NovelToon NovelToon
High School Love On

High School Love On

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Romansa Fantasi
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Rustina Mulyawati

Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11 Membolos Bersama

Aksa terduduk diam dikelas sambil membuka ponsel nya. Ada pesan masuk dari rumah sakit Ayahnya di rawat. Bulan ini ia memang belum membayar tagihan rumah sakit. Uang yang Devina berikan hari itu ia masih simpan dan enggan menggunakannya. Karena ia merasa sangat rendah diri saat akan memakainya. Ia bahkan selalu membawa uang itu berniat ingin mengembalikannya kepada Devina, namun ia belum punya kesempatan yang bagus. Ia tidak mau menyinggung Devina.

Aksa sejenak termenung cukup lama ia menatap ponselnya. Setelah beberapa saat kemudian ia membalas pesan dari rumah sakit itu dan berniat akan membayar setengahnya dulu hari ini sepulang sekolah. Lantas, Aksa tidak punya pilihan dan mengurungkan niatnya untuk mengembalikan uang tersebut kepada Devina.

Teman-temannya dengan Devina dan Adit baru saja kembali ke kelas bersama setelah dari kantin. Karena jam istirahat juga sudah mau berakhir. Devina melihat wajah Aksa yang terlihat murung. Ia ingin bertanya dan menghampiri Aksa tetapi Leni datang entah dari mana sambil merangkul lengan Devina berjalan menuju bangku mereka.

"Dev? Kemana aja sih, loh? Gue cariin dari tadi juga, " ucap Leni.

"Gue bareng sama teman-temannya Aksa, " jawab Devina kemudian.

"Oalah! Akhir-akhir ini gue lihat loh makin deket aja sama si Aksa. Apa jangan-jangan kalian ada sesuatu yang disembunyikan dari gue? "

"Gak ada. Cuma gue aja yang pengen nempel terus sama dia. Sama kayak loh yang gak ada habisnya nempel terus sama si Arsya. Waktu loh sekarang lebih banyak sama dia dibandingkan sama gue. Kecewa gue sama loh, " ungkap Devina.

"Hei? jangan begitu! Seharian di kelas kan, gue bareng terus sama loh. Waktu istirahat gue harus sama dia, kalau nggak dia nanti marah, " bela Leni memelas kepada Devina.

"Iyah deh, iyah. Tapi, gue perhatiin kayaknya murid baru itu suka deh sama loh! Loh beruntung banget sih, bisa disukai sama cowok ganteng, keren, ramah dan baik kayak dia. Gue jadi iri. "

Devina menoleh dengan tatapan geli. "Ngawur loh kalau ngomong. Sadar oi! Loh mau selingkuh dari Arsya. Udah punya pacar juga, masih aja ketarik sama yang lain, " celetuk Devina.

"Nggak lah. Arsya tetap nomor satu dihati gue. Gak akan pernah ada yang bisa menggantikan dia dihati gue. "

Devina merasa sangat mual dan muak mendengar ocehan Leni. "Dasar bucin! "

Devina melirik punggung Aksa yang masih terdiam memainkan ponselnya dengan wajah yang terlihat mulai gelisah. Entah apa yang sedang ia lakukan? Sesaat kemudian, Aksa berdiri mendadak membuat teman-temannya terkejut dan membuat Devina terlihat penasaran.

"Guys? Gue harus pergi ke rumah sakit, " ucap Aksa kepada teman-temannya dengan panik dan gelisah ia mengambil ranselnya dan bergegas pergi berlari keluar secepat mungkin.

Feri belum sempat bertanya ada apa dan kenapa? Tapi melihat reaksi Aksa sepertinya ada hal yang darurat di rumah sakit. Feri dan teman-temannya hanya berharap kalau semuanya baik-baik saja.

"Sepertinya terjadi sesuatu, " terka Rifal.

"Kayaknya emang begitu. Gue jadi khawatir, " sahut Samsul.

"Apa Ayahnya kritis lagi? " timpal Feri ikut menduga-duga.

Devina yang penasaran dengan kepergiaan Aksa yang seperti itu segera menghampiri Feri ingin bertanya. Namun, sebelum ia sempat bertanya guru sudah memasuki kelas untuk memulai pelajaran. Sementara, Lala juga yang melihat kepergiaan Aksa seperti itu merasa khawatir dan tidak sengaja mendengar ucapan Aksa menduga kalau sesuatu terjadi kepada Ayahnya saat ini.

"Baiklah! Pelajaran akan segera dimulai. Silahkan kembali duduk dan jangan berisik, " ujar guru matematika.

Lantas, semua siswa dikelas duduk dengan tenang. Namun rasa gelisah dihati Devina dan Lala membuat meraka tidak bisa tenang.

"Dimana murid teladan kita, Aksa? Apa dia membolos? " tanya guru matematika itu lagi kepada teman-temannya.

"Dia ada urusan mendesak dan harus ke rumah sakit, Bu. Jadi dia izin pulang duluan, " sahut Feri memberi alasan.

Guru matematika itu mengangguk seolah ia tahu keadaan Aksa. Dan tahu tentang Ayahnya yang koma di rumah sakit. Jadi ia tidak mempermasalahkannya.

"Baiklah, kalau begitu. Mari kita mulai pembelajaran hari ini, " balasnya sambil membuka materi yang akan di pelajari hari ini.

Devina sangat gelisah dan penasaran kenapa Aksa pergi ke rumah sakit? Karena ia memang tidak tahu kalau Ayah Aksa sedang koma saat ini. Devina tidak bisa fokus dalam belajarnya dan terus memikirkan Aksa saat ini. Sampai akhirnya di tengah pelajaran yang sedang di terangkan oleh guru matematika, Devina dan Lala bersamaan berdiri membuat semua orang menatap ke arah mereka begitu juga guru.

"Ada apa kalian berdua berdiri? " tanya guru matematika.

"Maaf, Bu. Saya boleh izin pulang? Saya di diberi kabar, Ibu saya jatuh pingsan, " jawab Lala berbohong dengan menggunakan alasan ibunya.

"Baiklah. Silahkan! " Guru memberi izin, sehingga Lala pun segera membereskan bukunya dan memasukkannya ke dalam ransel.

"Terima kasih, Bu, " balas Leni sambil bergegas pergi meninggalkan kelas.

"Kalau kamu? Ada perlu apa? " tanya guru matematika lagi kepada Devina yang masih berdiri di tempatnya. Sejenak ia terdiam masih memikirkan alasan apa yang harus ia katakan untuk bisa pulang lebih awal.

"Nggak papah, Bu. Cuma mau ke toilet, " jawab Devina hanya itu yang bisa ia pikirkan agar bisa keluar.

"Kalau begitu cepat. Jangan membuang waktu dengan berdiri sana dan cepat kembali, " balas guru matematika.

"Iyah, Bu. "

Devina pun bergegas pergi meninggalkan ranselnya di kelas. Padahal itu cuma alasan dia untuk bisa menyusul Aksa ke rumah sakit. Namun, saat ia akan keluar menuju gerbang, Devina berhenti melangkah karena ada satpam yang berjaga. Devina tidak bingung karena tidak punya alasan untuk keluar apalagi ia tidak membawa ransel. Di saat Devina merasa kehabisan akal seseorang tiba-tiba saja menggenggam tangannya. Devina terkejut saat tahu Adit ternyata mengikutinya.

"Loh kok ada disini? " tanya Devina heran.

"Gue juga izin ke toilet."

"Ah, tapi sebenarnya gue mau bolos. Bukan mau ke toilet, " jawab Devina.

"Gue tahu. Makanya gue nyusul loh kesini. Ayo, jangan lewat depan nanti ketahuan. Kita lewat belakang, " ajak Adit sambil menarik Devina pergi ke belakang sekolah untuk membolos bersama.

Sesampainya dibelakang sekolah Devina tertegun karena pintu gerbangnya sama terkunci dan tidak bisa keluar.

"Sekarang gimana?" tanya Devina.

Adit tersenyum lebar. "Tentu saja kita akan memanjat, " jawabnya begitu yakin.

"Apa? Loh bilang kita akan manjat? Loh yang bener aja, gue gak bisa! " seru Devina berdecak pinggang.

"Bisa! Ayo, naik ke punggung gue sebagai pijakan. Cepetan! " Adit berlutut supaya Devina bisa menaiki punggungnya dengan mudah.

"Loh yakin?" Devina sempat ragu.

"Iyah, buruan! Nanti keburu ada yang lihat! " tegas Adit dengan sangat yakin.

Lantas, setelah sesaat lamanya Devina merasa ragu. Akhirnya ia pun segera memutuskan untuk menaiki punggung Adit dan memanjat tembok sekolah. Setelah ia sampai di atas, Devina menarik tangan Adit untuk membantunya sampai di atas. Kemudian, sejenak mereka tertawa bersama saat tiba diatas tembok sekolah.

"Turunnya gimana? " tanya Devina kesulitan.

"Gur turun duluan. Nanti gue tangkap loh dari bawah, " usul Adit sambil bersiap melompat, dan turun dengan selamat.

"Ayo, turun! " Adit bersiap menangkan tubuh Devina dengan mengulurkan kedua tangannya ke atas. Devina sempat ragu dan tidak yakin karena ini kali pertama ia melakukan hal seperti ini. Devina menarik nafas panjang dan bersiap melompat. Sampai akhirnya ia memberanikan diri dan melompat. Adit menangkapnya dengan sangat mudah sehingga Devina jatuh dalam pelukan Adit.

Deg deg~ Seketika jantung Adit berdebar sangat cepat saat ia berhasil menangkap tubuh Devina jatuh dalam pelukan nya. Apalagi saat Devina mendongak menatapnya dengan senyuman manis terpampang diwajahnya. Devina terlihat sangat senang karena berhasil mendarat dengan selamat.

"Tangkapan yang bagus! " seru Devina sambil melepaskan diri dari pelukan Adit. Tatkala Adit masih tertegun diam menahan nafas dan mengontrol debaran jantungnya yang cepat. Lantas, Devina bergegas pergi meninggalkan sekolah hanya karena ingin menyusul Aksa ke rumah sakit.

1
SANG
Semangat terus pantang mundur👍💪👍💪
SANG
Like iklan plus komen👍💪👍💪👍💪
Rustina Mulyawati: Terima kasih Kakak..
total 1 replies
SANG
Aku kasih suka ya👍💪
SANG
Keren banget💪👍💪
SANG
Ceritanya seru
T28J
lanjutkan kak 👍
T28J
anjay nganter doang 3 juta 🤣👍
T28J
hadiir kakak 🙏
Rustina Mulyawati: Terima kasih udah mampir👍 Moga suka sama jalan ceritanya. ☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!