tapi sebagai orang yang bakal bawa lo pulang. Hidup-hidup."
Mobil belok tajam masuk gerbang besi berkarat kawasan industri. Sepi. Suram. Gedung-gedung gudang tua berdirijejer kayak raksasa besi yang lagi tidur. Lumut dimana-mana. Bau tanah basah dan oli bekas nyengat hidung.
Di ujung jalan buntu, kelihatan Gudang 8B. Bangunan besar catnya udah mengelupas. Dua pos jaga di depan dijaga dua orang bersenjata lengkap. Lampu sorot besar di atap gudang nyala terang, nyorot ke arah jalan masuk.
"Oke, mulai operasi," perintah Sabiru. Suaranya tiba-tiba berubah jadi komandan. Tegas. Berwibawa. Dia pasang kacamata lagi, buka laptop terakhir kalinya sebelum turun.
"Dengerin instruksiku, Aldo. Pas kita turun dari mobil dalam 30 detik, semua kamera CCTV di area gudang harus buta total. Semua kunci pintu elektronik utama harus kebuka otomatis. Dan senjata api yang dibawa penjaga? Sistem pengamannya bakal aku hack biar macet total. Mereka nggak bakal bisa nembak."
Aldo parkir van di balik tumpukan kontainer bekas, agak jauh dari jangkauan lampu sorot. Dia noleh, senyum tipis penuh percaya diri. "Siap, Kapten. Sistem mereka udah jadi mainanmu. Sikat habis."
Sabiru tarik napas dalem-dalem. Nutup laptopnya pelan. Klik. Bunyi penutupan laptop itu kedengeran sangat final di keheningan pagi.
"Ayo turun. Jemput kakak kita. Ingat, jangan bunuh kalau nggak terpaksa. Target utama kita adalah Allbiru dan Ibu. Rio... dia urusan hukum nanti setelah kita rekam semua kejahatannya."
Pintu van digeser terbuka. Angin pagi yang dingin langsung nyambut muka mereka. Sabiru turun duluan, kakinya napak aspal basah dengan mantap. Posturnya tegap. Bahunya tegap. Nggak ada lagi gadis gemetaran yang lari dari bom kemarin malam.
Aldo turun menyusul, udah siapin pistol di tangan kanan, tapi safety-nya masih nyala. Dia gerak sigap, langsung ambil posisi lindung di samping Sabiru.
Mereka mulai jalan merayap pelan mendekati gudang, memanfaatkan bayangan kontainer sebagai perlindungan. Jarak makin dekat. 50 meter. 30 meter.
Penjaga di pos lagi merokok, nggak sadar kalau ada penyusup. Lampu sorot di atas masih nyala terang benderang, nyorot kosong ke arah jalan.
Sabiru berhenti sebentar di balik sebuah tiang listrik tua. Dia angkat laptop dikit, jari telunjuknya melayang di atas tombol Enter terakhir.
"Saatnya pesta kaget," bisik Sabiru.
Dia tekan tombol itu.
Dan seketika...
Klik.
Suara relai listrik mati kedengeran samar.
Di kejauhan, tiba-tiba...
Lampu sorot gudang padam.
Satu per satu.
Yang kiri mati. Yang kanan mati. Yang di atap tengah mati terakhir.
Gelap gulita.
Kawasan industri itu langsung tenggelam dalam kegelapan total. Cuma ada suara angin dan langkah kaki mereka.
Dari dalam pos jaga, kedengeran teriakan panik para penjaga.
"Woi! Lampunya kenapa?!"
"Senter! Cari senter! Sistem kunci pintu kebuka sendiri!"
"Pistolku macet! Nggak bisa ditembak!"
Sabiru natap ke arah kegelapan gudang itu. Dia nggak bisa liat apa-apa, tapi dia tahu persis apa yang terjadi di dalam. Kekacauan. Kepanikan. Ketidakberdayaan.
Tanda kalau Sabiru udah pegang kendali penuh atas medan perang ini.
Permainan beneran dimulai sekarang.
Dan kali ini, mereka yang main aturan Sabiru.
"Ayo, Yah," kata Sabiru sambil jalan maju menembus gelap, guided by peta digital di layar laptop yang nyala redup. "Allbiru nunggu kita."