NovelToon NovelToon
Toko Lorong Waktu

Toko Lorong Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:959
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerja di toko lorong waktu

Satu tahun telah berlalu sejak Aris memutuskan untuk tetap tinggal di balik pintu hijau lumut itu. Di dunia luar, hujan mungkin sudah turun ratusan kali, namun di dalam toko, waktu terasa seperti genangan air yang tenang—diam, namun dalam.

Penampilan Aris kini telah menetap. Rambutnya yang memutih di pelipis dan guratan di wajahnya memberinya wibawa yang aneh. Ia mengenakan seragam yang sama dengan Elias: kemeja putih dengan lengan digulung dan celemek kulit tua yang penuh kantong kecil berisi kunci-kunci kuno.

"Tugasmu hari ini sederhana, Aris," ucap Elias sambil membersihkan sebuah cermin perak yang permukaannya tidak memantulkan bayangan ruangan, melainkan pemandangan sebuah dermaga tua. "Jangan biarkan siapa pun mengambil barang tanpa meletakkan sesuatu yang setara di timbangan. Dan yang paling penting... jangan pernah menjawab jika ada yang memanggil namamu dari luar pintu."

Aris mengangguk. Ia sudah paham. Toko ini bukan sekadar bangunan; ia adalah organisme yang hidup di celah dimensi.

Kring.

Lonceng berbunyi. Kali ini bukan karena hujan. Seorang remaja laki-laki masuk dengan napas memburu. Seragam sekolahnya robek di bagian bahu, dan wajahnya penuh memar. Di tangannya, ia mencengkeram sebuah kalung rantai perak yang putus.

"Aku butuh satu hari," bisik remaja itu, suaranya parau karena menahan tangis. "Hanya satu hari sebelum kejadian tadi pagi. Aku ingin mengembalikan ini pada ibuku sebelum... sebelum rumah kami terbakar."

Aris mendekat. Ia melihat pantulan dirinya di mata anak itu—ia melihat dirinya yang dulu, yang rela memberikan apa saja demi memperbaiki keadaan. Namun sekarang, Aris berada di sisi yang berbeda dari meja counter.

"Waktu memiliki berat, Nak," kata Aris, suaranya kini terdengar berwibawa namun ada nada simpati di sana. "Satu hari di masa lalu bisa berarti kehilangan sesuatu yang sangat berharga di masa sekarang. Apa yang kau bawa untuk ditukarkan?"

Anak itu ragu-ragu, lalu meletakkan sebuah kotak kecil di atas timbangan kuno. Saat Aris membukanya, isinya adalah sebuah biola.

"Itu adalah bakatku," bisik anak itu. "Jika aku memberikan ini, aku tidak akan pernah bisa bermain musik lagi. Tanganku akan lupa caranya memegang busur biola."

Timbangan itu bergerak. Beratnya seimbang dengan satu hari yang diminta.

Aris menoleh ke arah Elias yang hanya memperhatikan dari sudut ruangan. Aris harus mengambil keputusan. Namun, saat ia hendak mengambil biola itu, ia melihat sesuatu di pergelangan tangan anak itu—sebuah bekas luka yang sangat ia kenal.

Aris tertegun. Itu adalah bekas luka yang sama dengan milik adiknya yang hilang bertahun-tahun lalu.

Aris merasakan denyut di pelipisnya. Bekas luka berbentuk bulan sabit di pergelangan tangan anak itu—ia ingat betul bagaimana adiknya, Dimas, mendapatkannya saat mereka terjatuh di sungai belasan tahun lalu. Namun, Aris juga teringat peringatan Elias: waktu tidak suka dicurangi, dan toko ini menuntut keseimbangan yang mutlak.

Jika ia mencampuradukkan perasaan pribadinya, ia hanya akan mengacaukan tatanan yang menjaga toko ini tetap berdiri.

"Pilihan yang sulit, Nak," ucap Aris dengan nada yang sengaja didatarkan. Ia mengulurkan tangannya yang keriput, mengambil biola itu dari atas timbangan.

Begitu jemari Aris menyentuh kayu biola tersebut, ia merasakan getaran halus—semua melodi, latihan keras selama bertahun-tahun, dan ambisi anak itu tersedot masuk ke dalam instrumen tersebut. Biola itu mendadak terasa lebih berat, sementara tangan si anak mulai gemetar dan tampak lemas, seolah otot-ototnya baru saja kehilangan memori motorik yang selama ini ia banggakan.

Aris mengambil sebuah jam pasir kecil dari bawah meja. Pasirnya berwarna kuning keemasan yang berpendar.

"Ini adalah satu harimu," kata Aris sambil menyerahkan jam itu. "Begitu kau membaliknya, kau akan berada di depan rumahmu, dua jam sebelum api pertama muncul. Ingat, kau hanya punya waktu sampai butir pasir terakhir jatuh. Setelah itu, kau akan kembali ke sini, dan biola ini akan menjadi milik toko selamanya."

Anak itu menerima jam pasir tersebut dengan tangan yang kini tampak canggung. Ia menatap biolanya untuk terakhir kali dengan tatapan kosong—ia sudah mulai lupa mengapa benda itu dulu begitu penting baginya.

"Terima kasih... Pak," gumam anak itu. Ia membalik jam pasir tersebut, dan dalam sekejap, tubuhnya memudar seperti asap yang tertiup angin.

Suasana toko kembali sunyi. Hanya suara detak ribuan jam yang mengisi ruangan. Elias berjalan mendekat, menatap biola yang kini tergeletak di atas meja.

"Kau melakukan hal yang benar, Aris," puji Elias pelan. "Simpati adalah racun di tempat ini. Jika kau memberikan pengecualian, timbangan itu akan miring, dan sesuatu yang lebih buruk akan terjadi sebagai kompensasi."

Aris tidak menjawab. Ia membawa biola itu ke rak belakang, tempat barang-barang "bayaran" disimpan. Namun, saat ia hendak meletakkannya, ia melihat sebuah label nama yang tersembunyi di dalam kotak biola tersebut.

Bukan nama "Dimas" yang tertulis di sana, melainkan: "Milik Panti Asuhan Kasih Ibu - 2026".

Aris membeku. Tahun itu adalah tahun sekarang. Jika anak itu adalah adiknya, seharusnya ia sudah dewasa. Apakah anak ini adalah keturunan Dimas? Ataukah toko ini tidak hanya melintasi ruang, tapi juga menarik orang dari garis waktu yang berbeda-beda?

Tiba-tiba, biola di tangan Aris bergetar hebat. Suara petikan dawai yang sumbang terdengar dari dalam kotak, dan dari balik pintu hijau lumut, terdengar suara ketukan yang keras.

Tok! Tok! Tok!

"Aris... Aku tahu kau di dalam," sebuah suara wanita memanggil dari luar. Suara itu bukan milik Sonia. Itu suara ibunya, suara yang sudah tidak ia dengar selama puluhan tahun.

Elias menatap pintu dengan tajam. "Ingat aturanku, Aris. Jangan dijawab!"

1
Adi Rbg
berguna banyak pelajaran tentang hidup!
SANTRI MBELING: makasih kak
total 2 replies
Ariasa Sinta
bahasan nya udah berat ya, meskipun q kurang ngerti sama istilah²nya v lanjutkan saja, penasaran
Ariasa Sinta
hmmm...
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
SANTRI MBELING: ia kak. makasih
total 1 replies
SANTRI MBELING
makasih kak 👍👍👍👍🙏🙏😍😍
Ariasa Sinta
aku kasih kopi thor biar semangat update nya 💪
SANTRI MBELING: jangan lupa baca yang novel saya yg cinta zaenab
total 2 replies
Ariasa Sinta
banyak bgt kata2 d kepala ku thor buat komen tapi q bingung ngerangkai nya,
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
Ariasa Sinta
aduhhh banyak wow nya ini
Ariasa Sinta
aku merinding loh ...
Ariasa Sinta
aku mampir thor,
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!