Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN DARI BELAKANG
Suasana masih sunyi senyap. Ucapan Alana tadi terasa menggantung di udara, begitu berat sampai rasanya sulit untuk bernapas. Kedua orang yang paling berkuasa di tempat itu, orang yang selama ini saling bermusuhan dan ingin saling menjatuhkan, kini sama-sama terdiam. Tatapan mereka tertuju pada gadis yang berdiri di tengah-tengah, gadis yang kini terlihat begitu teguh, jauh berbeda dari gadis yang lemah dan takut yang mereka kenal selama ini.
Gubernur William yang pertama kali membuka suara. Wajahnya tampak sedih dan terpukul, tapi juga ada rasa bangga yang tersembunyi di baliknya. Ia melangkah perlahan mendekat, tapi berhenti di jarak yang cukup jauh, seolah takut kalau ia terlalu dekat, ia akan merusak apa yang sedang terjadi ini.
“Alana... anakku,” katanya, suaranya yang biasanya tegas dan keras kini terdengar lembut dan parau.
“Ayah tidak bermaksud membuatmu merasa terpenjara, atau membuatmu merasa tidak punya kebebasan. Semua yang Ayah lakukan itu karena Ayah sayang padamu, karena Ayah takut ada hal buruk yang menimpamu. Selama ini Ayah pikir itu cara terbaik untuk menjagamu, tapi ternyata Ayah salah. Ayah tidak pernah memikirkan apa yang sebenarnya kau rasakan, apa yang sebenarnya kau inginkan. Maafkan Ayah, ya?”
Ia menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Raka, tatapannya tidak lagi penuh amarah seperti sebelumnya, tapi tetap penuh kewaspadaan.
“Dan untuk permintaanmu... Ayah berjanji tidak akan ada lagi pertumpahan darah. Tapi ingat, Nak. Semua yang sudah terjadi tidak bisa dihapus begitu saja. Ada hukum yang harus ditegakkan, ada tanggung jawab yang harus dipikul oleh setiap orang, tidak peduli siapa dia.”
Mendengar itu, Raka tertawa kecil, tapi kali ini tidak ada nada mengejek atau marah di dalamnya. Ia menatap Gubernur William dengan pandangan yang sulit dimengerti.
“Hukum? Hukum yang mana? Hukum yang dibuat oleh orang-orang berkuasa, yang hanya menguntungkan mereka sendiri dan menyakiti orang lain? Dulu aku juga percaya pada hukum. Tapi apa yang aku dapatkan? Keluargaku dibunuh, harta kami dirampas, dan orang-orang yang melakukannya malah hidup tenang, tidak ada yang menuntut pertanggungjawaban sama sekali. Di mana hukumnya saat itu?”
Ia melangkah mendekat juga, sampai ia berdiri di sisi lain dari Alana. Tatapannya kini jatuh pada gadis itu, dan semua ketajaman serta kekerasan yang ada di wajahnya seketika hilang, digantikan dengan pandangan yang lembut dan penuh perasaan.
“Tapi untukmu... aku akan melakukan apa saja. Kalau itu yang kau mau, aku akan berusaha. Aku akan berusaha mengubah segala hal yang sudah aku bangun selama ini, berusaha memperbaiki semua kesalahan yang sudah aku perbuat. Aku tidak berjanji semuanya akan berjalan dengan mudah, tidak berjanji semuanya akan selesai dalam waktu yang singkat. Tapi aku akan berusaha, demi dirimu. Karena kau hal yang paling berharga yang aku miliki sekarang.”
Alana menatap keduanya, air matanya masih mengalir tapi kini ada senyum kecil yang terukir di bibirnya. Ia merasa lega, merasa ada harapan baru di tengah semua kekacauan ini. Tapi ia juga tahu, perjalanan ini masih panjang, dan tidak akan semudah yang dibayangkan.
“Terima kasih... terima kasih karena mau mendengarkanku,” katanya dengan suara yang bergetar.
“Kalau begitu, mari kita selesaikan semuanya dengan cara yang baik-baik saja. Tidak ada lagi kekerasan, tidak ada lagi permusuhan. Kita mulai dari awal lagi, semuanya.”
Tapi saat itu juga, sebelum ada yang bisa menjawab, tiba-tiba sesuatu terjadi.
Suara letusan yang keras dan tajam terdengar, diikuti dengan rasa sakit yang tiba-tiba terasa di bahu kanan Alana. Tubuhnya terhuyung ke belakang, dan ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah mengalir di kulitnya. Pandangannya mulai kabur, dan sebelum ia sadar apa yang terjadi, tubuhnya sudah terjatuh ke lantai.
“ALANA!!!”
Teriakan itu terdengar bersamaan, dari mulut ayahnya dan juga dari mulut Raka. Keduanya langsung berlari mendekat, wajah mereka pucat pasi dan penuh ketakutan yang luar biasa.
Raka lebih dulu sampai, ia langsung menahan tubuh Alana yang mulai lemas, lalu melihat bagian yang terluka. Darah terus mengalir, membuat bajunya menjadi merah. Wajahnya yang tadinya terlihat tenang seketika berubah menjadi sangat menakutkan. Matanya menyala-nyala, penuh amarah yang meledak-ledak, dan suaranya terdengar dingin sampai ke tulang sumsum.
“Siapa?! Siapa yang berani melakukan ini?!” teriaknya, suaranya menggema di seluruh ruangan dan membuat semua orang yang ada di sana bergidik ngeri.
Sementara itu, orang-orang di sekitar langsung bergerak, mencari dari mana datangnya serangan itu. Dan tidak lama kemudian, sekelompok orang muncul dari balik tiang dan sudut-sudut ruangan. Mereka bukan orang dari pihak Raka, juga bukan orang yang datang bersama Gubernur William. Mereka adalah orang-orang yang selama ini bersembunyi, orang-orang yang tidak mau perdamaian terjadi.
Di depan kelompok itu berdiri seorang pria yang usianya sudah tidak muda lagi, wajahnya penuh dengan luka bekas pertempuran, dan senyum miring yang terlihat kejam terukir di bibirnya. Ia menatap ke arah mereka dengan pandangan yang penuh kebencian.
“Kalian benar-benar bodoh sekali!” serunya dengan suara yang keras.
“Setelah bertahun-tahun saling berperang, saling ingin menghancurkan satu sama lain, sekarang kalian malah mau berdamai? Tidak akan pernah aku biarkan hal itu terjadi!”
Raka menatap pria itu, dan seketika ia mengenali siapa orang itu. Wajahnya makin mengeras, dan genggamannya di tubuh Alana yang terluka makin erat.
“Kau... Marco. Aku kira kau sudah mati bertahun-tahun yang lalu,” katanya dengan nada yang penuh kebencian.
Marco tertawa terbahak-bahak, suaranya terdengar mengerikan. “Aku memang sudah mati di matamu, dan di mata orang-orang lain. Tapi aku masih ada di sini, menunggu waktu yang tepat untuk bertindak. Kau pikir aku akan diam saja melihat kau mengambil alih semua yang seharusnya menjadi milikku? Kau pikir aku akan membiarkan kau hidup bahagia dan damai, setelah apa yang kau lakukan pada anakku dulu?!”
“Anakmu sendiri yang salah! Ia yang memulai semuanya, ia yang berusaha membunuh orang-orang yang ada di sekitarku!” bentak Raka.
“Dan apa yang kau lakukan ini? Menembak orang yang tidak bersalah! Alana tidak ada hubungannya dengan urusan kita! Kenapa kau harus melibatkan dia?!”
“Karena dia sumber dari semuanya! Kalau tidak ada dia, kau tidak akan pernah berubah! Kalau tidak ada dia, kalian berdua akan terus saling berperang dan saling menghancurkan sampai habis! Dan itu yang aku inginkan! Aku mau kalian semua hancur! Aku mau semua yang ada di kota ini hancur, supaya aku bisa mengambil alih semuanya!” teriak Marco, matanya menyala-nyala karena amarah dan keserakahan.
Ia memberi isyarat, dan orang-orang di belakangnya langsung mengangkat senjata mereka, mengarahkan ke arah Raka, Gubernur William, dan orang-orang yang ada di sisi mereka.
“Tidak ada jalan keluar buat kalian hari ini! Kalian semua akan mati di sini!” serunya lagi.
Suasana yang tadinya sudah mulai tenang seketika berubah menjadi sangat berbahaya. Kedua belah pihak yang tadi mau berdamai kini dipaksa untuk bersatu, karena mereka menghadapi musuh yang sama, musuh yang jauh lebih kejam dan tidak punya belas kasihan sama sekali.
Raka dengan cepat mengangkat tubuh Alana, membawanya ke tempat yang agak terlindungi, lalu menyerahkannya pada orang yang ia percayai.
“Bawa dia ke tempat yang aman, panggil dokter secepatnya. Lindungi dia dengan nyawamu sendiri. Kalau ada apa-apa dengan dia, kau tidak akan mau tahu apa yang akan aku lakukan padamu,” perintahnya dengan nada yang tegas dan penuh ancaman.
Orang itu mengangguk cepat, lalu segera membawa Alana pergi dari tempat itu.
Setelah itu, Raka berbalik dan menatap Gubernur William. Wajahnya masih terlihat marah, tapi ada pengertian yang muncul di antara pandangan mereka.
“Kita punya musuh yang sama sekarang,” Ucap Raka.
“Kau mau melawannya bersamaku? Atau kau masih mau terus berperang denganku?”
Gubernur William menatapnya sebentar, lalu mengangguk tegas. “Untuk saat ini, kita bersatu. Tapi ingat, ini tidak berarti semuanya sudah selesai. Setelah ini berakhir, kita masih punya banyak hal yang harus diselesaikan.”
“Setuju,” jawab Raka singkat.
Keduanya sama-sama mengangkat senjata mereka, lalu berdiri berdampingan, menghadapi kelompok orang yang dipimpin oleh Marco itu. Dua orang yang selama ini dianggap sebagai musuh bebuyutan, kini berdiri bersatu, berjuang untuk hal yang sama—untuk keselamatan orang yang mereka sayangi, dan untuk melindungi apa yang mereka miliki.
“Serang!” teriak Marco.
Suara tembakan kembali bergemuruh, suara benturan dan teriakan kembali memenuhi ruangan itu. Tapi kali ini, bukan lagi orang-orang yang dulu saling bermusuhan yang saling menyerang. Kali ini, mereka berjuang berdampingan, melawan orang-orang yang mau menghancurkan segalanya.
Raka bergerak dengan lincah dan cepat, gerakannya terlatih dan penuh kekuatan. Ia melindungi orang-orang di sekitarnya, sekaligus berusaha mendekati Marco, orang yang menjadi sumber dari semua kekacauan ini. Di sampingnya, Gubernur William juga bergerak dengan sigap, meski usianya sudah tidak muda lagi, tapi ia masih memiliki kemampuan yang tidak kalah hebatnya.
Pertempuran berlangsung sengit dan menegangkan. Darah berceceran di mana-mana, ada orang yang jatuh terluka, ada juga yang tidak bisa bertahan lagi. Tapi baik pihak Raka maupun pihak Gubernur William tidak mundur sedikit pun. Mereka tahu, kalau mereka kalah hari ini, semuanya akan berakhir dengan cara yang paling buruk.
Setelah berjuang cukup lama, jumlah orang di pihak Marco makin berkurang, dan akhirnya hanya tersisa dia sendiri saja. Ia terdesak ke sudut ruangan, tidak ada jalan untuk lari lagi. Tapi ia tidak terlihat takut, malah ia tertawa terbahak-bahak dengan cara yang membuat orang merinding.
“Kalian pikir kalian sudah menang? Kalian pikir semuanya sudah berakhir? Tidak! Aku sudah menyiapkan semuanya sejak lama! Kalian tidak akan bisa hidup dengan damai, tidak akan pernah!” teriaknya dengan suara yang nyaring.
Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku bajunya, dan semua orang yang melihatnya langsung terkejut dan merasa ngeri. Itu adalah alat peledak, dan ia sudah memegang tombol pengaktifannya.
“Kalau aku harus mati, kalian semua ikut mati bersamaku! Kita akan hancur bersama-sama!” serunya lagi, matanya melotot dan terlihat sudah tidak waras lagi.
Semuanya terdiam, tidak ada yang berani bergerak. Semua orang tahu, kalau alat itu diaktifkan, tidak ada satu pun orang yang ada di tempat ini yang akan selamat. Gedung ini akan hancur rata dengan tanah, dan semuanya akan terkubur di dalamnya.
Marco tersenyum puas, jari jarinya mulai bergerak mendekati tombol itu. “Selamat tinggal semuanya!”
Tapi tepat saat itu juga, seseorang bergerak dengan sangat cepat. Raka yang melihat apa yang akan terjadi, langsung melesat maju secepat kilat, dan sebelum Marco sempat menekan tombol itu, ia sudah menerjang orang itu ke lantai.
Keduanya berguling-guling di lantai, saling berebut benda yang berbahaya itu. Pertarungan itu berlangsung sangat cepat dan berbahaya. Keduanya sama-sama punya kekuatan yang besar, dan tidak ada yang mau mengalah.
Suara benturan, suara teriakan, dan suara benda-benda yang berjatuhan terdengar terus-menerus. Semua orang di sekitarnya hanya bisa menonton dengan napas tertahan, takut kalau ada kesalahan sedikit saja, semuanya akan berakhir dengan bencana.
Dan akhirnya, setelah berjuang dengan susah payah, Raka berhasil merebut alat itu dari tangan Marco. Tapi di saat yang sama, ia juga terkena serangan yang keras, membuat tubuhnya terhuyung ke belakang dan jatuh ke lantai.
Marco yang sudah tidak punya apa-apa lagi, masih berusaha menyerang, tapi kali ini ia sudah tidak punya kekuatan lagi. Orang-orang yang ada di sekitar langsung bergerak dan menahannya, sehingga ia tidak bisa bergerak lagi. Ia masih berteriak-teriak dan berusaha melepaskan diri, tapi usahanya itu sia-sia belaka.
Semua akhirnya menjadi tenang. Suara-suara keras yang tadi memenuhi ruangan itu kini sudah tidak ada lagi, digantikan dengan suara napas orang-orang yang terengah-engah dan rasa sakit yang dirasakan oleh mereka yang terluka.
Raka masih terbaring di lantai, napasnya terengah-engah, dan ada luka yang cukup parah di bagian tubuhnya. Gubernur William langsung mendekat dan berjongkok di hadapannya.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya, nada bicaranya tidak lagi penuh permusuhan seperti sebelumnya.
Raka mengangkat kepalanya sedikit, lalu tersenyum tipis. “Masih hidup, sepertinya. Tapi... bagaimana dengan Alana? Bagaimana keadaannya?”
“Dia sedang dirawat. Semoga saja dia baik-baik saja,” jawab Gubernur William.
Raka berusaha bangkit, tapi tubuhnya terasa sangat lemah. “Aku harus menemuinya. Aku harus memastikan dia aman, dia baik-baik saja.”
Ia berjalan dengan susah payah, didampingi oleh orang-orang di sekitarnya, menuju ke tempat Alana dibawa. Di dalam hatinya, ia merasa sangat takut. Takut kalau ada hal buruk yang terjadi pada gadis itu, takut kalau ia tidak sempat lagi melihatnya, tidak sempat lagi mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.
Dan Gubernur William juga berjalan di sampingnya, wajahnya tampak cemas dan penuh kekhawatiran. Ia juga ingin segera melihat putrinya, ingin memastikan bahwa dia selamat dan baik-baik saja.
Keduanya berjalan bersama, menuju ke tempat di mana nasib orang yang paling mereka sayangi sedang ditentukan. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka temukan di sana, tidak tahu apakah semuanya akan berakhir dengan bahagia atau malah berakhir dengan kesedihan yang mendalam. Tapi satu hal yang mereka tahu, apa pun yang terjadi nanti, mereka sudah berjanji untuk menyelesaikan semuanya dengan cara yang benar.
Dan perjalanan mereka ini, baru saja melewati satu bahaya yang sangat besar, tapi mereka juga tahu, masih ada hal-hal lain yang harus mereka hadapi di masa yang akan datang. Hidup tidak akan pernah menjadi mudah, terutama untuk orang-orang yang hidup di dunia yang penuh dengan kekuasaan dan bahaya seperti ini. Tapi selama mereka masih memiliki satu sama lain, selama mereka masih punya alasan untuk bertahan hidup, mereka akan terus berjuang.