Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 – Garis yang Mulai Dilanggar
Udara malam di balkon terasa semakin dingin.
Namun Alya justru merasa wajahnya kian panas.
Pandangan Raka masih tertuju padanya, terlalu dekat, terlalu tenang, dan terlalu sulit untuk diabaikan.
“Kamu terlalu mudah gugup.”
Perkataan itu terus terngiang di benak Alya.
Padahal yang membuatnya gugup justru pria di hadapannya.
Dan masalah utamanya—
Raka tampaknya mulai menyadari hal itu.
Alya segera memalingkan wajah sebelum detak jantungnya terdengar terlalu jelas.
“Kamu menikmati situasi ini, kan?”
Raka mengangkat alisnya yang tipis.
“Situasi apa?”
“Kamu tahu maksudku.”
“Tidak.”
Jawaban singkat dan datar itu membuat Alya mendengus pelan.
Pembohong.
Pria ini jelas sengaja mendekat tadi.
Dan yang paling menjengkelkan—
Alya tidak membencinya.
“Kalau terus berdiri sedekat ini,” gumam Alya pelan, “aku tidak bisa berpikir.”
Pandangan Raka berubah.
Lalu perlahan—
Pria itu mundur selangkah.
Namun anehnya, justru itu membuat Alya sedikit kehilangan kelegaan yang tadinya ia harapkan.
Berbahaya.
Benar-benar berbahaya.
“Lebih baik?” tanya Raka tenang.
Alya segera mengangguk cepat.
“Iya.”
Padahal tidak juga.
Suasana di antara mereka sudah terlanjur berubah sejak beberapa hari terakhir.
Dan Alya mulai takut mengakui bahwa dirinya menyukai perubahan itu.
Suara pintu balkon terbuka tiba-tiba memecah keheningan.
“Astaga.”
Sepupu Raka muncul sambil memandangi mereka bergantian dengan ekspresi penuh arti.
“Apakah aku mengganggu sesuatu?”
Alya segera mundur cepat dari dekat Raka.
“Tidak!”
Reaksi spontan itu justru membuat sepupunya tertawa kecil.
“Santai saja. Aku hanya ingin mengambil minum.”
Namun sebelum pergi lagi, pria itu melirik Raka sambil menyeringai.
“Aku belum pernah melihatmu setenang ini di dekat perempuan.”
Raka menatap dingin.
“Keluar.”
“Baik, Tuan Dingin.”
Begitu pria itu benar-benar pergi, Alya segera menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Sekarang mereka pasti berpikir yang bukan-bukan.”
“Mereka memang selalu berpikir yang bukan-bukan.”
Nada suara Raka tetap santai.
Dan Alya mulai menyadari sesuatu—
Pria ini sebenarnya cukup tenang menghadapi keluarganya.
Ia hanya memilih untuk terlihat dingin.
“Bagaimana kamu bisa bertahan hidup di keluarga seperti ini?” tanya Alya sambil tertawa kecil.
Raka bersandar santai di pagar balkon.
“Karena saya sudah terbiasa.”
“Sejak kecil?”
“Ya.”
Pandangan pria itu beralih ke taman di bawah.
Dan untuk sesaat, wajahnya terlihat lebih lelah dibandingkan biasanya.
Alya memperhatikan diam-diam.
“Kamu tidak terlalu dekat dengan mereka, kan?”
Pertanyaan itu keluar pelan.
Raka tidak langsung menjawab.
Namun diamnya saja sudah terasa seperti sebuah jawaban.
“Di keluarga saya,” katanya akhirnya, “hubungan lebih banyak dibangun atas dasar tanggung jawab.”
Alya sedikit mengernyit.
“Bukan kasih sayang?”
Pandangan Raka kembali padanya.
“Ada perbedaan?”
Pertanyaan itu membuat Alya terdiam sesaat.
Karena cara pria ini berbicara terdengar terlalu serius.
Terlalu jujur.
“Tentu ada,” jawab Alya pelan. “Tanggung jawab membuat orang bertahan. Namun kasih sayang membuat orang ingin tinggal.”
Hening.
Pandangan Raka tidak berpindah dari wajahnya.
Dan entah mengapa—
Alya merasa pria itu benar-benar memikirkan perkataannya.
“Apakah itu alasan kamu tetap bertahan menjaga ibumu?” tanya Raka tiba-tiba.
Alya tersenyum kecil.
“Ibu adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki.”
Nada suaranya lembut.
Namun ada kesedihan kecil di sana.
“Ayah meninggal ketika aku SMA. Setelah itu… hanya kami berdua.”
Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Raka berubah sedikit.
Lebih halus.
“Sulit?”
Alya tertawa kecil hambar.
“Sangat sulit.”
Ia memandangi langit malam sebentar sebelum melanjutkan perkataannya.
“Kadang aku harus bekerja sambil kuliah. Kadang berpura-pura kuat agar ibu tidak khawatir.”
Pandangan Raka perlahan berubah semakin dalam.
Dan Alya mulai menyadari—
Pria itu benar-benar mendengarkan.
Bukan sekadar basa-basi.
“Aku iri pada orang yang bisa hidup tanpa terus-menerus memikirkan uang,” gumam Alya pelan.
Perkataan itu membuat suasana sedikit berubah.
Karena untuk pertama kalinya—
Perbedaan dunia mereka terasa begitu jelas.
Alya segera tersadar dan cepat tersenyum kecil.
“Maaf. Aku malah mencurahkan isi hati.”
“Tidak masalah.”
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Dan entah mengapa terasa tulus.
“Alya.”
“Hmm?”
Pandangan Raka kini benar-benar fokus padanya.
“Mulai sekarang, kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.”
Jantung Alya langsung berdetak keras.
Perkataan itu sederhana.
Namun cara Raka mengatakannya—
Terlalu serius.
Terlalu nyata.
Dan Alya mulai merasa dirinya benar-benar dalam masalah besar.
Karena perlahan—
Ia mulai mempercayai pria itu.
---
Malam semakin larut ketika acara keluarga akhirnya selesai.
Beberapa anggota keluarga mulai pulang, sementara Alya membantu Mira memastikan semuanya beres meski terus dilarang.
“Kamu tamu di sini,” kata Mira untuk kesekian kalinya.
“Aku bosan hanya berdiam diri.”
Mira tertawa kecil.
“Kalau Tuan Raka melihat Anda membawa piring sendiri, saya bisa dimarahi.”
Alya segera tertawa.
“Dia semenakutkan itu?”
“Untuk orang lain? Ya.”
“Kalau untukku?”
Mira terdiam sesaat.
Lalu tersenyum kecil penuh arti.
“Itu pertanyaan yang jawabannya sudah mulai terlihat.”
Alya segera salah tingkah.
Dan untungnya, sebelum Mira sempat menggoda lebih jauh, suara langkah kaki terdengar mendekat.
Raka.
Pria itu berhenti beberapa langkah dari mereka.
Pandangannya langsung jatuh pada piring yang sedang dipegang Alya.
“Kamu sedang apa?”
“Membantu.”
“Letakkan.”
Alya menghela napas pelan.
“Nah kan…”
Mira buru-buru menahan senyum sebelum pamit pergi meninggalkan mereka.
Kini hanya Alya dan Raka di dapur besar mansion itu.
Suasana mendadak terasa lebih sunyi.
Dan lebih intim.
“Aku bukan boneka pajangan,” protes Alya sambil meletakkan piring.
“Kamu tamu.”
“Aku istrimu.”
Perkataan itu keluar spontan.
Dan begitu hening muncul setelahnya—
Alya langsung ingin membenturkan kepalanya ke meja.
Astaga.
Mengapa mulutnya kian berbahaya akhir-akhir ini?
Namun yang lebih berbahaya adalah—
Pandangan Raka langsung berubah begitu mendengarnya.
Lebih gelap.
Lebih dalam.
“Alya.”
Nada suaranya rendah sekali sekarang.
Dan Alya segera menyadari ia harus pergi sebelum situasi kian aneh.
Ia buru-buru berjalan melewati Raka.
Namun saat hendak keluar dari dapur—
Sebuah tangan tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya.
Alya segera berhenti.
Jantungnya nyaris melonjak keluar.
Sentuhan itu tidak kasar.
Justru terlalu pelan.
Terlalu hati-hati.
Namun cukup membuat seluruh tubuh Alya menegang.
Raka berdiri tepat di belakangnya sekarang.
Dekat sekali.
“Apa?” tanya Alya pelan tanpa berani menoleh.
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
Lalu suara pria itu terdengar rendah di dekatnya—
“Kamu menyadari tidak…”
Napas Alya langsung tertahan.
“…kalau akhir-akhir ini kamu mulai sering membuat saya lupa akan kontrak kita?”
Jantung Alya berhenti sesaat.
Perkataan itu terasa seperti sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan.
Dan yang paling menakutkan—
Sebagian dari dirinya merasa bahagia mendengarnya.