Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31 - MHB
Senin pagi di gedung perkantoran pusat Jakarta biasanya sudah cukup untuk membuat siapa pun sakit kepala. Namun bagi Maya, tekanan kali ini bukan berasal dari target kuartal atau tumpukan email yang menagih janji. Tekanannya berasal dari pria yang saat ini sedang berdiri di lobi, mengenakan kemeja biru muda yang disetrika sangat rapi, sedang menyesap kopi sambil asyik mengobrol dengan resepsionis.
Arka.
Hari ini adalah dimulainya kolaborasi resmi antara perusahaan Maya dan Global Tech Corp untuk proyek "Neo-Industrial". Sebuah proyek besar yang akan memakan waktu berbulan-bulan, yang artinya, Maya harus bertemu Arka setiap hari—bukan hanya di meja makan apartemen, tapi di bawah lampu pendar kantor yang kejam dan penuh mata-mata.
"Ingat, Maya. Jaga jarak. Jangan ada 'Sayang', jangan ada 'Arka', panggil dia 'Saudara Arka' atau 'Tim Inovasi'," gumam Maya pada dirinya sendiri sambil merapikan blazernya di depan pintu lift.
Rapat perdana diadakan di ruang konferensi lantai 15. Maya duduk di barisan depan sebagai pemimpin proyek dari pihaknya. Arka masuk bersama timnya, duduk di seberang meja. Mata mereka sempat bertemu selama satu detik. Arka memberikan anggukan kecil yang sangat formal, namun ada binar jenaka di matanya yang seolah berkata, "Wah, Ibu Manajer hari ini galak sekali ya?"
Maya mengalihkan pandangan dengan cepat. Ia merasa dadanya sesak. Menjaga rahasia di rumah itu sulit, tapi menjaga rahasia di depan puluhan pasang mata profesional adalah siksaan mental. Ia terus-menerus merasa bahwa setiap gerakannya diawasi. Apakah cara ia menatap Arka terlalu lama? Apakah ia terlalu sering setuju dengan pendapat Arka?
"Baik, mari kita bahas soal integrasi logistik," ucap salah satu direktur senior perusahaan Maya, Pak Baskoro—pria tua yang sangat kolot dan skeptis terhadap teknologi baru. "Saya merasa rencana ini terlalu berisiko. Biayanya membengkak 20%, dan efisiensinya belum terbukti. Saya pikir kita harus tetap menggunakan vendor lama."
Suasana rapat mendadak tegang. Pak Baskoro adalah pengaruh besar. Jika dia menolak, posisi Maya sebagai pemimpin proyek akan goyah. Direksi lain mulai berbisik ragu. Maya mencoba menjelaskan, namun argumennya terus dipatahkan oleh data-data kuno yang dibawa Pak Baskoro.
Sial, aku terpojok, batin Maya. Ia merasa keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Tiba-tiba, suara ketukan pulpen di atas meja menghentikan perdebatan. Arka berdeham kecil. Ia tidak berdiri, namun aura kepemimpinannya mendadak menguasai ruangan.
"Izin bicara, Pak Baskoro, jika diperbolehkan dari sisi teknis Global Tech," ucap Arka dengan suara yang tenang namun berwibawa.
Maya menahan napas. Ia khawatir Arka akan bersikap impulsif atau terlalu emosional karena ingin membelanya. Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru membuat Maya terpaku.
Arka membuka laptopnya, memproyeksikan sebuah skema perbandingan yang belum pernah Maya lihat sebelumnya. "Data yang Bapak sampaikan memang benar untuk kuartal lalu. Namun, jika kita melihat proyeksi volatilitas harga bahan baku dua bulan ke depan, vendor lama akan menaikkan harga hingga 30%. Sedangkan sistem integrasi AI yang kami tawarkan memiliki fungsi 'Predictive Maintenance'. Biaya awal memang naik 20%, tapi dalam enam bulan, kita menghemat biaya operasional sebesar 45%."
Arka menjelaskan dengan sangat detail. Ia tidak membela Maya secara personal; ia membela proyek itu dengan logika yang tidak terbantahkan. Ia membedah algoritma dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh direktur paling kolot sekalipun.
"Jadi, secara teknis dan finansial," Arka menatap Pak Baskoro dengan hormat namun tegas, "Memilih vendor lama bukan hanya langkah mundur, tapi potensi kerugian jangka panjang bagi perusahaan. Ibu Maya telah melihat visi ini, dan kami dari Global Tech sepenuhnya mendukung ketajaman analisis beliau."
Ruangan menjadi sunyi. Pak Baskoro tampak memeriksa kembali angka-angka di layar. Setelah beberapa saat, ia mengangguk perlahan. "Penjelasan yang sangat komprehensif, Saudara Arka. Saya rasa... argumen Anda masuk akal. Maya, lanjut ke tahap berikutnya."
Maya mengembuskan napas lega yang selama ini ia tahan. Ia melirik Arka. Pria itu baru saja menutup laptopnya dan kembali ke posisi duduknya yang santai, seolah-olah ia tidak baru saja memenangkan pertempuran besar di sana.
Pada saat itu, sesuatu berubah dalam pikiran Maya.
Selama ini, ia melihat Arka melalui dua lensa: lensa "adik tingkat yang menyebalkan" dan lensa "suami rahasia yang protektif". Tapi hari ini, di bawah lampu ruang rapat yang dingin, Maya melihat lensa ketiga: Rekan Kerja yang Setara.
Ia menyadari bahwa Arka bukan sekadar "brondong" yang beruntung bisa menikah dengannya karena bisnis. Arka adalah individu yang brilian. Ketajaman otaknya, kemampuannya membaca situasi, dan caranya bersikap profesional di saat sulit menunjukkan bahwa ia memang pantas berada di ruangan ini—bukan karena status sosial ayahnya, tapi karena kemampuannya sendiri.
Dia benar-benar luar biasa, pikir Maya, dan kali ini bukan karena perasaan cinta, tapi karena rasa hormat yang tulus.
Setelah rapat selesai, Maya sedang menuangkan air di pantri saat Arka masuk. Maya segera melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang lain.
"Saudara Arka, presentasi yang bagus tadi," ucap Maya dengan nada yang sangat kaku, tetap menjaga aktingnya.
Arka tertawa kecil, berjalan mendekat hingga ia berdiri di samping Maya, berpura-pura mengambil gelas. "Cuma 'bagus', Bu Maya? Aku pikir itu layak dapat bonus di rumah nanti."
"Arka, jangan mulai!" bisik Maya tajam. "Ingat di mana kita berada."
"Aku ingat kok. Aku juga ingat betapa cantiknya kamu saat sedang panik tadi," Arka tersenyum miring, menatap Maya lewat pantulan kaca dispenser. "Tapi tenang saja, aku profesional. Aku nggak akan panggil kamu 'Sayang' di depan Pak Baskoro. Lagipula, melihatmu bersikap sok formal begini sebenarnya cukup menghibur."
Maya memutar bola matanya, namun ia tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. "Terima kasih soal tadi. Kamu benar-benar menyelamatkan posisiku."
"Bukan aku yang menyelamatkanmu, Maya. Kamu yang punya visi, aku cuma bantu memperjelas gambarnya biar orang-orang tua itu nggak rabun," Arka mengambil gelasnya dan hendak keluar. Sebelum pergi, ia berhenti sejenak. "Oh ya, Ibu Manajer. Malam ini jangan lembur. Aku mau kita makan malam sebagai 'rekan kerja' yang merayakan kesuksesan pertama."
Arka pergi meninggalkan pantri dengan langkah ringan, sementara Maya berdiri mematung sambil memegang gelasnya. Ia menyadari bahwa bekerja sama dengan Arka dalam satu proyek memang berbahaya—bukan hanya karena risiko rahasia mereka terbongkar, tapi karena ia mulai sadar bahwa ia tidak hanya jatuh cinta pada pesona Arka sebagai pria, tapi juga pada kecerdasannya sebagai manusia.
Dan itu, bagi seorang perfeksionis seperti Maya, adalah ancaman yang jauh lebih sulit untuk dilawan daripada skandal apa pun.
Bersambung...
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡