Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Jualan Rame, Tetap Tidak Cukup.
Satu minggu.
Nirmala baik selama satu minggu.
Itu angka pastinya. Aku hitung. Dari malam kami berdua menguleni adonan untuk pesanan Ustadz Arifin sampai tujuh hari setelahnya, ada semacam gencatan senjata yang tidak pernah disepakati tapi terjadi juga. Tidak ada lemparan. Tidak ada kata-kata yang dirancang untuk melukai. Tidak ada Bimo yang muncul mabuk di tengah malam.
Tujuh hari.
Aku tidak mau bilang ini tanda-tanda baik karena sudah terlalu sering terbukti bahwa yang kelihatan seperti tanda-tanda baik belum tentu adalah tanda-tanda baik. Tapi tujuh hari itu aku nikmati dengan diam, dengan tidak banyak berharap, dengan cara orang yang sudah belajar tidak menaruh terlalu banyak di sesuatu yang belum pasti.
Pesanan Ustadz Arifin sukses.
Empat ratus biji habis semua. Ada yang minta tambah bahkan. Nama gerobak cilokku mulai disebut di kalangan jemaah pengajian beliau, dan minggu-minggu berikutnya ada dua pesanan kecil yang datang dari orang-orang yang hadir di acara itu.
Omzetku naik.
Dua ratus ribu sehari rata-rata. Naik dari sebelumnya yang tidak pernah bisa konsisten.
Hari itu aku pulang dengan uang di kantong dan sesuatu di dada yang sudah lama tidak ada. Bukan bangga yang berlebihan. Lebih ke lega yang sederhana, lega orang yang kerja kerasnya hari ini kelihatan hasilnya.
Aku hitung di jalan pulang.
Modal delapan puluh ribu sudah balik. Bensin motor. Setengah bungkus rokok yang belakangan makin susah aku kurangi tapi belum bisa berhenti sepenuhnya. Sisanya untuk kebutuhan rumah, aku pisahkan sembilan puluh ribu untuk Nirmala.
Masuk rumah, Nirmala di sofa.
Aku taruh uang di meja. "Ini buat kebutuhan rumah, sembilan puluh ribu. Hari ini lumayan, dua ratus ribu omzetnya."
Nirmala mengambil uang itu.
Menghitungnya.
Satu lembar, dua lembar, tiga, sampai habis. Cara menghitung yang sudah sangat aku kenal, cara yang selalu berakhir dengan ekspresi yang sama meskipun jumlahnya berbeda.
Dia taruh uang itu ke meja.
Bukan diletakkan. Dilempar.
"Masih kurang."
Dua kata. Sudah cukup untuk merobek apa yang tadi aku bawa pulang dari jalan.
"Nir, dua ratus ribu itu sudah naik dari biasanya. Masih ada modal yang harus balik, bensin—"
"Inget Wida udah mau kelas enam." Dia memotong. Matanya tidak ke aku. "Gue gak mau tau, harus ke swasta itu. Dan Aini juga harus masuk kober sekarang, umurnya sudah cukup."
Aku menatapnya.
Wida mau kelas enam. Masih ada hampir satu tahun sebelum SMP. Dan kober untuk Aini, yang memang sudah umurnya, tapi kober swasta yang dia maksud biayanya tidak kecil dan itu belum masuk di hitungan manapun yang aku punya sekarang.
"Kober bisa di yang dekat sini dulu, yang subsidi pemerintah ada—"
"Gue gak mau Aini di kober asal-asalan."
"Itu bukan asal-asalan. Itu program resmi, kurikulumnya sama—"
"Mas Satria." Nirmala menatapku akhirnya. "Gue minta satu hal aja. Tolong jangan bikin gue harus minta dua kali."
Ruangan itu sunyi.
Aku mengambil uang yang tadi dilempar ke meja. Memasukkan ke saku. Lalu berjalan ke kamar.
Di kamar aku gelar sajadah.
Waktu Ashar hampir habis tapi masih ada. Aku shalat empat rakaat dengan bacaan yang aku usahakan fokus meskipun kepala masih penuh dengan suara tadi, dengan angka-angka yang tidak pernah mau ketemu, dengan perasaan bahwa seberapapun aku naikkan penghasilan tidak akan pernah cukup di tempat ini karena standar cukupnya selalu bergeser tepat satu langkah di depan jangkauanku.
Salam kanan. Salam kiri.
Aku tidak berdiri.
Duduk di atas sajadah. Tangan di lutut. Menatap tembok di depan yang catnya sudah sedikit mengelupas di pojok bawah.
Lima menit.
Tidak melakukan apa-apa. Tidak berdoa dengan kata-kata yang terstruktur. Tidak merencanakan sesuatu. Hanya duduk di sini, di atas sajadah Bapak yang sudah kusam ini, di satu-satunya tempat di rumah ini di mana tidak ada yang bisa masuk dan memarahiku atau melempar sesuatu atau menyebut namaku dengan nada yang sudah tidak mau aku dengar tapi tetap harus aku dengar.
Ini rutinitasku.
Tidak ada yang tahu. Tidak Nirmala, tidak Bimo, tidak siapapun. Selesai shalat, aku duduk. Lima menit, kadang sepuluh. Mengisi ulang sesuatu yang sudah terkuras habis sebelum harus kembali ke luar pintu itu.
Lalu aku ambil Quran kecil dari bawah bantal.
Quran yang ukurannya muat di saku, yang sudah agak lusuh sampulnya, yang beberapa halamannya punya bekas lipatan dari waktu-waktu tertentu yang sudah aku tidak ingat kapan tepatnya.
Aku buka ke surat Al Mulk.
Bibirku bergerak pelan membaca.
Tabarakalladzii biyadihil mulk.
Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan.
Aku baca sampai selesai. Pelan. Tidak terburu-buru. Membiarkan setiap ayatnya masuk dan tinggal di tempat yang memang perlu diisi.
Lalu Al Waqiah.
Idzaa waqa atil waaqiah. Laisa liwaq atiha kaadzibah.
Apabila terjadi hari kiamat. Tidak seorangpun dapat mendustakan kejadiannya.
Ada ayat di tengah surat itu yang selalu membuatku berhenti lebih lama dari yang lain. Tentang rezeki. Tentang yang menciptakan biji yang kamu tanam dan air yang kamu minum dan api yang kamu nyalakan. Tentang bahwa semua itu bukan dari tanganmu.
Bukan dari tanganmu.
Gerobak itu bukan milikku. Dua ratus ribu hari ini bukan karena kepandaianku. Bahkan tangan yang menguleni adonan jam tiga pagi di teras dalam dingin itu, bukan karena kehebatanku.
Semua dari-Nya.
Dan kalau semua dari-Nya, maka yang mengatur kecukupannya juga Dia.
Bukan Nirmala.
Bukan angka yang dilempar ke meja.
Bukan standar yang selalu bergeser satu langkah di depan.
Aku menutup Quran.
Menarik napas panjang.
Di luar kamar, suara televisi. Suara langkah kaki Aini yang selalu agak goyang ke kiri ke kanan. Suara-suara rumah yang sudah aku hafal semuanya seperti hafal nama sendiri.
Aku berdiri.
Masukkan Quran kecil ke bawah bantal.
Buka pintu kamar.
Keluar.
Besok ada adonan yang perlu diuleni lagi jam tiga pagi. Ada gerobak yang perlu didorong. Ada pelanggan yang menunggu. Ada dua ratus ribu yang perlu dikejar lagi, mungkin lebih kalau Allah izinkan.
Itu dulu.
Itu yang ada di tangan.
Yang lainnya nanti.
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain