NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cakrawala

Dua Wajah Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Transformasi di Balik Semangkuk Mie Ayam

Sinar matahari sore menembus celah-celah ventilasi kantin SMA Cakrawala Bangsa, menciptakan garis-garis cahaya yang menyoroti kepulan uap dari semangkuk mie ayam di depan Aruna.

Setelah hampir dua jam berkutat dengan soal-soal termodinamika dan kalkulus bersama Adrian di perpustakaan, perutnya benar-benar menuntut haknya.

Namun, meski mie ayam di depannya terlihat sangat menggoda, Aruna hanya mengaduk-aduknya dengan gerakan mekanis. Pikirannya masih tertinggal di koridor laboratorium biologi tadi siang.

"Na! Parah banget, kita nyariin ke perpus katanya lo udah cabut ke kantin!"

Suara cempreng Sasha memecah lamunan Aruna.

Dalam sekejap, bangku panjang di sekitar Aruna sudah terisi penuh. Sasha duduk tepat di sampingnya, Lulu di depannya sambil membetulkan letak kacamata, dan Jelita duduk di ujung dengan gaya maskulin, melipat kedua tangannya di atas meja.

Jelita, yang sejak tadi memperhatikan Aruna, langsung mengernyitkan dahi. "Na, muka lo kenapa gitu? Sebel banget kelihatannya. Mie ayamnya nggak enak apa gimana?"

Aruna menghentikan gerakan sumpitnya, menghela napas panjang lalu tersenyum tipis. "Enggak kok, Jel. Cuma agak capek aja tadi bahas materi sama Kak Adrian."

Sasha langsung menyipitkan mata, mendekatkan wajahnya ke arah Aruna dengan tatapan penuh selidik. "Na, kita ini udah temenan dari kecil lho. Gue tahu banget tiap inci perubahan ekspresi lo. Lo nggak bisa bohong. Mata lo itu nggak bilang 'capek', tapi bilang 'gue pengen nampol orang'. Ayo, cerita ada apa?"

Lulu mengangguk pelan, mendukung pernyataan Sasha. "Iya tuh, Na. Cerita aja. Nggak biasanya lo kelihatan keganggu kayak gini setelah dari perpus. Biasanya kan lo malah kelihatan tenang."

Aruna meletakkan sumpitnya di atas mangkuk, merasa tidak punya pilihan lain selain jujur pada ketiga sahabatnya. "Tadi... pas mau ke perpus, si Aska nyebelin banget. Dia nyegat aku di koridor lab biologi cuma buat hal nggak penting."

Mendengar nama itu, Jelita langsung berdiri dari duduknya hingga kursinya berderit nyaring di lantai kantin. Wajahnya merah padam, tangannya mengepal kuat. "Apa?! Si Aska itu berani nyegat lo? Mana anaknya?! Biar gue samperin sekarang, gue kasih paham sekalian biar tahu rasa!"

"Eh, Jel! Duduk dulu, Jel! Jangan emosi gitu!" Sasha buru-buru menarik lengan Jelita, sementara Lulu menahan sisi lainnya. Aruna sendiri kaget melihat reaksi Jelita yang begitu meledak-ledak.

Sebenarnya, inilah alasan kenapa Aruna sempat ragu untuk bercerita; teman-temannya ini punya sifat yang terlalu protektif, meskipun Aruna kadang ngakak sih sama kelakuan mereka.

"Jangan, Jel. Tadi udah ada Kak Adrian juga kok yang bantuin," cegah Aruna pelan.

Lulu akhirnya berhasil membuat Jelita duduk kembali setelah memberikan tatapan "tenanglah" yang cukup tajam. Lulu kemudian kembali fokus ke Aruna. "Terus dia ngapain lo? Dia macem-macem?"

"Enggak, dia cuma nanya-nanya nggak jelas pakai bahasa yang... yah, kalian tahu sendiri kan gaya bicaranya gimana. Aku cuma ngerasa nggak nyaman aja digituin di tempat umum," jelas Aruna.

Sasha menopang dagunya, menatap Aruna dengan tatapan serius yang jarang ia tunjukkan. "Na, dengerin gue ya. Lo itu cantik, pinter, tapi masalahnya satu: lo terlalu lembut. Lo jadi orang jangan lembek-lembek banget lah. Sekarang, kita ajarin ya, lo jangan pakai 'aku-kamu' terus kalau ngomong sama orang kayak si Aska itu."

Aruna agak bingung. "Maksudnya?"

"Itu tuh formal banget, Na!" Sasha melanjutkan dengan semangat. "Bahasa 'aku-kamu' itu cuma bikin orang iseng kayak Aska mikir lo itu gampang dikerjain atau lo itu tipe cewek rumahan yang bakal nangis kalau digertak. Itu nggak bakal bikin dia takut sama lo.

Lo harus mulai pakai 'gue-elu' kalau lagi berhadapan sama modelan kayak dia."

"Tapi kan..."

"Nggak ada tapi-tapi," potong Jelita tegas. Ia menatap Aruna lurus-lurus. "Gue nggak suka liat lo digituin. Lo nggak usah takut sama Aska pecundang itu. Dia itu cuma menang gaya doang. Lain kali kalau dia berani nyegat lo lagi, lo harus berani ngomong keras. Ntar kalau dia masih macem-macem, biar gue yang hajar dia buat lo. Gue serius."

Aruna terdiam, mencerna kata-kata sahabatnya. Selama ini ia memang selalu dididik untuk bersikap sopan kepada siapa pun, namun ia menyadari bahwa di SMA Cakrawala Bangsa, kesopanan terkadang dianggap sebagai kelemahan.

"Coba sekarang lo praktek," Sasha menyeringai nakal. "Bayangin gue itu Aska. Gue bilang, 'Woi Aruna, oper bolanya dong!'. Terus lo jawab apa?"

Aruna ragu sejenak, wajahnya memerah. "Umm... Maaf Aska, aku mau lewat?"

Sasha, Jelita, dan Lulu serempak menepuk jidat mereka.

"Bukan gitu, Na! Duh, gemes gue," Sasha menarik napas dalam. "Lo harus bilang gini: 'Eh, lu punya tangan kan? Ambil sendiri! Nggak usah ganggu jalan gue!'. Pakai penekanan di kata 'lu' sama 'gue'-nya. Biar dia tahu kalau lo punya taring."

Aruna mencoba mengatur napasnya. Ia menutup mata sejenak, membayangkan wajah Aska yang menyeringai menyebalkan di koridor tadi. Rasa kesal yang tadi ia pendam mulai naik kembali ke permukaan.

"Eh, lu..." Aruna memulai, suaranya sedikit lebih berat. "Lu ambil sendiri bolanya. Jangan ganggu jalan gue!"

Sasha langsung bertepuk tangan heboh. "Nah! Gitu dong! Itu baru Aruna-nya kita! Jangan mau diinjak-injak cuma karena dia ngerasa jagoan basket atau jago karate."

Jelita mengangguk puas. "Inget ya, Na. Lo punya kita. Gue nggak bakal biarin satu helai rambut lo pun disentuh sama cowok urakan itu. Kalau dia berani muncul lagi, panggil gue. Gue pengen liat seberapa jago karatenya kalau lawan taekwondo gue."

Lulu yang sejak tadi diam, akhirnya tersenyum tipis. "Sasha bener, Na. Kadang kita harus menyesuaikan bahasa kita dengan siapa kita bicara. Bukan buat jadi kasar, tapi buat bikin batasan yang jelas biar orang nggak meremehkan."

Aruna merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. Kehadiran ketiga sahabatnya ini selalu bisa mengubah suasana hatinya yang buruk. Ia pun kembali mengambil sumpitnya, kali ini dengan semangat yang berbeda.

Ia mulai menyantap mie ayamnya dengan lahap, seolah-olah setiap gigitan adalah persiapan untuk peperangan yang mungkin terjadi esok hari.

"Makasih ya, kalian emang yang terbaik," ucap Aruna. Kali ini, tatapan matanya tidak lagi sayu. Ada kilatan keberanian yang mulai tumbuh.

Dalam hatinya, Aruna berjanji. Besok, jika ia bertemu Aska lagi, ia tidak akan menjadi Aruna yang hanya diam dan menunduk. Ia akan menunjukkan bahwa di balik wajah kalemnya, ada seorang gadis yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Ia tidak akan membiarkan orbit Aska yang liar mengacaukan hidupnya lagi tanpa perlawanan.

Sore itu di kantin, di antara gelak tawa Sasha yang menceritakan gosip baru dan janji-janji protektif dari Jelita, Aruna belajar satu hal penting: bahwa terkadang, untuk menghadapi sebuah kekacauan, kita harus berani keluar dari zona nyaman dan menunjukkan sisi lain yang selama ini tersembunyi. Dan bagi Aruna, sisi itu baru saja bangkit.

"Oiya, Na," Sasha tiba-tiba teringat sesuatu. "Tadi pas lo di perpus sama Kak Adrian, kalian cuma bahas soal olimpiade aja? Nggak ada... *ehem*... momen spesial gitu?"

Aruna tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. "Nggak ada, Sha. Kak Adrian itu profesional banget. Kita fokus ke soal."

"Yah, bosen," gerutu Sasha. "Tapi tenang aja, selama ada kita, hidup lo nggak bakal bosen, Na.

Aruna hanya tersenyum menanggapi ucapan Sasha. Satu yang pasti, Aruna sudah siap dengan "taringg" barunya. Jika Aska adalah api yang liar, maka Aruna kini bukan lagi air yang tenang, melainkan angin yang siap memporak-porandakan apa pun yang menghalangi jalannya.

1
Eti Alifa
bacanya merinding thor....nano2 jg.
Alex
😭😭😭😭
nyesek didada rasanya
Alex
bawangnya terlalu banyak thor😭😭
lanjut thor
minttea_: hehehe, siappp tetep terus dukung author dan baca ceritanya ya😍
total 1 replies
Eti Alifa
bagus bngt ceritanya, sumpah authornya jenius.
👍🏻
minttea_: wow, makasih banyak kak💐✨
total 1 replies
Eti Alifa
asli ceritanya bagus banget👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!