Tujuh tahun pernikahan, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjumpai hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Arimbi, ia menemukan jejak wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Bahkan wanita tersebut telah memiliki anak yang usianya sudah lebih dari setahun.
"Kita masih merintis usaha, jadi kita jangan punya anak dulu ya."
Ucapan sang suami terngiang begitu jelas di telinganya. Arimbi yang naif menyetujui. Namun itu jadi bumerang bagi dirinya karena oleh keluarga suami Arimbi di cap mandul.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, nama perusahaan yang didirikan suaminya ternyata ada unsur dari nama wanita itu.
Apakah Arimbi akan terpuruk? Atau dia akan bangkit dan membalas rasa sakit hatinya dan menemukan cinta lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Mengejutkan 24
Semalaman Amar tidak kembali ke rumah sakit. Dia juga tidak pulang ke rumah Yani ataupun ke rumah Farrah, Amar memilih tinggal di rumahnya sendiri. Rumah dimana sebelumnya ditinggalinya bersama dengan Arimbi.
Tak sedikitpun Amar terpikirkan dengan keadaan anaknya. Dia bahkan mematikan handphone nya karena enggan di hubungi oleh siapapun.
"Aku ngerasa capek banget. Padahal aku nggak ngelakuin apa-apa,"ucapnya lirih sambil menatap ke arah langit-langit kamarnya.
Kruuuuk
Perut Amar berbunyi, tapi dia enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Ia juga melihat ke sekeliling kamar. Tak ada apapun di sana.
Sepi, itulah yang dirasakan pria tersebut. Jika biasanya dia melihat Arimbi ada di sisinya, entah berbaring, entah wira-wiri di sekitar kamar, kali ini tidak ada apapun.
"Kenapa aku jadi keingetan sama Arimbi?"
Amar mengusap wajahnya kasar. Ia merasa aneh karena sudah lama dirinya tidak memikirkan Arimbi, tapi kali ini tiba-tiba menjadi kepikiran dengan istri pertamanya itu.
Tidak pantas sebenarnya menyebut Arimbi sebagai istri pertama, karena dalam pernikahan mereka sejatinya tak ada istri kedua. Farrah sejauh ini hanyalah simpanan Amar yang sama sekali tidak diketahui keberadaanya oleh Arimbi sampai semuanya terbongkar.
Malam mulai larut, Amar berhasil memejamkan matanya. Namun bari sebentar saja, pagi sudah menjelang. Ia nampak enggan untuk beranjak apalagi hari ini dirinya harus ke FAE untuk melakukan pertemuan.
Mau tidak mau Amar segera bersiap dan pergi. Sepanjang perjalanan yang diliputi rasa enggan itu, Amar berkali-kali mendengus. Kepalanya terasa penuh dan tak ingin banyak berpikir.
Ckiiiit
Mobilnya sampai di tempat parkir FAE, ia keluar dengan enggan juga. Tapi seketika keningnya berkerut ketika melihat banyak mobil yang terparkir di sana.
"Apa ada tamu?" ucapnya lirih.
Semakin dilihat, semakin bisa dipahami bahwa mobil-mobil itu bukanlah mobil sederhana bagi orang yang biasa-biasa saja. Amar juga mengingat satu dua mobil itu milik orang yang penting bagi perusahaan miliknya.
Amar buru-buru masuk ke gedung. Di sana dia langsung disambut oleh Farhan.
"Ada apa ini Han, aku lihat ada mobil punya investor tadi di parkiran?"
"Betul Pak, mereka menunggu Bapak. Beberapa hari kemarin mereka bilang menghubungi Bapak, tapi oleh Bapak tidak ditanggapi. Jadi beliau-beliau itu datang sekarang untuk bertemu dengan Bapak."
"Sial."
Amar mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka bahwa kedatangannya ke perusahaan ternyata bertepatan dengan kedatangan mereka yang ingin dihindarinya. Amar tidak tahu saja bahwa semua itu memang disengaja.
"Silakan ke ruang rapat, Pak. Semua sudah menunggu," ucap Farhan.
Amar kembali mengerutkan alisnya. Dia merasa ada yang aneh. Seolah-olah semua sudah direncanakan.
Tak ingin banyak berpikir, Amar memilih segera mengikuti Farhan. Dan benar saja, ketika pintu ruang rapat dibuka, semua pasang mata langsung melihat ke arahnya seolah apa yang terjadi di ruangan itu hanya tinggal menunggu dirinya saja.
"Selamat datang Saudara Amar Subagyo, silakan duduk," ucap Arimbi sambil tersenyum simpul.
Degh!
Entah mengapa dada Amar berdesir ketika melihat Arimbi. Semalam dia baru saja memikirkan istrinya itu. Dan sekarang mereka bertatap muka.
Ada yang berbeda dari Arimbi di mata Amar, tapi Amar tidak tahu itu apa. Yang pasti tidka tahu mengapa dadanya berdebar melihat Arimbi. Dimana rasa seperti itu sudah lama tidak dirasakannya.
"Ada apa ini Arimbi?" tanya Amar, dia mengarahkan pandangannya ke kursi yang ada di sebelah Arimbi. Di sana ada sosok lain yang belum pernah Amar lihat sebelumnya.
"Aku ingin memisah FAE, sekaligus memberikan kamu gugatan cerai."
"Apa, apa maksudnya memisah FAE?"
"Ya aku nggak mau lagi kongsi sama kamu. Aku pengen bikin usahaku sendiri. Dan beliau di sebelah ku ini adalah pengacara, Bu Kieran. Beliau yang akan menjadi pengacaraku dalam proses persidangan perceraian dan juga pemisahan perusahaan."
Jegleeeer
Betapa terkejutnya Amar ketika mendengar semua yang Arimbi katakan. Soal perceraian Amar tidak terkejut sama sekali karena Arimbi memang berkata ingin bercerai dan mengajukan gugatan lebih dulu. Akan tetapi pemisahan FAE, ini yang sungguh membuatnya terkejut bukan main.
"Kenapa tiba-tiba kayak gini, Rimbi? Kenapa jadi pecah kongsi? Nggak bisa, emang investor setuju?"
Amar melihat satu persatu wajah yang ia kenal di sana. Ya benar, orang-orang itu adalah investor sekaligus klien penting FA Ekspress.
"Beliau-beliau ini tidak masalah. Aku mengundang beliau semua memang untuk ini. Bukan begitu Bapak-bapak dan Ibu-ibu?"
"Benar, kami setuju saja. Lagi pula, siapa yang mau berurusan dengan mantan. Soal investasi, semua kembali ke pribadi masing-masing. Tapi yang jelas, saya akan menarik investasi dari FAE lebih dulu sampai kasus Anda berdua selesai. Baik perceraian maupun pemisahan perusahaan. Setelah itu, saya akan memutuskan kepada siapa saya akan berinvestasi."
Salah seorang investor yang diketahui bernama Bu Latri, nampak tegas dalam ucapannya. Dan ternyata pendapatnya itu disetujui oleh para investor yang lain.
"Nah kalau begitu pertemuan ini sudah jelas. Silakan jika ada yang mau ada keperluan, atau ada yang mau dibicarakan secara pribadi. Dan saudara Amar, kami tunggu di pengadilan. Surat panggilan mediasi pasti akan segera datang, aku saranin nggak usah dateng. Buat apa juga. Jadi ketemu di ruang sidang aja pas waktunya sidang cerai."
Amar hanya membeku dan menatap ke arah Arimbi dengan perasaan tidak karuan. Sepagian ini, banyak sekali kejutan yang ia dapatkan. Amar benar-benar tidak bisa berpikir apapun. Rasanya semuanya mengambang dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Tak
"Ya Allah, aku lupa nyalain handphone," ucapnya lirih ketika merogoh saku celana dimana ponselnya masih dalam keadaan mati.
Amar lalu menyalakan ponselnya tersebut. Ia membulatkan matanya ketika melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Farrah.
"Hallo Far, ada ap~"
"Kamu kemana aja sih, Mas? Kenapa hapenya dinyalain. Hiks dari semalam aku nelfonin kamu tak ga bisa. Kamu juga pergi nggak balik-balik, katanya cuma cari makan. Afira Mas, Afira. Afira sekarang di ICU."
Degh!
TBC
mbak mbi yg sabar ....mak lakor tu anggap j angin kentut ...bau..jd lebih baik menjauh..
datang tp di maki diam saja buat apa, ya maki balik lah. sekalian viral nya kl mbales jng setengh setengh.
mampus si amar nyesel ternyata bukan ibu peri yg didapat mak Lampir 🤭🤭🤭
kasian JD korban dari orang tua tapi hati hati Arimbi mnt km mlh disalahkan m orang picik