Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 : Keputusan Nayra
Langkah Nayra terasa berat saat mengikuti Arsen masuk ke dalam gedung megah itu. Lantai marmer mengilap, lampu gantung kristal, dan suasana yang begitu sunyi semua terasa asing baginya. Ia seperti masuk ke dunia yang bukan miliknya.
Arsen berjalan di depan tanpa menoleh. "Ke sini."
Nayra mengikutinya di dalam ruang kerja Arsen. Ruangan itu luas, dingin, dan rapi. Tidak ada satu pun barang yang terlihat tidak pada tempatnya.
Arsen duduk di kursinya, lalu mendorong sebuah map hitam ke arah Nayra. "Silahkan di baca."
Nayra menelan ludah, lalu perlahan membuka map itu. Di dalamnya sebuah kontrak, tangannya sedikit gemetar saat mulai membaca.
Baris demi baris, tentang pelunasan hutang, status pernikahan kontrak dan kewajibannya sebagai istri. Semua masih bisa ia cerna. Namun, tiba-tiba matanya berhenti di satu bagian.
Setelah seluruh hutang dinyatakan lunas, pihak kedua wajib meninggalkan tempat tinggal sebelumnya dan tidak kembali menjalani kehidupan lama.
Nayra membeku, tangannya mencengkeram kertas itu. "Apa maksudnya ini…?" suaranya pelan, tapi jelas bergetar.
Ia mengangkat wajahnya, menatap Arsen. "Saya harus… meninggalkan rumah?"
Arsen menatapnya tenang. "Benar." Jawaban itu seperti palu yang menghantam.
"Tapi itu rumah saya," suara Nayra mulai pecah. "Keluarga saya ada di sana…"
Ia bahkan belum sempat melanjutkan, Arsen sudah memotongnya.
"Kamu boleh membawa kedua anakmu."
Nayra terdiam. Kalimat itu… membuat jantungnya seperti berhenti sejenak. Perlahan, ia memahami arti sebenarnya.
"Lalu, bagaimana dengan suami saya?" tanyanya lirih.
Arsen tidak langsung menjawab. Tatapannya berubah sedikit lebih dalam.
"Kamu tahu jawabannya."
Nayra menunduk, tangannya semakin gemetar. Berarti ia harus meninggalkan Angga. Lima belas tahun pernikahan, berakhir seperti ini?
"A-Anda tidak berhak memutuskan itu." bisik Nayra, suaranya lemah, tapi penuh rasa sakit.
Arsen berdiri, langkahnya pelan mendekat. Ia berhenti tepat di depan Nayra.
"Selama lima belas tahun," ucapnya pelan, "kamu tidak pernah benar-benar bahagia."
Deg.
Nayra langsung mengangkat wajahnya, matanya membesar. "A-Anda…"
"Saya tahu semuanya," lanjut Arsen. "Tentang suami kamu. Tentang bagaimana dia memperlakukanmu selama ini."
Napas Nayra tercekat.
"Kamu pikir saya tidak mencari tahu sebelum menawarkan kontrak ini?"
Setiap kata Arsen, seperti membuka luka yang selama ini ia tutup rapat.
"Dia tidak pernah benar-benar melihatmu," lanjut Arsen dingin. "Tidak pernah menghargai apa yang kamu lakukan."
Air mata Nayra mulai jatuh tanpa bisa ditahan.
"Itu bukan urusan Anda," tegasnya.
Arsen menatapnya tajam. "Kalau bukan urusan saya, kamu tidak akan duduk di sini sekarang. Selama ini kamu bertahan untuk apa?" tanya Arsen pelan. "Untuk keluarga? Atau karena kamu takut?"
Pertanyaan itu, menusuk tepat ke dalam hati Nayra. Ia tidak bisa menjawab, karena ia sendiri tidak tahu.
"Sa-saya…" suara Nayra hilang di tenggorokan.
Arsen menghela napas pelan. Untuk pertama kalinya, nadanya sedikit melunak.
"Saya tidak memaksamu meninggalkan sesuatu yang baik," katanya. "Saya hanya memberimu jalan keluar dari sesuatu yang sudah lama menyakitimu."
Nayra menutup matanya, air matanya jatuh semakin deras. Bayangan Angga, bentakan, tatapan dingin, rasa takut dan rasa sepi di dalam rumah sendiri. Semua itu kembali menghantamnya.
"Tapi… dia tetap suami saya," ucap Nayra pelan.
Arsen diam sejenak, lalu berkata lagi. "Saya tanya sama kamu Nayra. Apakah dia pernah benar-benar menjadi suami yang baik untukmu?"
Pertanyaan itu, menghancurkan pertahanan terakhir Nayra. Ia terisak pelan, tangannya mencengkeram kontrak itu erat.
Ruangan kembali hening, hanya suara tangisnya yang terdengar. Beberapa menit berlalu, sampai akhirnya...
"Apa yang terjadi setelah kontrak ini selesai?" tanya Nayra dengan suara parau.
Arsen kembali ke posisinya. "Dua tahun."
Nayra mengangkat wajahnya.
"Setelah itu, kita berpisah. Kamu bebas, uang yang kamu terima tidak perlu dikembalikan."
Nayra terdiam, dua tahun... sebagai istri orang asing. Dia harus menukar hidupnya, dengan kebebasan?
Tangannya perlahan bergerak, ngambil pulpen yang tersedia di atas meja. Namun… ia berhenti, masih ragu. Ini bukan keputusan kecil, ini… mengubah segalanya.
Arsen menatapnya tanpa mendesak. "Aku tidak akan mengulang tawaran ini," katanya datar.
Nayra menatap kontrak itu lama. Ujung pulpen sudah berada di atas kertas, tapi tangannya tidak bergerak.
Keputusan itu terlalu besar, bukan hanya tentang dirinya. Perlahan, Nayra menurunkan pulpen itu kembali ke meja.
"Saya… tidak bisa memutuskan sekarang," ucapnya pelan.
Arsen tidak terlihat terkejut. "Kenapa?" tanyanya singkat.
Nayra menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya yang kacau.
"Saya punya anak," katanya lirih. "Saya tidak ingin mengambil keputusan sebesar ini, tanpa melibatkan mereka. Terutama anak pertama saya."
Arsen menatapnya dalam, seolah membaca isi pikirannya.
"Saya ingin bicara dengannya dulu," lanjut Nayra. "Saya ingin tahu, apa yang dia rasakan."
Beberapa detik hening.
Arsen menyandarkan tubuhnya, lalu mengangguk pelan. "Satu hari."
Nayra mengangkat wajahnya.
"Saya beri kamu waktu satu hari untuk berpikir," lanjut Arsen. "Besok… saya akan menjemputmu di tempat kita pertama kali bertemu."
Nayra menelan ludah, lalu mengangguk pelan. "Baik…"
Arsen berdiri, merapikan jasnya. "Saya harap kamu tidak membuang waktu," katanya datar.
Nayra terdiam, namun saat ia hendak berbalik pergi, tiba-tiba Arsen berkata lagi.
"Anak pertamamu…" ucap Arsen tiba-tiba.
Langkah Nayra terhenti, perlahan ia menoleh.
Arsen menatapnya lurus. "Saya yakin dia akan setuju."
Deg.
Nayra mengernyit pelan. "Maksud Anda?"
Arsen memasukkan kedua tangannya ke saku. "Tidak ada anak, yang ingin melihat ibunya terus menderita."
Kalimat itu, seperti menembus langsung ke dalam hatinya. Nayra membeku, ia ingin menyangkal. Ingin berkata bahwa anaknya tidak akan setuju. Bahwa semuanya masih bisa diperbaiki.
Tapi... bayangan Raya yang memeluk Nayra diam-diam saat Angga marah. Semua itu muncul begitu saja. Tanpa bisa ditahan, napas Nayra terasa berat. Ia menunduk, matanya mulai berkaca-kaca lagi.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan.
Sore menjelang malam
Nayra kembali duduk di halte yang sama, tempat di mana semuanya dimulai. Namun kali ini hatinya jauh lebih berat. Tangannya menggenggam ponsel, layar menyala.
Nama yang ingin ia hubungi sudah terpampang.
"Raya…"
Jarinya bergetar, ini bukan percakapan biasa. Ini, akan mengubah hidup mereka semua. Ia menarik napas panjang, lalu... Menekan tombol panggil.
Beberapa detik terasa begitu lama, sampai akhirnya
"Ma?"
Suara itu terdengar dari seberang. Lembut, polos, dan penuh kepercayaan. Air mata Nayra langsung jatuh.
"Iya, Nak…" suaranya bergetar.
"Ma lagi di mana? Kok belum pulang?"
Pertanyaan sederhana itu, justru terasa begitu menyakitkan. Nayra menutup matanya.
"Raya… Mama mau bicara sesuatu. Yang penting."
Hening sejenak.
"Iya, Ma…"
Nayra menggenggam ponselnya erat.
"Kalau… misalnya," ucapnya pelan, "Mama harus pergi dari rumah…"
Kalimat itu menggantung.
"Dan bawa kamu sama Alea…" Suaranya mulai pecah.
"Kamu… mau ikut Mama?"
Hening, tidak ada jawaban. Beberapa detik, namun terasa seperti selamanya.
Nayra hampir panik. "Raya?"
Akhirnya.. "Aku ikut Mama." Jawaban itu cepat, tanpa ragu.
Nayra terdiam, matanya membesar.
"Aku ikut Mama ke mana pun," lanjut Raya pelan. "Aku nggak mau Mama sendirian."
Air mata Nayra jatuh semakin deras. "Tapi… Ayah..."
"Ayah nggak pernah bisa bikin Mama bahagia."
Deg.
Kalimat itu, dari anaknya sendiri. Nayra tidak bisa berkata apa-apa.
"Kalau Mama punya kesempatan buat hidup lebih baik…" lanjut Raya, suaranya mulai bergetar, "Mama harus ambil."
Nayra terisak, tangannya menutup mulutnya sendiri. Selama ini… ia pikir ia bertahan demi anak-anaknya. Namun ternyata, anak-anaknya justru melihat penderitaannya.
"Raya…"
"Iya, Ma?"
Nayra menarik napas panjang, keputusan itu.Akhirnya mulai terbentuk.
"Besok… kita pergi ya."
"Iya, Ma." Suara itu terdengar mantap, seolah tidak ada keraguan sedikit pun.
Telepon berakhir, dan Nayra masih duduk di sana. Menangis dalam diam. Namun kali ini, di balik air mata itu... ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya rasa sakit, tapi juga keberanian.
Malam itu, Nayra berdiri di depan rumahnya. Rumah yang selama ini ia sebut tempat pulang. Namun entah kenapa… kini terasa asing, tangannya perlahan menyentuh pintu.
Besok semuanya akan berubah. Dan ia tahu, tidak ada jalan untuk kembali.
semangat, lanjut thoor😄👍