Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
"Bukan begitu, Dokter Yi? Ah—rasanya terlalu formal untuk suasana sarapan yang hangat ini. Bisakah aku memanggil nama kecilmu saja... Lin?" tanya sang Pangeran Utama.
Suaranya merendah, memberikan penekanan yang lembut namun berani pada satu suku kata itu.
Alin terkesiap. Udara di sekitarnya seakan menipis. Permintaan itu terdengar sederhana, namun di dunia istana, memanggil nama kecil adalah tanda kedekatan yang melampaui batas profesional. Merasakan tatapan Lie yang mengunci manik matanya, Alin tidak punya pilihan selain tetap bersikap tenang meski jantungnya berdebar cemas.
Ia mengangguk pelan, memberikan senyum tipis yang sopan. "Tentu, Yang Mulia. Jika itu membuat Anda merasa lebih nyaman."
Jawaban itu membuat suasana meja makan yang tadinya dingin mendadak berubah menjadi medan magnet yang berbahaya. Di sisi lain, Alin bisa merasakan jemari Rei yang menggenggam tangannya di bawah meja seketika mengeras. Rahang Rei mengatup rapat, dan aura protektif yang dipancarkannya kini terasa lebih panas, seolah ia siap menarik Alin pergi dari pandangan kakaknya saat itu juga.
Lie menyadari perubahan atmosfer itu. Ia tersenyum puas, seolah baru saja berhasil menyentuh saraf sensitif adiknya.
"Lin. Nama yang manis. Cocok dengan pembawaanmu yang tenang."
Genggaman Rei pada tangan Alin semakin mengencang namun anehnya, Alin tidak merasa sakit. Ia justru merasakan getaran protektif yang begitu kuat merambat ke nadinya. Alin perlahan melirik Rei, pria itu seakan memberinya isyarat bahwa ia enggan berlama diruangan itu, tahu ia harus melakukan sesuatu sebelum ketegangan ini meledak menjadi konflik yang nyata.
"Yang Mulia Lie," suara Alin memecah keheningan, lembut namun tetap pada frekuensi yang stabil. "Pangeran Yan sangat menghargai waktu Anda. Jika ada hal lain yang perlu disiapkan untuk kepulangan Anda ke ibu kota nanti, saya akan dengan senang hati menyusunnya. Namun untuk saat ini, saya rasa Pangeran Yan hanya ingin memastikan sarapan Anda tidak terganggu oleh urusan pekerjaan."
Lie terdiam sejenak, menatap Alin dengan binar kekaguman yang sulit disembunyikan. Wanita ini baru saja mengusirnya secara halus dengan dalih kesopanan. "Kau bahkan tahu cara melindungi ketenangan adikku dengan kata-kata yang manis, Alin.”
Lie akhirnya bangkit dari kursinya. Gerakannya anggun, khas seorang putra mahkota yang terbiasa menjadi pusat perhatian. "Baiklah. Aku tidak ingin menjadi tamu yang tidak tahu diri. Lagipula, melihat Yan kehilangan kendali atas emosinya sudah cukup menjadi hiburan pagi yang mahal bagiku."
Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di samping Alin. Untuk sesaat, suasana kembali mencekam. Rei hampir saja berdiri jika Lie tidak mengangkat tangannya, memberi isyarat agar adiknya tetap di tempat.
"Sampai jumpa lagi, Alin," bisik Lie, cukup pelan untuk terdengar seperti rahasia, namun cukup jelas untuk memicu kecemburuan Rei. "Jaga adikku baik-baik. Dia bisa menjadi sangat merepotkan jika sedang menginginkan sesuatu."
Tanpa menunggu balasan, Lie melenggang pergi diikuti oleh Qigu yang membungkuk hormat. Pintu ruang makan tertutup dengan bunyi klik yang pelan, menyisakan keheningan yang jauh lebih berat dari sebelumnya.
Pintu tertutup rapat. Begitu keheningan kembali menyelimuti ruangan, Rei segera menarik kursi Alin agar lebih dekat. Ia melepaskan tangan Alin hanya untuk menangkup pipinya, menatapnya dengan intensitas yang seolah bisa membakar.
"Kau luar biasa tadi," bisik Rei, suaranya kini terdengar lebih serak dan dalam. "Tapi jangan pernah menatapnya seperti itu lagi."
Alin mengernyitkan dahi, sedikit geli. "Menatap bagaimana?"
"Seolah kau tidak takut kehilangan nyawamu," jawab Rei serius. Ia mendekatkan wajahnya hingga Alin bisa merasakan embusan napasnya yang hangat. "Lie bisa sangat memikat jika dia menginginkannya. Aku tidak ingin kau masuk ke dalam radarnya lebih jauh dari ini."
Alin tersenyum tipis, tangannya naik untuk menyentuh pergelangan tangan Rei yang masih berada di pipinya. "Aku bahkan tidak berniat mengenal lebih dalam anggota kerajaan. Terlebih terhadapan Pangeran utama. Hidup didalam tembok besar itu bukan keinginan ku.”
“Lie tidak pernah main-main dengan ucapannya," kata Rei, suaranya kembali tenang namun menyiratkan kewaspadaan yang tinggi. "Fakta bahwa dia meminta izin memanggil nama kecilmu... itu adalah caranya menancapkan bendera peringatan padaku."
“Aku tahu. Tapi aku juga tahu kapasitas diriku, Rei. Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi bidak catur dalam permainan kalian."
Rei menoleh, menatap profil samping wajah Alin yang tampak begitu anggun di bawah siraman cahaya pagi. Keberanian wanita ini selalu berhasil membuatnya takjub sekaligus semakin jatuh cinta.
"Aku tahu kau kuat," ucap Rei lembut, lalu mengangkat tangan Alin yang berada di genggamannya dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di punggung tangan wanita itu. "Tapi biarkan aku yang menjadi perisaimu. Berjanjilah padaku, Lin... jika Lie menemuimu tanpa sepengetahuanku, kau harus langsung memberitahuku."
Mendengar nama kecilnya disebut oleh Rei dengan nada yang begitu tulus dan penuh permohonan, pertahanan Alin runtuh. Ia menatap mata elang Rei, lalu mengangguk pelan.
...****************...
"Cari tahu siapa sebenarnya wanita itu. Latar belakangnya, pendidikannya, keluarganya, siapa kekasihnya, atau pria mana pun yang pernah mendekatinya. Aku ingin tahu setiap detail kecil tentang hidupnya," perintah Wu Lezi dingin.
Di balik parasnya yang jelita, tersimpan ambisi yang jauh lebih mengerikan daripada obsesi Zu Mengxi untuk menduduki takhta Ratu Xinglan. Sejak awal, Wu Lezi memang telah membidik kursi di lingkaran kerajaan, mengincar salah satu pria didalam anggota kerajaan.
Namun, pertemuannya dengan Pangeran Yan—pria yang tidak hanya tampan, tetapi juga santun dan beradab—membuat ambisi itu berubah menjadi obsesi buta. Baginya, Pangeran Yan adalah harga mati.
"Ah, satu lagi," Wu Lezi menyunggingkan senyum licik ke arah asistennya. "Sebentar lagi akan ada pesta bagi para bangsawan dan kaum elit. Cari cara agar wanita itu bisa hadir. Aku ingin menghancurkan harga dirinya dan mempermalukannya di depan semua orang."
Asisten itu membungkuk dalam, tidak berani menatap mata majikannya yang berkilat haus akan kehancuran orang lain. "Baik, Nona Wu. Saya akan memastikan undangan itu sampai ke tangannya melalui jalur yang tidak akan memicu kecurigaan."
Wu Lezi menyesap tehnya perlahan, membiarkan uap panas menyentuh wajahnya yang tampak pudar kelembutannya, digantikan oleh garis wajah penuh kebencian. Ia membayangkan wanita itu—sosok yang berani mencuri perhatian Pangeran Yan—berdiri mematung di tengah aula dansa yang megah, dikelilingi oleh bisikan menghina dan tatapan merendahkan dari kaum elit Xinglan.
"Pangeran Yan adalah permata yang terlalu suci untuk disentuh oleh tangan kotor seperti dia," gumam Lezi pada dirinya sendiri. Tangannya meremas pinggiran cangkir porselen hingga jemarinya memutih.
"Biarkan dia merasa terbang setinggi langit saat menerima undangan emas itu. Karena semakin tinggi dia merasa terhormat, akan semakin hancur tulang-tulangnya saat aku menjatuhkannya ke dasar lumpur di malam pesta nanti."
Ia kemudian berdiri, melangkah menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah tembok besar kerajaan yang megah di kejauhan. Di sana, di balik tembok kokoh itu, Pangeran Yan berada. Lezi tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak menyentuh mata.
"Segala sesuatu yang indah di dunia ini butuh pengorbanan, dan kau, wanita malang... adalah tumbal untuk cintaku."