NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Mantan

Benih Rahasia Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.

Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.

5 tahun berlalu~

Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Siang itu pukul 11, gawai Miranda bergetar. Sebuah pesa dari temanya, Dimas menyembul keluar. Dalam keterangan temanya itu, Dimas mendapat informasi jika Bu Lilis akan menginap di hotel tempatnya bekerja selama 1 minggu kedepan.

Informasi itu cukup menggetarkan jiwa Miranda. Rasa rindu kepada sang Ibu menggebu, ingin sekali di peluk erat sama seperti saat bayi dulu.

Tama keluar dari kamar sudah rapi memakai setelan koko. Astaga... Miranda menepuk jidatnya. Pukul 11 lebih seharusnya ia mengambilkan pesanan mertuanya ke toko roti langganan. Hah... Helaan napas panjang itu cukup meprihatinkan. Saking semangatnya akan menemui Ibunya, Miranda sampai melupakan hal itu.

"Bunda, kok belum siap-siap?" tegur Tama. Dahinya mengernyit.

"Bentar, ya... Tama duduk dulu, Bunda mau ganti baju."

Selang beberapa menit itu, Miranda sudah siap dengan penampilan rapinya. Wanita cantik itu memakai midi dress terlebih dulu, sebab acara pengajiannya baru di mulai setelah Asar.

Setelah semuanya siap, Miranda mengeluarkan motornya dan mengajak Tama menuju rumah mertuanya terlebih dulu. Selama perjalanan, senyum di bibir tipis itu mengembang. Selain akan melakukan doa untuk sang suami, Miranda juga tak sabar ingin bertemu dan memeluk Ibunya.

"Bu, Miranda ambil pesanan dulu, ya!" pamitnya pada sang Mertua.

Tama sudah dalam gendongan Neneknya. "Nggak usah ngebut, Mir...."

Motor Miranda melaju kembali. Ia singgah terlebih dulu ke toko roti untuk mengambil kue basah pesanan mertuanya. Dan begitu sampai, penuh semangat wanita cantik berjilbab ungu pastel itu segera masuk dan berniat langsung menuju Kasir.

Akan tetapi, disaat Miranda berbalik arah ingin mengambil keranjang untuknya memilih roti. Dari arah pintu masuk, Miranda tertegun melihat pasangan paruh baya yang tampak harmonis, berjalan santai melewati dirinya.

Deg!

Keranjang itu terjatuh. Perasaan Miranda terguncang hebat. "Ibu...." lirihnya kaku.

Pandangannya mendadak kabur. Air mata itu menghalangi tatapan Miranda. Bakan, tanpa berkedip pun air matanya jatuh. Hal tersakit selain kehilangan suaminya - tidak di kenali sendiri oleh Ibu kandungnya. Rasa sesak itu seolah meremat ulu hati Miranda.

Entah sengaja atau tidak, Lilis bersikap sewajarnya, berwajahkan tenang, berjalan mengapit lengan pasanganya tanpa peduli wanita yang dirinya tadi lewati begitu saja - dia adalah darah daging yang dirinya tinggalkan sejak berusia 7 tahun.

Tatapan Miranda kosong. Kebahagiaan yang beberapa menit ia rakit sejak pagi, kini retak. Hancur. Bahkan tak bersisa bentuknya.

Miranda masih tak percaya, Ibunya sampai tak mengenali dirinya. Air matanya ia usap pelan. Mengambil keranjang tadi, lalu bergegas menghampiri Lilis demi memastikan.

"Ibu...."

Gerak tangan Lilis saat akan mengambil roti berhenti. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak tak terkendali. Wajahnya tiba-tiba menegang.

Lilis menoleh. Dahinya mengernyit, seolah asing menatap wanita berjilbab di depanya. Badanya juga sampai berbalik. "Siapa ya, Mbak?"

Hati Miranda semakin mencelos. Dadanya kembali gemuruh. Antara tak percaya dan kecewa, Miranda menatap Ibunya begitu sendu.

"Ibu tidak kenal aku?" suara itu bergetar. Air matanya kembali menggenang.

Lilis berusaha mengingat. Dahinya mengernyit semakin dalam. Namun tak lama itu seorang pria paru baya yang masih terlihat tampan dan penuh wibawa, kini datang menegur Lilis. "Ada apa, Mah? Kamu kenal Mbak ini?" tunjuknya pada Miranda.

"Saya putrinya Ibu ini," wajah Miranda mencoba meyakinkan suami baru Ibunya.

"Nggak, Pah... Aku nggak kenal!" jawabnya seolah masih mencoba berpikir. "Mbak... Kamu pasti salah orang ya?"

Miranda berjalan mendekat. Ia mencoba menggapai lengan Ibunya, namun respon Lilis berbeda. Tubuhnya mundur, tatapanya sangat asing. "Bu... Ini Miranda. Ibu kemana saja? Kenapa sampai lupa dengan anak Ibu sendiri?!"

Suami Lilis semakin bingung. Ia tatap dua wanita di depanya secara berganti. Tapi Lilis lebih dulu bersuara, "Pah... Aku nggak kenal sama Mbak ini!"

"Mbak... Mungkin Anda salah orang," sahutnya.

Miranda menggeleng lemah. Air matanya bahkan sampai berlinang. "Maaf, Pak... Tapi saya tidak salah! Dia Ibu saya, namanya Lilis Suryani!"

Dada Lilis bergemuruh. Bukan karena sesak. Tapi merasa lebih terancam. "Mbak kamu ini ngawur ya?! Nama saya bukan Lilis! Saya ini Linda!"

Miranda terpaku. Setega itulah Ibunya. Apa yang terjadi dengan Ibunya selama ini.

"Benar, Mbak! Istri saya bernama Lilis! Dan... Dan saya menikahi Istri saya ini juga semasa dia gadis. Anda pasti salah orang," bela pria tadi.

Miranda tetap tidak menyerah. "Tapi saya memiliku buktinya. Sebentar, saya kasih lihat Anda."

Lilis sudah kelimbungan begitu Miranda akan memberikan secarik foto keluarganya semasa dulu. Wajahnya terbelalak, segera mungkin mengajak suaminya menyingkir. "Pah, ayo kita balik! Udah mau jam 12, Zena dan Akmal pasti sudah tiba. Ayo!"

Tangan Miranda menggantung. Secarik foto, kenang-kenanganya semasa kecil yang dulu pernah diberikan oleh Ayahnya. Tapi kini, disaat Ibunya sudah ada di depan matanya, Lilis dengan tega tak menganggapnya anak.

Pria tadi hanya mengikuti saja. Lalu merengkuh bahu Istrinya untuk melanjutkan kembali memilih roti.

Sebelum kecewa terlalu jauh, Miranda membatasi harapannya.

"Mah... Wajah wanita tadi mirip sama kamu saat muda. Kamu yakin nggak kenal sama dia?" tegur suami Lilis.

Wajah Lilis sudah mulai ketar ketir. Senyumnya ia paksakan keluar. "I-itu... Itu mungkin hanya orang mirip aja, Pah! Kan wanita tadi juga sama-sama cantik. Udah ah, nggak usah di pikirin. Nggak penting juga."

Sementara Miranda, ia yang masih berdiri dibalik rak samping, kini sampai mengurut dadanya melihat sang Ibu tega berbuat itu.

"Bu... Tega sekali kamu. Bapak disana pasti akan sedih melihat sikapmu. Ya Allah...." Miranda tersenyum, namun air matanya keluar.

Tidak ingin terlalu meratapi, Miranda bergegas menuju kasir untuk menyelesaikan pembayarannya.

"Pah, kamu tunggu di mobil dulu ya! Mamah mau bayar, ini antrinya panjang." Lilis tersenyum lembut pada suaminya. Sementara Pria bernama Arsan itu hanya mengangguk. Lalu segera keluar.

Setelah memastikan suaminya keluar, Lilis menghampiri tempat antrian Miranda, lalu menarik lengan Putrinya untuk di ajaknya menyingkir ke pintu samping.

"Bu... Ini Miranda! Ibu nggak lupa 'kan sama Mira?" Miranda tak menyangka, rupanya semua itu hanya sandiwara Ibunya saja.

Senyum Miranda sudah merekah. Namun, hal yang di lakukan Ibunya kini membuat senyumnya luntur.

Lilis mengeluarkan 2 gepok uang secara tergesa. Lalu mengangkatnya rendah. "Kamu temui Ibu pasti demi ini, kan?!" uanglah yang di maksud. "Ibu sudah tahu bagaimana tabiat kamu sama Ayah kamu, Miranda. Ini....." dua gepok uang itu Lilis sodorkan secara kasar pada tubuh putrinya.

Miranda syok. Dadanya berdesir. Rasa rindunya dibalas kepedihan. Harapanya dipatahkan oleh keadaan.

Uang tadi terhempas. Berhamburan dibadan serta jatuh dibawah kaki Miranda.

"Bu... Tapi Miranda nggak butuh uang Ibu! Miranda hanya-"

Lilis menyambar. Tanganya menuding wajah Miranda, "Ibu peringatkan sama kamu, Miranda... Jangan lagi temui Ibu di kebetulan mana pun. Ambil uang itu, dan pergilah dari hidup Ibu!"

Deg!

1
Sugiarti Arti
bagus
Reni Anjarwani
sandiwara pinter yg ria
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up thor
Meliandriyani Sumardi
lanjut kak
Nesya
dasar maruk wanita jahat, lanjut thor
Nesya
hhmm muak kali ama ezar
Anonim
Jangan lama lama bersambung nya dong🥹
Meliandriyani Sumardi
semoga jodohnya miranda itu dewa...
Ig:@septi.sari21: kita doakan ya kak❤
total 1 replies
delis armelia
sedih banget jadi miranda
Ig:@septi.sari21: sangat kak💔
total 1 replies
I Love you,
dasar cowo letoi😤😤😤😡
Nesya
masih aja zuudzon ama miranda pengen tk 👊🏻👊🏻 akan nyesel kamu erza setelah tau kebenaran tentang miranda
Ayesha Almira
ni c erza suka skli memfitnah miranda...smga miranda enggan kembali bersma erza...
Ig:@septi.sari21: agak agak emang💔
total 1 replies
Nesya
kasihan miranda selalu di kelilingi orang2 toxic
Ig:@septi.sari21: potek hatinya🥀💔
total 1 replies
Nesya
ibu kandung dewa
Ig:@septi.sari21: ibunya Ezar juga kak💔
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤 kesel lama lama..jahat banget
Ig:@septi.sari21: miranda kek serba salah💔
total 2 replies
Nesya
ngeselin bgt si lita g beradab
Ayesha Almira
lom da kebahagian yg akn menghampiri miranda
Nesya
tenang dewa, miranda udah janda, janda cantik soleha lagi.. bebas pedekate wkwk🤭
Meliandriyani Sumardi
lita berjilbab tapi ga punya etika dan adab...percuma....ditinggal sama arfan baru tau kamu lit...lanjut kak
I Love you,
waduh😭😡😤 tidak di akui karna miskin?!!😤😤😤😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!