Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADA YANG MULAI BERUBAH
Angin sore berhembus pelan di halaman sekolah.
Suasana yang tadinya biasa saja… kini terasa berbeda.
Keano masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya belum sepenuhnya lepas dari Senja yang berada beberapa meter di belakangnya.
Senja lebih dulu mengalihkan pandangan.
Entah kenapa… ia merasa tidak seharusnya berada di sana.
"Yuk, Rel," ucapnya pelan.
Arelina menatap Senja sebentar, lalu mengangguk.
Mereka berdua berjalan menuju gerbang, mencoba terlihat biasa.
Namun langkah Senja sedikit lebih cepat dari biasanya.
Seperti ingin segera menjauh.
Di Depan Gerbang
Nara mengikuti arah pandangan Keano.
Matanya menangkap sosok Senja yang berjalan pergi.
Senyumnya tetap ada… tapi kali ini lebih tipis.
"Teman kamu?" tanya Nara santai.
Keano tersadar.
"Iya." Jawabannya singkat.
Terlalu singkat.
Denis langsung melirik bergantian antara Keano dan Senja yang menjauh.
Radar dramanya langsung aktif.
"Oh… teman ya," gumam Denis sengaja menekankan kata itu.
Keano menyikutnya.
"Diem."
Nara terkekeh kecil.
"Kamu masih sama ya, Ke'. Kalau dekat sama orang… selalu kelihatan."
Keano mengernyit. "Maksud lo?"
Nara hanya tersenyum "Gak apa-apa."
Tapi matanya masih mengikuti Senja sampai gadis itu benar-benar keluar gerbang sekolah.
Dan untuk pertama kalinya—
Nara merasakan sesuatu yang asing.
Perasaan… tidak nyaman
Senja hampir mencapai gerbang sekolah.
Langkahnya cepat.
Terlalu cepat untuk seseorang yang katanya tidak peduli.
Arelina sampai harus sedikit berlari kecil di sampingnya.
"Sen, santai napa—"
Belum sempat kalimat itu selesai—
"Senja!"
Suara itu terdengar dari belakang.
Langkah Senja otomatis melambat.
Ia tahu itu suara keano jantungnya berdegup lebih keras dari yang seharusnya.
Arelina langsung menoleh dengan ekspresi sedikit tegang.
Keano berjalan cepat meninggalkan Nara dan parkiran.
Tatapannya hanya tertuju pada satu orang.
Senja.
"Senja, tunggu—"
Namun sebelum ia benar-benar bisa menyusul—
sebuah tangan menarik lengannya.
Keano berhenti.
Nara berdiri di sampingnya.
Tangannya masih menggenggam pergelangan Keano dengan lembut… tapi cukup kuat untuk menahan.
"Ke'," ucap Nara pelan.
Nada suaranya tidak marah,tidak memaksa.
Tapi ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang meminta perhatian.
"Kamu mau kemana? Mama Ranti bilang kamu harus langsung pulang, karena nanti malam ada acara pembukaan restoran cabang baru, kamu di minta buat temenin aku." ucapnya
Keano sedikit terdiam.
Matanya sempat kembali mencari Senja di depan.
Senja masih berdiri.
Ia melihat semuanya, tangan Nara.
Cara gadis itu menahan Keano.
Dan entah kenapa—
dadanya terasa turun perlahan.
Seperti harapan kecil yang tidak sengaja tumbuh… lalu ditekan kembali.
Senja menarik napas.
"Ayok rel, gue nebeng mobil lo ya."
Kali ini ia benar-benar berjalan keluar gerbang.
Tidak menoleh lagi.
Di Belakang Mereka Keano refleks ingin melepas tangan Nara, namun langkah Senja yang semakin menjauh dan langsung masuk ke mobil jemputan Arelina membuatnya terlambat beberapa detik.
Beberapa detik itu cukup.
Gerbang sekolah sudah terlewati.
Senja pergi.
Keano menghembuskan napas panjang.
Baru kemudian ia menatap Nara dan menghembuskan napas panjang.
" Huffh...mau lo apa sih?"
Nara tersenyum kecil.
"Aku cuma… pengen ngobrol- ngobrol sama kamu."
Keano mengangguk pelan, tapi pikirannya jelas tidak berada di sana.
Matanya masih sesekali melirik ke arah gerbang kosong.
Nara menyadari itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke sekolah
senyumnya sedikit memudar.
"Kamu mau ngejar dia ya tadi?"
Keano tidak langsung menjawab.
Keheningan itu sudah menjadi jawaban.
Nara menunduk sebentar.
"Kita kelamaan ya… aku pergi aja ."
Keano menghela napas lagi
"Bukan gitu."
"Tapi aku lihat ada yang berubah, dari sejak kamu jemput aku kemarin kamu tuh beda," potong Nara lembut.
Ia menatap Keano lurus.
"Aku kenal kamu dari kecil, Ke'. Aku tahu kapan kamu mulai peduli sama seseorang."
Keano terdiam, tidak menyangkal.
Tidak membenarkan.
Dan justru itu yang membuat Nara mengerti segalanya.
Ia melepaskan tangan Keano perlahan.
"Maaf… tadi aku refleks."
Keano mengangguk kecil. "Gak apa-apa"
Namun suaranya terdengar jauh.
Di dalam mobil Arelina Senja diam tanpa bicara apapun.
Arelina akhirnya tidak tahan."Lo cemburu ya sama cewek itu?"
Senja menggeleng. "enggak lah, aku gak ada hak untuk itu."
"Tapi muka lo kayak habis nonton ending sad drama."
Senja tertawa kecil, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
"Gue cuma sadar satu hal."
"Apa?"
Senja menatap jalan di depannya.
"Dia...terlalu ambigu dengan perasaannya."
Angin sore meniup rambutnya pelan lewat celah kaca mobil yang terbuka.
Dan kalimat itu terasa lebih berat daripada yang ia akui.
" Oke gue paham, gue anterin lo pulang ya, Pak kita anterin Senja dulu ya" ucap Arelina pada supirnya
" baik non."
Mobil yang di tumpangi Senja dan Arelina pun perlahan meninggalkan halaman sekolah, Arelina tidak banyak bicara kali ini ,dia paham jika sahabat nya tidak sedang baik-baik saja , namun sesekali Arelina memeluk Senja dan memberikan kekuatan untuk bestinya
"Sen, pokoknya gue akan selalu ada buat lo, dan besok gue bakal omelin tuh si piano, karena udah bikin sahabat gue sedih."
Senja terkekeh kecil.
" kamu ini ganti nama anak orang seenaknya saja"
Keano masih berdiri di depan gerbang sekolah.
Pandangan matanya kosong. Mobil Arelina sudah tidak terlihat lagi. Hanya sisa jalanan sore yang perlahan kembali ramai.
Angin berhembus pelan, menggerakkan ujung seragamnya.
Ia menghela napas panjang.
Terlambat lagi.
Tangannya masuk ke saku celana, mencoba menenangkan sesuatu yang terasa tidak nyaman di dadanya.
Tiba-tiba—
Ponselnya bergetar.
Nama yang muncul di layar membuatnya langsung menegakkan tubuh.
Mama.
Keano mengusap wajahnya sebentar sebelum mengangkat panggilan.
"Iya, Ma."
Suara wanita di seberang terdengar tegas namun hangat.
"Keano, kamu di mana? Mama tunggu dari tadi. Nara sudah sama kamu kan?"
Keano melirik ke arah Nara yang berdiri tidak jauh darinya.
"Iya… ada."
"Kalian langsung pulang ya. Jangan lama-lama di sekolah. Malam ini pembukaan restoran cabang baru, Mama butuh kamu di sana."
Keano menutup mata sesaat.
Seolah semesta benar-benar tidak memberinya waktu.
"Iya, Ma. Aku langsung pulang."
"Good. Mama tunggu, motor kamu biar di ambil nanti sama mang Ujang saja, kamu bareng Nara ya naik mobil."
Panggilan terputus.
Keano menurunkan ponselnya perlahan.
Beberapa detik ia hanya diam.
Matanya kembali refleks menuju gerbang sekolah— tempat Senja tadi pergi.
Kosong.
Ia menghembuskan napas pelan.
"...ya udah."
Lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Keano berjalan mendekati Nara.
"Kita pulang sekarang."
Nara sedikit terkejut, tapi segera mengangguk. "Oke."
Mereka berjalan menuju mobil.
Denis yang sejak tadi memperhatikan dari jauh langsung mendekat sambil memasang wajah penuh arti.
"Wah, cepet amat pulangnya. Ada yang gagal ngejar ya?"
Keano menatapnya datar. "Lo banyak ngomong hari ini."
Denis tertawa kecil. "Justru karena gue paham."
Keano tidak membalas. Ia hanya membuka pintu mobil.
Namun sebelum masuk— ia sempat berhenti sebentar.
Tangannya menggenggam pintu mobil. Rahangnya sedikit menegang.
Satu detik. Dua detik, lalu ia masuk.
Pintu mobil tertutup.
Mesin menyala.
Mobil perlahan meninggalkan sekolah.
Di kursi belakang, Keano menatap keluar jendela.
Pemandangan jalan bergerak mundur… tapi pikirannya tetap tertinggal.
Pada seorang gadis yang bahkan tidak ia sempat kejar.
Nara diam-diam memperhatikan dari samping.
Ia tidak bertanya lagi.
Karena sekarang ia tahu.
Perhatian Keano… tidak lagi sepenuhnya untuknya.
Dan di antara suara mesin mobil yang tenang, Keano akhirnya menyadari satu hal—
hari ini bukan hanya Senja yang menjauh.
Tapi juga kesempatan yang hampir ia miliki.